
“Sebenarnya, Bapak mau membahas apa sih dengan ku?”
“Bapak ingin tahu, siapa kamu dan latar belakang keluargamu.”
Mendengar ucapan Bramono, jantung Voni langsung berdebar dengan kencang. Pasalnya, hal itu tak ingin lagi di bahas dalam hidup Voni.
“Bisa nggak Pak, kalau pembicaraan kita kali ini nggak di arahkan kesana.”
“Kenapa? kamu nggak mau membahasnya dengan Bapak.”
“Nggak!”
“Kamu takut, kalau masa lalu mu Bapak ketahui?”
Saat itu, Voni benar-benar tak mau mengingat masa lalunya yang sangat menyakitkan itu, dia bahkan tampak menutup matanya, agar hal itu tak di bahas lagi.
Bramono yang melihat perubahan pada diri Voni, diapun dapat mengerti. Lalu, dengan kebijaksanaan yang dia miliki, Bramono mengalihkan pertanyaannya ke yang lain.
“Dalam hidupmu, sepertinya kau nggak butuh ini.” Bramono memberikan amplop milik Voni yang tertinggal di dalam mobilnya.
“Bapak dapat di mana uang ku?”
“Kau tinggalkan di mobil Bapak, saat kau hendak turun."
"Terimakasih, Bapak telah banyak membantu ku selama ini, padahal aku bukan siapa-siapa Bapak."
"Kata siapa seperti itu,Voni terus terang saja, sebenarnya Bapak suka pada mu, Bapak ingin menjalin hubungan serius dengan mu.”
Ketika mendengar ucapan dari Bramono, Voni terkejut alang kepalang. Tak disangka sama sekali, Bramono menyatakan cintanya pada voni, Voni bahkan merasa kesulitan saat itu untuk menarik nafasnya.
“Apakah kamu dengar apa yang Bapak katakan tadi Voni?”
“Bapak serius?”
“Iya, Bapak serius.”
“Bapak nggak lagi menguji aku kan?”
“Buat apa?”
“Aku mau!” teriak Voni seraya merangkul tubuh Bramono kegirangan.
Siapa yang tak senang, bila ada seorang kepala sekolah yang tampan dan berwibawa menyatakan cintanya pada seorang gadis biasa seperti Voni.
Dengan senang hati, Voni mencium pipi Bramono dan mencumbu pria itu dengan mesranya. Bramono sampai tak bisa bergerak oleh Voni saat itu.
“Kamu kok kelihatan senang banget?”
“Gimana nggak senang! menjadi kekasih Kepsek adalah impian setiap wanita.”
“Tapi ini cukup menjadi rahasia kita berdua saja, karena Bapak nggak mau semua guru dan murid di sekolah ini tahu tentang hubungan kita ini.”
“Iya, ya! Bapak takut ya, kalau ada orang yang merasa iri di sini?”
“Nggak gitu sayang, hanya saja Bapak nggak mau terjadi keributan di sekolah ini, hanya karena hubungan kita.”
__ADS_1
“Baiklah, akan ku jaga dengan rapat hubungan kita ini.”
“Kalau menjadi kekasih Bapak, ada satu sarat yang harus kau lakukan.”
“Apa itu Pak?”
“Harus bersikap hormat, kapanpun dan di manapun kau berada.”
“Ooo, hanya itu. Baiklah, akan ku ingat selalu.”
“Semoga saja kau mengerti Voni.”
“Tapi…?”
“Tapi apa Voni?”
“Untuk apa aku senang dengan hubungan kita ini Pak, kalau hidup ku udah nggak berguna.”
“Apa maksudmu Voni?”
“Ah, sudahlah, sebaiknya aku pergi dulu.”
“Voni tunggu, Bapak belum selesai bicara!”
“Kapan-kapan saja Pak, aku mau kembali ke kelas!”
Melihat Voni pergi meninggalkannya, Bramono hanya bisa gelang kepala, dia sempat mendengar sedikit keluhan dari Voni, tapi Bramono tak begitu menyimaknya, padahal saat itu Bramono benar-benar ingin tahu betul apa yang di ucapakan Voni.
“Apa ya? yang barusan di ucapkan Voni? Kenapa aku nggak mendengarnya. Ah sudahlah, ini baru permulaannya Bram.”
Sementara itu Voni terus saja berlari menuju kelasnya, saat itu Pak Aswadi masih berada di dalam kelas.
Saat itu Pak Aswadi melihat Voni dalam permasalahan besar, untuk itu dia tak mau mengomentarinya, apa lagi dia tahu, kalau saat itu Voni baru keluar dari ruangan Kepala sekolah.
“Kamu mau belajar dengan Bapak?” tanya Aswadi pada Voni.
Mendengar pertanyaan dari Aswadi, Voni merasa sedikit tersinggung pada guru Bahasa indonesia itu, bola matanya yang indah langsung menatap tajam kearah Aswadi.
“Kenapa? Bapak nggak mau aku ikut dalam pelajaran Bapak?”
“Lho, kok kamu bicara seperti itu, saya kan cuma tanya, apakah kamu mau ikut pelajaran Bapak atau nggak?”
“Pertanyaan Bapak itu lho, seperti sedang memancing emosi ku.”
“Wah! baru kali ini, Bapak di tawar oleh seorang siswi perempuan,” ucap Aswadi tertawa sinis pada Voni.
“Jadi semestinya aku ini harus bagai mana? bukankah dari dulu aku ingin belajar bersama Bapak, tapi Bapak selalu mencari celah agar kesalahan ku membuat ku tersingkir di setiap jam pelajaran Bapak.”
“Jadi kamu menyalahkan Bapak!”
“Aku nggak pernah menyalahkan Bapak, tapi kalau Bapak merasa, itu artinya pikiran Bapak udah semakin dewasa.”
Ucapan Voni itu membuat Aswadi semakin geram, dia langsung membanting penghapus yang ada di tangannya ke lantai, lalu dia pun menghampiri mejanya untuk menyusun buku.
“Nggak perlu Bapak keluar, biar aku yang keluar, dari dulu aku juga udah menduga, kalau Bapak emang nggak mau memberi aku kesempatan untuk mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, permisi!” ujar Voni seraya berlari meninggalkan kelasnya.
__ADS_1
Saat Voni keluar semua temannya hanya bisa terdiam, sementara itu Pak Aswadi merasa bersalah dengan tindakannya yang selalu emosi bila bertemu dengan Voni.
Setelah keluar dari kelasnya, Voni mencoba duduk di belakang labor, air matanya terus saja mengalir, saat itu dia benar-benar rindu pada Papanya.
“Aku mesti gimana sekarang Pa? aku bingung karena aku tak lagi punya sandaran untuk hidup ini.”
Ketika Voni sedang menangis di belakang labor, seorang siswa kelas 2, kebetulan sedang melintasi tempat itu, mendengar suara orang sedang menangis dia pun langsung menghampirinya.
Karena Ramlan tahu yang menangis itu Voni, maka dia tak berani menghampirinya, Ramlan langsung saja berlari menemui Kepsek, karena Ramlan tahu, siapa Voni itu.
“Kamu lihat di mana dia?” tanya Bramono ingin tahu.
“Di belakang labor Pak.”
“Ya sudah, sekarang langsung saja kamu ke kelas, kalau soal Voni, biar Bapak yang mengurusnya.”
“Baik Pak.”
Setelah Ramlan pergi, Bramono langsung menuju labor, dengan pelan Bramono menghampiri Voni yang tampak sedang asik duduk diam.
“Kamu ngapain?” tanya Bramono seraya memegang pundak Voni.
“Eh, Bapak. kok Bapak tahu aku berada disini?”
“Kenapa? apakah Bapak nggak boleh tahu tentang keberadaan orang yang Bapak sayangi.”
Voni hanya bisa sedikit tersenyum, lalu Bramono menyandarkan kepala Voni ke bahunya, sehingga saat itu Voni merasa tenang.
“Kamu nggak belajar?”
“Aku udah masuk ke kelas, tapi Aswadi sepertinya nggak menginginkan aku ikut belajar bersamanya.”
“O ya? emangnya Pak Aswadi bilang apa tadi di kelas?”
“Aku nggak mau membahasnya, kalau Bapak ingin tahu kelakuan bawahan Bapak, Bapak selidiki aja sendiri.”
“Hm…!”
Bramono tak menjawab, dia hanya tersenyum melihat Voni bisa berani bicara lantang di depannya. Melihat Bramono tersenyum Voni menjadi heran.
“Kok Bapak tersenyum?”
“kenapa? nggak boleh.”
“Siapa juga bilang nggak boleh, aku kan cuma nanya, kenapa Bapak tersenyum?”
“Ya, karena Bapak senang saja, sebab orang yang Bapak sayangi saat ini nggak lagi menangis.”
“Lantaran aku nggak mau di anggap cengeng, itu sebabnya aku nggak menangis lagi.”
“Ya udah, kalau begitu kembalilah kamu ke kelas.”
“Kenapa?”
“Ya untuk melanjutkan pelajaran mu Voni.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*