
“Emangnya, kenapa pada berlarian sih?”
“Tadi itu ada satpol PP, yang sedang merazia para pedagang kaki lima.”
“Kenapa di razia? mereka itu kan hanya sekedar mencari nafkah.”
“Iya, itu menurut pendapat kita, tapi kalau menurut mereka, para pedagang kaki lima itu adalah pedagang yang nakal.”
“Lihat, gara-gara mereka menguber para pedagang, banyak diantara pedagang itu merugi, ada yang terjatuh, ada yang terinjak-injak dan ada pula dagangan mereka yang berserakan.”
“Iya juga sih,” jawab pria itu pelan. “Emangnya kamu ini siapa?” tanya pria itu kemudian.
“Siapa? aku...?”
“Iya, kamu?”
“Kenapa dengan aku?”
“Kenapa kamu mengikuti Abang terus?”
“Itulah orang kota, nggak pernah bertanggung jawab dengan apa yang baru dia lakukan.”
“Maksud mu?”
“Ya udah, kalau begitu biar aku pergi aja.”
“Eee, tunggu dulu dong!"
“Apa lagi sih?”
“Kamu mau kemana?”
“Itu bukan urusan Abang, terserah aku, kemana kaki ku melangkah.”
“Nggak bisa gitu anak manis, karena jalan yang akan kau tempuh, di depan sana ada hutan, apakah kau mau ke hutan?”
“Hutan?”
“Iya, lihat aja ke depan sana, ada hutan kan?”
“Baiklah, kalau begitu aku lewat jalan ini aja.”
Voni melangkah pergi meninggalkan pria itu, tak berapa lama kemudian, pria itu pun mengejarnya dari belakang.
“Sebenarnya kamu mau kemana sih?”
“Aku mau ke gedung olah raga.”
“Ke gedung olah raga? ngapain di sana?”
“Aku sedang mengikuti, turnamen pencak silat.”
“Ooo, ternyata kamu jago karate ternyata.”
“Bukan.”
“Lalu apa, kalau bukan karate?”
“Pencak silat.”
“Iya, karate dan pencak silat itu kan sama, hanya beda Ibunya doang.”
“Hah, Abang itu ya, kalau ngomong suka nyebelin,” jawab Voni tertawa geli.
“Nah gitu dong, jangan sewot mulu.”
Voni merasa sedikit terhibur dengan kehadiran pria itu, selain dia keren, pria itu juga suka bercanda, sehingga Voni tidak merasa tegang dan kaku.
“Udah, kalau begitu kita berpisah disini aja, aku mau ke gedung olah raga, sementara Abang silahkan pergi.”
“Jadi kamu mengusir Abang.”
__ADS_1
“Emangnya Abang mau kemana?”
“Ke gedung olah raga.”
“Ke gedung olah raga? ngapain Abang ke sana?”
“Ada urusan.”
“Abang pasti lagi berbohong.”
“Nggak, Abang serius kok.”
“Ya udah, kalau begitu, kita menuju gedung olah raganya sendiri-sendiri aja.”
“Kenapa begitu?”
“Kita kan nggak kenal.”
“Itu kan tadi, sebelum Abang menarik tangan mu, sekarang kita kan udah kenal.”
“Benarkah?”
“Iya, kan Abang udah dua kali memegang tangan mu, itu artinya secara tidak langsung kita itu udah berkenalan.”
“Baiklah, kalau begitu mari kita ke gedung olah raga bersama-sama.”
“Baiklah,” jawab pria itu dengan suara lembut.
Kemudian Voni mulai melangkah meninggalkan pria itu, hal itu membuatnya merasa heran, karena Voni pergi begitu saja.
“Hei, ayo!” ajak Voni tanpa ragu.
“Kamu mau kemana?”
“Ke gedung olah raga.”
“Gedung olah raga itu sangat jauh sayang.”
“Ada empat kilo lebih dari sini.”
“Abang serius?”
“Iya.”
“Nggak lagi bercanda kan?”
“Nggak!”
“Ya ampun, berarti aku tadi udah berjalan sejauh empat kilo meter?”
“Lebih malah,” sambung pria itu.
Voni sungguh tak menyangka, kalau saat itu dia telah berjalan begitu jauh meninggalkan gedung olah raga, saat itu Voni benar-benar merasa cemas, takut kalau-kalau Bramono akan memarahinya.
Kemudian gadis cantik itu mencoba duduk di pinggir trotoar jalan, guna menanti angkot lewat. Setelah beberapa saat menunggu, angkot yang di nanti tak kunjung datang menghampiri mereka.
“Kenapa mesti naik angkot sih Bang? gimana kalau kita naik taksi aja?”
“Naik taksi itu biayanya mahal dek, Abang nggak punya uang.”
“Biar aku yang bayarin nantinya.”
“Emangnya kamu punya uang?”
“Punya.”
“Ada berapa?”
“Banyak.”
“Maksud mu?”
__ADS_1
Tanpa merasa ragu dan takut sedikit pun, lalu Voni membuka tas yang selalu di sandangnya di belakang punggung miliknya.
“Ya Allah! banyak sekali uang mu Dek. Apakah ini uang mu?”
“Nggak!”
“Lalu kau dapat uang ini dari mana?”
“Seseorang yang melemparkannya pada ku.”
“Kau serius?”
“Iya. apakah Abang takut?”
“Iya juga sih, kalau begitu ayo, kita naik taksi aja!” ajak pria itu seraya menggandeng tangan Voni.
Di atas mobil, tampak keduanya, sama-sama diam, setelah tiba di tujuan lalu voni membayar ongkos mereka berdua.
“Ini pak, ongkosnya.”
“Besar sekali uangnya Neng, apakah nggak ada uang kecil?”
“Sisanya untuk Bapak aja.”
“Oh, terimakasih Neng.”
“Iya Pak sama-sama.”
Di saat Voni dan pria itu sudah tiba di gedung olah raga, ternyata pria yang baru saja di uber-uber masa, kembali lagi ketempat semula, guna mencari tas miliknya yang di lempar ke tangan Voni.
“Pada kemana bocah ingusan itu, kenapa nggak ada lagi di sekitar sini? apakah dia udah membukanya atau belum. Semoga saja belum.”
Pria itu mondar-mandir di trotoar jalan, seraya menantikan kedatangan Voni yang telah membawa kabur uang hasil curiannya.
“Kurang ajar! jangan-jangan gadis itu udah kabur membawa uang milik ku,” gerutu pria itu kesal.
Sementara itu Voni yang baru saja datang, secara diam-diam dia memasuki kamar miliknya, dia saat itu berpura-pura tidur, agar Bramono tak marah padanya. Namun kepergian Voni, telah membuat pria itu benar-benar kesal.
Di saat semua orang telah sibuk mencari keberadaannya, pria yang tadinya ada bersama Voni, langsung memberi tahu, kalau gadis yang mereka cari sudah berada di dalam kamarnya.
“Kamu tahu dari mana, kalau gadis itu udah tidur di kamarnya?”
“Tadi dia itu kembali bersama ku.”
“Emangnya kalian dari mana?” tanya Bramono sedikit heran.
“Sekitar empat kilo meter dari sini, aku melihatnya di pinggir jalan, karena ada satpol PP yang sedang menguber para pedagang, tanpa sengaja aku menarik tangannya untuk kabur. Tapi dia baik-baik saja kok, saat ini.”
“Alhamdulillah. Terimakasih, kau telah menolong murid ku.”
“Ooo, jadi Bapak gurunya?”
“Saya kepala sekolahnya.”
“O, begitu.”
“Ya sudah, kalau begitu saya lihat dulu dia di dalam kamarnya.”
“Baik Pak.”
Dengan tergesa-gesa Bramono langsung menuju kamar Voni, saat pintu kamar di ketuk, Voni tak membukannya, lalu Bramono mencoba untuk mendorongnya, ternyata pintu itu tak di kunci voni dari dalam.
Dengan pelan, Bramono menghampiri Voni, dia duduk tenang di pinggir tempat tidur. Saat itu Voni merasa takut sekali, kalau Bramono akan memarahinya, sehingga gadis itu tak berani untuk mengangkat kepalanya.
“Kamu udah kembali sayang?”
Tak ada jawaban dari Voni, karena saat itu Voni benar-benar cemas, dadanya terasa berdebar begitu kencang. Lalu Bramono membelai rambutnya dengan lembut.
“Tadi Bapak dan semua orang yang berada di gedung ini, merasa khawatir sekali, karena kehilangan mu, bukan hanya mereka, Bapak bahkan sampai meneteskan air mata. Jika saja kamu nggak kembali, pasti Bapak akan mejadi pria bodoh dan tak bertanggung jawab.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*