
Mesti saat itu Rendi merasa bersalah, namun di terus berusaha untuk mencari kepsek agar dia bisa menolong Voni. Lama Rendi duduk di teras rumah Bramono, hingga saat itu kegelapan mulai menyelimuti bumi.
“Ya Allah, kemana kamu Bram, kenapa belum juga kembali?” tanya Rendi dengan perasaan harap-harap cemas.
Sekitar jam delapan malam, Bramono pun kembali ke rumah dinasnya, Rendi yang melihat kedatangan Bramono hatinya sangat senang sekali. Sementara itu Bramono yang melihat Rendi berada di teras rumahnya, dia merasa begitu heran.
Cepat-cepat Bramono menarik rem tangan dan turun dari mobilnya. Saat hendak turun hati Bramono berdetak hebat, rasanya ada sesuatu yang bakal terjadi, untuk itu Bramono mencoba menjaga jarak bicara pada Rendi.
“Kamu siapa?” tanya Bramono pada Rendi yang sedang berjalan menghampirinya.
“Saya Rendi Pak.”
“Rendi? Rendi siapa?”
“Siswa IPS kelas 3, Pak.”
“Ada apa? kenapa kau datang ke rumah Bapak, malam-malam begini.”
“Voni Pak.”
Mendengar nama Voni di sebut, Bramono cepat-cepat menghampiri Rendi, yang saat itu masih berada di hadapannya.
“Ada apa dengan Voni?”
“Dia menghilang.”
“Menghilang gimana?”
“Heru dan teman-temannya telah mengikat Voni dan membawanya ke hutan karet tadi sore.”
“Kau serius?”
“Iya, Pak. Saat ini Voni pasti masih berada di dalam hutan karet sendirian.”
“Kenapa Heru melakukan semua itu?”
“Nggak tahu, tapi sepertinya dia sakit hati pada Voni, bahkan Heru menyuruh saya memperkosa Voni agar Bapak membencinya.”
“Kurang ajar! bukankah Heru itu, anak yang Bapak panggil ke kantor siang tadi?”
“Benar Pak.”
“Baiklah, kalau begitu kita cari Voni sekarang.”
“Baik Pak.”
Saat hendak berangkat Bramono berpapasan dengan Eko, lalu Bramono memanggil pria itu, mesti saat itu dia sedikit ketakutan, namun karena di panggil, akhirnya Eko mendatangi Bramono dan Rendi.
“Eko, kesini kamu!”
“Saya Pak,” jawab Eko pelan.
“Iya, kesini kau!”
“Ada apa Pak?”
“Nggak perlu takut, Bapak hanya ingin bertanya sesuatu pada mu.”
“Iya Pak, ada apa?”
“Apakah kau bertemu dengan Heru?”
__ADS_1
“Heru ada di kosnya Pak.”
“Tolong kau panggil dia dan suruh menemui Bapak.”
“Baik Pak.”
Dengan berlari kencang, Eko mencari keberadaan Heru di dalam kamarnya, serta menyampaikan pesan Bramono. Mendengarkan pesan yang di sampaikan Eko, Heru yang tadinya sedang bersama dengan kawan-kawannya, langsung berubah ketakutan.
“Kau serius?” tanya Heru tak percaya.
“Kok kau ketakutan, emangnya apa yang terjadi?” tanya Eko ingin tahu.
“Bukan urusan mu!”
“Ya udah! kalau kau nggak mau cerita, temui aja Kepsek di depan sana!”
“Wah, jangan-jangan Rendi udah ngadu nih.”
“Ngadu tentang apa Her?” tanya Benu ingin tahu.
“Tentang Voni.”
“Ada apa dengan Voni?”
“Aku dan teman-teman mengerjainya, kami mengikatnya dan membuangnya di hutan.”
“Ya Allah! apakah kau nggak takut hah!”
“Takut apanya?”
“Apa kau nggak takut di keluarkan dari sekolah.”
“Rasain lho! cari masalah terus!”
“Hus! diam kau!” bentak Heru pada Eko.
Lama Bramono dan Rendi menunggu di luar rumah kos, tak lama kemudian Heru datang bersama kedua temannya. Sebenarnya saat itu Heru ingin menjelaskan kronologis kejadian yang sebenarnya, tapi Bramono mengabaikan.
Setelah Heru selesai bicara, lalu Bramono turun dari sepeda motornya, dan menampar wajah Heru dengan kuat, sekali tamparan saja, Heru terhuyung kebelakang, untung ada Farel dan Bisma yang saat itu sedang berdiri di belakangnya.
Heru mencoba memperbaiki posisi berdirinya dan mengusap dengan kasar wajahnya yang memerah, akibat tamparan Bramono.
“Sekarang kau beri tahu Bapak, kemana kau membawa Voni tadi dan dimana dia kau tinggalkan?”
“Di hutan karet, Pak.”
“Di sebelah mana dia kau tinggalkan, sekarang juga kau antar Bapak kesana.”
“Tapi Pak!”
“Tapi apa?”
“Bukankah saat ini hari sudah malam, Pak.”
“Bapak nggak perduli! kapan perlu kau dan teman-temanmu harus menemukannya malam ini juga, kalau nggak, Bapak akan laporkan kalian ke polisi.”
“Baik Pak, baik!” jawab Heru ketakutan.
Tanpa mencari alasan lagi, Heru langsung bergegas mengambil sepeda motornya dan pergi ke hutan karet untuk mencari keberadaan Voni.
Hati Bramono sangat cemas sekali saat itu, dia benar-benar takut, kalau terjadi sesuatu pada gadis yang dia cintai.
__ADS_1
Karena gelap, Heru jadi lupa dimana dia telah meninggalkan dan membuang Voni, begitu juga dengan Farel dan yang lainnya mereka tak ada yang mengingat tempatnya.
“Cepat kalian katakan pada Bapak, dimana kalian meninggalkannya tadi?”
“Saya lupa pak!”
Jawaban Heru yang spontan membuat Bramono naik darah, dia langsung turun dari sepeda motor miliknya dan menarik kerah baju Heru.
“Ingat ya Heru, jika terjadi hal buruk pada Voni, Bapak akan mengeluarkan kau dari sekolah.”
“Iy…iya Pak,” jawab Heru ketakutan.
Bukan hanya Heru yang saat itu merasa ketakutan Farel dan teman yang lainnya pun merasa cemas, takut hal yang sama terjadi padanya.
“Sekarang kalian berpencar, telusuri setiap jalur, cari Voni sampai dapat!”
Mendengar perintah Kepsek, mereka semua langsung berpencar, rauangan sepeda motor mereka saat itu sangat memekakkan telinga,, suasana hutan karet yang sunyi dan menyeramkan tampak begitu ramai malam itu.
Sorotan lampu honda telah membuat hutan yang di selimuti kabut malam itu menjadi terang benderang.
Mereka semua menyusuri setiap jalur seraya memanggil-manggil nama Voni.
Akan tetapi, setelah sekian lama mencari, tak seorang pun yang dapat menemukan keberadaan Voni, Bramono semakin khawatir dengan kondisi gadis yang dia cintai saat itu.
“Gimana apakah kalian menemukannya?”
“Nggak Pak.”
“Coba kalian tenang dulu, pikirkan di mana kalian meninggalkannya tadi?”
“Saya ingat, di mana tempatnya!” ujar Farel dengan suara lantang.
“Dimana Farel?”
“Ikuti aku!” kata Farel seraya menuju ke arah yang lain.”
Setelah Farel menuju hutan karet yang di tuju, sejenak Heru mulai ingat di mana dia telah membuang tubuh Voni yang terikat.
“Iya, saya udah ingat Pak!”
“Ingat apa Heru?”
“Saya ingat dimana saya telah membuang Voni.”
“Dimana?”
“Dibawah sana, Pak!”
Mendengar penjelasan Heru, mereka semua langsung turun dari sepeda motor dan bergegas menuruni lereng tebing itu dengan pelan.
“Itu Voni Pak!” seru Eko yang melihat Voni terbaring tak sadarkan diri di bawah lereng, dengan tangan dan kaki terikat serta mulutnya di lakban.
'
Dengan pelan, Bramono mengangkat tubuh Voni keluar dari semak akar di bawah tebing, saat itu Bramono melihat pakaian Voni telah di lepas begitu juga dengan pakaian dalamnya, sehingga Bramono melihat buah dada Voni dengan jelas, serta tubuhnya yang putih bersih.
Seraya meneteskan air mata, Bramono membuka jaketnya dan di palutkan ke tubuh Voni yang masih tak sadarkan diri. bukan hanya itu saja Bramono juga berusaha melepas tali pengikat tangan dan kaki Voni, serta lakban yang merekat mulutnya.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1