Terjebak

Terjebak
Part 21 Kelakuan Intan


__ADS_3

“Ampuni aku ya Allah, aku sungguh tak berguna, aku laki-laki payah!” gerutu Bramono kesal.


Sambil duduk diam, Bramono mencoba memandangi bintang yang bertaburan di angkasa, perasaannya begitu hancur sekali malam itu.


“Andaikan saja, kau ada di samping ku malam ini, pasti suasana hati ku akan sangat bahagia sekali Voni, entah mengapa, semakin hari aku semakin sakit bila melihat mu seperti ini.”


Bramono benar-benar merasa kehilangan saat itu, karena sudah lebih satu bulan, Voni koma di rumah sakit, selain Bramono, ada beberapa orang guru yang selalu datang menjenguk Voni di rumah sakit.


“Gimana Pak, apakah udah ada perkembangannya?” tanya Pak Khairul.


“Sepertinya belum, dia belum merespon apa pun juga saat ini. Kata dokter, pada bagian kepala Voni, terdapat luka yang sangat parah akibat benturan yang dia alami.”


“Berarti sudah dua kali Voni mencoba ingin mengakhiri hidupnya.”


“Iya, tapi hingga saat ini kita semua nggak tahu apa penyebab dia melakukan itu semua.”


“Iya Pak, bahkan kita semua telah berlaku nggak adil padanya.”


Mesti Voni di anggap siswa yang paling menjengkelkan di sekolahnya, namum, semua guru akhirnya menyadari kalau Voni butuh bimbingan yang bisa membuatnya merasa punya orang tua.


“Lalu gimana dengan Pamannya yang waktu itu datang ke sini Pak?”


“Itulah masalahnya, pria itu hingga hari ini belum juga datang, sementara kita semua nggak tahu di mana tempat tinggalnya di kota.”


Dua bulan Voni mengalami koma, lalu dia pun kembali sadar, beberapa jahitan terdapat di kepala dan di belakang telinganya. Mesti demikian Voni tetaplah Voni yang suka membuat kegaduhan di sekolahnya.


Siang itu Voni bertengkar dengan David, orang yang selalu usil dengan semua kelakuannya. Voni menghantam dada David dengan kakinya, bukan hanya itu saja Voni bahkan memukul wajah David dengan tangannya yang lembut, hingga babak belur.


Setelah David tak sanggup lagi berdiri, beberapa orang guru baru datang memisahkan mereka berdua.


“Ingat! sekali lagi kau membuat aku kesal, maka kau akan berurusan lagi dengan ku!”


“Udah Voni! udah, nanti kau bisa di marahi Kepala sekolah,” ujar Pak Tino seraya menarik tangan Voni untuk menjauhi David.


Karena mendapat pukulan dari Voni berulang kali, wajah David menjadi memar dan bengkak, Pak Aswadi mengompresnya di ruang majelis guru.


“Kenapa kau bertengkar dengan Voni, kau tahu sendirikan, Voni itu nggak akan bisa kau lawan, dia bukan tandingan mu,” ujar Pak Aswadi menasehati David.


“Iya Pak. Aku nggak tahu, kalau dia ternyata jago silat juga.”


Kejadian siang itu membuat sekolah menjadi gempar, baru kali itu orang tahu, kalau Voni ternyata hebat silat, dia memiliki ilmu bela diri yang sempurna.


Pak Candra guru olah raga yang melihat pertengkaran itu, menilai keahlian Voni yang sangat luar biasa itu.


Siang itu, setelah keduanya di damaikan dan David meminta maaf atas kelancangannya, maka pelajaran siang itu kembali di lanjutkan. Kesempatan itu di manfaatkan Pak Candra mendatangi Bramono di ruangannya.


“Saya punya rencana untuk Voni ini Pak.”


“Rencana? rencana apa menurutmu?”


“Gimana kalau Voni kita daftarkan menjadi peserta olimpiade pencak silat.”


“Olimpiade pencak silat?”

__ADS_1


“Iya, Pak.”


Mendengar saran dari Pak Candra, Bramono langsung menyanggupinya dan malam itu dia memanggil Voni untuk membahas masalah perlombaan itu.


“Kamu mau kan sayang?”


“Apa Bapak yakin aku bisa menang?”


“Kenapa nggak di coba saja dulu.”


“Baiklah, aku akan mengikuti perlombaan itu, tapi dengan satu catatan.”


“Apa?”


“Akan ku beritahu nanti.”


“Kalau begitu, besok Pak Candra akan mengantarmu, kau persiapkan semua keperluan selama perlombaan.”


“Aku nggak mau pergi, kalau Pak Candra yang mengantarku.”


“Lalu kau pergi dengan siapa?”


“Dengan Bapak,” jawab Voni seraya meninggalkan Bramono sendirian.


Tanpa berfikir panjang Voni langsung kembali ke rumah koosnya, karena hari sudah larut, Voni terpaksa harus memanjat terali pagar dan masuk lewat jendela.


Voni pun melangkah dengan santai sekali. Setibanya di dalam kamar, Voni tak melihat Intan bersama temannya yang lain.


“Ada apa sih Voni?” tanya Lesti sembari menggeliatkan badannya.


“Intan mana?”


“Hah, Intan?”


“Ya. Kalian enak-enak tidur, sementara kalian nggak tahu kemana pergi teman kalian sendiri.”


“Entahlah Voni, aku nggak tahu.”


“Heh, kalian dengar nggak! sekarang kalian cari kemana Intan pergi.”


“Paling dia pergi pacaran.”


“Apa! pacaran?”


“Iya.”


“Emangnya Intan pacaran dengan siapa?”


“Pak Tino.”


“Pak Tino? apa dia nggak salah!”


“Salah apa mu, Voni? Intan kan udah lama pacaran sama pak Tino.”

__ADS_1


“Kamu tahu dari mana Lesti?”


“Aku memergoki mereka bermesraan di ruangan rumah dinas Pak Tino.”


Saat mereka sedang berbicara, tiba-tiba saja pintu ruang depan terbuka secara pelan, lalu Intan masuk kedalam dengan cara mengendap-endap seperti maling.


Melihat kedatangan Intan, Voni cepat-cepat keluar.


Bersamaan dengan kedatangan Intan, pintu kamar Bu Ranti terbuka, lalu Voni langsung menarik tangan Intan dan bersembunyi di balik dinding.


“Siapa di sana! kenapa pada ribut?”


Mendengar suara Bu Ranti mereka tak ada yang menjawab, semua tampak hening seketika. Lalu Bu Ranti menyalakan lampu yang ada di ruangan tengah. Sementara itu Voni terus mendekap mulut Intan agar dia tak bersuara dan diapun menutup pintu kamarnya secara perlahan.


“Apa kau ingin seperti ku Intan?” tanya Voni seraya menekan suaranya.


“Apa menurut mu aku salah keluar malam? lagian hanya sekali-kali kan.”


“Apa maksud mu keluar sekali-kali?” tanya Voni tak mengerti.


“Aku hanya ingin cari udara segar Voni, hanya itu saja kok! nggak lebih.”


“Benar kau sedang mencari udara segar?”


“Ya benar lah, kenapa kalian nggak ada yang percaya sih!”


“Sepertinya kau sedang menyembunyikan sesuatu dari ku.”


“Menyembunyikan sesuatu! menyembunyikan apa maksud mu?”


“Benarkah, lalu gimana dengan pertemuan mu dengan Pak Tino, kekasih mu itu? ketahuilah Intan, kalau kau nggak bisa mengendalikan diri, kau akan terjebak oleh perilaku mu sendiri.”


“Alah! kau nggak usah sok ngajarin deh! lihat dirimu, kau bahkan tampak lebih terpuruk dari ku.”


Ucapan Intan telah menyentakkan hati Voni, sepertinya dia tak pantas menasehati orang lain, selagi dirinya lebih terpuruk dari mereka semua.


“Baiklah, kalau kau nggak mau ku nasehati. Tapi ingat, jika kelak terjadi sesuatu pada mu, jangan pernah kau meminta tolong padaku.”


“Aku mengerti, kau nggak perlu menghawatirkan aku. Lagian aku udah dewasa kok, aku juga bisa jaga diriku sendiri.”


“Bagus, kita lihat saja nanti, apakah ucapan mu bisa di pegang atau nggak.”


“Aku heran! tumben-tumbennya kau menasehati aku, sementara kau sendiri sering keluar malam tak terkendali.”


“Sudah cukup, nggak usah membahas itu lagi, sekarang waktunya untuk tidur!”


“Iya, iya! cuma membahas itu aja kok!”


“Cukup!” ujar Voni kasar.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2