Terjebak

Terjebak
Part 46 Kelembutan hati Bramono


__ADS_3

“Semenjak kapan kau nggak pernah punya masalah, hidup mu selalu saja bermasalah, tapi apakah dengan cara ini, masalah mu akan berakhir? nggak Voni, justru dengan cara ini masalah mu akan bermunculan.”


“Aku tahu itu! lagian kau nggak perlu mengajari ku tentang hal yang baik.”


“Kau nggak perlu membantah ku, jika kau seperti ini terus maka…?”


“Maka apa? maka kau akan meninggalkan aku?”


Bramono diam saja, dia hanya berdiri dan meninggalkan Voni sendirian di atas sofa. Gadis cantik itu hanya diam dan duduk menggigil kedinginan. Dia begitu keras kepala, sehingga Bramono pusing menghadapinya.


Setelah larut malam, Bramono terbangun dari tidurnya, dia lupa kalau saat itu dia telah meninggalkan Voni di ruang tamu, kemudian Bramono bergegas menuju ruang tamu. Ternyata Voni masih saja duduk diam di sana.


“Kenapa kau nggak pulang?”


Voni diam saja, dia merasa sedih, karena ulahnya Bramono merasa sakit hati dan marah padanya. Sebenarnya Voni ingin sekali meminta maaf, tapi dia takut Bramono tak mau menerima uluran tangan darinya.


“Apakah kau nggak dengar! mulai hari ini, kalau kau nggak mau berubah, maka nggak usah menemui Bapak lagi!” ujar Bramono dengan nada tinggi.


Mendengar ucapan Bramono yang terdengar marah, Voni langsung saja berlari dan bersimpuh di kaki pria itu, dia meminta maaf, atas perbuatan yang telah dia lakukan. Voni menangis seraya memeluk kedua kaki Bramono.


“Maafkan aku Pak, maafkan aku. Aku janji, nggak bakalan mabuk lagi, maafkan aku,” ucap Voni dengan deraian air matanya.


Bramono tak mau membuat Voni semakin sedih, itu sebabnya Bramono cepat memeluk tubuh gadis yang dia cintai itu.


“Maafkan aku Pak, aku janji akan merubah semua sikap dan perilaku buruk ku selama ini.”


“Voni, merubah sikap dan perilaku buruk itu nggak perlu di lakukan secara bersamaan, asal kau berusaha Bapak pasti senang.”


“Baik Pak, aku janji.”


“Ya udah, kalau begitu kita tidur saja, kamu tidurnya di kasur, biar Bapak tidur di sofa aja.”


“Kita tidur bareng aja ya?”


"Jangan Voni, Bapak takut terjadi sesuatu nantinya.”


“Tenang aja, nggak bakalan terjadi apa-apa kok.”


“Kamu yakin?”


“Iya,” bisik Voni di telinga Bramono.


Malam itu Bramono tidur bersama gadis yang dia cintai, mesti satu ranjang, Bramono tetap berusaha untuk menjaga diri dari Voni.


“Kenapa sih, Bapak memunggungi aku terus?”


“Kalau Bapak terus menatap wajahmu, Bapak takut, kalau Bapak nggak bisa mengendalikan diri.”


“Ya udah, aku nggak akan memaksa, tapi jangan nyesel, kalau malam ini adalah malam yang tak akan pernah Bapak dapatkan lagi.”

__ADS_1


“Apa maksudmu?”


“Pikirkan aja sendiri!” ucap Voni seraya membelakangi Bramono.


“Voni! jangan bikin Bapak bingung deh,” Bramono mencoba menarik pakaian Voni hingga dua kancing baju Voni terbuka. Saat itu Bramono melihat dengan jelas buah dada Voni yang indah dan putih.


"Astaga...! kuatkan iman ku ya tuhan."


“Aduh, Bram! kenapa narik baju aku sih, kan jadi lepas…!” ujar Voni.


Bramono yang telah sempat melihat dada Voni, membuat jantungnya berdebar kuat, dia bahkan mencoba menelan air liurnya sendiri untuk bisa menahan diri.


Lalu dia berbalik untuk bisa menahan nafsunya yang bergejolak saat itu, mesti demikian Voni mulai nakal, jemari tangannya yang lentik bergerak menjelajahi tubuh Bramono yang mulai diam.


“Voni…! jangan nakal deh, ah!”


“Kenapa? apa aku nggak boleh menyentuh mu? kau kan kekasih ku sendiri.”


Karena tak henti-hentinya Voni menyentuhnya, Bramono merasa tak kuasa untuk menghindar, lalu di peluknya tubuh Voni dengan lembut.


“Bram…!”


“Hm.”


Voni tampak begitu lincah di atas ranjang, hal itu membuat Bramono mencoba menghindarinya. Bramono takut dia tak bisa mengendalikan diri, lalu dia berdiri dan pergi keluar kamar.


“Kemana kamu Bram? tanya Voni ingin tahu.


Melihat Bramono keluar, Voni pun tidur. Dia tak mau mengganggu Bramono yang mencoba menghindari hal buruk.


Saat Bramono kembali, Voni memang udah tidur dengan lelap. Lalu Bramono menyelimuti gadisnya biar hangat,


Kemudian Bramono kembali tidur di samping Voni, hingga pagi menjelang.


Ketika suara ayam jantan mulai berkokok, Voni langsung bangun dan dia memeluk tubuh Bram dengan erat sekali, dia mencumbu Bramono dengan mesranya.


“Voni, apakah kamu nggak kesekolah hari ini?”


“Sekolah sayang.”


“Kalau sekolah, jangan buat Bapak susah dong.”


“Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kos dulu.”


“Iya sayang, hati-hati di jalan.”


“Baik, selamat pagi.”


“Selamat pagi.”

__ADS_1


Di depan rumah kos Voni, tampak Bu Ranti sedang menyapu halaman, dia melihat Voni datang menghampiri rumah kosnya, Ranti merasa heran.


“Voni, kamu dari mana pagi-pagi begini?”


“Habis lari pagi!"


"Lari pagi? kok Ibu nggak lihat kau keluar dari kamar mu, lagian pintu rumah aja masih terkunci rapat kan?”


“Nggak kok, Ibu lihat aja sendiri!” ujar Voni seraya bergegas mendekati pintu dan membuka pintu itu dengan menggunakan kunci leter L .


“Ooo, Ibu kira kamu itu baru pulang.”


“Ya udah, kalau begitu aku masuk dulu ya Bu.”


“Iya.”


Dengan santai dan tenang Voni melangkah masuk kedalam rumah kosnya. Akan tetapi ketika dia melintasi kamar Lesti, Voni mendengar suara seseorang sedang menangis. Merasa penasaran dengan apa yang telah terjadi, Voni berusaha untuk mengintip kedalam kamar.


Benar saja saat itu Voni melihat Lesti menangis tersedu-sedu, Voni tampak mengerutkan dahinya, dia merasa heran kenapa pagi buta begitu Lesti menangis tersedu-sedu.


“Hm, pasti Lesti sedang menghadapi masalah yang sangat berat, kalau nggak, mana mungkin dia menangis seperti itu?” tanya Voni pada dirinya sendiri.


Merasa penasaran dengan apa yang di lihatnya, Voni langsung membuka pintu kamar Lesti dan berusaha untuk masuk kedalamnya. Melihat kedatangan Voni, ketiganya tampak terdiam sejenak, mereka tak ada yang berani buka mulut pada Voni.


“Ada apa? kok pagi-pagi buta Lesti udah nangis?” tanya Voni dengan nada ketus.


“Nggak ada apa-apa, kok Von,” jawab Indah pelan.


“Benar nggak ada apa-apa?”


“Benar Voni, nggak ada apa-apa kok.”


“Tapi kok Lesti menangis?”


“Hanya masalah sepele aja kok, tapi semuanya dapat kami atasi.”


“Kalian nggak sedang menyembunyikan sesuatu dari ku, kan?”


“Nggak Voni, mana mungkin kami menyembunyikannya dari mu.”


“Tapi aku nggak percaya, karena nggak ada yang bisa menyembunyikan apa pun dari ku, di kos ini termasuk kalian,” ujar Voni seraya berlalu meninggalkan mereka bertiga di dalam kamar itu.”


“Astaga, untung saja Voni nggak mendengar pembahasan kita tadi, kalau dia tahu, pasti hal itu akan di laporkan Voni pada kepala sekolah.”


“Iya, benar. Untung saja dia nggak mendengarnya.”


Setelah kepergian Voni, Lesti terus saja menangis, air matanya terasa tak kuasa untuk di tahan. Lesti merasa dirinya telah hancur saat itu.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2