Terjebak

Terjebak
Part 101 Pengakuan Fitri


__ADS_3

“Aku perhatikan dari tadi, sepertinya kalian berdua ini nggak satu ide ya? yang satu bilang begini dan yang satunya lagi bilang begitu. kalau kalian berdua selalu ingin menang sendiri, maka aku juga nggak bisa menolong kalian.”


“Apa maksud mu Voni?”


“Ayo Bram, kita pergi saja!” ajak Voni pada Bramono.


“Bramono? jadi Voni manggil Kepsek dengan sebutan Bram, apakah aku nggak salah dengar Bang?”


“Itu urusan mereka, yang kita urus itu, masalah kita, kalau Voni nggak mau memaafkan kesalahan kamu, maka kita berdua akan mendekam di penjara ini!


apa kamu nggak ingat dengan Ridho dan Suci yang masih kecil.”


“Iya Bang, kalau begitu, kita kejar saja dia.”


“Kejar gimana? apa kamu nggak sadar, kalau kita berdua ini sedang dia tahan.”


“Iya juga ya?”


“Itu makanya, tadi itu semestinya kamu ngaku aja pada Voni, kalau kamu itu memang sengaja menabraknya.”


“Mana mungkin aku bilang sengaja Bang?”


“Gimana nggak sengaja, coba.”


“Sengaja gimana maksud Abang?”


“Heh, Fit. Saat itu posisi Voni sedang berjalan di sebelah kira, lalu kau datang dari arah depan di sebelah kanan, secara berfikir orang bodoh aja, kau itu udah melanggar rambu-rambu lalulintas, sayang.”


“Aku nggak mau mengakui apapun pada gadis bodoh itu Bang.”


“Baiklah. Kalau begitu, mari kita masuk kedalam!” ajak Aswadi seraya memegang pergelangan tangan istrinya.


Di dalam sel, mereka berdua duduk perlahan, lalu Aswadi mulai bicara pada istrinya dari hati kehati.


“Fit, apakah saat ini kau merindukan kedua anak kita?”


“Iya Bang.”


“Apakah sebelum kita pergi, kau menitipkan mereka pada seseorang?”


“Nggak Bang, hiks, hiks, hiks. Aku meninggalkan mereka di rumah berdua.”


“Apakah pintu kamar di kunci?”


“Nggak, ya tuhan! bagai mana nasib anak-anak kita Bang?”


“Sekarang kau baru sadar, kalau kedua anak kita dalam bahaya, apa lagi bayi kecilmu, dia pasti butuh air susu Ibunya.”


“Lalu apa yang harus kita lakukan Bang.”


“Saat ini hanya Voni yang bisa membantu kita, melepaskan kita berdua dari penjara ini.”


“Tapi gimana caranya Bang?”


“Tunggu sebentar!”


Setelah Aswadi berbicara dengan istrinya, lalu dia berdiri menghampiri jeruji besi itu untuk berteriak minta tolong pada petugas.


“Ada apa Pak?”


“Bisa kami minta tolong nggak Pak.”


“Minta tolong apa?”

__ADS_1


“Tolong Bapak panggilkan Voni, katakan pada Voni, kami berdua akan membuat pengakuan untuknya.”


“Baik.”


Permintaan Aswadi langsung di sampaikan petugas itu pada Voni, hal itu hanya di tanggapi Voni dengan tersenyum.


“Non kenapa tersenyum sendiri?”


“Hari itu, ku tanya baik-baik, dia justru bersikap angkuh dan keras kepala, sekarang saat aku udah pergi, dia baru nyadar, kalau dia begitu butuh bantuan dari ku.”


“Maksud Non itu, siapa ya?”


“Bu Fitri dan Pak Aswadi.”


“Mereka berdua itu memang keluarga angkuh dan sombong Non.”


“Hari ini kesombongan mereka itu akan hancur Bi.”


“Apa yang mesti Non lakukan?”


“Aku nggak melakukan apa-apa kok Bi.”


Di saat bersamaan Voni kembali menelfon petugas polisi untuk membuat surat pengakuan, kalau Bu Fitri benar dengan sengaja ingin menghabisi ku.”


“Baik dek, nanti akan kamu buatkan surat pengakuannya.”


Sesuai permintaan Voni, Fitri pun mengakui semua kesalahan yang telah dia lakukan, dia memang sengaja ingin menghabisi Voni malam itu, karena Fitri dendam pada Voni yang selama ini menjadikan suaminya bermasalah di sekolah dan di hadapan Bramono.”


Surat itu kemudian di baca oleh Voni, gadis nakal itu terlihat diam sejenak, lalu dia melipat surat itu kembali dan pergi meninggalkan rumahnya.


“Non mau kemana?” tanya Anum yang melihat Voni langsung pergi dari rumah.


“Aku kerumah Bram dulu, Bi.”


“Ooo.”


“Hei, Bram! bangun!” ujar Voni seraya menggoyang tubuh pria itu.


“Ada apa?” tanya Bramono yang masih linglung saat mendadak bangun.


“Bangun.”


“Ada apa sayang?”


“Bu Fitri udah ngaku, kalau dia emang sengaja ingin menghabisi ku.”


“Hah! benarkah?”


“Iya, baca ini,” ucap Voni seraya memberikan sepucuk surat itu pada Bramono.


“Ya ampun, kenapa dia sampai senekat itu ya?”


“Dendam, bisa menghalalkan segala cara Bram.”


“Mereka berdua benar-benar udah keterlaluan, jika saja korban yang ditabraknya malam itu meninggal, pasti dia berusaha menutupi semuanya dari polisi.”


“Iya, benar sekali.”


“Jadi gimana menurutmu, apa yang mesti kita lakukan pada mereka?”


“Aku nggak tahu Bram, itu makanya, aku datang kesini, untuk minta pendapat dari mu.”


“Apa perlu kita maafkan saja mereka?”

__ADS_1


“Kalau itu yang ada di hati mu, maka akan ku maafkan dia.”


Tanpa berfikir panjang, Voni langsung datang ke kantor kepolisian bersama Bramono, untuk melepaskan tahanan. Mendengar ucapan Voni, polisi menjadi heran.


“Maaf pak, aku dan pelaku, akan menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan saja, mengingat pelaku masih memiliki bayi yang berusia satu tahun, jadi aku akan memutuskan untuk memaafkan semua kesalahannya.”


“Baiklah, kalau memang itu yang adik inginkan, maka kami akan melepaskannya.”


“Baik Pak terimakasih.”


Atas permintaan Voni, siang itu juga Aswadi dan Fitri keluar dari penjara, mereka berdua kemudian pulang kerumahnya. Tanpa berfikir panjang lagi, Fitri mencari kedua anaknya ke rumah tetangga yang tak begitu jauh darinya.


“Kamu udah pulang Fit?” tanya Tini, seraya tersenyum manis.


“Udah Bu, gimana keadaan kedua anak ku?”


“Mereka sehat kok Fit.”


“Alhamdulillah.”


Saat Fitri melihat mereka sedang asik bermain di dalam rumah, Ridho langsung mengejar Mamanya dan memeluk Fitri dengan erat sekali.


“Mama…!”


“Sayang, kamu nggak apa-apa kan, nak?”


“Iya Ma, Mama kemana saja sih, kok lama sekali pulangnya?”


“Mama ada urusan sayang, sana lihat Papa di luar.”


“Baik Ma!” ujar Ridho seraya berlari keluar rumah untuk mencari Papanya yang sudah menunggu kedatangannya.


“Gimana Fit, apakah urusannya sudah selesai?”


“Udah Bu, semuanya udah selesai?”


“Selesai gimana Fit?” tanya Bu Tini ingin tahu.


“Sebenarnya hanya salah paham aja Bu.”


“Salah paham gimana?”


“Ternyata yang menabrak Voni itu bukan mobil kami Bu, tapi mobil orang lain yang mirip dengan mobil di rumah kami.”


“Tapi, orang yang menabrak larinya udah ketangkap kan Fit?”


“Sedang di cari Bu.”


“Sedang di cari? emangnya orang mana yang menabraknya Fit?”


“Orang luar Bu?”


“Orang luar, orang dari mana Fit?”


“Aku nggak tahu Bu. Ya sudah, kalau begitu aku permisi dulu, soalnya Papa Ridho sedang menunggu di luar.”


“Iya, Fit, baiklah.”


Kemudian Fitri langsung pergi keluar seraya menggendong Suci yang masih kecil, Fitri memeluk putri kecilnya itu dengan lembut sekali.


“Alhamdulillah, saat ini kita telah berkumpul kembali, kamu jangan membuat masalah baru lagi Fit, agar rumah tangga kita nggak bercerai berai seperti hari ini.”


“Iya Bang.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2