
Untuk ucapan Bu Riska kali itu, Voni mencoba untuk tetap diam dan bersabar, tapi Bu Riska selalu saja memancing emosi Voni agar tak bisa di kendalikan.
“Heh! Voni, mimpi apa kamu, kok mau belajar dan duduk tenang, apakah Bramono udah memberikan kesenangan pada mu semalam?” bisik Riska di telinga Voni, hal itu membuat jantung Voni terasa mendidih.
Tanpa berfikir panjang lagi, Voni langsung menghajar Riska, dia memukul wajah Riska secara berulang kali, bukan hanya itu saja, Voni juga menghantam Bu Riska hingga dia terjungkal dan sebagian tubuhnya membentur dinding sekolah.
Beberapa orang murid berusaha untuk memisahkan mereka, namun Voni marah pada mereka. Setelah pertengkaran itu terjadi Voni langsung pergi meninggalkan Bu Riska sendirian.
Siang itu mereka berdua di panggil ke kantor, di hadapan semua guru dan kepala sekolah, baik Voni mau pun Bu Riska di minta keterangannya, kenapa pertengkaran itu bisa terjadi di antara mereka.
“Saya nggak salah apa-apa Pak, kalau Bapak nggak percaya tanya pada semua murid di dalam kelas.”
“Kalau Ibu nggak berbuat apa-apa, nggak mungkin Voni bisa menghajar Ibu babak belur begini.”
“Itu karena dia, yang selalu bersikap arogan pada semua guru yang ada di sekolah ini.”
Seperti biasa, setiap permasalahan Voni di bahas, gadis itu tampak diam dan tenang, dia bahkan tak merasa takut sama sekali.
“Apa benar yang di katakan Bu Riska itu Voni?” tanya Bramono ingin tahu.
“Kalau Bu Riska nggak sedang berbohong, berarti benar apa yang dia katakan, tapi kalau dia sedang berbohong, berarti Bu Riska salah bicara.”
“Apa maksud mu Voni?” tanya Bu Riska tak mengerti.
“Aku nggak bermaksud apa-apa, aku hanya bilang terserah Ibu aja.”
Karena Voni menyerah saja pada kata Bu Riska, akhirnya Kepsek menjatuhi hukuman untuk Voni, dia mendapat skor selama dua minggu, atas perbuatannya itu.
Voni tak merasa keberatan, dia menerima hukuman itu dengan lapang dada tanpa protes sama sekali. Namun di balik semua itu, Bramono tak percaya dengan apa yang telah terjadi, begitu juga dengan guru-guru yang lain.
Setelah Bu Riska pergi, semua guru membahas masalah Voni dengan Kepala sekolah.
“Aku nggak yakin kalau Bu Riska nggak bersalah sama sekali Pak,” ujar Khairul pada Bramono.
“Iya Pak, mesti Voni itu nakal, tapi dia nggak pernah bohong,” timpal Bu Nina.
Bramono hanya menanggapi ucapan para guru itu dengan perasaan bingung. Bukan hanya para guru itu saja yang tak percaya ucapan Bu Riska, Bramono juga. Namun hukuman telah di jatuhkan, Voni juga telah meninggalkan sekolah.
Sore paska menjalani hukuman yang telah di jatuhkan Bramono, Voni tampak duduk santai di rumah kosnya, secara diam-diam, Bramono datang menghampirinya.
“Hai,” sapa Bramono dari belakang Voni.
“Eh, Pak. Kok datang secara diam-diam?”
“Bapak ada sesuatu untuk mu Voni.”
“Apa itu Pak?” tanya Voni ingin tahu.”
__ADS_1
Lalu Bramono mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan menyerahkan benda itu ketangan Voni.
“Apa ini Pak?” tanya Voni penasaran.
Bramono yang tak pandai berbasa basi dia langsung membuka kotak pemberiannya itu di hadapan Voni.
“Ya ampun! kalung, indah sekali.”
“Kamu suka?”
“Suka banget!” jawab Voni seraya menganggukkan kepalanya di hadapan Bramono.
Voni bukannya tak sanggup membeli kalung seperti itu, tapi karena kaluang itu adalah hadiah dari Bramono, Voni merasa sangat senang sekali. Lalu Bramono memasangkan kaluang itu di leher Voni, gadis cantik itupun tampak tersenyum manis.
“Makasih Pak,” ucap Voni seraya memeluk tubuh Bramono dan menciumnya dengan lembut.
“Jadilah gadis ku yang lembut dan menyenangkan Voni,” bisik Bramono di telinga Voni.
Voni hanya bisa tersenyum saat kata-kata itu berdesir di telinga nya. Pandangan matanya yang tajam tak lagi terlihat indah.
“Berubahlah sayang, tinggalkan semua yang membuatmu semakin hancur, Bapak selalu ada untuk mu.”
Voni hanya menangis di dalam pelukan Bramono, di saat-saat dia terpuruk dan jatuh, Bramono selalu ada untuknya.
“Pak, ada sesuatu yang ingin ku katakan.”
“Aku ini.”
“Aku apa? kenapa dengan mu?”
“Aku ini seorang pembunuh, huhuhu…!”
“Apa maksud mu Voni?”
“Aku telah membunuh Papa ku sendiri.”
“Benarkah?”
“Iya, itu kata Mama.”
“Jadi Mamamu masih hidup?”
Voni tak menjawab, dia hanya menganggukkan kepalanya, Bramono yang mendengar ke jujuran Voni mencoba menenangkan gadis pujaannya itu dengan memeluk tubuh Voni.
Setelah mendengar kejujuran Voni, Bramono tak mau lagi bertanya, karena tiga fakta langsung terkuak dengan sendirinya dari mulut Voni.
Bramono juga yakin hal itulah yang membuat Voni depresi dan berulang kali ingin mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
"Yang sabar sayang, semua yang kamu lakukan, pasti nggak di sengaja."
"Tapi Mama selalu bilang begitu."
" Ya sudah, lain kali saja kita bahas," jawab Bramono, seraya menenangkan Voni yang terus menangis.
Beberapa saat menangis sedih, akhirnya Voni pun tertidur. Lalu Bramono meninggalkannya, di dalam kamar kos tersebut.
Di saat Bramono telah pergi meninggalkan kos Voni, secara diam-diam Indah pun keluar dari rumah itu, dia ternyata pergi menemui kekasihnya di rumah kos yang lain.
Bersama Beno, Indah menikmati indahnya dunia ini, dengan suntikan jarum ke tangannya Indah tak perduli lagi dengan hiruk pikuknya dunia luar.
Akal sehatnya lenyap ketika itu, yang tinggal hanyalah berkhayal setinggi mungkin.
Gadis yang selama ini di anggap pendiam dan penurut, ternyata telah terjerumus ke jurang yang sangat dalam.
Walau Bu Ranti telah menetapkan peraturan tak boleh keluar malam, namun anak-anak itu tetap nekat dan mengabaikan ucapan pemilik kos.
Pagi itu ketika semua anak-anak kos yang berada di kamarnya sudah pergi, serta mengunci pintu kamar masing-masing. Voni juga ikut berangkat bersama mereka, hukuman yang di berikan Bramono telah di jalaninya selama dua minggu.
“Hai Voni!” sapa Nita seraya menepuk pundak Voni dari belakang.
“Hai juga Nit.”
“Gimana kabarmu sekarang, kau sehat?”
“Iya, aku sehat.”
“Alhamdulillah.”
Semua murid tak ada yang berkomentar saat Voni masuk ke dalam kelas, mereka semua diam. Tak Berapa lama kemudian Bu Hanifah masuk, saat itu dia mengajar Agama di kelas Voni.
Setiap mata pelajaran yang di ajarkan oleh Bu Hanifah, Voni tak pernah berbuat masalah sama sekali, dia justru merasa senang dengan cara Bu Hanifah mengajar.
“Gimana anak-anak? apakah udah bisa kita lanjutkan pelajaran kita pagi ini?” tanya Bu Hanifah ingin tahu.
“Bisa Bu!” jawab seluruh siswa serentak.
“Anak-anak Ibu sekalian, pernahkah kalian berfikir, untuk apa kita hidup dan akan kemana kita setelah meninggal dunia nanti?”
Mendenr pertanyaan Bu Hanifah tak seorang murid pun yang menjawab, semuanya tampak diam duduk tenang di bangku masing-masing.
“Setiap manusia yang telah terlahir ke dunia, mereka semua punya tujun hidup, bagai mana dengan tujuan hidup mereka, yaitu kembali pada Allah dalam keadaan husnul khotimah.
Apapun yang kita kerjakan selama di dunia maka kita akan mendapat imbalan yang setimpal kelak di akhirat.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*