
“Habis Abang, bikin aku kaget.”
“Abang tadi nanya, kamu itu dari mana?”
“Ooo, tadi aku mau ke warung Bu Hasnah, untuk beli makanan, tapi dia belum buka,” jawab Fitri berbohong.
“Ya udah.”
“Abang kenapa pulangnya cepat?”
“Ada musibah, Voni mengalami kecelakaan tadi malam, di depan sekolah, jadi pagi ini sebagian guru pergi membesuknya ke rumah sakit.”
“Lalu bagai mana keadaannya Bang?”
“Katanya parah.”
“Ya ampun, kasihan sekali dia. Apakah yang menabraknya udah ketangkap Bang?”
“Belum, tapi Pak Bram udah melaporkan kejadian itu ke polisi.”
“Hah, polisi?”
“Iya, biar orang yang tak bertanggung jawab itu segera di tangkap dan di jebloskan kedalam penjara.
Mendengar ucapan suaminya Fitri jadi semakin takut, dia bahkan berlari masuk kedalam kamar karena takut. Aswadi yang tak biasa melihat istrinya resah seperti itu, dia datang menghampirinya.
“Kamu kenapa Fit? kok dari semalam Abang perhatikan, kamu kelihatan sangat gelisah?”
“Nggak ada Bang, aku hanya kurang enak badan.”
“Kamu demam?”
“Sepertinya begitu.”
“Kalau demam minum obat, nanti kalau tambah parah, lama sembuhnya.”
“Iya Bang.”
Sambil gemetaran, Fitri terlihat seperti orang ketakutan, sementara Aswadi yang curiga pada istrinya, kembali datang menghampiri.
“Jangan bilang kau yang melakukan itu sayang?”
Fitri diam saja saat Aswadi mempertanyakan hal itu kepadanya, justru saat mendengar pertanyaan itu darah Fitri menjadi berdesir.
“Katakan pada ku Fitri, apa yang telah kau lakukan di belakang ku?”
“Aku nggak melakukan apa-apa, Bang.”
“Kalau kau nggak melakukan apa-apa, lalu kenapa kau seperti orang ketakutan!”
“Bukankah tadi udah aku katakan, kalau aku kurang enak badan, jadi untuk apa di tanya lagi.”
“Baiklah. Kalau begitu, kau makan obat ini dan tidurlah.”
“Iya, Bang.”
Aswadi benar-benar tak habis pikir melihat sikap istrinya yang mencurigakan itu, namun dia tak bisa memaksa Fitri untuk mengakui kesalahan yang tak pernah dia lakukan.
__ADS_1
Dua hari telah berlalu, polisi juga telah memeriksa TKP, serta mendatangi Voni ke rumah sakit. Walau saat itu kondisi Voni sedang lemah, namun dia tetap sportif menjawab semua pertanyaan yang dia ajukan polisi kepadanya.
“Bisa nggak, adik menceritakan sedikit kronologis kejadian itu?”
Voni tak langsung menjawab saat itu, tapi dia meminta pendapat dulu pada Bramono, untuk bicara. Setelah Bramono menganggukkan kepalanya, barulah Voni bicara.
“Aku nggak nyangka, kalau mobil itu akan menabrak ku Pak, soalnya posisi mobil itu berada di sebelah kanan tepatnya berada di seberang jalan. Tapi aku yakin, pemilik mobil itu punya dendam tersembunyi padaku.”
“Kok adik tahu, pemilik mobil itu punya dendam tersembunyi pada adik?”
“Sebab, jika kita lihat sepintas lalu, nggak mungkinkan dia langsung mengambil jalur sebelah kiri, sementara dia jauh berada di sebelah kanan.”
“Apakah malam itu, ada kendaraan lain yang melintas?”
“Nggak. Malam itu hanya mobil hitam itu saja yang melintas di dekat ku.”
“Mobil jenis apa kira-kira, apakah adik tahu?”
“Mobil Avanza.”
“Apakah adik melihat tanda lain di mobil itu?”
“Nggak, soalnya malam itu gelap sekali.”
“Kamu yakin itu mobil avanza?” tanya Bramono memastikan.
“Kalau Bapak tanya yakin atau nggak, aku jadi ragu deh.”
“Ya udah, kalau begitu kami permisi dulu. Terimakasih atas kerja samanya.”
“Ya sama-sama,” jawab Bramono dengan suara pelan.
“Ya ampun, bukankah ciri-ciri yang di sebutkan Voni sama dengan mobil ku?” tanya Aswadi pada dirinya sendiri.
Merasa penasaran, Aswadi teringat saat mobil itu keluar, sama persis dengan kejadian Voni di tabrak malam itu.
Dengan cepat, Aswadi langsung bergegas menuju rumahnya.
Akan tetapi, ketika dia melihat Fitri sedang menyusui putrinya yang masih berusia satu tahun. Perasaannya berkecamuk saat itu, jika saja Fitri benar-benar telah menabrak Voni, maka istrinya akan di jebloskan kedalam penjara.
“Ya Allah, apa yang mesti aku lakukan saat ini, aku nggak tega melaporkan kejadian ini pada Fitri.”
Seraya duduk diam di ruang tamu, Aswadi mencoba mencari kesibukan dengan membaca koran, agar pikirannya tak merasa pusing.
“Kamu lagi baca apa Bang?” tanya Fitri yang datang tiba-tiba di hadapannya.
“Apakah kau yang telah menabrak Voni malam itu Fit?” tanya Aswadi yang tak sabaran.
“Apa! menabrak Voni? Abang ini bicara apa sih! ya nggak mungkinlah aku menabrak Voni. Lagian Abang bicara seperti ini, apakah ada orang yang bicara sesuatu pada Abang?”
“Dari mobil yang menabrak Voni.”
“Maksudnya?”
“Mobil yang menabrak Voni sama dengan mobil kita Fit.”
Tak dapat mengelak lagi, Fitri langsung terhenyak duduk di hadapan suaminya, jantungnya terasa berdebar kuat.
__ADS_1
“Sesuai dengan kejadian malam itu, bukankah mobil, kau yang bawa keluar, untuk mencari susu?”
“Aku memang keluar Bang, tapi bukan aku yang melakukannya.”
“Kalau bukan kau, lalu siapa lagi? apalagi mobilnya itu, mirip dengan mobil kita sayang.”
“Mobil yang mirip dengan kita itu kan banyak Bang, asalkan Abang nggak bicara apa-apa, mereka itu nggak bakalan tahu, kalau hanya mobil kita yang berwarna hitam di sini.”
Saat mereka berdua sedang bicara di ruang tamu, tiba-tiba saja pintu rumah di ketuk dari luar, wajah Fitri terlihat pucat sekali.
“Kamu kenapa pucat begitu, Fit?”
“Coba Abang lihat keluar, jangan-jangan yang datang itu polisi.”
“Kalau benar yang datang itu polisi, emangnya kenapa?”
“Nggak, aku hanya waspada aja.”
“Waspada gimana? bukankah tadi, kau yang begitu yakin, kalau mobil yang serupa dengan kita itu banyak.”
“Iya juga sih,” jawab Fitri yang mencoba bersikap tenang.
Mesti diselubungi rasa takut, Aswadi mencoba untuk membuka pintu rumahnya dengan pelan, saat pintu di buka, ternyata yang datang bukan polisi, tapi penjual online yang mengantar pesanannya.
“Ini Pak pesanannya, atas nama Bu Fitri kan?”
“Iya benar, makasih ya.”
“Iya Pak sama-sama.”
“Sayang, kamu pesan makanan ya?”
“Iya Bang, apakah makanannya udah datang?”
“Udah. Abang kira polisi tadi yang datang, ternyata pesanan mu.”
“Aku malas masak malam ini Bang, makanya ku pesan makanan aja.”
“Ya udah, kita makan sekarang yuk, mumpung masih hangat.”
“Iya Bang.”
Karena suaminya ingin makan saat itu juga, kemudian Fitri menyiapkan semuanya, agar malam itu mereka berdua bisa makan dengan lahap.
Saat makan, tiba-tiba pintu kembali di ketuk dari luar. Keduanya saling beradu pandang, raut wajah Fitri kembali memperlihatkan kecemasannya.
“Sekarang kau katakan pada Abang dengan jujur, apa benar kau yang menabrak Voni malam itu?”
“Nggak Bang.”
“Kau jangan mengelak lagi Fit, semua bukti telah mengarah pada kita, apa aku mesti percaya dengan jawabanmu itu.”
Walau Aswadi sudah berulang kali menanyakan hal itu pada Fitri, tapi istrinya selalu saja membantahnya.
Karena tak mendapat jawaban, dengan langkah gontai Aswadi mencoba membuka pintu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*