
“Jadi, Non ketemu Abi kemaren siang?” tanya Anum dengan suara pelan.
“Jadi, Bi.”
“Benar Non?”
“Iya, Abi sehat kok Bi.”
“Apakah Non, bertemu dengan Mama?”
“Dia nggak mau aku memanggilnya dengan sebutan Mama, Bi.”
“Bibi, heran. Kenapa ya, Allah membuat hati Mama Non itu sekeras batu?”
“Semua ciptaan Allah itu, nggak ada yang perlu di pertanyakan lagi Bi, semuanya baik dan sesuai dengan kodratnya masing-masing. Tergantung kita yang menjalaninya.
“Tapi, Mama Non itu benar-benar keterlaluan, Bibi sendiri jadi geram dibuatnya.”
“Jangankan Bibi, aku sendiri juga geram, bahkan kemaren kami sempat adu mulut dengan Mama.”
“Pasti Mama Non, bilang kalau Non itu binatang lagi, iya kan?”
“Kali ini Mama nggak bilang aku dengan sebutan itu lagi Bi, tapi ucapannya telah menjurus langsung dengan apa yang dia inginkan.”
“Maksud Non apa? Bibi nggak ngerti?”
“Sebelumnya, Mama hanya mengatakan aku binatang, dalam kata binatang yang dia ucapkan, kita sendiri nggak tahu kan, jenis binatang apa yang dia maksud, apakah kucing, monyet atau singa. sehingga kata-kata itu masih terdengar sedikit halus.”
“Emangnya Mama Non bilang apa?”
“Dia langsung menjurus pada apa yang dia inginkan, kali ini dia bilang pada ku dan Pak Bram. “Abi kesini! usir anjing itu dari rumah kita, Mama nggak mau membersihkan kotorannya.”
“Astaghfirullah, benar Mama Non, bilang begitu?”
“Iya Bi.”
“Bibi yang orang luar saja, tak tega bicara seperti itu. Sementara Nyonya, orang yang telah melahirkan Non Voni, sungguh tega dia berkata begitu.”
“Udahlah Bi, aku nggak mau lagi membahas masalah Mama, saat ini aku harus fokus dengan Pendidikan ku, aku ingin membangun perusahaan Papa agar semakin maju dan jaya, sehingga aku bisa meringankan beban karyawan dan menurunkan angka pengangguran.”
“Iya, Non, niat Non itu akan Bibi dukung sepenuhnya.”
__ADS_1
Kehadiran Anum, sebenarnya membawa pengaruh besar dalam hidup Voni, gadis itu bahkan di lebih menurut pada Anum.
Semenjak Anum tinggal bersama dengannya, gadis nakal itu memang semakin berubah, dia terus berusaha bangkit dari keterpurukannya.
Selain Anum, juga ada Bramono yang selalu setia memberi motivasi padanya dan menasehati Voni dengan sabar.
“Aku nggak boleh seperti ini terus, aku harus bangkit menjadi wanita kuat seperti keinginan Papa.”
Niat Voni ingin berubah, memang dia buktikan, dia bahkan berusaha meninggalkan kebiasaan buruknya, minum dan merokok.
Mesti Voni sudah berusaha tidak menoleh kebelakang , masa lalu yang menyakitkan tak ingin dia raih kembali. Namun ada saja urusan yang membuatnya harus melihat kembali apa yang ingin dia ketahui.
Siang itu saat dia sedang makan di ruang tamu, tiba-tiba saja Voni melihat Indan berdandan dengan rapi, hatinya menjadi sedikit curiga, mesti Voni berusaha untuk mengabaikannya, tapi ketika Indah di hampiri oleh dua orang pemuda, jantung Voni langsung saja berdebar kuat.
Dari salah seorang pria yang mengendarai sepeda motor itu, Indah naik dan duduk tenang di belakang. Voni yang penasaran, dia meninggalkan makanannya kemudian pergi mengikuti Indah.
“Taksi!” teriak Voni, ketika melihat taksi melintas di hadapannya.
“Mau kemana nak?” tanya sopir taksi ingin tahu.
“Ikuti, kedua sepeda motor itu Pak.”
“Baik.”
Begitu juga dengan Voni, setelah dia membayar ongkos taksi, lalu dia pergi mengikuti Indah dari belakang. Saat Indan mengambil tempat duduk, Voni juga mencari tempat duduk yang letaknya tak begitu jauh dari Indah.
“Apa ya, yang sedang di rencanakan Indah saat ini? kenapa dia berpenampilan seperti itu, penasaran juga aku jadinya,” ujar Voni bermonolog.
Tak berapa lama kemudian, rasa penasaran di hati Voni berangsur mulai terjawab, di depan restauran itu berhenti sebuah kijang Inova berwarna silver.
Dari atas mobil itu keluar dua orang pria yang wajahnya mirip dengan orang cina, kedua pria itu langsung menghampiri mereka bertiga yang sedang duduk menanti.
Setelah dekat, Indah dan kedua teman pria nya berdiri dan memberi salam kepada kedua pria cina tersebut.
Dari balik pakaian dalam pria itu, keluar sebungkus barang yang telah di kemas dengan begitu rapi sekali dan memberikannya pada Indah.
“Astaga, ternyata ini pekerjaan yang di lakukan Indah setelah dia tamat sekolah. Melakukan transaksi narkoba di lingkungan sekolah, pantasan, setelah dia tamat, dia enggan untuk kembali kampung halamannya, ternyata ini penyebabnya,” gumam Voni pelan.
Yang lebih mengejutkan lagi, tak berapa lama kemudian satu kompi Brimob berseragam lengkap turun dari mobil dan mengepung tempat itu.
Mereka itu pasukan gabungan bersenjata khusus anti narkoba yang telah mencim kalau siang itu akan di lakukan transaksi narkoba di tempat itu.
__ADS_1
Tak dapat berkutik lagi, Voni yang berada di dalam restoran, juga ikut terseret bersama mereka. Narkoba jenis sabu-sabu yang mereka lempar di bawah kolong meja tepat berada di bawah kaki Voni.
“Oh, sial! ternyata barang haram itu berada di bawah kaki ku saat ini,” gerutu voni kesal.
“Indah yang saat itu belum selesai melakukan transaksi, tampak begitu cemas, dia bahkan tak sanggup berdiri lurus di samping meja.
“Semua jangan ada yang bergerak! tempat ini sudah kami kepung. Diam dan letakkan tangan di belakang kepala!” perintah seorang petugas pada mereka semua.
Semua orang terlihat panik, mereka merasa ketakutan, karena saat itu tantara datang secara tiba-tiba.
Kepanikan itu ternyata di manfaatkan Voni untuk menggeser, sabu-sabu tersebut ke bawah gorden yang berada tepat di belakangnya.
“Wah, ternyata berat juga barang haram ini, mungkin beratnya ada sekitar lima ratus gram,” gumam voni pelan.
“Sekarang, kalian semua, menjauh dari meja!” teriak salah seorang di antara mereka.
“Kami pasukan khusus anti narkoba, telah mencium, kalau di restoran ini telah terjadi transaksi narkoba. Ayo semuanya, siapa yang telah di periksa nantinya, saya harap berdiri di luar restoran.
Mau tak mau, Voni terpaksa harus mengikuti intruksi pimpinan mereka, bersama yang lain, Voni juga ikut di periksa.
“Apes banget nasib ku hari ini!”
“Hei! kamu!” kata Brimob itu pada Voni.
Saat Voni hendak menghampiri petugas, dia masih sempat melirik Indah yang berdiri kaku di sebelahnya.
“Lihat ulah mu!” gerutu Voni pada Indah.
Mendegar ucapan Voni, Indah hanya diam saja, dia juga heran, kenapa Voni ada di restoran itu, padahal sebelum dia datang tak ada siapa-siapa disana.
“Aneh, kapan datangnya tu anak!”
Setelah Voni selesai di periksa, dia pun di izinkan untuk berdiri di luar restoran, saat itu Indah langsung memanggilnya.
“Voni!” teriak Indah dengan suara lantang.
“Diam! aku bukan teman mu,” jawab Voni tegas.
“Ada apa ini?” tanya petugas itu pada Indah.
“Nggak Pak, dia itu teman ku di sekolah.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*