
“Kamu nggak sekolah Non?” tanya Bayu ingin tahu.
“Nggak!”
“Kenapa?”
“Aku bosan Om, aku bosan dengan hidup ini!”
“Non yang sabar, Non nggak boleh bicara seperti itu, Om tahu kalau saat ini Non merasa begitu tersiksa, tapi masa depan Non masih panjang. Om mohon, agar Non jangan berputus asa.”
“Gimana keadaan Mama?”
“Dia sehat Non.”
“Apakah Mama pernah bertanya tentang aku?”
“Pernah.”
“Apa katanya?”
“Saat itu Mama Non nanya, Om dari mana, kok nggak ada di kantor, lalu Om jawab, kalau saat itu Om sedang mencari keberadaan Non. Tapi Mama Non marah, dan dia bersumpah nggak akan mengizinkan Non kembali kerumah itu.”
“Segitu bencinya dia pada ku?”
“Mesti Mama Non marah, Non harus tetap bangkit, buktikan pada Mama Non, kalau Non itu berhasil menjadi orang sukses.”
“Aku nggak mau semua ini Om! aku nggak mau!” teriak Voni seraya menangis.
“Jangan bicara seperti itu Non, percayalah pada Om, semuanya pasti baik-baik saja kok.”
“Apa gunanya aku hidup Om, kalau akhirnya jadi begini, Mama kandung ku sendiri nggak sudi melihat wajah ku.”
“Om mengerti.”
“Apa salah ku sebenarnya Om, sehingga Mama begitu membenci ku!”
“Non nggak salah apa-apa, Mama Non yang saat itu telah dibutakan oleh cinta mereka.”
“Padahal saat itu aku udah katakan dengan jujur, kalau aku nggak membunuh suami Mama, tapi kenapa Mama nggak mau percaya pada ku?”
Bayu tak dapat berbuat apa-apa, karena dia hanyalah seorang pesuruh di rumah mewah itu. lalu Bayu memberikan Voni sebuah ponsel secara diam-diam.
“Apa ini Om?”
“Ponsel untuk Non Voni, dengan seperti itu, Om bisa mendengar semua keluhan Non selama di sini.”
“Nggak perlu Om, aku nggak butuh itu.”
“Tapi ini penting Non.”
“Nggak perlu. Kalau aku mau, aku bisa beli sendiri kok.”
“Ya sudah, kalau Non nggak mau nggak apa-apa, ini uang belanja untuk Non Voni.”
“Bawa saja pulang, uang yang semalam masih utuh, belum aku sentuh sama sekali.”
“Kenapa Non terlalu irit, bukankah itu untuk belanja Non satu bulan.”
“Uang ku masih ada Om, bawa kembali uang itu.”
“Baiklah, kalau begitu Om permisi!”
“Iya silahkan.”
__ADS_1
Saat Bayu telah pergi, Voni langsung berlari menuju kamarnya. Di dalam kamar itu Voni menangis histeris, air mata sedih, terasa tak kuasa untuk di bendung nya, rasa sedih seperti telah membelenggu jiwanya yang sedang rapuh.
Seketika pikiran Voni yang kosong, langsung mengambil satu botol minuman beralkohol dan dicampurinya dengan lima butir obat tidur.
Tanpa berpikir panjang lagi, lalu Voni meminum habis semua isi botol itu. tak menunggu lama, Voni merasakan dadanya terasa begitu panas dan dia pun langsung terkapar dengan mulut berbusa.
Secara bersamaan, Bramono menyuruh seseorang memanggil Voni di kelasnya, lalu atas perintah Kepala sekolah, Bela pun bergegas menuju kelas Voni.
“Nita, mana Voni?” tanya Bela yang saat itu tak melihat keberadaan Voni.
“Voni nggak masuk Bela, emangnya ada apa?”
“Kepala sekolah memanggilnya.”
“Kepala sekolah memanggilnya?”
“Iya.”
“Katakan saja, kalau hari ini Voni nggak masuk kelas.”
“Baiklah."
Seperti pesan Nita, lalu Bela langsung menuju kantor, untuk melaporkan hal itu pada kepala sekolah.
“Kenapa dia nggak masuk? emangnya kemana dia?”
“Saya nggak tahu Pak, tapi kata Nita, hari ini Voni memang nggak berangkat sekolah.”
“Pasti ada sesuatu terjadi padanya.”
“Entahlah Pak.”
“Ya sudah, kalau begitu, kamu panggil saja Nita, suruh dia keruangan Bapak.”
“Baik Pak.”
“Bapak memanggil saya?” tanya Nita ingin tahu.
“Iya Nita, sekarang coba kamu pergi kerumah Voni, lihat keadaannya di sana, apakah dia baik-baik saja atau gimana.”
“Baik Pak,” jawab Nita seraya bergegas menuju rumah kos Voni.
Keresahan hati Bramono memang terbukti, kalau saat itu Nita melihat Voni sedang terkapar di lantai rumahnya dengan mulut berbusa. Nita langsung berlari ke kantor untuk mengabari hal itu pada Bramono.
Tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu, Nita langsung masuk kedalam ruangan Kepala sekolah. Dia tampak pucat sekali dengan nafas tersengal.
“Ada apa Nita, kenapa kamu seperti orang ketakutan?” tanya Bramono heran.
“Voni Pak.”
“Ada apa dengan Voni?”
“Dia di kamarnya, dan mulutnya ada busa!”
“Apa?”
Mendengar informasi dari Nita, tanpa berfikir panjang, Bramono langsung berlari seraya menarik tangan Nita.
“Kita mau kemana Pak?” tanya Nita heran.
“Kita mau melihat Voni!”
Saat Bramono berlari menarik tangan Nita, semua siswa yang melihat mereka saat itu sangat terkejut dan heran.
__ADS_1
“Ada apa ya? kenapa Kepsek menarik tangan Nita?” tanya Susi heran.
“Pasti ada hubungannya dengan Voni.”
“Kok, ada hubungannya dengan Voni sih?” tanya Susi tak mengerti.
“Apa kamu nggak tahu, kalau Kepsek itu lagi punya hubungan asmara dengan Voni.”
“Kamu serius Nila?”
“Iya, semua orang di sekolah ini udah pada tahu kok, tapi mereka semua pura-pura nggak tahu.”
“Kalau begitu, mari kita ikuti mereka.”
“Ayo.”
Dengan berlari pelan,mereka berdua mengikuti Bramono dan Nita yang bergegas menuju rumah kos Voni.
Dengan meminta izin pada Bu Ranti pemilik Kos, Bramono langsung menuju kamar Voni, Bu Ranti yang tak mengetahui kejadian itu sangat terkejut sekali.
“Ya Allah! kenapa dengan mu Voni?”
“Dia sepertinya melakukan bunuh diri lagi, Bu.”
“Voni, Voni!” ucap Bramono seraya menepuk-nepuk pipi gadis malang itu.
“Apakah dia masih hidup Pak?”
“Masih Bu, tapi denyut nadinya mulai terasa melemah.”
“Ya Allah, Voni!”
Bramono yang mendapatkan Voni setengah telanjang, dia berusaha menutup tubuh Voni dengan kain selimutnya.
“Apa yang mesti kita lakukan Pak?” tanya Ranti ketakutan.
“Sebaiknya kita larikan saja dia ke rumah sakit Bu.”
“Baiklah, kalau begitu biar ku panggil taksi Pak.”
“Nggak perlu, biar dia pergi naik mobil saya saja,” ujar Bramono seraya pergi meninggalkan rumah kos Voni dan bergegas menuju rumahnya.
Di rumah sakit, Voni mendapat pertolongan dari dokter, jantung Voni di pompa, Voni juga di suntik agar dia dapat memuntahkan semua cairan yang telah di minumnya.
Seorang perawat keluar dari ruang UGD, melihat perawat berlari, Bramono langsung menghampirinya.
“Maaf Sus, gimana dengan gadis yang mendapat penanganan dokter tadi, apakah dia bisa di selamatkan?”
“Akan kami usahakan Pak, berdo’alah, semoga dia bisa selamat dari masa kritisnya.”
“Baik Sus,” jawab Bramono seraya menarik nafas panjang.
“Gimana Pak? apa kata perawat tadi?”
“Kita hanya bisa berdo’a Nita, semoga saja Voni nggak apa-apa.”
“Iya Pak.
“Ini udah kali ketiga dia melakukan percobaan ini, Bapak semakin takut dengan nya.”
“Kenapa Bapak mesti takut?”
“Jika selama tiga kali ini kita berhasil menyelamatkannya, belum tentu untuk masa yang akan datang kan?”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*