Terjebak

Terjebak
Part 44 Mendapat perawatan


__ADS_3

“Astaga, kenapa lukanya sedalam dan separah ini?” tanya salah seorang petugas medis.


“Dia dililit akar berduri yang tajam Sus.”


“Pasien sepertinya banyak kehabisan darah, bantu dia dengan transfusi darah.”


“Baik dok,” jawab seorang perawat yang membantu Voni saat itu.


Lagi-lagi Voni di uji dengan kematian, mesti saat itu Voni tak pernah berencana untuk mengakhiri hidupnya, namun Allah berkehendak lain untuknya.


Tiga hari di rawat diruan ICU, Voni baru sadarkan diri, tapi saat itu dia belum bisa bergerak, karena sekujur tubuhnya terasa sakit. Saat itu seluruh guru SMA Semangat Negri baru tahu, kalau Voni adalah kekasihnya Bramono.


Akhirnya mereka secara bergantian datang membesuk Voni ke rumah sakit, bukan karena ingin mengunjungi Voni, pada intinya mereka takut dengan Bramono yang saat itu menjadi atasan mereka.


Bahkan di antara guru-guru yang datang, ada yang tak menegur Voni sama sekali, dia datang hanya berbasa basi pada Bramono, lalu pergi.


Karena merasa benci pada guru penjilat seperti itu, maka setiap guru yang datang membesuknya, Voni berpura-pura tidur, seakan-akan dia tak melihat kedatangan siapapun keruangan nya.


Satu minggu di rawat di rumah sakit, luka di tubuh Voni sudah mulai mongering, hanya tinggal menunggu keputusan dokter, setelah itu Voni akan di izinkan kembali sekolah.


“Gimana sayang, luka mu masih sakit?"


“Nggak Pak, sepertinya udah mengering dan nggak sakit lagi.”


“Oh syukurlah, Bapak senang mendengarnya.”


“Maaf Pak, selama aku sakit, apakah Bapak nggak pergi kesekolah?”


“Pergi, setiap hari Bapak pergi kesekolah.”


“Tapi aku selalu lihat Bapak di sini?”


“Kalau jam piket, kan Bapak nggak di dalam ruangan ini, itu artinya Bapak pergi kesekolah.”


“Ooo.”


“Kenapa?”


“Kagak, aku hanya sedikit risih.”


“Kok risih?”


“Aku yakin semua warga sekolah udah tahu tentang hubungan kita ini.”


“Kalau mereka tahu, kenapa emangnya?”


“Aku takut mereka bicara yang bukan-bukan tentang Bapak.”


“Voni, kamu itu gadis singel, Bapak juga seorang pria singel, lalu apa masalahnya bagi mereka?”


“Aku nggak ingin dengar, hanya karena aku, Bapak nggak pernah masuk sekolah.”


“Ooo, kamu khawatir ya?”


“Iya Pak.”

__ADS_1


“Tenang aja, nggak bakalan terjadi apa-apa kok, dengan hubungan kita ini.”


Mendengar penjelasan dari Bramono, Voni hanya bisa tersenyum, dia tak bisa membantah sama sekali tentang apa yang di katakan Bramono saat itu.


“Pak, kenapa sih Bapak, mau mencintai aku?”


“Kenapa emangnya? apakah Bapak salah?”


“Bukan itu maksud ku.”


“Lalu?”


“Aku hanya seorang gadis yang memiliki segudang masalah, jangankan orang lain, sedang orang tuaku saja, nggak mau menerima aku sebagai putrinya.”


“Yang sabar sayang. Bapak yakin, suatu saat nanti, Mama mu akan mengakui kau sebagai putrinya,” jawab Bramono seraya menggenggam erat tangan Voni.


“Tapi aku selalu membuat Bapak susah dan marah.”


“Bapak nggak pernah marah, dengan sikapmu selama ini.”


“Benar Bapak nggak pernah marah?”


“Justru Bapak menjadikannya pelajaran. Bagai mana cara menghadapi gadis segudang masalah seperti mu.”


“Bapak…!” ujar Voni bermanja. “Maksud ku begini, Bapak cari aja perempuan lain yang cantik dan baik, biarlah aku sendiri dengan duka ku ini.”


“Nggak bisa gitu dong sayang, Bapak kan udah berusaha keras untuk bisa mendapatkan mu, masa setelah itu Bapak harus berusaha lagi untuk mendapatkan yang lain, itu buang-buang masa namanya.”


“Ya udah terserah Bapak aja.”


seseorang untuk merawatnya, sampai kakinya benar-benar sembuh dan dapat lagi berjalan secara normal.


Melihat di kamar Voni ada seorang pembantu yang merawatnya, banyak anak-anak kos itu yang merasa heran. Mereka ingin tahu siapa Voni itu yang sebenarnya.


Dua hari setelah ke pulangan Voni, Bayu datang mengunjunginya, Bayu heran melihat Voni menggunakan penyanggah tubuh untuk berjalan.


“Kamu kenapa nak?” tanya Bayu ingin tahu.


“Aku nggak apa-apa Om,” jawab Voni pelan.


“Nggak apa-apa gimana? udah jelas Non seperti ini, masih saja Non mengelak.”


“Aku jatuh kedalam jurang.”


“Lalu kaki Non patah?”


“Iya Om.”


“Aku butuh uang, untuk membayar pembantu.”


“Sebaiknya, Non cari saja perawat, sekaligus bisa memantau keadaan kaki Non.”


“Terserah Om.”


Saat itu juga Bayu menelvon seorang dokter, yang selama ini bekerja untuk keluarga Bayu. Dokter Sinta menyanggupi diri untuk merawat Voni sampai kakinya benar-benar sembuh.

__ADS_1


“Nanti sore dokter Sinta akan datang ke sini untuk merawat kaki Non.”


“Iya Om.”


“O iya Non, Mama Non, kembali melayangkan surat gugatan tentang hak warisnya sebagai seorang istri ke pengadilan.”


“Gimana, keadaan Mama sekarang Om?”


“Dia baik-baik saja, begitu juga dengan Abi, dia juga terlihat sehat.”


“Ooo, nama adik ku Abi ya, Om. Dia tampan sekali, waktu itu aku ingin menyentuhnya, tapi Mama marah.”


“Maksud Non, Non pernah bertemu dengan Abi?”


“Iya, aku pergi kerumah itu secara-diam-diam, rencana ku, hanya untuk melihat keadaan Mama, tapi setelah ketahuan, dia justru menyuruh Bi Anum mengusir ku keluar.”


“Mama Non, terlalu berlebihan, dia bahkan nggak pernah memikirkan Non sama sekali.”


“Bagai mana dengan perusahaan Om?”


“Alhamdulilah, perusahaan berjalan dengan lancar saat ini, beberapa bulan yang lalu, Mama Non datang ke perusahaan untuk mengatur semuanya, tapi karyawan di perusahaan itu nggak ada yang mau mematuhinya.”


“Katakan pada mereka, nggak ada yang bisa mengatur mereka selain aku, termasuk Mama.”


“Baik Non.”


“Carikan aku sebuah ponsel yang baru!”


“Baik Non.”


“Sekarang pergilah, jika aku butuh Om, maka aku akan menghubunginya.”


“Baik Non.”


Setelah mendapat perintah dari Voni, lalu Bayu segera pergi. Sore harinya dokter Sinta datang kerumah kontrakan Voni.


Dengan menggunakan kursi roda, dokter Sinta, merawat Voni dengan baik dan disiplin. Dua minggu setelah mendapatkan perawatan dari dokter Sinta, Voni sudah kembali bisa berjalan dengan normal.


Dua hari baru menikmati kebebasannya, Voni mendapat surat gugatan dari pengadilan tentang hak waris yang di permasalahkan Luna.


Voni hanya bisa menarik nafas panjang, setelah membaca isi surat itu, hatinya benar-benar sakit, karena Luna selalu saja menaruh dendam padanya dan bahkan Voni di jadikan musuh yang sangat berbahaya dalam hidupnya.


Semalaman dia menangis dan tak tidur, matanya bengkak serta wajahnya terlihat sangat pucat sekali.


“Kamu nggak sekolah Von?” tanya Lesti pagi itu.


“Pergilah dulu, nanti aku menyusul,” jawab Voni pelan.


Lesti melihat mata Voni yang bengkak, dia merasa sedikit heran, karena tak biasanya mata Voni seperti itu, mesti semalaman dia begadang.


Pagi itu dia mencoba menghubungi Bayu dengan menggunakan telpon genggam miliknya, Bayu yang hendak pergi ke kantor tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2