
“Jadi gimana Lesti? apakah kau nggak sekolah pagi ini?” tanya Intan ingin tahu.
“Sepertinya nggak Intan. Aku malu, jika nanti aku sampai muntah dan mual di sekolah."
“Kau kan bisa menahannya.”
“Mana bisa Intan, mual itu kan datang secara tiba-tiba.”
“Tapi sebentar lagi kita mau ujian akhir Lesti, kalau kau ketahuan hamil, berarti gagal dong usahamu selama ini?”
“Habis bagai mana lagi, aku nggak tahu mesti bagai mana Intan.”
“Kau sih, nggak pakai pengaman.”
“Maksud mu?”
“Kalau aku, selalu menggunakan pengaman untuk bermain.”
“Jadi kau juga…?”
“Iya, Lesti,” jawab Intan.
“Aku juga kok, aku selalu pakai pengaman jika bermain seperti itu.”
“Astaga, kau ternyata seperti itu juga Indah?”
“Iya, kapan lagi, selagi masih muda!”
“Jadi bukan aku saja yang seperti ini?”
“Nggak Lesti. Keperawanan itu untuk zaman sekarang nggak ada gunanya, yang berguna hanya uang, uang dan uang. Kau lihat sendirikan Lesti, semenjak aku menjalin asmara dengan Pak Tino, semua kebutuhan ku di penuhi, bahkan Pak Tina sanggup membayar aku tiga juta untuk sekali kencan.”
“Astaga! Benarkah itu?”
“Iya Lesti.”
“Berarti aku termasuk gadis yang paling bodoh dalam melakukan hal itu.”
“Makanya gunakan otak kalau mau berbuat!”
Mendengar ucapan Intan, hati Lesti semakin sakit, dia begitu menyesali semua perbuatannya, saat itu Lesti benar-benar tak berfikir, kalau Heru akan lari dari kehamilannya saat itu.”
Ketika semua orang telah berangkat ke sekolah, Voni merasa tak tenang, dia terus kepikiran dengan Lesti yang terus menangis sedih di kamarnya, lalu Voni kembali mendatangi kamar Lesti.
“Sebenarnya ada apa sih lesti, kok kamu nggak berhenti menangis?”
“Voni! kamu nggak berangkat kesekolah?”
“Aku nggak tenang, jika ada orang lain yang menderita di dekat ku.”
“Kalau kau merasa menderita, maka pergilah kau kesekolah, tinggalkan aku sendiri disini.”
“Apa maksud mu?”
“Aku nggak bermaksud apa-apa kok.”
“Aku tahu, pasti telah terjadi hal yang buruk pada mu, sehingga kau tak bisa berhenti menangis.”
“Itu bukan urusan mu Voni!"
“Kalau itu bukan urusan ku, lalu itu urusan siapa, apakah urusan Intan, atau mungkin bakal menjadi urusan Indah. Kau lihat sendirikan Lesti, mana kedua sahabatmu itu, di saat kau sedih, dia justru pergi kesekolah, apakah kau masih merasa ini bukan urusan ku? baiklah.”
__ADS_1
Di saat Voni telah meninggalkan nya, Lesti berfikir, kalau ucapan Voni ada benarnya juga, kalau bukan Voni yang membantu, lalu siapa lagi yang mau membantu dirinya, sama dengan kejadian Indah waktu itu, maka Voni lah tempat mereka mengadu.
"Maafkan aku Voni."
“Maaf untuk apa?”
“Untuk kebodohan ku.”
“Baiklah, sekarang coba kau katakan pada ku, apa yang saat ini sedang kau rahasiakan dari ku.”
“Aku hamil, Voni.”
“Apa! habislah kita semua, kenapa kau bisa hamil?”
“Aku nggak tahu Voni, semuanya udah terjadi, tolong bantu aku untuk menggugurkan kandungan ini Voni.”
“Siapa yang telah melakukannya Lesti?”
“Heru.”
“Apakah dia mau bertanggung jawab?”
“Nggak, dia bahkan menyuruh ku untuk menggugurkan kandungan ini.”
“Lesti, lesti! kenapa dengan begitu mudahnya kau menyerahkan kesucian mu pada laki-laki?”
“Heru berjanji akan bertanggung jawab Voni.”
“Itu janji dari pria yang tak bertanggung jawab Lesti, kau telah dibutakan oleh bujukan manisnya, mana ada orang melakukan hubungan di luar nikah hanya karena cinta. Semua itu hanya karena nafsu!”
“Lalu aku mesti bagai mana Voni? aku melakukan semua ini hanya karena cinta kami.”
“Cinta, cinta! hanya itu saja pedoman kalian menjalin hubungan, hanya demi cinta, lalu kalian rela berkorban untuk itu.”
“Lalu aku mesti bagai mana Voni?”
“Besarkan bayi yang ada di dalam kandungan mu itu, jangan pernah kau berniat untuk menggugurkannya.”
“Tapi sebentar lagi orang akan melakukan ujian akhir, kalau kandungan ku membesar, tentu aku nggak bisa melakukan ujian itu.”
“Itu resiko yang akan kau terima Lesti! ternyata sebegitu piciknya pikiran mu saat ini, hanya karena ingin mengikuti ujian akhir lalu kau rela membunuh bayi yang tumbuh di dalam Rahim mu.”
“Tapi aku nggak mau bayi ini Voni?”
“Aku nggak mau tahu, kapan perlu setelah bayi itu lahir, kau serahkan dia pada ku.”
“Aku nggak mau Voni, aku nggak mau bayi ini!” teriak Lesti dengan suara lantang.
“Ssst…! jangan keras-keras, di luar ada Bu Ranti, kau mau Bu Ranti mengetahuinya?”
“Nggak Voni.”
Apa yang di takutkan Voni ternyata benar saja, secara tak sengaja Ranti mendengar suara ribut di kamar Lesti.
“Hei suara apa itu? kenapa ribut?”
“Nggak ada apa-apa Bu!”
“Apakah kalian nggak sekolah?”
“Iya, sebentar lagi.”
__ADS_1
“Tapi bel sekolah udah berdering, apakah kau mau terlambat lagi.”
“Iya, sebentar lagi aku mau berangkat.”
setelah Bu Ranti terdiam, Voni hanya bisa menatap Lesti, rasa kasihan pun timbul di dalam hatinya untuk Lesti.
“Lalu bagai mana dengan sekolah ku Voni? padahal ujian ku tinggal sebentar lagi.”
“Sabar, nanti akan ku pikirkan jalan keluarnya. Apakah Indah dan Intan udah tahu?”
“Udah Von.”
“Apa kata mereka?”
“Mereka berdua menyuruh aku menggugurkan bayi ini.”
“Teman macam apa yang menginginkan keburukan untuk orang yang selama ini menjadi sahabat baiknya. Mereka semua sungguh kejam.”
Setelah selesai berbicara, Voni langsung pergi meninggalkan Lesti, mesti sudah terlambat masuk kelas, tapi Voni terus masuk tanpa bicara sepatah pun.
Saat itu pelajaran telah hampir selesai, namun dia tetap duduk di bangkunya, Nita yang melihat Voni seperti itu, dia mencoba menghampiri.
“Ada apa?”
“Nggak ada apa-apa, Nit.”
“Kok bengong aja?”
“Pikiranku lagi kalut sekarang.”
“Emangnya pernah pikiranmu norma selama ini, nggak kan? pasti selalu kalut.”
“Kau jangan seperti itu Nit?"
“Tapi kenyataannya emang seperti itu kan?”
“Tapi kali ini, kepala ku memang benar-benar pusing, Nit?”
“Kau punya permasalahan apa emangnya?”
“Satu masalah belum lagi selesai, sekarang timbul masalah baru.”
“Masalah baru? masalah apa?”
“Nanti kau akan tahu sendiri jawabannya.”
“Kau selalu saja seperti itu, memberi pertanyaan tapi nggak mau memberi tahuku jawabannya.”
“Habis ini kita belajar dengan siapa Nit?”
“Pak Khairul.”
Dengan tenang Voni mengikuti pelajaran siang itu, walau kepalanya terasa pusing dan hendak pecah, namun dia tampak biasa-biasa saja di hadapan orang banyak.
Bersama Pak Khairul, Voni belajar ilmu sosiologi, mesti pelajaran itu tak diminatinya sama sekali, tapi karena Pak Khairul tak pernah ikut campur urusannya, untuk itu Voni tak mau mengecewakan pria itu.
Setelah jam pelajaran selesai, Voni kembali ke rumah kosnya, saat melewati kamar Lesti, dia melihat Lesti sedang tertidur dengan pulas.
“Hm, semoga saja kau bisa bersabar dalam menghadapi ujian ini Lesti, aku yakin pasti ada hikmah di balik semua ini.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*