
Malam itu mata Voni begitu sulit untuk di pejamkan, diapun mencoba menyelinap untuk pergi keluar, Voni berencana ingin menemui Bramono.
Di dalam rumah dinasnya, tampak Bramono sedang asik mengerjakan tugas sekolah, lalu pintu depan di ketuk oleh Voni, karena tak ada yang membukanya, Voni mengulanginya beberapa kali, lelah menunggu di buka, Voni senderan di dinding rumah Bramono.
“Voni? ada keperluan apa malam-malam begini datang kesini?” tanya Bramono heran.
“Aku rindu kamu Bram.”
“Ssst…! berhenti bicara seperti itu, nanti kedengaran orang gimana?”
“Aku serius, boleh aku masuk?”
“Silahkan,” jawab Bramono mempersilahkan Voni masuk kedalam rumahnya.
Tanpa berbasa-basi, Voni langsung saja masuk kedalam kamar Bramono, dia melihat begitu banyak tugas sekolah yang terletak di atas meja kerja pria itu.
“Bapak lagi ngerjain tugas apa?”
“Sayang, aku lagi banyak tugas saat ini, kamu datang kayaknya nggak tepat waktu deh.”
“Kalau begitu sini ku bantuin.”
“Kamu serius?”
“Iya, sini ku bantuin.”
Lalu dengan cekatan, Voni mengerjakan semua tugas-tugas sekolah yang akan di kerjakan oleh Bramono.
“Tulisan mu bagus ternyata,” puji Bramono.
“O ya.”
“Kau ternyata ahli mengerjakan tugas seperti ini.”
“Papa sering mengajarkan aku, sewaktu aku masih kecil.”
“Dia mengajarkan apa?”
“Banyak hal.”
“Berarti Papa mu orang hebat dong.”
“O iya Bram, apakah kau mau menemani aku ke pengadilan negeri?”
“Ke pengadilan? ngapain kesana?”
“Mama menggugat harta warisan dari Papa.”
__ADS_1
“Emangnya Mama mu nggak dapat warisan?”
“Papa nggak memberikannya satu persen pun pada Mama.”
“Kenapa?”
“Nggak tahu."
“Baiklah, kapan rencananya kita berangkat?”
“Besok pagi.”
“Bukankah besok kita masih sekolah.”
“Izin dulu kenapa?”
“Baiklah, besok pagi kita berangkat.”
“Makasih Bram, kau selalu ada untuk ku,” ujar Voni seraya memeluk tubuh Bramono dengan erat sekali.
Pagi hari saat Ayam jantan berkokok, Voni dan Bramono telah berangkat menuju kota, di atas mobil Voni tertidur, Bramono hanya bisa tersenyum manis melihat kekasihnya itu tidur dengan lelap sekali.
“Voni, Voni, sedang tidur aja kau cantik, apa lagi sedang bangun, kau terlihat sangat cantik sekali."
Voni memang gadis sederhana, mesti dia tak memakai me up pun aura kecantikannya tak pernah menghilang dari dirinya.
“Sayang, kita udah nyampe.”
“Benarkah?”
“Iya, itu kantornya.”
“Baiklah, sekarang mari kita masuk kedalam Bram,” ajak Voni seraya menarik tangan Bramono.
“Apa boleh orang lain masuk?”
“Emangnya nggak boleh apa?”
“Nggak tahu.”
“Nggak usah takut, aku pasti bersama mu terus kok.”
“Ketika mereka berdua memasuki ruang pengadilan itu, Voni melihat Luna sedang duduk di kursi pesakitan, Luna ingin meminta hak warisnya sebagai seorang istri.
Saat Voni lewat, mata Luna menatap tajam kearah putrinya, mata itu memperlihatkan betapa bencinya Luna pada Voni putri kandungnya sendiri.
“Dia itu Mama mu?” tanya Bramono ingin tahu.
__ADS_1
“Iya,” jawab Voni pelan.
Di samping Luna, di bangku barisan paling belakang, Voni melihat ada Bayu dan pengacara Luna, sementara di sebelah Voni ada seorang pria yang di tunjuk Bayu sebagai pengacara Voni.
Tak berapa lama kemudian sidang di mulai, Luna di izinkan berbicara paling awal sebagai penggugat.
Voni dan Bramono, hanya bisa diam dan mendengarkan semua keluh kesah Luna saat itu, dia bahkan membeberkan kematian suaminya yang di racun serta di bunuh oleh Voni.
Saat itu Luna benar-benar telah menganggap putrinya sendiri sebagai musuh terbesar dalam hidupnya, hati Voni terasa sakit saat itu, dia bahkan berulang kali menekan dadanya dengan tangan, Bramono juga melihat air mata Voni tak henti-hentinya mengalir.
Saat sidang di skor karena masuk waktu sholat, Voni dan Bramono pun duduk di ruang tunggu, saat itu Luna dan pengacaranya lewat tepat di hadapan Voni.
“Anak macam apa kau Voni, mati saja kau! percuma saja kau hidup lama, kalau kau hanya akan membuat hidupku menderita!” ujar Luna kesal.
“Mama!” jawab Voni seraya berdiri tepat di hadapan Luna.
“Jangan pernah kau panggil aku dengan sebutan Mama dengan mulut kotor mu itu! kau ini benar anak nggak tahu diri, apa kau menginginkan adik mu jadi gelandangan hah!”
Hati Voni sangat sakit sekali, dia merasa Luna benar-benar telah menganggapnya mati, sehingga dia tak ingin melihat wajah putrinya itu lagi.
“Jika saja aku nggak mendapatkan hak waris ku sebagai istri sah Sanjaya, maka akan ku tuntut kau sampai ke langit.
Putri macam apa kau yang tak punya hati!”
Voni tak bisa berbuat apa-apa, Bayu yang saat itu berada di belakang Luna, juga tak bisa berbuat banyak. Bramono yang melihat Voni di hujat habis-habisan oleh Mamanya, dia hanya bisa memeluk kekasihnya itu dengan lembut.
Semangat hidup terus saja di berikan Bramono, agar Voni bisa bersabar dalam menghadapi Luna, walau saat itu dia tak bisa terima.
Beberapa saat kemudian sidang kembali di lanjutkan, pengacara Voni yang membawa barang bukti tentang surat wasiat yang di tulis tangan oleh Sanjaya, di peragakan dan di baca di hadapan majelis hakim.
Berdasarkan surat wasiat yang di tulis tangan oleh almarhum Sanjaya, telah membuktikan kalau harta warisan Bapak Sanjaya benar-benar telah jatuh sepenuhnya ke tangan putri kandungnya Voni regina Sanjaya, sedang Luna regina Sanjaya tak mendapat apa pun dari harta tersebut!”
“Tidak…!” teriak luna seraya berlari mengejar Voni. “Aku nggak terima! Plak…!” sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipi Voni, tapi rasa sakit itu di tahannya. Walau saat itu tubuhnya sampai terhuyung ke belakang.
Tangan Luna yang kasar langsung menampar wajah Voni putrinya, semua orang berusaha menarik luna, namun wanita itu terlalu berambisi untuk menghabisi putrinya. Bukan itu saja, tangan Luna bahkan tak mau lepas dari rambut Voni.
Bramono yang melihat kejadian itu ikut membantu melepaskan tangan Luna dari rambut kekasihnya itu, tapi karena marahnya, Luna sampai gemetaran menarik rambut putrinya yang tampak diam tak membalas itu.
Kemudian beberapa orang polisi langsung masuk kedalam, dan mencoba menarik tangan Luna dari rambut Voni. Hingga beberapa saat akhirnya tangan Luna berhasil di lepas dari rambut Voni.
Dengan cepat Bramono membawa Voni keluar dari ruang pengadilan, Bramono menggendong tubuh kekasihnya menuju mobil yang telah terparkir.
Tanpa berfikir panjang lagi, mobil itu pun langsung di kendarai Bramono keluar dari gedung pengadilan. Bramono tak ingin Voni mendapat perlakuan kasar lagi dari Luna, itu sebabnya dia membawa Voni pergi.
Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi, tak sepatah kata pun terucap dari bibir Bramono saat itu pada Voni, begitu juga dengan Voni, pandangannya lurus saja ke depan dia seperti fokus pada jalan yang akan di tempuh.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*