
Setibanya di rumah kos, Intan memperhatikan suasana di sekitar rumah kosnya, apakah disana ada Ibu pemilik kos atau tidak. Merasa sedikit aman, Intan langsung saja menyelonong masuk kedalam, karena saat itu dia takut ketahuan oleh pemilik kos. Namun tiba-tiba saja.
“Dari mana kau Intan? kenapa pulang selarut ini, bukankah Ibu udah membuat peraturan di rumah ini, kalau kalian nggak boleh kembali sebelum jam delapan malam!”
“Maaf Bu, saya dari rumah teman, lagi ngerjain tugas sekolah,” jawab Intan berbohong.
“Bukankah Ibu udah melarang kalian keluar malam? lalu kenapa kalian masih saja membantahnya. Apakah nggak ada telinga kalian yang mau mendengarkan ucapan Ibu!”
“Maafkan kami Bu.”
“Ingat, mulai besok, kalau ada diantara kalian yang ketahuan keluar lewat jendela, atau memanjat pagar, maka kalian akan Ibu keluarkan dari kos ini!”
Bu Ranti, pemilik kos itu benar-benar marah sekali malam itu, karena melihat Intan masuk ke dalam rumah ketika telah lewat pukul sepuluh malam.
Mendengar Bu Ranti marah, seluruh isi rumah itu pun datang berkumpul dan mengelilingi Bu Ranti.
“Dan kau Intan! semenjak kapan kau berani keluar malam?” tanya perempuan paruh baya itu.
Mendengar pertanyaan pemilik kos itu, Intan diam saja, kepalanya tertunduk malu, di hadapan semua teman-teman.
“Jawab Ibu, Intan?”
“Baru kali ini Bu.”
“Benar baru kali ini? apa kau nggak bohong?”
“Nggak Bu.”
“Baik, untuk kali ini Ibu percaya pada mu. Tapi bukan pada kalian semua! Karena selama ini, Ibu mendengar kabar dari tetangga, kalau kalian sering keluar dan masuk kedalam rumah kos ini di tengah malam, siapa itu orangnya?”
Semuanya terdiam sambil menundukkan kepalanya, lalu diantara mereka saling beradu pandang, seolah-olah mereka memberi isyarat pada yang lainnya.
“Kenapa kalian diam? Ibu yakin pasti ada yang sedang kalian sembunyikan dari Ibu. Apakah nggak ada yang mau buka mulut?”
Semuanya masih saja membisu dan tak ada yang berani buka mulut, karena mereka semua memang takut dengan Voni.
“Baiklah, kalau kalian nggak ada yang berani buka mulut, Ibu akan cari tahu sendiri siapa di antara kalian yang begitu nakal di rumah ini. yang hobinya suka menipu Ibu.
Dua jam setelah Bu Ranti marah, Voni pun datang dengan tenangnya. Dari balik jendela, Voni mengintip kedalam, setelah di lihat aman, lalu Voni pun masuk lewat pintu utama, ada kunci leter L yang selalu di bawa Voni setiap dia berpergian.
Kunci itu di pergunakan Voni untuk membuka pintu rumah kosnya, lalu dengan cara itu dia bisa masuk kedalam kamarnya dengan tenang dan santai.
“Baru pulang Voni?” tanya Indah pelan.
“Seperti yang kau lihat, ada apa? kok kalian pada termenung?”
“Tadi Intan di marahi Ibu Kos.”
“Kenapa?”
“Karena terlambat masuk rumah.”
“Lalu?”
“Ya…! kami semua diomeli Ibu kos.”
“Ooo,” jawab Voni singkat.
__ADS_1
“Tapi Ibu kos udah mulai curiga, katanya ada diantara kita, yang pulang larut malam.”
“Terus? apakah kalian nggak bilang, kalau yang sering keluar malam itu aku.”
“Nggak, kami nggak ada yang berani buka mulut.”
“Kenapa? kalian takut?”
Intan, Indah dan Lesti hanya diam saja, mereka semua tak menjawab pertanyaan yang di ajukan Voni kepadanya. Melihat semua temannya terdiam, lalu Voni mengajak mereka semua tidur.
“Ya udah, kalau begitu mari kita tidur.”
“Baiklah.”
“Kalau begitu, pejamkan mata kalian nggak ada lagi yang bicara.”
“Baik Bu,” jawab Indah, seraya tertawa geli.
“Hmm…!”
Voni memang tak banyak bicara, sehingga sulit bagi teman-temannya mencari celah, kapan dia mau di ajak bicara dan bagai mana menebak perilaku Voni yang sebenarnya.
Pagi itu Voni terlambat lagi masuk kelas, karena begadang semalaman, Voni akhirnya ketiduran sendiri di kamarnya, mesti saat itu Intan, Indah dan Lesti tahu, tapi mereka bertiga tak ada yang berani membangunkan Voni dari tidurnya.
Dengan gayanya yang seperti laki-laki, Voni mencoba santai memasuki ruangannya, saat itu yang sedang mengajar di dalam kelas adalah Pak Aswadi, sebenarnya Voni enggan untuk masuk, tapi karena sudah sering bolos bersama Pak Aswadi, Voni pun mencoba masuk.
Dengan tenang Voni mengetuk pintu kelas itu dari luar, Pak Aswadi pun menoleh keluar seraya memperhatikan pintu.
“Assalamu’alaikum.”
Setelah pintu di buka, Voni tak langsung masuk, dia mencoba berdiri sejenak di hadapan Pak Aswadi.
“Voni? kau terlambat lagi kan?” tanya Pak Aswadi.
“Iya Pak,” jawab Voni singkat, seraya melangkah masuk kedalam kelas.
Baru saja beberapa langkah, kaki Voni menginjak keramik kelasnya, lalu Pak Aswadi mencoba untuk menghentikannya.
“Tunggu! siapa yang mengizinkan kamu masuk?”
“Nggak ada!”
“Lalu kenapa masuk?”
“Karena udah minta izin dari Bapak, bahkan aku udah da’akan biar Bapak selamat pagi ini.”
“Masukan baju mu! Bapak paling nggak suka, ada siswi yang nggak disiplin.”
“Maaf Pak, saya nggak suka memasukan baju kedalam.”
“Kenapa?"
"Begitulah saya dari dulunya.”
“Hei Voni, ini peraturan, kalau kau nggak mau mengikutinya, maka silahkan kau keluar!” bentak Pak Aswadi dengan nada marah.
Mesti saat itu Pak Aswadi marah, namun Voni tak menggubrisnya, dengan santai dia terus menuju bangku tempat duduknya.
__ADS_1
Pak Aswadi pun terdiam sejenak, semua mata memandang tajam kearah Voni, tapi gadis cantik itu tampak begitu tenang.
“Voni…!” bentak Pak Aswadi kesal.
“Apakah kau nggak mendengar apa yang barusan Bapak katakan!”
“Dengar, tapi saya nggak suka memasukkan baju kedalam.”
“Kalau kamu nggak mau silahkan keluar!” bentak Aswadi seraya gemetar menahan amarah.
“Saya nggak mau keluar, kalau Bapak mau, Bapak aja yang keluar.”
“Apa maksud mu Voni?”
“Semestinya Bapak tahu apa maksud ku.”
“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan, biarlah Bapak saja yang keluar.”
“Silahkan.”
Dengan rasa kesal yang telah memuncak, Pak Aswadi langsung menyusun semua bukunya dan di masukkan ke dalam tas yang biasa di bawa.
“Selamat pagi…!” ucap Voni tersenyum manis.
“Dasar…!” Gerutu Aswadi geram.
“Huuuuu…!” sorak seluruh siswa saat itu.
Melihat Pak Aswadi telah meninggalkan ruangan kelas, semua murid pun berhamburan keluar kelas. Voni diam saja di bangkunya. Yerni yang selama ini kurang suka dengan kelakuan Voni, langsung datang menghampirinya.
“Puas! gara-gara kau, semua teman nggak belajar!”
“Apa maksud ucapan mu itu Yer?”
“Aku nggak suka dengan mu Von, kau seolah-olah berkuasa di dalam kelas ini.”
“Terus, apa urusannya dengan ku?”
“Tentu ada Von.”
“Apa itu?”
“Kau gadis yang paling bodoh yang pernah ku kenal selama ini.”
“O ya? lalu bagai mana dengan mu?”
tanya Voni sambil menyentuh pipi Yerni. “Jangan naif kau jadi anak.”
“Apa maksud mu Voni?”
“Sekali lagi kau ngomong atau bertanya, maka akan ku patahkan gigi mu itu.”
“Kau mengancam ku?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1