
Selama perjalanan, Voni tertidur dengan nyenyak, Voni bahkan sempat mengigau dalam tidurnya.
“Bukan aku pelakunya, bukan aku Ma. Aku nggak pernah membunuh suamimu! bukan aku pelakunya, bukan aku!”
“Hei Voni, Voni! bangun sayang!”
“Eh Bram, ada apa?” tanya Voni saat dia terbangun dari tidurnya.
“Kamu tadi lagi mimpi sayang.”
“Mimpi?”
“Iya.”
Sejenak Voni terdiam, dia lama berfikir tentang mimpi yang baru saja dia alami, seperti sebuah kenyataan rasanya.
“Sekarang aku baru ingat, kalau Mama datang dan menghajar ku habis-habisan, Mama nggak percaya, kalau aku nggak pernah melakukan semua itu, Tio meninggal karena dia ingin membunuh ku.”
“Walau Mama mu nggak percaya, tapi Bapak percaya kok, kalau Om Tio meninggal karena kelalaian nya sendiri.”
“O iya Bram, bagai mana kalau kita ke penjara untuk membesuk Mama, siapa tahu dia butuh sesuatu dari ku.”
“Kamu yakin, akan ke penjara?”
“Yakin Bram.”
“Tapi aku begitu takut, jika kau bertemu dengan Mama mu.”
“Kenapa mesti takut Bram.”
“Gimana nggak takut, coba! Mama mu menyiksa putrinya lebih parah dari binatang.”
“Aku nggak nyangka Mama setega itu padaku. Padahal, dulu dia begitu menyayangiku, seekor nyamuk aja, nggak ada yang berani hinggap di tubuh ku. Tapi kenapa karena pria itu, Mama bahkan mencampakkan aku seperti binatang.”
“Barang kali Mama mu sedang khilaf.”
“Mama bukan khilaf Bram. Tapi dia lupa diri dan serakah, sehingga dia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.”
“Jadi gimana, benar kamu mau mampir ke tempat Mama di penjara?”
“Iya Bram, apa pun nanti yang terjadi, aku sudah siap.”
“Baiklah,” jawab Bramono yang terus mengendarai kendaraannya.
Mobil Bramono melaju dengan kecepatan sedang saat itu, keramaian kota yang dilaluinya, tak membuat Voni bergeming, dia hanya diam seperti patung.
“Sayang, boleh aku mengusulkan sesuatu nggak?”
“Apa itu Bram?”
“Jika mampir nya sepulang perlombaan gimana?”
“Kenapa?”
“Nggak, aku hanya waspada saja, takut pertemuan mu dengan Mama akan merusak konsentrasi pertandingan.”
“Baiklah, terserah kamu aja.”
“Makasih sayang, kau masih mau mendengarkan saran dari ku.”
“Kenapa nggak, bukankah selama ini, aku sering mengikuti saran dari mu.”
“Iya juga, tapi kalau kita saling berhadapan.”
“Maksud mu apa Bram?”
“Kalau di belakangku, kamu justru sering melanggarnya.”
__ADS_1
“Tapi aku kan sering minta maaf.”
“Iya juga sih, ya sudahlah, semuanya udah berlalu."
Bramono adalah seorang pria yang lembut, pengertian dan tak pernah menyerah dalam mendampingi Voni, dia bahkan selalu ada jika, voni dalam bahaya.
Setelah sekian lama berada di perjalanan, akhirnya tibalah mereka di gedung Pendidikan, dia mana waktu itu Voni juga pernah melakukan perlombaan di sana.
Saat melihat wajah Voni semua guru merasa tak asing lagi dengannya, mesti saat itu Voni tampak tenang dan berperilaku biasa saja, namun mereka tetap saja mengenal Voni.
“Gadis yang juara, waktu perlombaan tahun yang telah lewat kan?”
“Iya Pak,” jawab Bramono pelan.
“Ooo, ternyata dia ikut lagi dalam perlombaan tahun ini?”
“Iya.”
“Ikut dalam bidang apa?”
“Bahasa Indonesia.”
“Ooo, kenapa nggak ikut bidang IPA lagi, Pak?”
“Bidang IPA tahun lalu, anak didik saya kan udah pernah menang, jadi tahun ini saya memutuskan untuk ikut cabang yang lain saja.”
“Ooo, gitu ya. Takut di diskualifikasi juga, barang kali.”
“Maaf kalau begitu saya kekamar dulu.”
“Ya silahkan!”
Ucapan pria itu tak di tanggapi sama sekali oleh Bramono, karena saat itu telinganya agak sedikit panas mendengar tudingan itu.
“Bapak kenapa diam saja sih, saat pria itu bicara?”
Setelah tiba di dalam gedung, Bramono menyuruh Voni langsung ke kamar nya, sementara itu Bramono pergi menemui panitia untuk mendaftarkan Voni.
“Lho, sepertinya saya kenal Bapak?”
“Iya, tahun yang lewat anak didik saya juga pernah mengikuti perlombaan disini.”
“O iya, yang juara satu itu kan?”
“Iya benar Bu.”
“Tahun ini ikut cabang apa dia Pak?”
“Bahasa Indonesia.”
“Ooo, semoga saja, murid Bapak akan menjadi pemenangnya.”
“Aamiin, insya Allah, Bu.”
Saat pendaftaran selesai, Bramono langsung menemui Voni yang sedang beristirahat di penginapan yang sudah di sediakan panitia.
Sore itu, Voni terbangun dari tidurnya, dia mulai mempelajari kisi-kisi yang di berikan guru bimbelnya, Voni tampak tekun dalam mempelajari semua soal yang telah dia dapat.
“Kamu lagi ngapain sayang?”
“Lagi belajar Pak.”
“Ooo, apakah Bapak mengganggu mu?”
“Nggak, masuklah! kalau Bapak ingin masuk.”
“Baik,” jawab Bramono seraya memasuki kamar Voni.
__ADS_1
Di dalam kamar itu, Bramono membantu Voni dalam memberikan pertanyaan yang sesuai dengan materi pembahasan lomba.
Karena lelah, Voni sampai tertidur di dalam pelukan Bramono, Bramono yang saat itu terus membacakan soal, akhirnya hanya bisa tersenyum melihat kekasihnya tertidur pulas di pangkuannya.
“Kamu capek ya sayang? istirahatlah, nanti akan kita lanjutkan lagi belajarnya,” ujar Bramono seraya menggeser kepala Voni untuk tidur di atas kasur.
“Jangan pergi Bram.”
“Kenapa?”
“Aku mau tidur bersamamu.”
“Tapi Bapak mau ke kantin.”
“Nanti aja, pas aku lagi udah tidur beneran.”
“Baiklah.”
Sembari bersenandung kecil, Bramono mengusap kepala Voni dengan lembut, hingga akhirnya gadis nakal itu benar-benar tertidur.
“Kamu udah tidur sayang?”
“Belum.”
Bukan hanya Voni yang tertidur, bahkan Bramono juga ikut tertidur di kamar itu. saat semua anak mulai sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Bramono baru tersentak, di lihatnya, jam telah menunjukkan pukul lima pagi.
“Voni, hari udah pagi, kalau kamu mau sholat dulu silahkan, nanti Bapak akan datang lagi kesini.”
“Baiklah.”
Setelah Bramono pergi, Voni tak lagi melanjutkan tidurnya, dia melaksanakan sholat subuh dan kembali melanjutkan belajar.
Selesai sarapan, Voni bersiap-siap untuk melakukan lomba, semua atribut lomba, seperti tanda pengenal dan yang lainnya telah di pasang sesuai dengan permintaan panitia.
“Kamu udah siap sayang?” tanya Bramono seraya mencium kening kekasihnya.
“Udah Bram.”
“Yang tenang, jangan terburu-buru.”
“Iya Bram.”
“Nggak usah gugup.”
“Iya.”
“Berdo’a sebelum menyelesaikan soal, baca dengan pelan dan berulangkali agar kamu nggak salah dalam mengisi jawabannya.”
“Iya.”
“Pergilah!”
“Baik, Bram.”
Seperti anak-anak yang lain, Voni berjalan tenang menuju aula gedung, karena di sanalah perlombaan akan di laksanakan.
Seluruh peserta telah hadir, dan mencari tempat duduk mereka masing-masing, begitu juga dengan Voni. Saat hendak duduk, seorang siswi mencoba mendorong voni dan duduk di tempat Voni akan duduk.
“Hei, apa-apaan kamu! ini kan tempat duduk ku, kenapa mesti di ambil?” tanya Voni heran.
“Kau cari saja tempat duduk yang lain,” jawab gadis itu.
“Nggak bisa gitulah, setiap kursi sudah tertera nomor lot nya masing-masing.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1