
Seraya menyulut sebatang rokok, Intan terus saja menunggu pria yang akan menawar dirinya, tak terasa sebotol minuman telah habis tak bersisa, begitu juga sebungkus rokok yang ada di dalam kantongnya juga sudah habis.
Dalam keadaan mabuk, Intan duduk diam di depan cafe tempat dia mangkal, di lihatnya semua teman yang ikut bersamanya telah menghilang satu persatu.
“Kenapa begitu sial nasib ku malam ini,” gerutu Intan pada dirinya sendiri.
Di saat dia duduk dua orang pria datang menghampiri dirinya, kedua orang pria itu menyuguhkan segelas minuman yang sudah di campur pil perangsang. Intan tak menyadari kalau minuman itu telah di campur pil di dalamnya.
Minuman itu langsung di minumnya sampai habis tak bersisa. Beberapa saat setelah minuman itu habis di tegaknya, tiba-tiba saja tubuhnya mendadak panas, dadanya terasa bergelora saat itu, Intan benar-benar ingin di sentuh oleh pria yang ada bersamanya.
“Oh…!”
Di saat Intan sudah mulai memanas, kedua orang pria itu langsung memasukan Intan kedalam mobil yang telah berhenti di depan cafe tersebut.
Kesempatan buat dua orang pria itu sudah di depan mata, mangsa telah memakan umpan yang di suguhkan.
“Kita mau kemana Bang?” tanya Intan ketika bertanya pada pria yang membawanya.
“Kita pulang kerumah sayang.”
“Kenapa pulang Bang, kan sebaiknya kita bermain-main dulu,” ajak Intan menggoda.
“Kamu mau kita main dulu sebelum pulang sayang?”
“Iya, aku udah nggak tahan Bang.”
Mendengar ucapan Intan, kedua pria itu saling berpandangan, dengan senyum manis lalu mereka membawa Intan ke suatu tempat.
“Sebenarnya kita mau kemana sih?”
“Bukankah tadi, kau bilang kita bersenang-senang dulu.”
“Iya, tapi kenapa lama sekali?”
“Ntar lagi juga bakalan nyampe.”
Setelah mereka berdua sepakat, lalu Intan mereka bawa ke suatu tempat dan Intan pun mereka jadikan pelampiasan nafsu bejat mereka berdua.
Sungguh malang nasib Intan, dia bahkan menjadi bulan-bulanan kedua pria itu. setelah merasa puas lalu Intan mereka bawa pergi dari tempat tersebut.
Di perjalanan Intan mereka buang di semak-semak. Pagi-pagi sekali seorang Ibu yang hendak pergi ke sawah menemukan Intan tergeletak di pinggir jalan.
“Hah, ada mayat!” saking terkejutnya, si Ibu langsung menjerit histeris. “Tolong! tolong! ada mayat!”
Saat mendengar teriakan Ibu itu, seluruh warga Desa berdatangan untuk memberi pertolongan pada Intan. Intan mereka lihat dalam keadaan tidak baik, lalu gadis itu mereka larikan ke rumah sakit terdekat.
Beberapa saat kemudian Intan sadar dari pingsannya, dia melihat begitu banyak warga berada disekitarnya.
“Ada apa ini? kenapa begitu banyak orang di sini?” tanya Intan yang tak tahu apa-apa.
“Nak, kami menemukan kamu dia pinggir jalan, tergeletak nggak sadarkan diri.”
“Benarkah?”
“Iya nak.”
Mendengar berita itu, tiba-tiba saja kepala Intan menjadi pusing, dia sedikit teringat dengan kejadian malam itu.
__ADS_1
“Apa kau ingat siapa nama mu nak?” tanya seorang Ibu pada Intan.
“Intan, Bu.”
“Ooo, Intan, namamu sangat bagus.”
“Lalu kenapa kau tidur di pinggir jalan?”
“Aku tidur di pinggir jalan?”
“Iya, nak, Ibu yang menemukanmu tadi pagi, sewaktu Ibu hendak ke sawah.”
“Tapi aku nggak ingat!”
“Ya udah, kalau kamu nggak ingat, ya nggak usah di paksakan.”
Saat mereka sedang bercerita, seorang perawat datang menghampiri para warga, suasana tampak hening seketika.
“Bapak, Ibu! kami mau tanya, siapa yang bertanggung jawab pada gadis ini?”
“Biar aku saja yang bertanggung jawab Sus,” ujar seorang pria.
“Kalau begitu mari ikut dengan saya ke ruangan dokter.”
“Baik.”
Kemudian pria itu mengikuti perawat ke ruang dokter. Setibanya mereka di sana, pria itu langsung di sambut oleh dokter dengan tersenyum lebar.
“Jadi, anda ini saudara gadis itu?”
“O, nggak dok. Aku dan semua warga menemukan gadis itu tergeletak di pinggir jalan dalam keadaan nggak sadarkan diri. sebenarnya gadis itu kenapa ya dok?”
“Diperkosa?”
“Iya, mungkin saja setelah di perkosa, lalu gadis itu mereka buang di pinggir jalan begitu saja.”
“Ya ampun! siapa ya, kira-kira orang yang telah melakukan perbuatan itu.”
“Apakah gadis itu sudah sadar?”
“Udah dok.”
“Apakah dia ingat siapa namanya?”
“Dia bernama Intan, dok.”
“Apakah dia ingat dimana dia tinggal?”
“Kami belum sempat menanyakannya, karena tadi gadis itu merasa pusing, saat di tanya para warga.”
“Baiklah, sebentar lagi, saya akan kesana.”
“Iya dok, kalau begitu saya permisi dulu.”
“Iya, silahkan.”
Berita yang menimpa Intan, langsung di beritahu pria itu pada warga, mereka semua merasa prihatin dengan kejadian yang telah menimpa gadis malang itu.
__ADS_1
Mesti semua orang sedih dan simpatik pada kejadian yang telah menimpa dirinya, namun Intan terlihat biasa-biasa saja, bahkan dari raut wajahnya, dia tak pernah menunjukan rasa sedih sedikit pun.
Melihat raut wajah Intan, Kenzo merasa, kalau Intan bukanlah gadis baik-baik, apa lagi saat Kenzo melihat cara Intan berdandan serta bau parfum yang di pakai Intan, itu adalah parfum yang sering di gunakan wanita penghibur yang berada di pinggir jalan.
Setelah semua warga keluar dari kamar Intan, Kenzo langsung masuk kedalamnya, dia duduk di samping Intan yang asik bermain ponsel.
“Maaf, boleh aku duduk sebentar,” kata Kenzo seraya sedikit membungkukkan tubuhnya di hadapan Intan.
“Silahkan! jawab Intan sedikit centil.
Melihat wajah Kenzo yang tampan, Intan tak henti-hentinya melirik pria itu, dia bahkan berkhayal, Kenzo mau bercinta dengannya suatu saat nanti.
“Hei! apa yang ada di pikiranmu?”
“Oh, eh!” Intan tampak gugup saat Kenzo mengejutkan khayalannya.
“Boleh aku bertanya sesuatu pada mu?”
“Mau nanya apa?”
“Siapa kamu sebenarnya?”
“Kenapa, kau suka padaku?”
“Astaghfirullah! kamu itu ya, apa kamu nggak menyesal dengan apa yang telah menimpa mu tadi malam?”
“Emangnya apa yang telah menimpaku?”
“Kau diperkosa.”
“Ooo, sebenarnya aku nggak pernah mereka perkosa, kami melakukannya atas suka sama suka kok.”
“Jadi kau wanita seperti itu?”
“Makasih ya, kau telah menolong ku, nanti kalau aku punya waktu luang, aku akan mampir ke Desa ini, untuk mengucapkan rasa terimakasih.
“Oh, nggak usah, kau simpan saja uang mu, tabung untuk masa depan.”
“Masa depan! kau kira aku punya masa depan?”
“Kenapa nggak?”
“Kau tahu nggak, sebenarnya masa depan ku itu, sudah lama hancur!”
“Maaf, kalau begitu aku permisi dulu!”
“Kenapa pergi, apakah kau nggak sanggup mendengarkan keluh kesah ku.”
“Iya, aku paling nggak suka mendengar orang menjelaskan sesuatu.”
“O ya? ya udah, kalau kau nggak mau mendengarnya silahkan pergi.”
“Iya, maaf.”
“Ya,” jawab Intan singkat.
Entah apa yang ada di pikiran Kenzo saat itu, tapi yang jelas, Kenzo terlihat sedikit kesal pada Intan. Setelah dia membayar biaya rumah sakit, Kenzo dan seluruh warga kembali kerumah mereka, sementara Intan, dia juga kembali pulang kerumahnya.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*