
Tak berapa lama kemudian, mereka berdua tiba di tempat perlombaan pencak silat. Lalu Bramono menarik rem tangan dan dia pun keluar dari dalam mobil.
“Kita udah nyampe sayang.”
“Oh, baiklah.”
Setelah pintu mobil di buka Bramono, semua mata tampak tertuju pada mereka berdua, kemudian dengan tenang Bramono dan Voni langsung menuju gedung untuk melakukan pendaftaran.
Lalu salah seorang panitia mengantar mereka berdua ke tempat penginapan yang telah di sediakan. Bramono dan Voni mengikuti perempuan itu dari belakang.
“Nah, ini penginapan adik dan sebelah sini penginapan Bapak.”
“Baik, terimakasih.”
“Sama-sama Pak.”
Sesaat setelah perempuan itu pergi, lalu Voni melangkah memasuki kamar yang telah di sediakan, di dalam kamar itu Voni melihat dua buah koper telah berada di dalam kamar itu.
Gadis tomboi itu hanya diam saja, karena merasa lelah, lalu dia pun merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tak berapa lama kemudian Bramono datang ke kamarnya.
“Gimana sayang, tempat mu aman?”
“Sepertinya ada beberapa orang anak di kamar ini, Pak.”
“O ya?”
“Lihat, itu koper miliknya.”
“Ooo, biarlah, walau kalian nggak saling kenal, kamu harus bisa menjaga sikap dengannya, jangan cepat emosi, sabar dan tahan dirimu.”
“Baik Pak,” jawab Voni mematuhi perintah Bramono.”
Sebenarnya Bramono sedikit khawatir, jika Voni mesti di gabungkan dengan anak-anak yang lain, karena Bramono tahu kalau kekasihnya itu punya mental yang labil dan mudah emosi.
Kemudian Bramono mencari panitia yang menyediakan tempat untuk para peserta lomba.
“Assalamu’alaikum,” ujar Bramono seraya mengetuk pintu.
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk Pak. Ada apa?” tanya panitia itu ingin tahu.
“Aku kepala sekolah SMA Semangat negri, meminta bantuan panitia perlombaan ini.”
“Ya kami sendiri Pak, ada apa?”
“Begini, murid saya ini mentalnya agak sedikit labil, dia mudah marah dan kesal, saya takut, kalau dia membuat masalah di kamar itu, jadi saya minta agar dia di beri tempat tersendiri. Agar nanti tidak menimbulkan permasalahan yang lebih rumit lagi.
“Tapi Pak, seluruh peserta lomba di beri tempat yang sama, mereka tigal bertiga dalam satu kamar, jadi mau tak mau murid Bapak harus bisa terima itu.”
“Baiklah kalau begitu, tapi kalau terjadi sesuatu dengan murid saya, panitia disini nggak bisa menyalahkannya, karena saya udah memperingatinya terlebih dahulu.”
“Bapak mau mengancam kami?”
“Terserah penilaian kalian saja,” jawab Bramono seraya meninggalkan kantor tempat panitia berkumpul.
__ADS_1
Sementara Bramono sedang menuju kamarnya, seorang peserta lomba juga sedang memasuki kamar Voni. Saat itu Voni sedang tertidur dengan nyenyak sekali. Lalu ujung jari kaki perempuan itu berusaha menyentuh pinggang Voni.
Voni yang merasa sesuatu menyentuh pinggangnya dia langsung menepisnya dengan kuat sekali, sehingga perempuan itu hampir saja terjatuh.
“Kurang ajar! siapa kau berani menepis kaki ku?”
Mendengar suara itu, Voni langsung terbangun dan duduk di tepi tempat tidurnya, dia menatap perempuan itu dalam-dalam.
“Jadi kau membangunkan aku dengan menggunakan ujung jari kaki mu?”
“Iya, emangnya kenapa? kau marah?”
“Lain kali jangan kau ulangi lagi, aku nggak suka dengan cara mu seperti itu.”
“Hei, itu bukan urusan mu, emangnya kau ini siapa, sok mengatur aku segala.”
Merasa sesuatu hal buruk bakal terjadi, maka Voni mencoba untuk berdiri dan menjauhi perempuan itu, saat Voni hendak pergi perempuan itu langsung menghalangi langkah Voni dengan kakinya, sehingga Voni hampir saja terjatuh.
Merasa perempuan itu telah mempermainkan dirinya, Voni merasa terpancing, emosi gadis belia ini pun mulai memuncak hingga ke ubun-ubun.
“Kau mau cari gara-gara ya?” tanya Voni seraya menghantam wajah perempuan itu dengan tangannya.
Hanya sekali tinju, gadis itu langsung terjungkal kebelakang, Voni yang melihat gadis itu terjatuh, dia pun pergi keluar dengan membanting pintu.
Tak berapa lama kemudian, Voni mendengar suara jeritan gadis itu di belakangnya. Tampak gadis itu membuka pintu kamar seraya berteriak-teriak marah.
Bramono yang saat itu berada dekat dengan Voni, dia langsung bergegas menghampiri muridnya, yang saat itu sedang berjalan santai menuju ke arahnya.
“Bukan aku yang memulainya Pak?”
“Yang memulai apa?” tanya Bramono tak mengerti.
“Memulai perkelahian ini.”
“Jadi kalian berkelahi?”
“Iya.”
“Ya Allah Voni, kan Bapak udah nasehati kamu, agar menjaga sikap dan emosi, jangan gampang marah.”
“Aku juga udah menahannya! tapi gadis itu semakin kurang ajar.”
“Kurang ajar gimana sayang?”
“Saat aku tidur gadis itu datang, dia membangunkan aku dengan menggunakan ujung jari kakinya, lalu aku menepisnya hingga dia hampir terjatuh.”
“lalu habis itu kalian langsung bertengkar?”
“Nggak, aku berusaha untuk menghindar, tapi gadis itu mencoba menghalangi dengan kakinya, hingga aku hampir saja terjatuh.”
Bramono begitu percaya dengan ucapan Voni, mesti dia nakal, tapi Voni tak suka berbohong, dia jujur dan ucapannya bisa di percaya.
“Bapak percaya aku kan?”
__ADS_1
“Tentu sayang. Baiklah, kalau begitu mari kita kesana, sepertinya guru gadis itu ada di sana, pasti dia telah melaporkan kejadian itu pada gurunya.”
“Biar saja, aku nggak takut kok.”
Belum sempat Voni menghampiri mereka semua, seorang pria langsung datang dan menarik krah baju Bramono, hal itu membuat Voni semakin marah, dia mencoba menarik tangan pria itu dan hendak menghajarnya.
Untung saja saat itu Bramono langsung menarik tangan Voni, kalau tidak, masalah kedua pasti akan datang menyusul.
“Kenapa Bapak melarang ku?”
“Sabar sayang, sabar. Berusahalah untuk mengendalikan emosi mu.”
“Huh…!” ujar Voni seraya menahan amarahnya.
Bramono terpaksa harus diam, saat Voni marah di belakangnya, sebenarnya Bramono tahu, kalau saat itu Voni hendak membelanya.
“Jadi murid Bapak tadi yang memukul murid saya?” ujar pria itu yang tak lain seorang guru olah raga.
“Kau tanya sendiri pada murid mu?”
“Benar perempuan ini yang memukul mu, Yola?” tanya guru olah raga itu pada muridnya.
“Benar Pak.”
“Kan benar! berarti murid Bapak telah berbuat kejahatan di sini.”
“Tunggu dulu, apakah kau nggak tanya, kepada murid mu, kenapa murid ku memukulnya?”
“Iya Yola, kenapa gadis itu memukul mu?”
“Aku nggak tahu, lagian aku nggak salah apa-apa padanya, kenal aja nggak, mana mungkin aku memukulnya.”
“Nah, Bapak dengar sendiri kan, jawaban dari murid saya.”
“Apakah kau nggak bertanya dulu pada murid ku?”
“Nggak perlu!”
“Nggak bisa gitu dong! kamu harus bersikap adil dalam memutuskan sesuatu, bukankah kau seorang guru?”
“Baik, sekarang coba kau katakan, apa yang telah di lakukan murid ku pada mu?”
“Saat aku tidur, dia datang dan berusaha membangunkan aku dengan menggunakan ujung jari kakinya.”
“Benar begitu Yola?” tanya guru olah raga itu.
“Nggak Pak, dia itu berbohong!”
“Lanjutkan Voni?” ujar Bramono.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1