Terjebak

Terjebak
Part 92 Kembalinya Abi


__ADS_3

“Kak Voni itu benar Abi, Papa mu meninggal karena serangan jantung, kami semua melihatnya kok.”


“Kenapa Mama bilang, kalau Papa itu di bunuh oleh Kak Voni.”


“Mama mu itu asal bicara saja, Abi. Mama mu bicara seperti itu karena dia marah sama Kak Voni, makanya dia bilang begitu.”


“Benar bukan Kakak yang membunuh Papa?”


“Bukan sayang.”


“Awas! kalau terbukti Kakak yang membunuh Papa, maka Abi akan membunuh Kakak nantinya,” ancam Abi seraya melotot tajam pada Voni.


“Astagfirullah! Bi, apa aku nggak salah menerimanya dirumah ini?”


“Entahlah Non.”


“Segitu marahnya Mama pada ku, sampai-sampai anak sekecil Abi saja dipengaruhi nya, hingga menaruh dendam padaku.”


“Luna itu sakit jiwa kali Non.”


“Nanti Bibi bujuk dia, agar bisa menatap ku dengan pandangan yang baik. Jika tidak, aku akan mengantarkannya kembali pada Mama.”


“Baik Non.”


Tak menyangka sama sekali, kalau Abi yang masih kecil bisa bicara seperti itu pada Kakaknya sendiri, Luna benar-benar telah menanamkan bibit kebencian di hati putranya itu, agar kelak mereka saling bunuh.


Semenjak hari itu, hati Voni tak bisa tenang, dia terus terbayang dengan ucapan Abi yang akan membunuhnya, jika ketahuan telah membunuh Papanya sendiri.


Dua hari setelah kejadian itu, Bayu datang mengantarkan beberapa berkas penting pada Voni, kesempatan itu dimanfaatkan Voni, mengirim Abi pada Mamanya.


“Kenapa Non, kamu nggak betah memeliharanya?”


“Bukan Om.”


“Lalu apa?”


“Nggak usah di tanya, nanti Om bawa saja Abi dan hantarkan dia pada Mama.”


“Baik Non.”


Sesuai perintah Voni, saat Abi tertidur dengan pulas, dia di gendong masuk kedalam mobil dan di antar pada Luna.


Ketika mobil Bayu tiba di depan rumah mewah itu, Bayu melihat Luna duduk sendiri, tubuhnya tampak lusuh, tak seperti biasanya yang sehat dan terawat.


“Abi, bangun sayang.”


“Hm…!” jawab Abi seraya menggeliatkan tubuhnya.


“Bangun sayang, tuh Mama sedang menunggu kedatangan mu.”


“Om Bayu!”


“Iya.”


“Lho, kok?”


“Katanya Abi mau sama Mama, makanya Kak Voni menitipkan Abi pada Om.”


“Mama?”


“Iya, tuh dia sedang duduk menunggu Abi.”

__ADS_1


Seketika Abi langsung menoleh kearah Luna yang sedang duduk sendirian di depan rumah besar itu, kemudian Abi bergegas turun dan berlari menghampiri Mamanya.


“Mama…!” teriak Abi seraya berlari menghampiri Luna.


“Abi! oh putra ku, kemana saja kau nak, Mama bahkan sudah mencari mu ke seluruh kota ini sayang.”


“Abi tinggal sama Kak Voni, Ma.”


“Voni? jadi Voni yang selama ini memelihara mu?”


“Iya Ma.”


“Tapi Abi nggak pernah di cubit Kak Voni, kan sayang?”


“Nggak Ma, Abi di jaga dan di sekolahkan di sana oleh Kak Voni.”


“Oh anak Mama.”


Melihat kebahagiaan Luna, Bayu kemudian pergi meninggalkannya, dia tak ingin berlama-lama memperhatikan orang yang telah menculik putrinya.


“Emangnya, siapa yang telah mengantarkan Abi kesini tadi?”


“Om Bayu.”


“Om Bayu?”


“Iya Ma.”


“Jadi dia masih berhubungan terus dengan putriku?”


“Mama kenapa marah sih, sama Kak Voni, dia itu kan nggak jahat, malah Kak Voni baik sekali sama Abi.”


“Mama bohong! kata Kak Voni, Papa meninggal karena serangan jantung, bukan di bunuh!”


“Dasar bodoh, kenapa kau percaya dengan omongannya, tentu saja Kakak mu itu membela dirinya.”


Sejenak Abi terhenyak duduk di samping Luna, Abi bingung siapa yang mesti dia percaya saat itu, keduanya tak ada yang dapat dipercaya.


“Abi kenapa?”


“Abi bingung Ma.”


“Bingung kenapa?”


“Ucapan Kak Voni dengan ucapan Mama selalu berbeda arah.”


Luna benar-benar keterlaluan, dia bahkan menghasut putranya yang masih kecil dan polos untuk menaruh kebencian pada saudaranya sendiri.


Tidak seperti biasanya. Di dalam rumah besar dan megah itu, Luna hanya duduk diam, lalu seorang karyawan datang mengetuk pintu dari luar.


Mendengar pintu di ketuk, Luna langsung bergegas untuk membukanya, Luna melihat seorang pria datang dengan menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat ke tangannya.


Setelah amplop itu di terima Luna, lalu pria itu pergi, meninggalkan Luna dan rumah mewah itu. saat pria itu pergi, Luna langsung berlari menghampirinya, Abi yang berada di dekat pintu mencoba menguping pembicaraan Luna dengan pria itu.


“Kami nggak berani Bu, jika Ibu mau, Ibu kan bisa bicara langsung pada Non Voni, hanya dia yang punya wewenang di perusahaan, kami hanya sekedar menjalankan perintah saja.”


“Kamu kan bisa bicara dengan Bayu, kalau listrik di rumah ini sudah lama padam, Ibu hanya bisa tidur dengan menggunakan lampu dinding.


“Tapi aku nggak berani Bu.”


“Dasar bodoh!” ujar Luna seraya menampar wajah pria itu.

__ADS_1


Tamparan yang menyakitkan itu membuat pria itu menjadi marah, lalu dengan sigap dia mendorong tubuh Luna, hingga terjungkal dan pria itu langsung berlari pergi meninggalkan Luna.


“Kurang ajar!” teriak Luna yang tak kuasa menahan rasa sakit di pinggangnya.


“Mama kenapa?” tanya Abi yang berusaha menolong Luna.


“Pria itu mendorong Mama nak.”


“Bukankah tadi, Mama yang duluan menamparnya?”


“Itu karena dia nggak mau membantu Mama, menambah uang bulanan kita sayang.”


“Uang bulanan? emangnya selama ini Mama dapat uang dari siapa?”


“Ya, dari perusahaan Mama lah!”


“Emangnya Mama punya perusahaan ya?”


“Udah, udah mengerti apa kau urusan Mama. Sekarang bantu Mama berdiri nak.”


“Baik Ma,” jawab Abi seraya membatu Luna untuk berdiri.


"Aw, sakit sekali Abi...!" teriak Luna menahan rasa sakit.


Mesti sekuat apa pun Luna berdiri, dia tetap saja tak bisa, pinggangnya terasa begitu sakit jika di bawa berdiri.


“Wah, sepertinya Mama keseleo nak, Mama nggak kuat untuk berdiri.”


“Kalau begitu, Mama merangkak aja, kedalam.”


“Baik, akan Mama coba.”


Dengan berbagai macam cara, Luna berusaha keras untuk sampai ke dalam rumahnya, sepertinya Luna benar-benar telah hancur, tapi sifat egois yang dia miliki, membuatnya tetap merasa angkuh.


Malam itu, Voni mencoba menghubungi Bayu, untuk menanyakan keadaan Abi, yang tadinya ikut bersama Bayu menemui Mamanya.


“Alhamdulillah, Abi udah Om hantar ke Mamanya, Non.”


“Oh syukurlah, tapi Abi nya nggak nangis kan Om?”


“Nggak Non, hanya saja, Mama Non, kelihatan kurang sehat saat sekarang ini.”


“Benar begitu Om?”


“Iya Non.”


“Kalau begitu, tolong cari dua orang pekerja, satu untuk membantu Mama dirumah dan yang satunya lagi untuk mengurus taman.”


“Baik Non, besok akan Om carikan pembantu, seperti yang Non minta.”


“Om nggak perlu turun tangan sendiri untuk mencarinya, Om bisakan menyuruh orang lain saja yang mencarikan pembantu untuk Mama.”


“Nggak apa-apa Non, Om nggak keberatan kok.”


“Ya udah, kalau itu mau Om, terserah.”


Walau Luna begitu membenci Voni, bahkan dia berharap tak ada Voni di dunia ini, namun Voni tak seperti itu, Voni tak tega melihat Mamanya menderita.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2