
“Ada apa lagi Intan?”
“Tino, Voni?”
“Ada apa dengan Tino?”
“Dia menikahi gadis itu sepeninggal kita kemaren.”
Mendengar ucapan Intan, darah Voni langsung mendidih. Tanpa berfikir panjang lagi Voni langsung bergegas mendatangi rumah Tino. Dari luar rumah itu, Voni berteriak memanggil nama Tino.
“Tino! keluar kau!” teriak Voni dengan suara lantang.
“Ada apa nak? ada apa? kenapa mesti berteriak-teriak? malu sama orang banyak nak.”
“Bapak siapa?”
“Bapak orang tua dari mempelai wanita.”
“Jadi kalian semua telah bersekongkol, melakukan pernikahan dengan gadis itu, di belakang Intan sahabat ku, iya?”
“Sabar nak, sabar. Semuanya bisa kita selesaikan secara baik-baik.”
“Aku mau Bapak panggilkan Pak Tino, sekarang juga, dari pada ku acak-acak semua isi pesta ini!”
“Baik nak, baik!” ujar Pak Kardi ketakutan.
Sementara itu Tino yang sedang berias di dalam kamarnya tak berani keluar rumah, dia tahu persis sifat Voni, yang keras, kalau dia memang benar.
“Aduh, gimana ini nak, Bapak nggak mau semua orang tahu kejadian ini.”
“Bapak yang sabar, gadis itu nggak akan berhenti mengganggu kita, sampai keinginannya benar-benar terpenuhi.”
“Emangnya dia itu siapa nak?” tanya Pak Kardi pada Tino.
“Dia siswi di sekolah ini, dia sedang mengalami depresi berat, bahkan dia sudah berulangkali melakukan bunuh diri.”
“Kalau begitu, gimana kalau kita panggilkan polisi saja, biar dia kita usir dari sini?”
“Iya Pak, itu solusi yang tepat.”
Karena ide dari Pak Kardi, akhirnya Tino memanggil polisi untuk mengurus Voni yang menuntut hak Intan pada orang yang telah menodainya.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi Tino, bicaralah yang jujur pada kami?” tanya Pak Kardi dengan suara lembut.
“Benar nak Tino, kalau memang pernikahan ini di gagalkan, Ibu nggak merasa sakit hati pada mu.”
“Dia itu gadis yang bermasalah Bu, kalian tenang saja, sebentar lagi polisi bakalan datang kok.”
“Kalau kau memang benar dan nggak bersalah, lalu kenapa kau terlihat ketakutan sekali saat ini nak?”
“Nggak ada yang perlu ku takuti sekarang Pak, bersabarlah, sebentar lagi polisi bakalan datang kok.”
__ADS_1
Jawaban yang keluar dari mulut Tino, membuat kedua orang tua Maya merasa telah di tipu oleh pria yang akan menjadi menantunya itu.
Bu Nisa tampak terhenyak duduk di atas sofa seraya menangis sedih, sementara itu Maya juga terlihat sedih di depan meja rias.
“Sebenarnya apa sih yang telah terjadi antara Intan dengan Tino, Bi?”
“Entahlah Non, Bibi juga nggak tahu.”
“Aku merasa curiga dengan semua ini, sepertinya gadis itu benar deh, Bi.”
“Maksud Non?”
“Nggak mungkin kan, dia berteriak-teriak seperti orang gila, jika yang dikatakannya itu bohong, lagian dia nggak sedang membela dirinya kan? dia justru membela temannya yang telah ternoda oleh Tino.”
“Non Maya, kayaknya benar.”
“Ya Allah! dosa apa yang telah aku lakukan Bi, sehingga aku mengalami aib yang hina ini?”
“Non Maya nggak salah, tapi suami Non Maya sendiri yang telah membohongi Non saat ini.”
“Astaga! suami macam apa yang bakal menjadi imam ku nantinya Bi, hiks, hiks, hiks…!”
“Non Maya yang sabar ya.”
“Kemaren aku udah menolak pernikahan ini, tapi Tino berhasil membujuk Papa dan Mama, sehingga semuanya terjadi juga.”
“Iya, Non, Bibi mengerti.”
Di tempat itu Voni melihat ada Eko di sana, pada Eko Voni menyuruh Bramono datang ke tempat pesta itu. Lalu Eko pun berlari menghampiri rumah Bramono.
“Benar Voni ada di sana?”
“Benar Pak, sebentar lagi dia bakal di tangkap oleh polisi.”
“Aduh Voni! kenapa kamu selalu membuat masalah sayang?”
“Sepertinya, Voni menuntut Pak Tino untuk menikahi Intan pak.”
“Iya Bapak tahu, tapi itu kan bukan urusan dia, kenapa mesti ikut campur sih.”
“Bapak kayak nggak kenal Voni aja!”
“Kalau begitu mari, kita kesana sekarang juga.”
Keduanya langsung bergegas menuju rumah Tino yang jaraknya agak sedikit jauh dari rumah dinas Bramono.
Di lokasi pesta, Bramono melihat polisi masih memegangi kedua tangan Voni yang tetap berteriak meminta keadilan untuk Intan.
“Lepaskan dia Pak!” perintah Bramono pada polisi itu.
“Bapak siapa, berani-berani memerintah kami?”
__ADS_1
“Saya kepala sekolah gadis yang Bapak pegang tangannya.”
“Tapi Pak, kalau gadis ini kami lepas, maka dia akan menghancurkan pesta ini.”
“Dia nggak akan menghancurkan pesta ini, jika orang yang ada di dalam sana mau keluar dan menyelesaikannya secara baik-baik.”
Mendengar ucapan Bramono, kedua polisi itupun melepaskan tangan Voni, lalu Bramono menjauhkan Voni dari kedua polisi itu.
“Tino keluarlah, nggak baik memperlakukan Voni seperti itu!” ujar Bramono dengan suara lantang.
Tak berapa lama kemudian, Tino pun keluar dengan pakaian pengantinnya. Dia tampak menundukkan kepalanya di hadapan Bramono dan yang lainnya.
“Kenapa kau bisa seperti itu Tino? bukankah kau seorang guru, seorang tenaga pendidik, yang tingkah lakunya menjadi contoh dan panutan bagi siswanya.”
“Maafkan saya Pak, sebenarnya antara aku dan Intan sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi.”
“Aku nggak mau tahu, karena kau telah menodainya, maka kau wajib menikahi Intan, apapun itu alasannya.”
“Saya juga telah menikahinya Pak.”
“Maksud mu?”
“Dia memang udah menikahi Intan sore kemaren, tapi pada malam harinya dia kembali melangsungkan pernikahannya dengan perempuan itu.”
“Apa maksud dari semua ini Tino?”
Tino tak menjawab, karena saat itu, dia tak punya alasan apapun untuk di kemukakannya di hadapan Bramono.
“Kau telah mencoreng nama baik sekolah kita Tino, untuk itu saya akan memecat mu dari sekolah, dan saya juga mencabut hak mu sebagai tenaga pendidik, karena telah merusak generasi.”
“Pak, Pak Bram maafkan saya Pak! maafkan saya, jangan pecat saya Pak!”
Bramono mengabaikan Tino yang berlari menghampirinya. Sementara itu, Bramono terus saja berlalu meninggalkan Tino dan yang lainnya. Dia pergi seraya menggenggam erat tangan Voni.
“Siapa dia itu nak?” tanya Ayah kandung Tino.
“Dia itu kepala sekolah ku, Ayah.”
“Kenapa dia bersama gadis depresi itu?”
“Karena gadis depresi itu kekasihnya Ayah.”
“Kau telah membohongi Ayahmu sendiri Tino, kalau memang dia itu gadis yang depresi, nggak mungkin kepala sekolah mau menjadikan dia kekasihnya.”
“Aku nggak bohong Ayah.”
Mesti Tino menjelaskannya berulang kali, namun semua orang tak mempercayainya. Sementara itu Maya dan kedua orang tuanya telah pergi begitu saja meninggalkan Tino dan yang lainnya.
Di atas mobil, Maya terus saja menangis tiada henti, Maya benar-benar sedih sekali saat itu, karena suami yang baru saja menikah dengannya, tak lain hanyalah seorang penjahat dan pendusta.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*