
“Iya Non, ada apa?”
“Pergi ke pengadilan sekarang, aku nggak bisa hadir di sana.”
“Kalau Non nggak hadir, nanti hak waris Luna bisa di dapatkannya dong.”
“Turuti saja perintah ku, katakan
pada pengacara kita, kalau aku sedang berhalangan hadir.”
“Baik Non.”
Setelah Voni menutup telponnya, Bayu tampak sedikit ketakutan, dia bingung, mesti menjawab apa jika Luna bertanya tentang keberadaan Voni, karena selama ini Luna tahu, kalau Bayu tak pernah lagi berhubungan dengan Voni putrinya.
“Waduh, Non Voni, kenapa menyuruh ku ke pengadilan ya? gawat, kalau sampai Luna tahu dia pasti memaki aku.”
Mesti Bayu merasa bingung, namun dia terus saja berfikir mencari cara agar pesan Voni bisa segera di laksanakannya. Tak berapa lama kemudian Bayu teringat dengan Herman orang suruhannya. Lalu Bayu menyuruh Herman ke pengadilan untuk menyampaikan pesan Voni.
“Baik Pak, pesannya akan segera ku sampaikan.”
“Sekarang perginya, Pak!”
“Baik, saya akan segera kesana sekarang juga."
Di dalam perusahaan Sanjaya, Bayu bekerja seperti biasa, mesti tak ada lagi yang mengawasi gerak geriknya, namun Bayu tak pernah berniat ingin menipulasi uang Sanjaya sedikit pun. Bahkan pembukuan Bayu bersih dan transparan.
Di lain tempat. Malam itu, seperti biasa, Voni nongkrong bersama teman-teman prianya, dia minum begitu banyak sekali sehingga Voni mengalami mabuk berat, padahal Benu sudah berusaha melarangnya namun Voni tak mau memperdulikannya.
“Kau kenapa Voni, udahlah minumnya! lihat, kau udah mabuk sekarang.”
“Biarkan saja Benu, biarkan aku mati saja.”
“Kalau dengan cara begini, kau nggak akan mati Voni?”
“Aku, nggak mau lagi hidup!”
“Kau bicara seperti itu, padahal sewaktu kau di dalam jurang, kau justru berusaha untuk keluar, kenapa kau nggak masuk saja ke dalam lumpur hidup itu, kan kau nggak susah lagi mati.”
“Diam kau! siapa kau bisa bicara seperti itu padaku!”
Saat mereka sedang asik-asik duduk, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan warung mereka, mesti gelap, tapi Rendi sangat mengenali mobil Kepala sekolah itu.
“Gawat Kepsek datang…!” teriak Rendi.
“Ayo kabur…!” ajak yang lainnya.
“Lalu bagai mana dengan Voni?” tanya Farel kebingungan.
“Voni! Kepsek datang, gimana ini?” bisik Rendi pada Voni.”
__ADS_1
“Udah, kabur aja kalian, aku nggak apa-apa kok.”
Namun ketika mereka semua hendak bubbar dan kabur, lalu Bramono mengangkat tangannya, serta melarang mereka semua untuk pergi.
Dia berjalan pelan menghampiri Voni dan duduk di sebelah kanannya, semua murid SMA Semangat negri tampak tertunduk takut.
“Kenapa kalian kabur? takut kalau kalian Bapak masukkan kedalam buku kasus? Lihat diri kalian semua, nggak ada yang benar. Nama sekolah Semangat Negri yang kita punya, sama sekali nggak cocok untuk kalian. Kalian justru membuat semangat sekolah kalian menjadi rusak.”
“Maafkan kami Pak,” ujar Rendi pelan.
“Maaf untuk apa?”
“Karena kami telah merusak citra sekolah!”
“Hm…! jika hari ini Bapak memaafkan kalian semua, apakah untuk hari-hari berikutnya kalian bisa berubah? lihat diri kalian, kerjaannya hanya berjudi, mabuk dan merokok, apakah kalian nggak ingat orang tua kalian di kampung, mereka semua mati-matian bekerja demi masa depan kalian.”
“Kami janji, kami nggak akan mengulanginya lagi.”
“Hari ini kalian berjanji pada Bapak, tapi besok janji yang kalian ucapkan akan kalian pungkiri sendiri.”
“Nggak Pak, kami benar-benar menyesal.”
“Bapak nggak percaya.”
“Apakah orang tua kalian tahu, kalau anak-anak mereka berkelakuan seperti ini?”
“Nggak Pak, mereka nggak ada yang tahu.”
“Iya Pak.”
“Setibanya di rumah, pernah kalian memeriksa tubuh kedua orang tua kalian? Bapak yakin, tubuh yang telah keriput itu, saat ini hanya tinggal kulit pembalut tulang saja, padahal mereka bekerja dengan iklas, tanpa mengharapkan imbalan apapun dari kalian, tapi kalian telah mengecewakannya.”
“Maafkan kami Pak.”
“Minta maaflah kalian pada kedua orang tua kalian, saat ini bukan Bapak yang kalian tipu, tapi orang tua kalian sendirilah yang telah kalian tipu,” ujar Bramono dengan suara lembut.
“Itu benar Bram, mereka sudah membohongi kedua orang tua mereka, huk, huk, huk,” jawab Voni yang sedang mabuk berat.
Mendengar ucapan Voni yang menyebut Kepsek dengan sebutan namanya, membuat semua anak pria itu terkejut. Bukan hanya anak-anak itu yang terkejut, bahkan Bramono juga terkejut di buatnya.
“Ya ampun Voni, kenapa kau menyebut nama ku di hadapan mereka semua?”
“Kau mau minum?” tanya Voni seraya menawarkan minuman yang di tangannya pada Bramono.
Minuman itu langsung di ambil Bramono dan di banting di hadapan Voni dan yang lainnya, kemudian pria itu langsung pergi.
“Sekarang lanjutkan begadang kalian, besok jam Sembilan temui Bapak di kantor.”
“Tunggu Bram, tunggu!” teriak Voni seraya berusaha mengejar Bramono.
__ADS_1
Tapi Bramono tak memperdulikannya, dia terus saja berlalu menuju mobilnya, saat mobil itu telah mulai menyala, Voni justru senderan di mobil Bramono, sehingga Bramono tak tega melihatnya terjatuh.
“Minggir Voni! nanti kau terjatuh!” teriak Rendi.
“Aku nggak mau!” ujar Voni yang terus bertahan di mobil itu.
Tak sampai hati melihat Voni seperti itu, lalu Bramono turun dan mengangkat tubuh Voni ke dalam mobilnya.
“Mulut mu, begitu bau Voni, bahkan aku hampir muntah di buatnya,” ujar Bramono seraya menahan nafasnya.
“Astaga, Voni! kenapa kau lebih memilih pria tua itu ketimbang aku?” pertanyaan Rendi membuat hatinya begitu hancur saat itu.
Setelah Voni naik kedalam kendaraannya, lalu Bramono memacu kecepatan mobilnya, di dalam garasi rumah dinasnya, Bramono mengeluarkan Voni dan membawanya kekamar mandi.
Tubuh Voni di guyur hingga beberapa timba, sehingga gadis itu menjerit histeris, walau Voni menangis dan meronta-ronta marah, Bramono tak memperdulikannya.
“Mabuk terus, pergi sana! minun lagi yang banyak. Kau kira dengan mabuk, kau bisa bebas dari penderitaan mu hah! nggak Voni, kau justru terpuruk! dasar nggak tahu malu kau Voni!” bentak Bramono kesal.
“Bi! Bibi…!”
“Iya tuan?”
“Tolong mandikan dia, ganti pakaiannya yang basah.”
“Baik tuan,” jawab perempuan paro baya itu seraya bergegas menuju kamar majikannya.”
“Kamu kenapa nduk? kok bisa jadi begini?” tanya perempuan tua itu.
“Aku kedinginan Bi.”
“Iya nduk, nanti akan Bibi ganti pakaian mu, sekarang kau bersihkan dulu tubuh mu, biar nggak bau alcohol lagi.”
“Iya Bi,” jawab Voni pelan.
Perempuan tua itu kemudian memandikan Voni yang saat itu masih setengah sadar, di juga mengganti pakaian Voni dengan tangannya yang lembut.
Setelah mengganti pakaiannya, lalu Voni di bawa keruang tengah. Dia duduk diam di hadapan Bramono. Mata Bramono hanya menatap tajam, Voni tampak menundukkan kepalanya saat itu.
“Maafkan aku,” jawab Voni pelan.
“Maaf tentang apa?”
“Tentang kejadian tadi.”
“Minum terus, nggak usah berhenti. Bapak nggak akan memarahi mu, percuma saja di nasehati, hal serupa pasti kau ulangi lagi.”
“Aku kalut Bram.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*