Terjebak

Terjebak
Part 103 Diracuni


__ADS_3

Ketika bangun, Anum terkejut, melihat pintu depan terbuka, dia pun mencoba menghampiri pintu itu dengan berhati-hati.


Tak ingin berlama-lama, lalu Anum membangunkan Voni untuk melihat kejadian yang baru saja dia alami.


“Non, pintu luar terbuka sendiri.”


“Maksud Bibi?”


“Lihatlah Non.”


“Baik Bi.”


Mendengar ucapan Anum, Voni langsung bergegas menuju pintu, Voni memeriksa semua celah yang mencurigakan dari kejadian malam itu, tapi Voni tak menemukan apa-apa.


“Bi, coba periksa semuanya.”


“Periksa apa Non?”


“Semuanya, semua yang ada di dalam rumah kita, termasuk makanan dan seluruh yang dia anggap mencurigakan.”


“Baik Non.”


Seperti yang di perintahkan Voni padanya, Anum segera memeriksa semua yang ada di dalam rumahnya, begitu banyak barang yang di periksa tapi tak satupun yang di curigai.


“Semuanya baik-baik saja kok Non.”


“Bibi yakin?”


“Iya Non.”


“Baiklah, sekarang Bibi tidurlah.”


“Tapi Bibi mau makan sahur Non, besok Bibi mau puasa sunah.”


“Ooo, baiklah, kalau begitu aku kembali tidur dulu ya, Bi.”


"Iya, Non."


Voni pun kembali masuk kedalam kamarnya, tak berapa lama kemudian, Voni mendengar Anum muntah-muntah, perasaan Voni merasa tak tenang, lalu dia memutuskan keluar dari kamarnya, untuk memastikan Anum yang sedang makan.


Akan tetapi, betapa terkejutnya Voni, ketika melihat pembantunya itu tergeletak di lantai dengan mulut mengeluarkan busa.


“Ya Allah, Bibi!” teriak Voni sembari mengangkat kepala Anum dan meletakkan di pangkuannya.


Sambil menangis, Voni melihat nasi yang ada di tangan Anum. Tak ada yang mencurigakan dengan nasi yang di makan Anum, semua terlihat biasa-biasa saja.


Kemudian Voni teringat susu kental manis yang berada di dalam kulkasnya, dengan bergegas Voni mengambil susu itu, dan meminumkan sebanyak-banyaknya pada anum, sampai pembantunya itu sadar dan memuntahkan semua makanan yang telah dia telan.


“Huak…huak…huak…!”


“Iya, terus Bi, muntahkan semua yang telah Bibi telan, semuanya Bi, jangan sampai ada yang tersisa.


“Huak…huak…huak!”


“Udah Non, Bibi udah nggak kuat!”


“Ya udah, kalau Bibi nggak kuat, Bibi minum saja susunya dengan pelan, biar racun yang ada di dalam tubuh Bibi bisa di netralisir oleh susu ini.”

__ADS_1


“Baik, Non.”


Dalam kondisi lemah, Voni membaringkan Anum di tempat tidur, wajah perempuan itu terlihat pucat sekali. Kemudian Voni membersihkan muntah Anum yang berserakan di lantai. Setelah bersih, lalu Voni menghampiri perempuan yang telah dianggapnya sebagai Ibu itu.


“Bagai mana keadaan Bibi sekarang?”


“Bibi masih lemas Non.”


“Itu karena Bibi banyak mengeluarkan muntah.”


“Ada apa dengan makanan kita Non?”


“Ternyata seseorang telah menaburkan racun di nasi dan sambal kita Bi.”


“Siapa yang melakukannya Non?”


“Nggak tahu Bi.”


“Kenapa mereka ingin membunuh Bibi?”


“Bukan Bibi yang ingin mereka bunuh, tapi aku.”


“Hah! benarkah begitu?”


“Iya, Bi. Aku yakin kalau yang punya niat itu adalah Mama, dia sengaja menyuruh orang untuk menghabisi aku, agar di persidangan besok aku nggak bisa datang karena telah meninggal dunia.”


“Luna, kau benar-benar nggak punya moral, Ibu macam apa yang telah melahirkan anak sebaik Non, hiks, hiks, hiks.”


“Udahlah Bi, mungkin inilah takdir hidupku.”


Voni hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan Anum, tapi dia semakin geram, karena Luna hampir saja merenggut nyawa perempuan yang telah di anggapnya sebagai Ibunya sendiri.”


Saat Anum tertidur, subuh itu Voni pergi secara diam-diam ke rumah Bramono, dia mengetuk pintu rumah Bramono pelan-pelan, agar tak ada orang yang terbangun saat mendengar suaranya.


Telah berulangkali Voni mengetuk pintu rumah Bramono, namun pria itu belum juga terbangun dari tidurnya.


“Astaga, kenapa kau nggak bangun-bangun Bram?” gerutu Voni kesal.


Karena Bramono tak mau bangun dari tidurnya, lalu Voni menggedor jendela rumah pria itu kuat-kuat, beberapa orang tetangga yang sudah bangun berusaha melihat kearah rumah Bramono.


“Lihat gadis itu, benar-benar sudah nggak punya moral, subuh begini, dia sudah menggedor rumah Bramono.”


“Siapa yang telah menggedor rumah Bramono Bu?” tanya Karim pada Ibunya.


“Itu, gadis yang sering keluar masuk rumah Bramono.”


“Ooo, itu. Gadis itu bernama Voni, Bu.”


“Mau Voni, mau Vona, Ibu nggak perduli, yang jelas dia itu benar-benar sudah nggak bermoral.”


“Ibu jangan bicara seperti itu, Bu.”


“Kenapa apa nggak boleh Ibu bicara seperti itu.”


“Nanti kalau Voni dengar dia pasti marah pada kita. Barang kali dia ada keperluan mendadak, makanya dia itu menemui Bramono.”


“Ah! itu hanya alasan mu, kau kira aku takut dengannya, iya?”

__ADS_1


“Bukan begitu Bu, aku nggak menuduh Ibu, takut dengannya.”


“Kalau bukan begitu, lalu apa?” tanya perempuan itu pada putranya seraya melangkah dan berdiri di depan rumah.


Lama perempuan tua itu berdiri, namun Voni tetap saja menggedor-gedor pintu rumah Bramono, tanpa memperdulikan orang sekitarnya.


:Hei, gadis bodoh! kenapa pagi-pagi sekali kau menggedor-gedor rumah orang, apa kau nggak pernah di ajarkan oleh Ibu mu berbuat baik hah!”


Mendengar ucapan Ibu itu, Voni sedikit tersenyum dan datang menghampiri perempuan tua itu, Voni bahkan menatap mata perempuan itu dengan tajam sekali, persis seperti burung bangkai yang sedang mengitari mangsanya.


“Ibu ini siapa ya? kok berani ikut campur urusan ku?”


“Kenapa? apa menurut mu aku nggak boleh ikut campur urusan mu, kau telah membuat kepala ku pusing, pagi-pagi kau telah menggedor-gedor rumah laki-laki, apakah kau nggak punya pekerjaan lain.”


“Hei, jika kau nggak mau aku pukul, maka pergilah secepatnya, dari hadapan ku.”


“Dasar anak kurang ajar! kau ini benar-benar tak bermoral ya?”


“Jangan ajarkan aku soal moral, sekarang menjauh lah dari ku.”


Di saat kekesalan Voni mulai memuncak, Karim segera keluar dan mengajak Ibunya untuk meninggalkan tempat itu.


“Ayo Bu, kita masuk kedalam saja!” ajak Karim seraya memegang tangan Ibunya.


“Ibu nggak mau Karim, dia ini benar-benar udah keterlaluan.”


“Ibu, tenanglah sedikit, jangan cari masalah dengannya,” bisik Karim pada Ibunya.”


“Kenapa, kalau Ibu mau cari masalah dengannya, semua orang boleh takut padanya, termasuk kau. Tapi bukan Ibu orangnya.”


“Pak Karim!” panggil Voni yang langsung datang menghampiri Karim.


“Eh, iya neng.”


“Aku nggak pernah ikut campur urusan rumah tanggamu, tapi kalau Ibu mu menghinaku, aku nggak terima, aku datang ke rumah Bramono, itu karena aku ada keperluan mendesak, karena Anum di racun orang saat ini.”


“Hah, anum di racun orang?”


“Kalian telah mengganggu urusan ku!” ujar Voni seraya pergi meninggalkan Karim bersama Ibunya.


“Dia bilang apa barusan, Karim?”


“Pembantunya diracuni orang, Bu.”


“Diracuni orang? apa ada di d sini yang suka meracuni orang?”


“Itu makanya, Ibu jangan terlalu ikut campur urusan orang lain, kan kita sendiri yang malu di buatnya.”


“Iya, iya. Ibu minta maaf deh.”


“Ya sudah, kalau begitu mari kita masuk kedalam.”


“Baiklah.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2