
“Iya, Bapak benar. Menurut Bapak, kenapa ya, Voni melakukan ini semua?”
“Bapak nggak tahu, Bapak juga sedang menyelidikinya saat ini, Nit.”
Saat mereka sedang berbicara, lalu seorang perawat datang menemui Bramono yang saat itu sedang duduk di ruang tunggu.
“Dengan Bapak Bramono?”
“Iya, saya sendiri Sus.”
“Bapak di suruh menghadap ke ruang dokter kepala.”
“Baik, bisa suster hantarkan saya kesana?”
“Baik Pak, mari ikut dengan saya.”
Setibanya Bramono di depan ruangan dokter kepala, diapun langsung masuk kedalam dan duduk di kursi yang telah di sediakan.
“Dengan Pak Bramono?”
“Iya benar, Pak.”
“Begini, kalau di lihat dari catatan yang saya dapat, sepertinya pasien yang bernama Voni regina Sanjaya, ini sudah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri.”
“Itu benar dok, dan selama tiga kali itu, kami masih bisa menyelamatkannya, tapi untuk waktu yang akan datang saya nggak bisa menjaminnya dok.”
“Emangnya Voni ini, siapa Pak?”
“Dia bersekolah di tempat saya Pak, saya kepala sekolah di sana.”
“Kalau di sekolah bagai mana kelakuannya Pak?”
“Di sekolah dia juga tak terkendali, suka berbuat masalah, dan sering kali membuat guru kesal.”
“Apakah dia tinggal bersama kedua orang tuanya?”
“Itu masalahnya Pak, Voni di antar Om nya ke sekolah kami, dia dititipkan di sana. Saya juga pernah menanyakan masalah kedua orang tuanya pada pria itu, tapi nampaknya dia selalu mengelak, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”
“Apakah Bapak sudah menyelidiki, siapa pria itu?”
“Mengakunya dia itu sebagai Om, Voni.”
“Saya melihat, sepertinya gadis ini sedang bermasalah.”
“Ya, itu yang saya tebak selama ini. Dia terjebak di dalam masalah yang tak pernah mampu diselesaikannya.”
“Soalnya dia sudah tiga kali melakukan hal serupa. Gimana kalau hal ini kita laporkan ke polisi saja, Pak?”
“Lapor polisi?”
__ADS_1
“Iya, agar kita bisa mengetahui asal usulnya.”
“Jika kita laporkan hal ini ke Polisi, saya takut pasien nggak terima Pak.”
“Iya juga ya, tapi tujuan kita kan baik Pak.”
Mendengar saran dari dokter kepala, Bramono tak bisa memutuskannya sendiri, sebab hal itu akan membuat Voni menjadi marah padanya.
“Jadi, gimana Pak?”
“Begini saja, gimana kalau saya pikirkan dulu.”
“Ya, itu lebih baik,” jawab dokter kepala.
Setelah pembicaraan mereka selesai, lalu Bramono keluar dari ruangan itu, dia duduk di ruang tunggu bersama Nita.
“Apa kata dokter kepala Pak?” tanya Nita ingin tahu.
“Dokter itu menyarankan agar kita melaporkan hal ini ke polisi, agar kita mengetahui siapa Voni sebenarnya.”
“Sebenarnya, jika kita melapor, tentu akan mempermudah urusan kita, Pak. Lalu bagai mana jika Voni tahu, dia pasti marah pada kita berdua.”
“Kamu benar Nita, sebaiknya hal ini, kita saja yang menyelidikinya.”
“Ya, lambat laun, tanpa di sengaja oleh Voni, kita pasti akan mendengar dari mulutnya sendiri siapa dia sebenarnya.”
“Hari itu Voni pernah bicara pada Bapak, ketika kami bersama ke pantai, kalau Papanya telah tiada.”
“Apa maksud semua itu ya?”
“Apa menurut Bapak, Voni itu masih punya Mama?”
“Entahlah, karena dia sendiri tak pernah cerita pada Bapak, kalau dia masih punya Mama.”
“Voni begitu pandai menyimpan rahasianya, sehingga nggak seorang pun yang tahu siapa dia itu sebenarnya.”
“Iya juga ya.”
“Bapak tahu nggak, ketika pertama sekali dia sekolah, lalu Pak Khairul menyuruhnya memperkenalkan nama, setelah dia menyebut namanya, lalu kami bertanya padanya dia mana dia tinggal. Karena dia nggak mau menyebut tempat tinggalnya, lalu dia hanya bilang kalau dia adalah anak seribu pulau.”
“Anak seribu pulau?”
“Lalu apa kata Pak Khairul?”
“Ya, Pak Khairul hanya bilang, kalau Voni nggak mau menyebutkan tempat tinggalnya, nggak apa-apa, hanya itu saja.”
Ketika mereka berdua sedang bicara di luar, lalu seorang perawat mengabarkan kalau Voni udah siuman, mendengar hal itu, Bramono dan Nita langsung berlarian ke dalam untuk melihat keadaan Voni.
Setibanya mereka berdua di dalam kamar, Voni langsung berpaling, dia sepertinya sedang marah pada Nita dan Bramono.
__ADS_1
“Ada apa Voni? kamu lagi marah ya?”
“Aku kesal pada kalian berdua, kenapa kalian kembali menyelamatkan nyawaku, padahal aku hampir berhasil menghabisi nyawaku sendiri.”
“Ssst…! nggak baik bicara seperti itu sayang, kamu tahu sendirikan, kalau Bapak merasa takut sekali kehilangan mu.”
Voni hanya diam saja, hatinya masih sakit, jika mengingat kejadian yang tak bisa hilang begitu saja dari pikirannya, kejadian itu pulalah yang telah menghitamkan dirinya dalam kartu keluarga.
“Voni, dalam hidup ini kita mesti berbagi, baik suka maupun duka, bukankah Bapak pernah katakan pada mu, agar kau bercerita saja pada Bapak jika kau mengeluhkan sesuatu.”
“Aku nggak pernah mengeluhkan apa pun Pak?”
“Lalu kenapa kau melakukan hal ini lagi?”
“Aku hanya ingin bertemu Papa?”
“Kalau kau meninggal dengan cara nggak wajar, kau nggak akan bertemu dengan Papa mu sayang. Kau justru terlempar ke dalam neraka.”
Ucapan Bramono begitu menyakitkan hati Voni, mesti saat itu dia berusaha untuk menyembunyikannya, namun dia tak kuasa untuk membendungnya. Diam-diam Voni pun mengalirkan air mata.
Bramono yang melihat Voni menangis, diapun merasa bersalah. Bramono bingung harus bagai mana, mesti dia sudah berusaha untuk mengalihkan perhatian Voni namun gadis itu tetap saja ingin mengakhiri hidupnya.
Setelah beberapa hari Voni pulang dari rumah sakit, gadis itu terlihat semakin murung, dia bahkan jarang sekali pergi sekolah. Sore itu Bramono berencana mengajak Voni keluar, hal itupun telah diberitahukannya terlebih dahulu sebelum berangkat.
Namun setelah menunggu begitu lama, Voni tak kunjung keluar dari kamarnya, lalu Bramono menyuruh Bu Ranti untuk memanggilnya. Lalu perempuan itu langsung bergegas menuju kamar Voni.
“Ya ampun Voni!” teriak Bu Ranti kaget. Mendengar jeritan Bu Ranti semua anak-anak kamar yang lain berlarian menuju kamar Voni, mereka semua ingin menyaksikan apa yang telah terjadi pada Voni.
Setelah selesai melihat keadaan Voni, semua anak-anak kembali ke kamar masing-masing, mereka tak mau ikut campur urusan Voni yang membuat mereka serba sulit.
Karena semua anak-anak kembali ke kamar masing-masing, lalu Ranti meminta bantuan pada Bramono.
“Ada apa Bu? kenapa cemas begitu?” tanya Bramono ingin tahu.
“Voni Pak.”
“Ada apa dengan Voni, Bu?”
“Dia sepertinya mabuk berat di kamarnya Pak.”
“Boleh saya masuk Bu?”
“Ya silahkan.”
Setelah mendapat izin dari Ranti, Bramono langsung masuk kedalam kamar Voni, betapa terkejutnya Bramono saat itu, karena dia melihat Voni terkapar di lantai dalam keadaan setengah sadar dan hanya memakai pakaian dalam saja.
“Ya Allah, Voni, Voni! kenapa kau sampai seperti ini hah?”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*