Terjebak

Terjebak
Part 109 Selamat dari maut


__ADS_3

“Mau ngadu lagi, hah?”


“Nggak, saya nggak akan mengadu.”


“Huuh! awas kamu ya!” ancam Lola pada Luna.


Di saat hidup Luna tersiksa di dalam penjara, Voni yang berada di rumah sakit sudah mulai sadar, mesti dia lemas tapi dia sudah bisa tersenyum.


Bramono sangat senang karena kekasihnya bisa senyum kembali, karena tak ingin mengganggu Voni yang baru saja kembali, Bramono hanya diam saja, dia mengusap kepala Voni dan mencium kening gadis itu.


Bramono begitu terharu, sehingga tanpa dia sadari air matanya menetes dengan sendirinya. Usahanya tidak sia-sia, perjuangannya untuk menyelamatkan Voni berhasil mesti dia harus berjibaku, berlari kesana kemari sambil memangku tubuh kekasihnya.


“Mereka semua sudah mengira kau tiada, mereka bahkan mengatakan kalau Bapak ini sudah gila. Tapi Bapak yakin, nggak semudah itu untuk mu pergi meninggalkan Bapak.”


Voni tak menjawab, hanya air matanya yang tampak mengalir membasahi kedua sudut matanya. Perlahan butiran itu mengalir membasahi kedua pipinya yang putih bersih.


Keesokan harinya saat pagi telah tiba, ketika Bramono membersihkan bagian luar tubuh Voni, dengan lembut Voni menyentuh tangan pria itu, saat itu Bramono baru sadar, kalau Voni tak bisa bicara, akibat dari kabel yang dijeratkan Luna di lehernya.


“Sayang, apakah kau nggak bisa bicara?”


Voni mengangguk kan kepalanya.


Mendengar pengakuan Voni, Bramono hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan, betapa sakit rasa hati Bramono saat itu, tapi dia tak dapat berbuat apa-apa.


Secara bersamaan, Bayu yang mendengar kabar berita dari anak buahnya, dia berusaha mencari Voni di setiap rumah sakit yang ada di kota itu, tapi mereka tak menemukan Voni, ada di rawat disana.


“Apa kalian yakin, kalau Voni meninggal dunia?”


“Saya nggak tahu Bos, tapi terakhir kali kami melihatnya, tubuh Voni telah mereka tutup dengan menggunakan kain putih.”


“Jadi kalian nggak ada yang tahu, kemana pria itu membawa Voni pergi?”


“Nggak bos.”


“Baiklah, kalian terus bergerak, cari di setiap rumah sakit, mesti rumah sakit itu sangat kecil sekali.”


“Baik Bos.”


Padahal, anak buah Bayu telah memasuki rumah sakit Yos, tapi dia tetap tak mengetahui keberadaan voni, karena Bramono sengaja memalsukan identitas kekasihnya itu pada pihak rumah sakit.


Setelah beberapa minggu di rawat, Voni di izinkan kembali pulang kerumahnya,


Sore itu pihak rumah sakit menghubungi Bramono di rumahnya. Saat itu Bramono sedang melakukan rapat dengan pihak pemilik sekolah.


“Hallo! Assalamua’laikum.”


“Wa’alaikumsalah.”


“Dengan Bapak Bramono?”


“Benar.”

__ADS_1


“Kami dari pihak rumah sakit mengabarkan kepada Bapak, bahwa besok pagi, saudari Vila telah di izinkan kembali kerumahnya.”


“Ooo, baik, terimakasih Sus, nanti malam saya akan berangkat.”


“Baik Pak.”


Mesti Voni tak bisa bicara, namun dia terlihat lebih bersemangat pagi itu ketimbang hari-hari biasanya. Sebelum Bramono datang menjemputnya, Voni menyempatkan diri berjalan-jalan di halaman belakang rumah sakit.


Dua jam dia menunggu di taman belakang rumah sakit, akhirnya Bramono datang menjemputnya, kali itu Bramono melihat Voni tampak berseri-seri.


“Kamu kelihatan cantik sayang.”


Voni terlihat malu ketika bramono memuji dirinya, walau tak bisa bicara, Voni akan menerima dirinya apa adanya kali itu.


“Kamu udah siap?”


Voni menganggukkan kepalanya, pertanda dia sudah siap untuk kembali pulang dan meninggalkan kenangan pahit dirumah sakit itu.


Setibanya di rumah, Anum menyambut Voni dengan pelukan, begitu juga dengan Voni, perempuan yang telah membesarkan dirinya itu, merupakan wanita yang sangat dihormatinya.


“Maaf Non, Bibi nggak dapat menengok mu kesana.”


Voni hanya menganggukkan kepalanya, pertanda dia mengerti dengan maksud Anum kepadanya. Malam itu, Bramono berfikir keras untuk mencari dokter yang bisa mengembalikan suara Voni yang hilang. Bramono mencarinya di internet, gugel dan di setiap informasi yang di dapat.


Setelah sekian lama dia berusaha mencarinya, Bramono tetap saja tak menemukan di mana dokter yang bisa mengobati pita suara Voni yang telah terinfeksi


“Aku nggak boleh menyerah, aku harus dapatkan di mana tempat yang dapat mengobati suara Voni agar bisa kembali seperti semula.


Ditempat bersamaan, Bayu telah mengerahkan beberapa anak buahnya mencari keberadaan Voni, sejauh mereka mencarinya, mereka semua belum ada yang mampu menemukan keberadaan Voni.


“Apakah kalian sudah mencari Voni ke seluruh sudut kota ini?”


“Udah Bos, kami masuk ke perkampungan untuk mencari keberadaannya.”


“Saya ragu kalau dia sudah tiada, karena rumah sakit tak ada menyimpan jasad Voni di ruang jenazah.”


“Kenapa kalau nggak kita coba saja menghubungi ponselnya Bos, siapa tahu ada yang mengangkatnya.”


“Sudah, saya udah berulang kali mencoba menghubunginya, namun tetap saja nggak ada yang mengangkat.”


“Bagai mana kalau kita coba lagi?”


“Baiklah,” jawab Bayu yang berusaha menghubungi kembali ponsel voni.


Setelah beberapa kali di hubungi, lalu ponsel itu diangkat oleh Anum atas perintah Voni. Saat itu, Anum agak sedikit gugup untuk menjawabnya.


“Hallo.”


“Hallo, dengan Bi Anum ya?”


“Iya Om.”

__ADS_1


“Bi Anum, Non Voni nya ada?”


“Ada, dia lagi beristirahat Om.”


“Alhamdulillah, ternyata Non Voni selamat ya Bi?”


“Iya Om.”


“Bisa aku bicara dengannya Bi?”


“Non Voni nggak bisa bicara Om.”


“Kenapa Bi?”


“Non Voni Bisu, sekarang.”


“Hah, apa? Non Voni bisu?”


“Iya Om.”


“Astaga, baiklah Bi, aku akan kesana sekarang juga.”


“Iya Om.”


Karena Bayu akan ke rumah Voni, lima belas menit sebelum kedatangannya, Anum pergi ke rumah Bramono, Anum ingin Bramono sendiri yang bicara dengan Bayu nantinya.


“Baik Bi.”


Karena Bayu akan datang, Bramono segera datang kerumah Voni, dia ingin bicara dengan Bayu tentang kejadian yang menimpa Voni.


Setelah menunggu beberapa saat, Bayu datang bersama dua orang suruhannya. Bramono menyambutnya dengan baik.


“Benar Non nggak bisa bicara saat ini?”


Voni menganggukkan kepalanya, Bayu mengerti dengan anggukan itu, hati Bayu terasa sedih saat mendengar kabar kalau Voni tak bisa bicara lagi karena kelakuan Mamanya.


“Padahal waktu itu, saya udah memerintahkan anak buah saya, untuk menjaga dan mengawal Voni sebaik mungkin dari kejahatan Mamanya, tapi mereka masih saja gagal.”


“Waktu itu, memang di luar dugaan kami, bukan hanya anak buah Bapak saja yang gagal menyelamatkan Voni, saya yang berada di dekat Voni saja, bisa nggak sadar kalau Luna menyakitinya.”


“Dia benar-benar nekat sekali, di pengadilan saja, dia berani melakukan hal itu, di depan semua orang lagi.”


“Kejadian itu sangat mengerikan sekali, dia datang secara tiba-tiba dan mengeluarkan tali serta melilitkannya di leher Voni.”


“Kita kecolongan lagi kali ini.”


“Iya, ternyata Mama Voni telah mempersiapkan segalanya untuk hal itu.”


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2