
Melihat posisi Voni seperti itu, Bramono merasa sedih, di lihatnya ada botol minuman di atas meja, yang masih baru. Lalu Bramono mengambil botol itu dan menciumnya.
“Hm, sangat menyengat sekali,” gumam Bramono pelan.
“Ada apa Pak?” tanya Ranti ingin tahu.
“Saya rasa, ini bekas minumannya barusan.”
“Iya, saya yakin, memang itulah botol minumannya Pak.”
Tak mau menunggu lama, lalu Bramono mengangkat tubuh Voni dan membawanya ke kamar mandi serta menyiramnya dengan air.
“Sadar kau Voni, sadar!” bentak Bramono kesal. “Kalau kau seperti ini terus, maka Bapak nggak akan memperdulikan kamu lagi, mulai hari ini urus dirimu sendiri!” ujar Bramono seraya membanting timba itu ke tubuh Voni.
Seluruh penghuni kos hanya bisa menatap dengan kebisuan mereka, rasa sedih dan prihatin terlihat jelas dari sorotan mata mereka.
Sementara Itu, Voni yang saat itu telah di siram Bramono dengan air merasa kedinginan, dia menangis histeris di kamar mandi, semua anak-anak yang ada di dalam kamar mereka hanya bisa berbisik sedih melihat keadaan Voni seperti itu.
mereka semua menjadi serba salah, jika di tolong takut Voni akan marah, jika di biarkan mereka merasa tak sampai hati.
Karena emosi, Bramono lalu pergi dan duduk di ruang tamu sendirian, dia bingung mesti berbuat apa, sementara Bayu orang yang selama ini mengaku sebagai Om Voni tak pernah datang pada Bramono.
Sementara itu, Ranti yang mendengar Voni menangis di kamar mandi, dia juga mengalami hal yang sama. jika di tolong, takut Bramono marah, jika tak di tolong dia begitu kasihan pada diri Voni.
Dengan pelan, Ranti pun datang menghampiri Bramono yang masih duduk diam di ruang tamu.
“Gimana ini Pak? apakah Bapak akan membiarkan Voni sendirian di kamar mandi?”
“Biarkan saja Bu, biar dia itu sadar.”
“Apa Bapak yakin, akan membiarkan Voni di kamar mandi sendirian, nanti kalau dia bunuh diri lagi gimana?”
Mendengar ucapan Ranti, Bramono pun bergegas pergi ke kamar mandi, dia melihat Voni masih duduk diam di sudut kamar itu.
Lalu Bramono membalut tubuhnya dengan handuk dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi, setelah Voni berada di dalam kamarnya, Bramono menyuruh Indah untuk mengganti pakaian Voni yang basah.
“Tolong kamu ganti pakaiannya, Indah.”
“Baik Pak,” jawab Indah seraya keluar dari kamar temannya.
Setelah pakaian Voni di ganti, lalu Indah mengantarkan Voni pada Bramono yang masih duduk di ruang tamu.
__ADS_1
“Lihat diri mu Voni, kau semakin hancur, jika kau nggak mau merubah sifat buruk mu itu, maka akan selamanya kau terpuruk.”
Voni diam saja, dia masih saja menggingil kedinginan di atas kursi, matanya yang indah dan bulat, tampak mulai cekung dan pucat.
“Maafkan aku Pak,” jawab Voni pelan, suara itu bahkan hampir tak terdengar di telinga Bramono.
“Apakah kau ingin seperti ini terus, menyiksa tubuhmu yang sudah tak berdaya ini, berkaca lah Voni, lihat diri mu sendiri.”
“Aku hanya ingin ketenangan.”
“Apa dengan cara seperti ini kau bisa tenang? nggak Voni, dengan cara seperti ini kau justru semakin hancur.”
“Biarkan aku hancur, biarkan aku mati!” teriak Voni seraya hendak berlari meninggalkan Bramono.
Melihat Voni hendak pergi, Bramono langsung memegang tangannya dan menarik Voni agar kembali duduk di dekatnya.
“Kau nggak boleh hancur Voni, kau harus tetap hidup, apapun masalah yang sedang kau hadapi dan seberat apapun masalah yang sedang membelenggu mu, kau harus tetap kuat. Buktikan pada semua orang kalau kau itu gadis yang tangguh.”
“Untuk apa aku harus seperti itu, untuk apa? aku bukan gadis yang tangguh Pak, aku bukan gadis yang tangguh! biarkan aku ikut bersama Papa.”
“Nggak Voni, kau nggak boleh seperti itu.”
“Begini saja Bu.”
“Iya Pak,” jawab Ranti yang sedari awal selalu bersama mereka.
“Ibu sediakan satu kamar untuk Voni, nanti kalau masalah biayanya, biar saya yang akan menanggung. Dengan cara seperti itu, saya akan bisa mengontrol keadaannya setiap saat.”
“Baik Pak.”
“Masih ada kamar yang kosong kan?”
“Masih Pak.”
“Kalau Bisa, sediakan kamar yang paling depan.”
“Baik Pak,” jawab Ranti pelan.
Kemudian Bramono langsung pergi meninggalkan mereka semua, saat itu, Voni berlari dan bersimpuh di hadapan Bramono. Hal itupun di saksikan oleh semua anak-anak kos dan Ranti sendiri.
“Maafkan aku Pak, maafkan aku.”
__ADS_1
“Bapak nggak akan memaafkan mu, sebelum kau bisa merubah dirimu sendiri,” ujar Bramono, seraya berlalu begitu saja meninggalkan Voni, yang masih duduk bersimpuh di lantai.
Setelah Bramono pergi, Voni kembali ke dalam kamarnya, menjelang memasuki kamarnya, semua anak-anak yang menyaksikan kejadian itu, langsung berlarian masuk kedalam kamar mereka masing-masing.
Mesti Voni tak pernah memarahi mereka, tapi mereka tetap saja merasa ketakutan melihat Voni yang tampak dingin dan tak bersahabat itu.
“Voni, kau pindah kamarnya besok pagi saja, biar Ibu beres-beres dulu sore ini.”
“Terserah Ibu saja,” jawab Voni pelan.
Setibanya di dalam kamar, Voni langsung rebahan, karena kepalanya masih terasa pusing akibat efek dari minuman yang telah dia konsumsi.
Di dalam kamar kosnya itu, Voni terus saja menangis sedih, dia sungguh tak tahu mesti berbuat apa, karena saat itu Voni benar-benar telah menjadi anak buangan yang tak di perdulikan lagi, untuk itu Voni tak mau hidup berlama-lama di dunia ini.
Pikiran singkat dan rasa sedih yang selalu membebaninya, hal itulah yang membuat Voni ingin mengakhiri hidupnya sendiri.
Di tempat lain, secara bersamaan Rendi tampak duduk diam seraya bermain melodi dari gitar yang sedang dia petik, Rendi merasa bingung, mengapa kekasih pujaannya telah berulang kali ingin mengakhiri hidupnya.
“Apa masalah mu Voni? sehingga kau berulang kali ingin mengkhiri hidupmu? Seberapa berat kah masalah mu itu Voni?” tanya Rendi pada dirinya sendiri.
Rendi merasa sedih, karena sudah hampir bebarapa malam, Voni tak lagi ada bersama mereka, nongkrong di warung yang sama.
Voni sengaja tak lagi keluar malam, dia ingin mencoba fokus pada sekolah nya. Karena dia telah berjanji pada Bramono.
Keesokan harinya, tak seperti biasa, pagi-pagi Voni sudah bersiap, dia memakai seragam lengkap dan pergi ke sekolah degan tenang. Semua siswa menatap Voni dengan rasa heran. Namun sebagian lagi ada yang berkomentar dengan sudut pandang yang berbeda.
Voni duduk dengan tenang di bangkunya, dia bahkan tak bicara sepatah kata pun di sekolah, baik dengan Nita mau pun dengan anak-anak lainnya.
“Kamu kenapa Voni, kok terlihat sedih?”
Voni tak menjawab, hanya tatapan matanya saja yang membuat Nita terdiam dan tak berani untuk bertanya lagi.
“Ada apa dengan mu Voni? kenapa kau kelihatan aneh pagi ini?” tanya Nita ingin tahu.
Bukan hanya itu saja yang di lakukan Voni, dia juga mengikuti pelajaran siang itu dengan baik, saat pelajaran Biologi, Bu Riska pun masuk, dia melihat Voni diam duduk dengan tenang di bangkunya.
“Tumben, anak emas Bramono diam, biasanya seperti orang yang tak berpendidikan, selalu saja membuat masalah sehingga merugikan teman sendiri.”
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1