
Bu Ranti yang mendengar suara ribut-ribut dari luar kamarnya, dia langsung membuka pintu untuk melihat kejadian di luar kamarnya.
“Ada apa? kenapa kalian ribut-ribut?”
“Eh Ibu, maafkan saya Bu, saya di perintahkan kepala sekolah untuk menyuruh Voni sekolah hari ini.”
“Apakah dia belum bangun?”
“Belum Bu.”
“Huuh, mau jadi apa gadis ini, selalu saja membuat masalah!” gerutu Ranti seraya mencoba menggedor pintu kamar Voni dari luar.
Sama seperti Nita, Ranti juga nggak berhasil membangunkan gadis itu, mesti dia telah berulangkali memanggil nama Voni.
“Kemana dia sebenarnya, pintunya pun di kunci dari dalam.”
“Aku yakin, kalau dia berada di dalam saat ini, Bu.”
“Kok kamu tahu, kalau Voni berada di dalam?”
“Karena tadi malam, dia terdengar menangis Bu.”
“Benar seperti itu?”
“Iya Bu.”
“Wah gawat, jangan-jangan dia melakukan percobaan bunuh diri lagi.”
“Ibu serius?”
“Iya, selama ini, kalau dia punya masalah, pasti ujungnya dia melakukan bunuh diri.”
“Ya Allah, kalau begitu, aku panggil kepsek dulu Bu,” ujar Nita seraya berlari kencang menuju sekolah.
Di hadapan orang banyak, Nita berteriak-teriak, kalau Voni bunuh diri, sehingga seisi sekolah buyar dan gempar.
“Siapa yang bunuh diri Nita?” tanya Bu Surya ingin tahu.
“Voni Bu!”
“Voni? di mana dia melakukan bunuh diri?”
“Di kamarnya Bu.”
Bukan hanya para guru yang terkejut mendengar berita itu, seluruh murid sudah berlarian ke rumah kos Voni untuk melihat kejadian yang sebenarnya.
Bramono yang saat itu masih berada di dalam ruangannya juga terkejut mendengar berita itu dari Nita, dengan cepat Bramono berlari menuju rumah kosnya untuk mengambil mobil.
Setibanya di rumah kos Voni, sudah banyak yang hadir di sana, baik guru maupun murid SMA, serta para penduduk setempat. Saat Bramono tiba di sana, semuanya memberi jalan untuk kepala sekolah itu, termasuk Ranti.
__ADS_1
“Mana dia Bu?”
“Ada di dalam Pak.”
“Gimana kalau kita dobrak aja pintunya Bu?”
“Ya silahkan Pak.”
Karena telah mendapat izin dari Ranti, Bramono langsung mendobrak pintu kamar Voni, ternyata benar apa yang di katakan oleh Ranti, kalau saat itu, voni memang telah melakukan bunuh diri, mulut gadis itu penuh dengan busa, tubuhnya terlihat mulai membiru.
“Ya Allah Voni, apa yang telah kau lakukan,” ujar Bramono seraya menekan nadi pada pergelangan tangan gadis itu. “Alhamdulillah, dia masih hidup!” teriak Bramono seraya menggendong tubuh Voni yang telah di balut Bramono dengan menggunakan kain selimut.
“Gimana keadaannya Pak?” tanya Bu Riska cemas.
“Dia masih hidup Bu, mari kita antar dia kerumah sakit sekarang.”
“Baik Pak,” jawab beberapa orang guru yang saat itu langung menaikan tubuh Voni kedalam mobil.
Di rumah sakit harapan Bunda, Voni langsung di tolong, beberapa orang perawat terlihat sibuk mengurus segala sesuatunya untuk menolong gadis malang itu.
“Voni, Voni. Kenapa kau terlalu cepat mengambil keputusan sayang,” gumam Bramono yang duduk diam seraya berpangku tangan di ruang tunggu.
Bukan hanya Bramono saja, beberapa orang guru dan para murid yang berkesempatan datang, mereka juga terlihat diam dan cemas.
Sesaat kemudian seorang perawat menghampiri mereka semua, Bu Surya langsung tampil untuk menanyakan keadaan Voni pada perawat itu.
“Gimana keadaan murid kami Sus.”
“Apakah Suster tahu, cairan apa yang telah di minumnya?” tanya Bramono ingin tahu.
“Sepertinya dia mengkonsumsi obat tidur dengan dosis tinggi.”
“Apakah dia bisa di selamatkan Sus?”
“Sebaiknya kita sama-sama berdo’a pada Allah, semoga murid Bapak bisa di selamatkan.”
Dengan rasa resah, semua guru menantikan Voni sadar dari pingsannya, mereka tak ada yang menyangka, kalau Voni akan berbuat senekat itu.
Sementara itu di dalam ruang UGD beberapa orang dokter berusaha untuk menyelamatkan nyawa Voni, beruntung saat itu Allah masih sayang padanya dan gadis malang itu akhirnya sadar.
Tahu kalau rencananya gagal, Voni merasa kesal dia bahkan memukul dirinya sendiri dan berteriak agar cepat meninggal, tapi beberapa orang dokter berusaha menyuntikan obat penenang ke tubuh gadis malang itu.
Semua orang yang mendengar jeritan dan teriakan suara Voni, hati mereka terasa diiris sembilu begitu juga dengan Bramono dia sampai menangis dan meneteskan air mata.
Tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruangan itu, Bramono terlihat tenang saja di tempat duduknya, sementara yang lain bergegas menghampiri dokter tersebut.
“Gimana keadaan gadis itu dok?” tanya Bu Riska.
“Alhamdulillah, dia masih bisa di selamatkan, saat ini dia kami beri suntikan penenang, karena sewaktu dia sadar dia marah, sebab usaha yang dia lakukan berhasil di gagalkan.”
__ADS_1
“Kenapa kau menyakiti hati ku Voni?” rintih Bramono seraya menatap pilu ke dalam ruangan UGD.
“Apakah ada keluarga gadis itu di sini?” tanya dokter itu pada mereka semua.
“Saya keluarganya dok,” jawab Bramono seraya menghampiri dokter tersebut.
“Kalau begitu ikut saya ke ruangan."
“Baik dok.”
Dengan langkah sedih, Bramono terus mengiringi dokter itu dari belakang, dia tak tahu, berita apa lagi yang akan dia dengar.
“Dengan Pak Bramono kan?”
“Iya dok, dengan saya sendiri.”
“Sepertinya kita udah berulang kali menyelamatkan gadis ini dari niatnya itu, tapi kenapa dia masih saja berkeinginan untuk melakukan hal serupa? apakah Bapak tahu apa penyebabnya? atau mungkin gadis ini selalu mendapat perundungan di sekolah?”
“Sebenarnya dia ini gadis yang kuat dok, dia jenius, dia putri dari Sanjaya grup. Tapi setelah Papanya meninggal, dia bermasalah dengan Mama kandungnya, hingga sekarang mereka berdua saling bermusuhan.”
“Apa itu penyebab dia melakukan bunuh diri?”
“Iya dok, bukan kali ini saja dia melakukannya, bahkan berulang kali, tapi selalu saja tertolong dan akhirnya bisa di selamatkan.”
“Orang kaya, tapi bernasib malang.”
“Iya, begitulah kehidupan yang telah digariskan yang maha kuasa di tangannya.”
“ Walau dia telah di selamatkan, mungkin masih ada kesempatan untuknya, dapat melakukan hal itu lagi.”
“Ya, mesti kami telah berulang kali menggagalkan rencananya.”
Sementara itu, Voni yang telah di beri suntik penenang masih belum sadarkan diri, dia terlihat diam di atas tempat tidur.
Sedangkan diruang tunggu, semua guru dan beberapa orang murid tampak gelisah menantikan Voni sadar.
“Kalau kalian capek, pulanglah kerumah kalian, biar Ibu dan Bapak saja yang menunggu Voni di sini,” ujar Bu Surya.
“Nggak Bu, kami nggak capek kok, kami harus bisa memastikan kalau Voni bisa kembali sadar.”
“Ya sudah, kalau kalian maunya begitu, duduklah dengan tenang.”
“Baik Bu,” jawab Sofia pelan.
Beberapa jam kemudian, Voni kembali sadar, reaksi obat bius di tubuhnya sudah mulai habis, dia melihat begitu banyak guru dan teman-temannya di situ, Voni tampak sedikit tersenyum ketika melihat mereka.
Bu Riska yang selama ini menganggap Voni sebagai musuhnya, dia yang pertama datang menghampiri Voni.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*