
“Saya berani bayar Bapak, berapa saja yang Bapak minta, agar Bapak berhasil memenangkan kasus ini, seluruh harta Sanjaya akan jatuh ke tangan saya.”
“Ibu serius akan menggugat putri Ibu sendiri?”
“Iya Pak, karena secara hukum dia nggak sah menerima seluruh warisan itu, karena masih ada adiknya yang masih kecil serta saya sebagai Ibu kandungnya.”
“Baiklah Bu, kalau begitu, saya akan bantu Ibu dalam memenangkan kasus ini.”
“Baik, terimakasih Pak.”
Luna bermain di atas angan-angannya sendiri, dia sendiri tahu, kalau dia tak akan pernah berhasil memenangkan kasus itu, karena surat wasiat dari Sanjaya benar-benar sah.”
Setibanya di rumah, Luna menangis histeris. Dia benar-benar sudah tak punya apa-apa lagi, jangankan harta seperti yang diharapkannya bersama Tio, sedangkan rumah itu saja, Luna tak bisa memilikinya, semua harta Sanjaya benar-benar telah jatuh ketangan Voni seutuhnya.
“Mama kenapa menangis?” tanya Abi heran.
“Mama nggak nangis sayang, hanya saja mata Mama kelilipan debu.”
“Kalau begitu, sini Abi tiup, biar debunya keluar.”
“Nggak usah sayang, sekarang mata Mama udah baikan kok.”
Tak ingin dilihat oleh putranya, kemudian, Luna masuk kedalam kamar. Sementara Abi asik bermain di ruang tamu. Rumah besar bak Istana itu sudah tak lagi terasa menyenangkan hati Luna, di dalam kamarnya, Luna menghitung semua uang yang dia miliki.
“Dengan uang yang nggak sampai sepuluh juta, apa yang ku dapat di kota besar ini, apa lagi semua kebutuhan hidup naik, untuk biaya Abi saja, uang lima juta ini nggak bakalan cukup.”
Di atas kasurnya, Luna termenung sendirian, dia bingung harus bagai mana. Lalu tiba-tiba saja Luna teringat dengan ucapan pengacaranya.
“Hm…! jika saja aku bergabung dengan Voni, pasti aku kembali menikmati semua harta Sanjaya, tapi apakah Voni mau diajak kerja sama?”
Luna benar-benar frustasi dengan keadaannya yang seperti itu, bahkan dia berjalan keluar masuk kamar untuk memikirkan hal yang tak menentu.
Di saat bersamaan, Voni yang saat itu sedang berada di rumah kosnya, dia sedang makan bersama Anum, Voni tampak begitu senang sekali, karena Anum adalah orang yang telah merawat dan menjaganya semenjak bayi.
“Apakah Bibi nggak bosan tinggal di rumah kecil ini?”
“Nggak Non, Bibi senang kok, asalkan Non Voni bersedia menerima Bibi di sini.”
“Tentu Bi, tentu.”
Voni sangat senang sekali, karena semua kebutuhannya telah di layani oleh Anum, bahkan sampai makan pun Anum menyuapi Voni dengan tangannya sendiri.
“Besok kita akan mencari rumah, yang agak besar dari ini , biar Bibi betah bersama ku.”
“Disini pun Bibi betah kok Non, asalkan Non Voni senang, Bibi pasti senang.”
__ADS_1
Seperti janjinya pada Anum, Voni mencarikan sebuah rumah yang lengkap pasilitas di dalamnya, mesti kecil cukup untuk dua orang saja, tapi rumah itu sangat unik dan membuat Voni senang.
Beberapa hari menempati rumah barunya, Intan datang menemui Voni, dia meminta Voni untuk mengurus hubungannya dengan Pak Tino yang saat itu sudah kembali bekerja.
“Bi, ada Voni?” tanya Intan pada Anum.
“Non Voni ada, silahkan masuk kedalam,” jawab Anum seraya mempersilahkan Intan masuk dan duduk di dalam.
Intan tak menyangka kalau gadis yang selama ini di bencinya dan punya segudang masalah ternyata anak seorang pengusaha terkaya dan bahkan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya.
Mesti demikian Voni bukanlah gadis yang bahagia dan suka hidup mewah, seperti Voni yang dulu, dia tak melihat perubahan hidup sama sekali.
“Ada apa?” tanya Voni seraya duduk di sofa sembari mengangkat kedua kakinya.
“Aku mau minta tolong pada mu Von?”
“Minta tolong? minta tolong apa?”
“Hubungan ku dengan Pak Tino saat ini sudah retak dan bahkan semakin hancur.”
“O ya, kenapa begitu?”
“Karena aku tahu, dia akan menikah dengan gadis lain.”
“Kok bisa begitu, bukankah selama ini kau telah mengorbankan semuanya untuk Pak Tino, termasuk kesucian mu kan?”
“Alah! nggak perlu kau bersembunyi dari ku. Aku tahu kok, apa yang kalian kerjakan selama ini. Kau, Lesti dan Indah. Kalian bertiga sama-sama suka merendahkan diri pada laki-laki.”
Intan diam saja, dia hanya bisa menundukkan kepalanya di hadapan Voni, rasa malu terlihat jelas di raut wajahnya.
“Sekarang katakan apa mau mu?”
“Aku ingin, kau mau membantu ku menggagalkan pernikahan Pak Tino.”
“Apakah kau nggak salah? lihat diri ku, Intan. Aku lebih hancur jika di bandingkan dengan dirimu. Bahkan aku merasa nggak ingin hidup lagi, tapi kau masih saja berharap bantuan ku.”
Mendengar ucapan Voni, Intan langsung menghampiri Voni dan bersimpuh di hadapan gadis liar itu. Voni yang melihat Intan bersimpuh, dia terlihat biasa saja.
“Bukankah dulu kau sendiri yang meminta ku, agar nggak ikut campur dalam urusanmu.”
“Itu dulu Voni, tapi sekarang aku mohon bantuan dari mu.”
“Kapan pernikahannya di laksanakan?”
“Minggu depan Von.”
__ADS_1
“Baiklah, minggu depan kita akan ke pernikahannya.”
“Kau serius mau menolong ku?”
“Iya, aku akan menolong mu, mengembalikan Tino yang kau cintai, tapi aku nggak bisa janji, Tino mau kembali mencintaimu.”
“Kenapa seperti itu?”
“Kau tahu nggak, laki-laki itu semuanya sama saja, nggak ada yang bisa di percaya.”
“Baiklah, baik.”
Karena Voni bersedia membantunya, hati Intan menjadi sedikit lega, dia pun kembali kerumah kosnya. Terasa bagai menghitung hari, Intan duduk seraya meratapi nasib dirinya yang telah ditinggal Tino.
Nasi telah menjadi bubur, kesucian yang selama ini dia banggakan, telah terenggut sia-sia oleh pria yang menjadi pujaan hatinya.
Sementara itu, Anum yang mendengar percakapan mereka, mencoba bertanya pada majikannya. Voni pun menceritakan semua yang dia ketahui tentang Intan dan ketiga teman sekamarnya itu.
“Wah! kenapa mereka itu bisa melangkah terlalu jauh ya Non?”
“Aku nggak tahu Bi, lagian itu urusan mereka.”
“Semestinya mereka itu mikir, kalau perbuatannya itu dapat merugikan dirinya sendiri.”
“Iya juga sih? tapi mereka itu telah terperdaya oleh cinta yang buta Bi, sehingga mereka nggak melihat jalan lain selain itu.”
“Mudah-mudahan saja, Non Voni nggak seperti itu.”
“Ih, Bibi. Kok mikirnya sampai segitunya sih?”
“Karena Bibi merasa khawatir sekali, dengan nasib gadis zaman sekarang Non, mereka itu bisa di katakan cap mau, asalkan semua kebutuhan mereka itu di penuhi.”
“Iya, Bi.”
“Apa lagi bagi gadis remaja yang dulunya miskin, lalu saat diiming-imingi harta, mereka langsung mau.”
“Udahlah Bi, aku nggak mau membahas masalah itu sekarang.”
“Iya Non, sekarang hari udah malam, sebaiknya Bibi istirahat dulu ya.”
“Baik Bi," jawab Voni seraya duduk termenung sendirian.
Seperti yang di katakan Intan pada Voni, pagi itu Voni melihat ada sebuah undangan pernikahan tergeletak di meja Bramono, Voni mengambil dan membacanya.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*