
Seperti yang telah di perintahkan Voni kepadanya. Setelah Bayu tiba di rumahnya, dia langsung pergi ke pengadilan.
“Lho, Bang. Mau kemana? baru saja nyampe udah mau pergi lagi.”
“Aku mau ke pengadilan sayang.”
“Ke pengadilan? ngapain ke sana?”
“Kabarnya, Luna nuntut haknya lagi, pada pengadilan.”
“Masih masalah warisan itu?”
“Iya, masalah apa lagi?”
“Kayaknya Luna nggak pernah bosan ya, mengusik ketenangan putrinya.”
“Dia itu orang bodoh sayang! lantaran almarhum Sanjaya mau menerimanya menjadi seorang istri, itulah dia sekarang, udah kaya raya, punya warisan triliunan, tapi tetap saja bodoh.”
“Maksud Abang?”
“Gimana nggak di katakan Bodoh, Voni itu kan putri kandungnya, kenapa nggak di sayangi aja dia, terima dia, minta maaf, apa beratnya sih!”
“Iya juga ya.”
“Itu makanya, jadi seorang Ibu itu kita nggak boleh terlalu mengutamakan sifat egois kita. Perhatikan anak-anak kita, mereka itu adalah titipan Allah yang mesti di jaga dan di sayangi.”
“Tapi, nggak semua Ibu yang seperti itu Bang.”
“Iya juga sih, tapi sekejam-kejamnya singa dia nggak akan mau memangsa anaknya sendiri.”
“Iya.”
“Udah, kalau begitu Abang berangkat dulu.”
“Iya hati-hati di jalan.”
“Diam dirumah, jaga anak-anak dengan baik.”
“Beres,” jawab Mega dengan tersenyum.
Setelah berpamitan dengan istrinya, Bayu langsung menuju gedung pengadilan, membuat laporan tentang penundaan sidang. Bayu juga menunjukan alasan yang di alami Voni karena sedang kritis dirumah sakit akibat keracunan makanan.
“Bapak yakin kalau Voni mengalami keracunan?”
“Iya Pak, saya baru saja melihatnya di rumah sakit, seseorang telah di perintah untuk meracuni voni agar nggak bisa hadir di persidangan kali ini.”
“Baiklah, penundaan sidang yang Bapak minta akan kami penuhi."
__ADS_1
“Terimakasih, Pak.”
Sesuai keinginan Voni, penundaan sidang di kabulkan menjadi satu minggu lagi, Voni merasa sedikit lega, karena dia bisa bernafas tenang, tapi entah mengapa, di persidangan kali ini Voni merasa sedikit gugup dan takut.
Disekolah, Voni juga terlihat diam saja, dia tak memperlihatkan semangatnya untuk belajar, Bu Lita berusaha menghampirinya.
“Kamu kenapa Voni, dari tadi Ibu perhatikan kamu kayak nggak bersemangat? kamu sakit ya?”
“Nggak Bu.”
“Lalu kenapa lemas?”
“Aku capek Bu.”
“Capek kenapa?”
“Capek begadang kali!” potong Arjan dengan suara lantang.
Mendengar jawaban Arjan, Voni langsung berpaling dan menatap tajam pada teman prianya itu. pandangan mata yang menyiratkan kemarahan membuat Arjan diam dan tertunduk.”
“Hus! kamu itu ya, kenapa memotong jawaban Voni!”
“Maaf Bu, nggak sengaja.”
“Sekarang, Ibu tanya lagi pada mu, Voni. Kamu itu sebenarnya capek kenapa?”
Mendengar jawaban dari Voni, Bu lita tak bisa bicara apa-apa, karena semua guru dan murid sekolah sudah tahu bagai mana beban hidup yang di tanggung oleh Voni selama ini, sehingga dia berusaha berulang kali untuk mengakhiri hidupnya.
“Kamu yang sabar ya nak, kami dari semua guru yang ada di sekolah ini hanya dapat mendo’akan keselamatan mu sayang.”
Voni hanya diam saja, menerima kata nasehat yang di sampaikan guru sejarah itu. mesti demikian, Voni sadar kalau beban yang sedang dia pikul tak semua orang yang bisa membantunya.
Seraya menarik nafas panjang, gadis nakal itu kembali duduk diam bersandar di bangkunya, Nita yang berada di sampingnya hanya bisa menatap sedih pada sahabatnya itu.
“Kamu yang sabar Von,”ucap Nita seraya menggenggam erat tangan Voni.
Terlihat Voni hanya tersenyum sinis dari sudut bibirnya yang indah, mesti demikian, Nita juga sama dengan yang lain tak bisa berbuat apa-apa.
Siang itu saat jam istirahat, Voni duduk diam bersandar di taman belakang sekolah, saat itu Bramono dan para guru lainnya sedang mengadakan rapat di ruang majelis guru.
Saat rapat selesai, lalu Bramono hendak keluar dari ruangan itu, tiba-tiba saja Bu Lita memanggil Bramono yang sudah hampir tiba di depan pintu.
“Pak tunggu!”
Mendengar panggilan itu, Bramono menghentikan langkah kakinya, dia melihat Bu Lita bergegas menghampirinya yang sedang berdiri di dekat pintu.
“Ada apa Bu?” tanya Bramono ingin tahu.
__ADS_1
Saat itu semua guru sedang terpana melihat Bu Lita memanggil Bramono dan datang menghampiri kepala sekolah tersebut.
“Begini Pak, tadi di dalam kelas, saya melihat Voni terlihat sangat murung sekali, saat saya tanya kenapa dia tak bersemangat dalam belajar, dia bilang dia capek dalam menanggung beban hidup ini. Apa menurut Bapak nggak sebaiknya kita tanya permasalahan yang sedang dia hadapi itu.”
Bramono tampak diam mendengarkan Bu Lita berbicara, mesti saat itu Bramono sudah tahu masalah sebenarnya, tapi dia ingin mendengar langsung perkataan guru sejarah itu.
Seraya menarik nafas panjang, Bramono pun kembali duduk di kursi tempat semula.
“Bukankah kita semua sudah tahu, kalau gadis ini punya segudang problem, bahkan saya sudah berulang kali menyampaikan pada rapat kita sebelumnya, untuk menghadapi Voni kita butuh kesabaran.”
“Iya Pak, kami tahu itu.”
“Sebenarnya, masalah Voni ini, sangat rumit sekali, sehingga saya sendiri nggak bisa masuk dan ikut campur di dalamnya. Memang selama ini saya pribadi memiliki hubungan khusus dengannya, tapi saya juga butuh banyak sabar dalam menghadapi dirinya.
“Sebenarnya masalah apa sih Pak yang sedang di hadapi oleh Voni ini?” tanya Pak Khairul dengan suara datar.
“Sebelum Papa Voni meninggal dunia, dia mewarisi harta yang cukup banyak pada putri satu-satunya itu, sementara Voni masih punya Mama yang sehat.”
“Lho kok bisa begitu, Pak.”
“Kalau masalah itu saya juga nggak tahu.”
“Voni pernah mengajak saya ke perusahaan milik Papanya di kota, mungkin Bapak dan Ibu-Ibu di sini sudah mengenal perusahan itu.”
“Perusahaan apa itu Pak?”
“Perusahaan Sanjaya grup, yang melayani, perhotelan dari seluruh manca negara serta beberapa villa yang terletak di puncak, itu adalah salah satu dari Bisnis yang mereka kelola selama ini.”
“Ooo, jadi perusahaan Sanjaya grup itu milik Papa Voni?” tanya Pak Kardi.
“Iya.”
“Harta triliunan itulah yang saat ini menjadi sengketa antara Voni dan Mamanya. Mamanya ingin seluruh harta itu jatuh ke tangannya, sementara harta itu di wariskan langsung oleh Papanya pada Voni.”
“Emangnya kenapa Voni dan Mamanya bertengkar?”
“Menurut informasi yang saya dengar, sewaktu Papa Voni masih hidup, Mamanya berselingkuh dengan pria lain, karena ketahuan berselingkuh, lalu Mama Voni meracuni suaminya di depan mata Voni, sebenarnya waktu itu bukan hanya Papanya sendiri yang hendak diracuni, Voni juga.”
“Astaga! benarkah itu Pak?”
“Tapi nasib baik masih berpihak padanya, Voni pun selamat dari petaka itu, hanya Papanya meninggal. Lima bulan kemudian, Mamanya menikah lagi. Ketika Mama Voni sedang pergi, Papa tirinya masuk ke kamar Voni, dan itulah kejadian terakhir, papa tirinya terbunuh di tangan Voni.”
“Jadi Voni udah membunuh Papa tirinya itu?”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1