
“Hari ini, kami para panitia dan dewan juri telah melihat hasil dari usaha kalian semua, ternyata kalian benar-benar berbakat sekali dalam materi ini. tapi diantara kalian yang hebat dan mendapat nilai bagus, tentu ada yang mengunggulinya, dan hari ini kami akan mengumumkannya di hadapan kalian semua."
Para siswa yang mengikuti perlombaan saat itu, tampak begitu tegang dan hening, sementara Voni dia hanya tertunduk diam di samping Bramono.
“Untuk pemenang utama dalam perlombaan ini, jatuh pada anak kita yang bernama, Voni regina Sanjaya dengan nilai Sembilan koma delapan, dengan nomor lot peserta 14, asal sekolah SMA Semangat Negri! beri tepuk tangan untuk anak kita Voni. Kepada anak kita di harap naik ke atas podium.
Mendengar namanya di sebut, Voni langsung shock. Pasalnya, Voni selama ini belum pernah mengasah kemampuannya. Sedangkan Bramono dia meneteskan air mata, karena merasa terharu.
Sementara para peserta yang lain, mereka merasa senang dan bersorak gembira serta bertepuk tangan. Karena sorak para seluruh peserta itulah, Voni merasa gugup, langkahnya sedikit kaku ketika dia hendak menuju podium.
Memang saat itu Voni terlihat tenang, tapi sebenarnya Voni terlihat begitu pucat. Bramono yang terus memperhatikan Voni, merasa khawatir sekali dengan gelagat Voni yang sedikit aneh.
“Ada apa dengan Voni, kenapa dia terlihat begitu tegang?” tanya Bramono pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama kemudian, firasat yang di rasakan Bramono langsung menjadi kenyataan, tiba-tiba saja Voni terjungkal dan jatuh membentur lantai panggung.
Semua orang yang melihat Voni terjatuh, mereka langsung berteriak cemas, Bramono yang meragukan sikap Voni tersebut, dia berlari menghampiri Voni dan mengangkat tubuh kekasihnya itu.
“Bawa dia ke ruang perawatan!” teriak panitia yang saat itu tampak sedikit tegang.
“Mana ruang perawatannya?” tanya Bramono ingin tahu.
“Di sebelah sana Pak,” tunjuk panitia ke suatu tempat.
Tanpa berfikir panjang lagi, Bramono langsung berlari menuju ruang perawatan yang terletak di pojok sebelah kiri gedung tersebut.
Karena kejadian itu, acara pengumuman juara siang itu sedikit terganggu, semua siswa tampak fokus pada Voni yang mengalami pingsan. Mesti demikian panitia tetap melanjutkan acara yang sudah setengah jalan.
Setelah pengumuman selesai dan setiap pemenang telah mendapatkan tropi dan piagam, lalu acara di bubarkan. Seluruh peserta lomba di izinkan kembali ke sekolah masing-masing.
Mesti gedung perlombaan sudah kosong, namun Voni belum juga sadarkan diri, Bramono tampak begitu cemas melihat kondisi Voni yang pucat.
“Gimana keadaannya Pak?” tanya seorang panitia lomba.
“Sepertinya belum sadarkan diri,” jawab Bramono pelan.
“Apakah gadis ini pernah pingsan sebelumnya Pak?” tanya bidan yang sedang bertugas.
“Iya Buk, dua kali kalau saya nggak salah, waktu itu kami menjatuhi hukuman padanya di lapangan sekolah.”
“Apakah sekolah udah memeriksakan kondisinya Pak?”
“Udah Bu, waktu itu dokter hanya bilang kalau dia kelelahan.”
“Maksud saya, periksa kesehatan di spesialis penyakit dalam.”
“Kalau itu, entahlah Bu, karena kami pihak sekolah belum tahu dimana gadis ini berasal.”
“Apakah dia masih punya orang tua Pak?”
“Waktu pendaftaran ke sekolah kami, dia ditemani oleh seorang pria yang mengaku sebagai pamannya.”
“Ooo, begitu?”
Setelah bertanya panjang lebar, bidan itu langsung pergi meninggalkan Bramono. Di luar tampak bidan itu memanggil seorang panitia perlombaan.
Ketika bidan itu sudah mulai menjauh, Bramono langsung duduk di kursi dekat Voni di rawat, hatinya begitu cemas sekali saat itu.
__ADS_1
Dua jam kemudian, Voni pun sadar dari pingsan, saat pertama sekali matanya terbuka Voni melihat ada Bramono di sisi kirinya. Tanpa merasa ragu sedikit pun Voni langsung memeluk Bramono dengan erat.
“Maafkan aku, Pak. Karena gara-gara aku semuanya jadi kacau.”
“Nggak ada yang perlu di maafkan sayang, semuanya berjalan lancar kok, mesti kamu nggak sadarkan diri, acara tetap mereka lanjutkan, saat ini semua peserta lomba telah kembali ke sekolah mereka masing-masing.
“Berarti hanya tinggal kita berdua disini?”
“Nggak, panitia lomba masih berada di sini, mereka semua duduk di luar.”
“Pak, sebenarnya ada apa dengan diri ku ini? kenapa aku sering nggak sadarkan diri.”
“Emangnya kau pernah pingsan selain kejadian di sekolah itu?”
“Pernah, kalau nggak salah udah tiga kali.”
“Berarti udah enam kali kamu nggak sadarkan diri?”
“Sepertinya begitu.”
“Apakah kamu merasakan sesuatu sebelum pingsan?”
“Nggak.”
“Nggak merasakan sakit di suatu tempat barang kali?”
“Nggak.”
“Ya udah, berarti nggak ada masalah sama sekali. Baiklah, kalau begitu kita kembali pulang saja, ya?”
“Baik Pak.”
“Adek udah sadar?” tanya seorang panitia saat itu.
“Udah Kak,” jawab Voni pelan.
Beberapa langkah baru berjalan Voni merasa pusing, lalu Bramono kembali mengantarnya ke ruang perawatan.
“Aduh gimana ini Pak?” tanya Voni sedikit cemas.
“Nggak apa-apa, namanya aja sakit, kita nggak bisa berbuat banyak kan?”
“Kalau begitu kamu istirahatlah disini, biar Bapak sendiri yang mengemasi pakaian kita.”
“Tapi Pak?”
“Udah, kamu istirahat aja disini dulu.”
“Kalau pakaian ku, biar aku sendiri yang mengemasnya nanti.”
“Nggak perlu, biar Bapak saja.”
Mendengar ucapan Bramono, Voni terpaksa diam saja, sebenarnya dia begitu malu, karena ada pakaian dalam yang masih terletak di luar koper miliknya.
Lima belas menit kemudian, Bramono pun kembali dengan membawa dua buah koper sekaligus. Dia menaruh kedua koper itu di luar kamar rawat Voni.
“Gimana dengan pakaian dalam ku, yang terletak di luar Pak?” tanya Voni sedikit malu.
__ADS_1
“Semuanya udah Bapak masukkan kedalam koper mu, nggak ada lagi pakaian yang tertinggal di dalam kamar.”
“Makasih.”
“Sama-sama,” jawab Bramono seraya mengusap kepala Voni.
“Sepertinya aku udah nggak pusing lagi Pak.”
“Benar kamu nggak pusing lagi?”
“Benar Pak.”
“Baiklah, kalau begitu kita bisa jalan sekarang.”
“Baik.” Voni lalu turun dengan pelan dari tempat tidurnya.
“Koper mu biar Bapak aja yang bawa.”
“Aku udah nggak apa-apa kok, Pak. Biar aku aja yang membawanya.”
“Nggak perlu, lagian kopernya nggak berat kok.”
Lalu mereka berdua kembali keluar menuju mobil, sebelum mereka berdua meninggalkan gedung, seorang panitia datang menghampiri Bramono dan Voni.
“Selamat sore Pak!” sapa pria itu.
“Selamat sore.”
“Ini tropi milik Voni, ini piagam penghargaannya dan ini uang tunai senilai sepuluh juta rupiah untuknya.”
“Ooo, baiklah. Terimakasih banyak.”
“Sama-sama Pak.”
Setelah tropi dan hadiah mereka dapat, Voni dan Bramono langsung menuju arena pencak silat yang letaknya sekitar dua kilo meter dari tempat perlombaannya.
“Kamu yakin akan mengikuti perlombaan ini sayang?”
“Yakin Pak.”
“Kalau kamu nggak sanggup, perlombaan ini biar kita batalkan saja.”
“Ah, jangan dong Pak, lagian kita udah nyampe disini, masa kembali pulang sih.”
“Tapi kondisimu itu, sayang.”
“Aku nggak apa-apa kok Pak.”
“Benar kamu nggak apa-apa?”
“Benar Pak.”
“Ya sudah, sebentar lagi kita mau nyampe.”
Sejenak mereka berdua sama-sama terdiam, suasana mobil tampak terasa hening seketika, hanya terdengar alunan musik pop Krisdayanti, yang terdengar merdu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*