
Walau Fitri berbohong atas apa yang dia lakukan, tapi Voni tak mempermasalahkan semua itu, asalkan Fitri bisa kembali berkumpul dengan kedua anaknya, itu sudah cukup bagi Voni.
Pagi itu saat Voni duduk santai dirumahnya, Anum teringat dengan surat dari pengadilan negeri yang di titipkan tukang pos.
“Non ada surat.”
“Surat apa ini Bi?”
“Kayaknya dari kantor pengadilan.”
“Dari kantor pengadilan?”
“Iya.”
“Kapan surat ini sampai ketangan Bibi?”
“Satu minggu yang lalu.”
“Kok Bibi diam aja?”
“Saat surat itu Bibi terima, Non langsung mengalami kecelakaan, jadi surat itu bibi simpan aja dulu.”
Kemudian surat itu di buka oleh Voni, betapa terkejutnya Voni ternyata Mama Luna kembali menggugatnya di pengadilan.
“Kenapa Mama masih menggugat ku, padahal dia udah dua kali terbukti kalah.”
“Bibi nggak tahu Non.”
Tak ingin penasaran, Voni menelfon Bayu yang saat itu sedang asik menyiram bunga di taman belakang rumahnya.
Berulang kali Voni mencoba menghubunginya, namun ponsel Bayu tetap tidak diangkat, hal itu membuat Voni merasa kesal.
“Om Bayu kemana sih, kenapa dia nggak mengangkat telfon ku?”
“Barang kali Om Bayu lagi sibuk Non.”
“Biasanya sesibuk apapun dia, pasti telfon ku yang paling di utamakan nya.”
“Sekarang kan hari minggu Non, siapa tahu Bayu sedang bekerja, sedangkan ponselnya di letakkan jauh dirumah.”
Voni diam saja, dia mengerti sekali dengan yang di ucapkan Anum, seraya menutup telfonnya, Voni keluar dari rumahnya pagi itu.
“Bi, aku kerumah Bram sebentar.”
“Baik Non.”
Setibanya di rumah Bramono, pria itu ternyata sedang asik membersihkan rumahnya, Voni pun duduk diam di sofa yang ada di ruang tamu.
Bramono yang melihat Voni murung, rasa ingin tahu terus saja memaksanya untuk bertanya, tentang apa yang di pikirkan oleh kekasihnya itu.
“Kamu kenapa sayang? kok murung?”
“Ada surat dari pengadilan negri Bram.”
“Hah, surat lagi?”
“Iya, ini suratnya,” ujar Voni seraya memberikan surat itu pada Bramono.
Setelah Bramono selesai membacanya, dia terdiam sejenak, perasaannya begitu heran, karena setahu Bramono, Mama Voni telah mengaku kalah.
“Sayang, bukankah Mama mu udah dua kali kalah di persidangan ini, lalu kenapa dia masih menggugat kita?”
“Itu, yang dari tadi ada di benak ku Bram.”
__ADS_1
“Maksud mu?”
“Aku bahkan udah berulang kali menghubungi Bayu, tapi tetap nggak di angkat.”
“Barang kali Om mu itu, lagi sibuk Von.”
“Bisa jadi sibuknya, sama kayak Bapak yang udah berubah wujud kayak hantu.”
“Hah, kamu ini,” ucap Bramono seraya mencolek hidung Voni yang lancip dan indah.
“Bapak,” jawab Voni yang terus bermanja pada kekasihnya itu.
“Semakin hari, wajahmu semakin tampak sempurna sayang, kau bukan lagi Voni yang dulu, yang lucu, kecil dan lugu.”
“Benarkah?”
“Iya sayang.”
“jadi, gimana dengan surat ini, Bram.”
“Hm, masa dalam momen seperti ini, kamu mau mengingatkan masalah yang menyakitkan kepala itu.”
Bersama Bramono, Voni begitu bahagia sekali, hatinya terasa berbunga-bunga saat itu, karena bukan hanya hari itu, bahkan selama mereka berhubungan, Bramono begitu mengutamakan keinginan kekasihnya.
“Bapak akan mengantarkan mu nanti.”
“Kemana?”
“Kekantor pengadilan.”
“Benarkah?”
“Iya tentu.”
“Iya sayang.”
“Tapi, apa menurutmu persidangan kali ini akan membuat kita menang atau kalah.”
“Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Karena semenjak aku membaca surat itu, rasa takut langsung muncul seketika.”
“Kenapa takut sayang?”
“Karena sejak dua kali persidangan, ujung-ujungnya pasti aku yang menderita.”
“Itu, karena kau nggak mau menghindari diri dari amukan Luna, sayang.”
“Dia Mama ku, Bram?”
“Mesti dia itu Mama mu, tapi tindakannya udah kriminal, dia bahkan menginginkan kau tiada untuk selamanya.”
“Aku iklhas tiada di tangannya Bram.”
“Oh, nggak sayang, Bapak nggak iklhas, jika terjadi sesuatu pada mu, maka Bapak akan turun tangan untuk membela mu.”
“Bram, apa menurut mu, mati di tangan Ibu sendiri, akan masuk surga?”
“Nggak Voni, kamu jangan bicara seperti itu, Bapak nggak mau!” ujar Bramono seraya menjauh dari Voni.
“Kenapa? bukankah selama ini Bapak selalu susah karena semua tingkah laku ku?”
“Nggak, Bapak nggak pernah susah, Bapak bahkan sangat mencintai mu sayang.”
__ADS_1
“Aku juga mencintai Bapak.”
“Lalu, kenapa kau mau mengakhiri semuanya sayang?”
“Aku nggak pernah ingin mengakhiri semuanya Bram, aku hanya berharap, saat aku meninggal aku nggak di jebloskan ke dalam neraka, karena durhaka pada Mama.”
“Jadi dengan cara mengakhiri hidupmu di tangan Mama, kau akan masuk surga?”
“Siapa tahu saja, begitu.”
“Nggak! sekarang pulanglah, jangan pernah berharap tiada, di tangan Mama mu.”
Bramono benar-benar kesal dengan keinginan Voni yang bersedia tiada di tangan Mamanya sendiri. Sementara itu, Voni yang tahu Bramono lagi kesal, dia hanya memeluk kekasihnya itu dengan kuat.
“Maafkan aku Bram.”
“Iya, aku udah memaafkan mu.”
“Sekarang aku mau pulang, aku ingin menenangkan diri.”
“Iya silahkan.”
Seperti biasa keesokan harinya Voni pergi kesekolah, tak terasa saat itu Voni telah duduk di kelas 3a, dia bahkan tak pernah membuat semua guru menjadi kesal.
Voni duduk diam di dalam kelas, dia mendengarkan setiap pelajaran yang di terangkan guru di depan kelas, Voni bahkan tak membuat kesalahan sama sekali setiap harinya.
“Kamu kenapa Von? kok kelihatanya sedang bermasalah?” tanya Nita ingin tahu.
“Mama kembali menggugat ku dalam persidangan berikutnya.”
“Bukankah kau bilang, Mama mu udah kalah dalam dua kali persidangan?”
“Iya itu benar Nit, tapi entah kenapa dia kembali menggugat ku di persidangan kali ini, ternyata dia tak pernah berhenti merebut harta warisan itu.”
“Kapan persidangannya Von?”
“Dua hari lagi.”
“Apakah kau udah mempersiapkan diri untuk persidangan kali ini?”
“Itulah yang membuat aku merasa nggak tenang kali ini Nit.”
“Kenapa nggak tenang?”
“Entahlah Nit, semenjak aku mendapatkan surat itu, perasaan ku menjadi nggak tenang. Seperti akan terjadi sesuatu di luar dugaan ku.”
“Kamu yang sabar Von, berdo’alah terus, semoga Allah, memberikan jalan yang terbaik untuk kau dan Mama mu.”
“Iya Nit, aku akan berusaha untuk itu.”
“Iya, semoga saja.”
Voni tak mendapatkan apa-apa dari percakapannya bersama Nita, dia bahkan semakin sulit untuk tidur malam itu, sementara persidangannya hanya menghitung jam saja.
Malam itu, tanpa di sadari oleh Voni dan Anum, dua orang anak buah Luna datang kerumah Voni, mereka datang secara diam-diam di malam itu.
Keduanya membuka pintu rumah Voni dengan menggunakan kunci leter L. Kedua orang suruhan itu bekerja secara professional, mereka menaburkan racun ke dalam nasi yang masih berada di dalam magic jar
Sekitar jam empat subuh, Anum terbangun dari tidurnya, karena saat itu Anum hendak makan sahur, untuk puasa sunah yang akan dia lakukan pada keesokan harinya.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1