Terjebak

Terjebak
Part 8 Mencari keberadaan Voni


__ADS_3

Bersama Erni, Voni menjadi pengemis jalanan, mencari uang untuk membeli obat. Walau berniat baik, namun hidup di jalanan tak seindah yang di harapkan. Kadang Voni harus berjibaku melawan para penjahat yang mencoba mengganggunya.


Siang itu ketika, uang dari hasil mengemis telah terkumpul banyak, lalu tiba-tiba saja, para penjahat jalanan mencoba merebut semua uang itu dari mereka, Voni yang telah belajar ilmu bela diri mencoba untuk melawan mereka semua.


“Kurang ajar! kembali kan uang itu!” teriak Voni seraya mengejar para preman yang telah merebut uang itu dari tangan Erni. “Hiaaat…!” tendangan Voni tepat mengenai punggung pria itu, hingga dia pun tersungkur.


Karena merasa sakit, akibat tersungkur, pria itu langsung marah dan berusaha untuk menghajar Voni, tapi Voni begitu lincah, dia melompat kesana dan kemari.


Tak ingin berlama-lama, Voni segera menghantam dada pria itu dengan tendangan kakinya dan memukul wajah pria itu. Sehingga tak berkutik di buatnya.


“Cepat kau kembalikan uangnya!”


“Ba…bab…baik Neng,” ujar pria itu seraya mengembalikan uang yang di ambilnya, ke tangan Voni.


“Huuh! lain kali, coba kalian ganggu lagi kami, maka akan ku habisi kalian.”


“Baik Neng.”


“Pergi sana!”


“Baik, baik,” jawab pria itu sambil berlari kencang.


“Makasih ya Kak. Kalau nggak ada Kakak, pasti mereka telah mengambil semua uang ku.”


“Udahlah, ayo kita lanjutkan lagi.”


Setelah pria itu pergi, maka Voni kembali menjadi pengemis, meminta belas kasihan banyak orang. Berhari-hari Voni menjadi pengemis, menampungkan tangan meminta belas kasihan orang yang lewat.


Bukan hanya satu hari itu, Voni mendapatkan kekerasan fisik dan mental, bahkan hampir setiap hari Voni menjadi incaran orang-orang yang merasa tak senang dengan dirinya.


“Heh! Kau yang selama ini menjadi jagoan di tempat ini?”


“Nggak tahu!”


“Benar Bang, dia yang selama ini menjadi jagoan di tempat ini.”


“Berani-beraninya kau ya!” ujar Pria itu seraya berusaha memukul Voni, tapi Voni telah menjadi gadis pemberani, jalan telah mengajarkan dia menjadi gadis kuat dan kejam.


Pukulan pria itu di balas voni dengan pukulan dan tendangan, sehingga dia tak lagi bersembunyi dari para preman jalanan.


Ternyata, selama Voni di usir dari rumah, Bayu berusaha terus mencari keberadaannya, hingga ke sudut-sudut kota.


Saat itu Bayu menemukan Voni sedang bertarung dengan banyak pria, dari kejauhan Bayu merasa ragu, kalau gadis itu adalah Voni, tapi setelah dia mendekat, Bayu baru yakin kalau gadis itu benar-benar Voni.


“Hei, hei! berhenti!” teriak Bayu dari dalam mobilnya.


Mendengar suara yang tak asing ditelinganya, Voni langsung berpaling kearah datangnya sumber teriakan itu.


“Om Bayu!”


“Voni!”


Mereka berdua saling berangkulan, Bayu tak bisa menahan tangisnya saat itu, dia benar-benar terharu sekali, karena setelah sekian bulan mencari keberadaan Voni yang pergi karena di usir oleh Mamanya.


“Kamu kemana saja nak? Om sudah mencari mu kemana-mana.”

__ADS_1


“Aku terpaksa menjadi pengemis Om, untuk menyambung hidup.”


“Om mengerti Voni.”


“Gimana kabar Mama sekarang Om?”


“Mamamu baik-baik saja, bahkan dia sudah melahirkan seorang anak.”


“Benarkah? apakah dia perempuan atau laki-laki?” tanya Voni seraya menangis.


“Laki-laki nak,” jawab Bayu, yang saat itu juga ikut menangis.


Erni yang mendengar mereka bercerita juga ikut meneteskan air mata, karena terharu dengan pertemuan mereka berdua.


“Mari kita pulang nak?”


“Pulang kemana Om?”


“Pulang kerumah mu.”


“Nggak Om, aku nggak bakalan pulang ke rumah itu.”


“Kau ingin perusahaan yang telah di wariskan itu, jatuh ketangan Mamamu?”


“Aku nggak tahu Om, tapi aku nggak akan pulang kerumah itu. Aku benci Mama, Om.”


“Kalau nggak, tinggallah kau di rumah Om.”


“Aku nggak mau Om. Biarlah aku menjadi anak jalanan, rasanya aku lebih suka dengan hal ini.”


“Nggak Voni, kau keturunan gadis baik-baik, kau bukan pengemis.”


“Benar, kau nggak mau kembali pulang?”


“Nggak Om.”


Karena tak berhasil, membawa Voni pulang, lalu Bayu memberi Voni uang kes, untuk biaya hidupnya sebagai anak jalanan.


“Nggak Om, sebaiknya Om bawa saja uang ini kembali pulang.”


“Kenapa nak?”


“Aku belum membutuhkannya.”


Karena tak berhasil membawa Voni pulang, Bayu kembali pulang kerumah mewah itu. Setibanya di depan rumah Luna, bayu langsung memarkirkan mobilnya dan masuk kedalam.


“Kau dari mana Bayu?”


“Dari kantor Nyah.”


“Bohong, barusan aku menelfon orang kantor, katanya kau sudah keluar sedari tadi, kemana kau ini sebenarnya Bayu?”


“Setelah pulang dari kantor, aku langsung mencari keberadaan Voni Nyah.”


“Kau mencari Voni?”

__ADS_1


“Iya Nyah.”


“Untuk apa? jangan bilang kau berusaha membujuknya untuk kembali ke rumah ini.”


“Memang begitu Kok, aku harus pasti kan, kalau Non Voni tetap hidup dengan selamat.”


“Kurang ajar kau Bayu, ternyata di belakang ku, kau mencari keberadaan Voni, apa maksud mu, apakah kau mau berkhianat pada ku?”


“Ingat Nyah, Voni adalah pewaris tunggal, seluruh aset kekayaan Sanjaya!”


“Apa maksud mu Bayu?”


“Itulah bunyi surat wasiat yang telah di tulis tangan oleh Abdi Sanjaya Nyonya.”


“Astaga! jadi, aku sebagai istrinya tak mendapatkan apa-apa dari warisannya ini?”


“Nggak nyonya.”


“Kurang ajar kau Sanjaya, bahkan telah meninggal pun kau masih saja membuat ku menderita,” gerutu Luna kesal.


“Kalau begitu saya permisi Nyonya.”


“Ya, pergilah!”


Saat mendengar berita yang mengecewakan itu, hati Luna sangat sakit sekali, bahkan saat itu Luna berniat akan melarang Voni untuk kembali ke rumah itu.


“Anum!"


“Iya Nyah.”


“Nanti, kalau aku nggak berada di rumah, lalu Voni datang ke rumah ini, maka usir saja dia!”


“Lho kenapa mesti di usir Nyah.”


“Kau ini, masih ingin kerja atau nggak?”


“Masih Nyah.”


“Kalau masih pingin kerja, jangan banyak bertanya. Kerjakan saja apa yang saya perintahkan untuk mu.”


“Baik Nyah.”


Ketika Luna telah pergi dari hadapan Anum, mata perempuan itu melotot tajam melepas kepergiannya, Anum sangat marah sekali pada Luna, karena dia tega mengusir anak gadisnya dari rumah demi harta.


“Mama macam apa dia itu, tega mengusir putrinya sendiri demi harta.”


Berbulan-bulan lamanya Voni tak pernah pulang ke rumahnya, namu Bayu tetap memantau keadaan Voni di luar sana. mesti demikian, lama kelamaan Bayu semakin takut akan perubahan drastis dari sikap Voni selama hidup di jalanan.


Bayu tak mau putri Sanjaya itu menjadi gadis bebas yang bergaul dengan semua laki-laki, apa lagi saat itu Bayu memergoki Voni sedang asik menegak minuman keras dengan santai bersama anak-anak jalanan lainnya.


Saat Voni dan semuanya sedang mabuk berat, Bayu membawa Voni ke rumahnya. Bayu menyuruh istrinya untuk memandikan Voni dan mengganti pakaiannya.


“Ya Allah, Bang. Kasihan sekali kita melihat nasib Voni.”


“Iya, Nah. dia benar-benar sudah hancur saat ini.”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2