Terjebak

Terjebak
Part 38 Bantuan untuk Indah


__ADS_3

“Mana mungkin do’a ku di terima Allah Pak, sedangkan aku udah menjadi anak durhaka pada Mama.”


“Saat ini kamu nggak punya pilihan sayang, jadi Allah pasti menilainya.”


“Aku hanya gadis yang tak berguna, untuk apa aku hidup di dunia ini, kalau hanya akan menambah beban duka di hati ku.”


“Jangan bicara seperti itu sayang, kamu nggak boleh berputus asa, pintu rahmat Allah itu masih terbuka lebar untuk hambanya.”


Voni hanya diam saja, air mata duka, rasanya tak akan pernah berhenti mengalir dari matanya, entah sampai kapan hal itu akan berakhir dia tak pernah tahu.


“Dua hari yang lalu, aku mampir ke rumah, aku melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun, aku nggak tahu, siapa dia itu sebenarnya, ternyata dia itu adik tiri ku. lalu aku berniat hendak menyentuhnya, Tapi Mama mengusir ku.”


“Mamamu, masih marah?”


“Iya Pak, dia bahkan menyuruh pembantu mengusir ku.”


“Kasihan nasib mu sayang. Tapi jika kau terus bersabar dalam menghadapi cobaan ini, suatu saat kelak kau pasti menjadi orang yang berhasil.”


“Tapi sampai kapan aku mesti bersabar!”


Bramono hanya diam saja, karena masalah yang di hadapi oleh Voni tak semua anak mampu menjalaninya.


“Ya sudah, kamu tenangkan dulu dirimu, sekarang kita kembali ke sekolah.”


Voni tak menjawab, dia hanya memperbaiki posisi duduk nya, agar Bramono kembali melanjutkan perjalanan.


Mesti saat itu, Bramono telah berusaha keras untuk mengalihkan perhatian Voni pada yang lain, namun dia tetap saja teringat dengan problem yang mengganggunya.


Seraya menarik nafas panjang, Bramono kembali melanjutkan perjalanannya. Beberapa jam perjalanan, Voni pun tertidur karena lelah, Bramono hanya diam saja, sesekali dia hanya bisa melirik kekasihnya itu dengan perasaan hampa.


Lima jam perjalanan telah mereka tempuh dengan selamat, saat itu Voni telah kembali ke rumah kosnya, begitu juga dengan Bramono, dia tampak sedang beristirahat, merebahkan tubuhnya di atas kasur, menghilangkan semua beban yang selama ini dipikulnya.


Sedangkan saat itu Voni yang telah berada di dalam kamarnya, tak seorang pun yang bertanya tentang keadaannya. Mereka bukannya tak mau berteman dengan Voni, tapi cara Voni bersikap diam dan acuh membuat mereka semua enggan dan takut untuk menegurnya.


Saat Voni sedang beristirahat dengan tenang, melepaskan beban pikiran yang sedang mengganjal, tiba-tiba saja Lesti datang memasuki kamarnya.


Ketika Lesti masuk kedalam kamarnya, dia melihat Voni tak mengenakan pakaian, kedatangan Lesti yang tiba-tiba membuatnya terperanjat kaget.


“Lesti! kenapa kamu masuk diam-diam?” tanya Voni seraya duduk di atas kasurnya.


“Voni! tolang Indah!”


“Ada apa dengan Indah?” tanya Voni ingin tahu.


“Lihatlah, ayo ke kamar ku!” ajak Lesti seraya menarik tangan Voni.”


“Duluan, aku berpakaian dulu.”


“Baiklah, biar ku tunggu di sini,” jawab Lesti seraya berdiri dengan gelisah di dalam kamar Voni.

__ADS_1


Sebenarnya ada apa sih dengan Indah?”


“Entahlah aku juga nggak tahu.”


“Mana Intan?” tanya Voni ingin tahu.


“Dia pergi dari tadi siang.”


“Pergi dengan siapa?”


“Pak Tino.”


“Kalau begitu baiklah, mari kita lihat keadaannya.”


Setelah Voni selesai berpakaian, Lesti langsung menarik tangan Voni dan mengajaknya masuk kedalam kamarnya.


“Ya ampun!”


“Ada apa Voni?” tanya Lesti tak mengerti.


“Sepertinya Indah kecanduan narkoba.”


“Astaghfirullah, benarkah itu Voni?”


“Iya, kenapa kalian sampai nggak tahu kalau selama ini Indah mengkonsumsi narkoba?”


“Kami nggak ada yang tahu, jangan-jangan Indah mengunakan obat-obat itu lewat kekasihnya.”


“Ternyata Indah udah lama mengalami kecanduan.”


“Lalu apa yang mesti kita lakukan Voni?”


“Kita coba mengikat lengan tangannya dulu.”


Dengan hati-hati dan pelan, Voni mencoba mengikat lengan tangan Voni dengan menggunakan kain, beberapa saat kemudian, Indah terdiam dan diapun membuka matanya.


Saat itu Indah melihat dengan samar wajah Voni yang berada di sampingnya, dengan pelan Indah berbicara dengan sedikit terbata-bata.


“Tolong aku Voni!”


“Tolong apanya?”


“Aku butuh itu.”


“Butuh itu, apa maksud mu? aku nggak mengerti?” tanya Voni ingin tahu.”


“Aku butuh obat Voni.”


“Nggak ada lagi obat di rumah ini Indah! kau kira dengan cara seperti ini, kau merasa bangga, katakan pada ku semenjak kapan kau menggunakan obat terlarang ini?”

__ADS_1


“Aku nggak ingat lagi. Tolong aku Voni, aku butuh obat itu.”


“Di sini nggak ada obat Indah! kau benar-benar keterlaluan, lihat atas apa yang sudah kau lakukan, kau sendiri nggak bisa menghindar darinya.”


“Maafkan aku Voni.”


“Katakan pada ku, siapa yang telah mengajarimu menggunakan obat terlarang ini Indah?”


“Aku nggak tahu, aku sudah nggak ingat lagi,” jawab Indah dengan suara pelan yang hampir tak terdengar oleh Voni.


“Gimana ini Voni?” tanya Lesti bingung.


“Aku juga nggak tahu mesti berbuat apa saat ini.”


Bukan hanya Lesti, beberapa orang anak lainnya juga berada di tempat itu, mereka melihat sendiri apa yang telah di alami Indah saat itu.


“Kalian semua, kalau kalian nggak punya masalah yang berat, jangan coba-coba membuat masalah yang rumit seperti ini.”


Semuanya terdiam saat Voni bicara seperti itu pada mereka semua. Mereka tak ada yang menyangka, kalau selama ini Indah telah menggunakan obat terlarang.


“Benu! ya, Benu orangnya. Anak kelas berapa dia?” tanya Voni ingin tahu.


“Anak kelas 3B.”


“Baiklah sekarang kau awasi Indah, biar aku mencari Benu.”


“Baik Voni.”


Dalam pengawasan Indah yang tampak sekarat, dia menghempaskan tubuhnya dan mencari obat yang di ingininya di mana saja, sehingga seluruh kamar tampak hancur berserakan.


Lesti bersama anak-anak yang lain berusaha memegang tangan Indah dengan kuatnya, namun Indah meronta-ronta minta di lepaskan.


Sementara itu Voni berlarian kesana kemari mencari keberadaan Benu, pria yang telah membuat Indah menjadi kecanduan. Berkat petunjuk seorang anak kecil, akhirnya Voni berhasil mencari keberadaan Benu.


Ternyata saat itu Benu dengan beberapa orang teman-temannya sedang asik bermain kartu remi di sebuah hutan karet yang jaraknya sekitar dua kilo meter dari sekolah.


“Ya ampun! di sini kalian ternyata!” seru Voni dari kejauhan.


“Wow…! ada bidadari cantik menghampiri kita!” ujar Wisnu, seraya menghampiri Voni yang baru saja datang.


“Mari kawan-kawan! kita mainkan sedikit saja, mumpung nggak ada orang di sini,” ujar Farel, sambil melompat mendekati Voni.


Saat itu Voni terlihat tenang saja, dalam pikirannya, kalau anak-anak itu sampai nekad, diapun akan membantingnya satu persatu.


Ketika Voni telah siap dengan kuda-kudanya, tiba-tiba saja Benu berteriak dengan suara lantang, sambil menghampiri Voni.


“Hei berhenti! apa kalian nggak tahu, kalau Voni itu ke kasihnya Kepsek!”


“Ah kau serius Ben?” tanya Heru.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2