Terjebak

Terjebak
Part 14 Kenakalan Voni


__ADS_3

“Ada apa Intan? kenapa kalian berlari?” tanya Pak Tino heran.


“Katanya Voni pingsan lagi Pak, saat ini sedang di ruang UKS, apa benar itu Pak?”


“Ya, saat ini dia memang sedang berada di ruang UKS."


“Emangnya kesalahan Voni itu apa sih, kok Kepsek menghukumnya seberat itu?”


“Dia nakal, suka menyakiti hati guru, gara-gara kenakalannya, semua temannya menjadi rugi karena nggak belajar.”


“Ooo, begitu.”


“Ya sudah, kalau kalian ingin menjenguknya silahkan, dia sedang berada di ruang UKS.”


“Baik Pak.”


“Ayo Indah, Lesti. Kita lihat Voni dulu yuk.”


“Ayo."


Mereka bertiga kemudian bergegas menemui Voni di ruangannya, saat itu ruang UKS penuh di kelilingi oleh banyak siswa yang ingin menyaksikan langsung keadaan Voni.


Di dalam ruangan itu, selain Voni, ada juga seorang dokter dan Kepsek sendiri. ketika Intan dan kedua temannya merangsak masuk kedalam, Kepsek langsung keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju ruang majelis guru.


“Apakah ada perkembangannya Pak?” tanya Pak Khairul.


“Perkembangan apa?”


“Voni, apakah dokter udah mengetahui penyakit apa yang di deritanya?”


“Saya nggak tahu, tapi sejauh yang saya ketahui, belum ada.”


“Anak itu memang sedikit nakal, tapi ternyata dia rapuh,” ucap Bu Riska.


“Kata anak-anak yang satu kos dengan Voni, katanya Voni sering keluar malam dan pulang saat subuh. Bukan hanya itu saja, Voni juga sering terlambat, dan cabut saat belajar,” lanjut Bu Nina dengan sedikit tenang dan santai.


“Ya, saya juga pernah dengar berita itu dari anak-anak, tapi kalau nggak salah, kata Bu Zubaidah, Voni itu sangat pintar dan jenius.”


“Kalau itu saya kurang tahu Pak.”


Informasi demi informasi terus di selidiki dan di cari, agar Bramono bisa mempunyai banyak bukti, tentang diri Voni dan latar belakang keluarganya.


“Kalau di lihat dari cara dia berpakaian, sepertinya Voni hanya gadis biasa, sama dengan siswa lainnya, tapi tak seorang teman pun yang tahu, di mana Voni ini tinggal,” kata Bu Maria.


“Waktu pendaftaran, emangnya siapa yang mengantarkannya Pak?” tanya Bu Riska.


“Sepertinya saat pendaftaran, Voni datang bersama dengan Pamannya.”


“Bersama Pamannya?”


“Sepertinya begitu.”

__ADS_1


Dua hari setelah kejadian itu, Voni bukannya berubah dan sadar. Kelakuan Voni justru bertambah. Bu Riska guru Biologi, kali ini dia menjadi imbasnya.


Saat itu Voni dan teman-teman kelompoknya menyerahkan makalah yang sudah mereka buat selama satu bulan. Hanya terlambat satu hari, Bu Riska langsung menolak makalah itu, merobek dan membuangnya ke tong sampah. Voni merasa marah dan tersinggung.


“Terlambat!” kata Bu Riska.


“Terlambat gimana maksud Ibu? bukankah jadwal penyerahannya sesuai dengan pelajaran kita hari ini?”


“Iya, jadwal pelajaran kita memang hari ini, tapi waktu pengumpulan makalahnya itu kemaren. Ingat Voni, Ibu telah beri waktu satu bulan untuk kalian mengerjakannya, tapi apa buktinya? kalian bermain-main dan melalaikan tugas yang Ibu berikan.”


“Kami nggak main-main Bu, kemaren makalah ini juga kami bawa, tapi kata Bu Zubaidah Ibu udah pulang, jadi makalahnya terpaksa ku bawa pulang ke rumah.”


“Pokoknya Ibu nggak mau terima, titik!”


“Guru macam apa Ibu ini, nggak punya perasaan dan Ibu bahkan nggak punya dedikasih yang baik, agar dapat memberi contoh pada murid disini.”


“Apa maksud mu Voni?”


“Ibu tahu, kami mengerjakan perintah Ibu, sesuai dengan yang Ibu mau. Jangankan Ibu melihatnya, Ibu bahkan langsung merobek dan membuangnya ke tong sampah, lalu perilaku macam apa yang harus aku contoh dari Ibu? Nggak ada kan!”


“Voni! kau mulai kurang ajar sekarang!”


“Jika guru kurang ajar, murid yang di ajarnya pun akan lebih kurang ajar.”


“Apa mau mu Voni?” tanya Bu Riska menantang.


“Ibu nggak usah pancing emosi ku, sebagai seorang guru tak semestinya kau lakukan itu pada kami. Bahkan aku nggak melihat contoh tauladan baik itu pada diri mu.”


“Nggak perlu Ibu berteriak! aku ini nggak tuli.”


“Kurang ajar, beraninya kau menasehati Ibu Voni!”


“Kenapa? apakah ada di undang-undang, kalau seorang murid nggak boleh menasehati gurunya yang salah?”


Bu Riska tak menjawab pertanyaan Voni, dia hanya menarik nafas panjang dan berencana untuk menyusun semua bukunya.


“Tunggu! nggak perlu menyusun buku, biar aku sendiri yang keluar!”


Melihat sikap Voni yang seperti itu, Bu Riska jadi serba salah. Di mejanya, Bu Riska menangis sedih, semua siswa yang melihat hanya bisa diam saja.


“Pelajarannya, kita lanjutkan saja minggu depan, Ibu jadi nggak mut belajar hari ini.”


“Baik Bu,” jawab seluruh siswa kesenangan.


Setelah Bu Riska pergi semua siswa berhamburan keluar kelas, mereka berpencar kemana saja mencari tempat yang nyaman untuk nongkrong.


Setelah perdebatan Voni dan Bu Riska, para murid kelas 1A kembali menelan kekecewaan, gara-gara Voni mereka semua gagal belajar.


Di parkiran sekolah, Voni nongkrong sendirian, dia tampak begitu kesal dengan perbuatan Bu Riska yang telah merobek hasil makalah yang telah mereka tulis.


Ketika duduk sendiri, Nita datang menghampirinya, saat itu Voni tak menampakkan kekecewaannya.

__ADS_1


“Kenapa keluar? apakah kalian nggak belajar?” tanya Voni heran.


“Bu Riska tadi menangis saat kau keluar kelas.”


“Kenapa dia menangis, bukankah dia telah berhasil merobek makalah yang telah ku buat.”


“Entahlah, tampaknya hati Bu Riska terluka dengan ucapan mu.”


“Dia bisa terluka dengan ucapan ku, tapi bagai mana pula dan teman-teman kelompok ku yang telah di robek Bu Riska makalahnya?”


“Entahlah Voni, aku nggak tahu,” jawab Nita pelan.


“Ya udah, hari ini aku nggak masuk aku mau pulang, nanti tolong kau bawakan buku ku di dalam laci meja.”


“Kau mau kemana Voni?”


“Aku mau pulang saja, aku mau istirahat, aku capek!”


“Kau cabut lagi kan?”


“Terserah apa kata guru Nita, mau cabut mau kabur terserah!”


Nita tak bisa berbuat banyak untuk membantu Voni, dari belakang Nita hanya bisa memandang Voni dengan rasa sedih. Setelah Voni menjauh, Nita pun kembali ke kelas.


Setibanya di kelas ternyata Kepsek udah berada di dalam, Nita sangat cemas sekali kalau Kepsek marah melihat dia terlambat.


“Permisi Pak!”


“Ya silahkan masuk.”


Setelah mendapat izin untuk masuk, Nita kembali duduk di bangkunya dan memperhatikan arahan dari Kepsek.


“Mana Voni?” tiba-tiba saja pertanyaan Kepsek yang mendadak itu membuat dada Nita menjadi sesak.


“Voni?”


“Iya, mana dia? bukankah Voni itu teman sebangku mu?”


Tak dapat mengelak lagi, Nita terpaksa bicara jujur pada Kepsek, kalau saat itu Voni sudah pulang kerumahnya.


“Dia cabut lagi?”


“Iya Pak.”


“Baru saja dia menyakiti hati Bu Riska, sekarang dia cabut, cepat jemput dia dan suruh melapor ke ruangan Bapak!”


“Ba…bab…baik Pak!” jawab Nita gugup.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2