Terjebak

Terjebak
Part 31 Cara Bramono kepada Voni


__ADS_3

Setelah masuk kedalam kamar Voni, Bramono langsung duduk di dalam kamar itu, dia menatap Voni dalam-dalam.


“Ada apa? sepertinya kamu sedih?”


“Boleh aku merokok?”


“Nggak.”


“Satu kali ini, aja.”


“Nggak Voni, kau mau merusak reputasi Bapak, di hadapan semua orang?”


“Tapi kan hanya di dalam kamar Pak.”


“Pokoknya nggak boleh, titik!”


“Ih, judes banget,” gerutu Voni kesal.


Karena Bramono melarang Voni merokok, jadi malam itu dia terlihat begitu canggung sekali, lalu diapun merayu Bramono agar mau menuruti keinginannya.


“Ayolah Pak, satu batang aja,” ujar Voni seraya memeluk tubuh Bramono dan menciumnya.”


Tapi Bramono bukan tipe pria yang mudah di rayu, dia tetap saja pada pendiriannya, dengan sikap dingin Bramono mendorong tubuh Voni dengan lembut.


“Ya udah, kalau kau meminta itu juga pada Bapak, maka Bapak akan keluar sekarang juga.


“Ya udah, kalau nggak boleh, ya nggak apa-apa.”


Melihat Voni merajuk, Bramono tenang saja, dia hanya terdiam tidur di samping Voni, sementara itu Voni tetap diam seribu bahasa.


“Tidurlah, besok mau lomba, kamu harus persiapkan mental dan fisik mu.”


“Baiklah.”


Lalu tanpa merasa ragu sedikit pun Voni merebahkan tubuhnya di samping Bramono, dengan lembut Bramono membelai rambut Voni dan dia pun menyanyikan sebuah lagu yang sangat syahdu sekali.


“Ternyata Bapak pintar nyanyi ya?”


“Apa yang nggak bisa Bapak lakukan demi kamu sayang.”


“Hm, Bapak,” ujar Voni bermanja.


Karena asik mendengarkan senandung lagu yang di nyanyikan Bramono, Voni langsung tertidur, setelah dia tidur, baru Bramono pergi meninggalkannya.


Pagi hari di saat semua peserta sedang bersiap-siap, Voni mencoba mempelajari kisi-kisi yang di berikan sekolah padanya.


Beberapa saat kemudian Bramono pun datang kekamar Voni, dia melihat Voni sedang mengulangi kisi-kisi yang di berikan sekolah padanya.


“Kamu lagi ngapain sayang?”


“Lagi mengulangi kisi-kisi yang di berikan sekolah kemaren Pak.”


“Ingat, waktu perlombaan tinggal setengah jam lagi.”

__ADS_1


“Iya, Pak.”


Lalu tanpa merasa ragu sedikitpun Voni langsung mengganti pakaiannya di depan Bramono, sambil membaca kisi-kisi yang ada di tangannya.


Bramono hanya diam memperhatikan apa yang di lakukan Voni, saat itu bel pun berdering, Bramono terpaksa turun tangan sendiri membantu menyisir rambut Voni dan merias wajahnya.


“Sekarang pergilah nak, berdo’a dulu sebelum tampil.”


“Baik Pak,” jawab Voni seraya bergegas menuju ruang perlombaan.


Setelah memasuki ruang perlombaan, Voni mengambil tempat duduk di urutan paling depan. dia tampak duduk dengan tenang, di sana. Tak berapa lama kemudian, panitia langsung membagikan lembaran soal yang akan di isi oleh para peserta.


Bramono pun masuk kedalam gedung serta duduk di depan para peserta bersama para kepala sekolah dan guru lainnya.


Dua jam hampir habis waktu berjalan, dari barisan paling depan seorang pria berdiri, dan menyerahkan lembaran jawabannya ke pada panitia yang berada di meja paling depan.


Kemudian beberapa orang para peserta lomba menyusul setelah itu. Hati Bramono sangat cemas sekali, dia sangat meragukan keahlian yang di miliki Voni saat itu.


Setelah beberapa orang anak mengantarkan lembaran jawaban mereka ke depan, hati Bramono semakin cemas.


Ketika hanya tinggal Voni dan seorang perempuan di bangku paling ujung. Lalu panitia memberi tahu kalau waktu hampir habis.


“Waktunya hanya tinggal beberapa menit lagi! bagi peserta yang belum siap, agar segera mengisi lembaran jawabannya dan mencantumkan nama, serta asal sekolah di sudut kolom paling atas.”


Dari bangku paling depan tampak Bramono memperhatikan Voni, saat Voni menoleh ke arahnya, lalu Bramono memberi kode dan Voni langsung berdiri serta menyerahkan lembaran jawabannya ke Panitia, kemudian dia pun menghampiri Bramono.


“Gimana nak? apakah soalnya sulit?”


“Lumayan,” jawab Voni singkat.


“Apanya yang lumayan nak?” tanya seorang guru pada Voni.


“Ya soalnya.”


“Lumayan apanya?”


“Sulit!”


“Hahaha…! anak Bapak polos sekali!” ujar seorang guru.


“Lho, kok pada ketawa? apa ada yang lucu ya?” tanya Voni heran.


Melihat Voni kebingungan, Bramono langsung menenangkan Voni, dan menyuruhnya duduk di bangku sebelahnya.


“Udah, Bapak-bapak ini cuma bercanda aja kok, nggak perlu di masukan ke hati.”


“Tapi Pak!”


Bramono yang mengetahui kekasihnya punya jiwa yang labil, berusaha untuk menjauhi semua guru-guru yang tampak masih tertawa.


Sementara itu, Voni yang melihat masih ada guru tertawa dia merasa rishi dan berusaha untuk berdiri. Tapi Bramono langsung berdiri dan memegang tangan Voni.


“Ayo kita pergi saja dari sini yuk!” ajak Bramono seraya menarik tangan Voni.

__ADS_1


Mesti Bramono telah berusaha menjauhi para guru-guru itu, namun Voni tetap saja melirik pada mereka semua. Voni merasa semua guru itu sedang mentertawakan dirinya yang bodoh.


“Kita mau kemana Pak?”


“Kita keruangan saja.”


“Kenapa mesti keruangan sih?”


“Karena hanya di dalam ruangan itu kau terlihat aman dan tenang.”


“Baiklah,” jawab Voni mengikuti perintah Bramono.


Setibanya mereka di dalam kamar, Bramono mengajak Voni duduk, dia berusaha menenangkan hati Voni yang tampak mulai memanas. Bramono memberi Voni segelas air putih yang dapat menenangkan jiwanya.


Ketika Bramono menyerahkan gelas itu ke tangan Voni, Voni pun menyentuh tangan pria yang di cintainya dengan lembut. Melihat reaksi Voni, Bramono langsung duduk di samping gadis yang dia cintai dan memeluk Voni dengan lembut.


“Apa ada soal yang sulit sayang?”


“Ada, banyak sekali.”


“Apakah pernah Voni pelajari?”


“Nggak!”


“Di dalam kisi-kisi, apa ada keluar?”


“Nggak!”


“Wah, kalau begitu, banyak dong yang nggak Voni isi?”


“Kenapa? Bapak takut?”


“Ya jelaslah. Sebab, kalau lembaran jawabannya banyak yang kosong, berarti murid Bapak dong yang paling bodoh.”


“Biarkan saja mereka bicara seperti itu, yang penting kita bersabar dan tenangkan diri.”


“Baiklah, Bapak akan berusaha untuk tetap tenang.”


“Itu baru Kepala sekolah yang bijak sana, sanggup menerima keputusan apa pun dari hasil yang bakal di terimanya nanti.”


“Wah, ternyata kau bisa menasehati Bapak ya?”


Voni hanya bisa tersenyum manis mendengar pujian dari Bramono. Dia bahkan tampak duduk dengan tenang sekali. Tak berapa lama kemudian seluruh peserta lomba di perintahkan untuk memasuki ruang gedung perlombaan.


Bramono dan seluruh peserta lomba memasuki gedung itu secara bersamaan, jantung mereka terasa berdebar saat itu.


Selang beberapa saat kemudian, panitia langsung maju kedepan untuk mengumumkan para pemenang lomba hari itu.


“Baiklah para seluruh peserta lomba, anak-anak kami, utusan dari setiap sekolahnya masing-masing. Yang saat ini telah di beri kepercayaan untuk mewakili sekolahnya.”


Panitia itu tampak berdiri dengan tenang di atas mimbar, suaranya yang lantang menggema di seluruh sudut ruangan gedung itu.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2