
Semua warga yang menyaksikan kejadian itu, mereka menaruh rasa kasihan pada Voni. Setelah kejadian itu, Voni tak bisa makan mau pun minum. Semakin hari kondisinya semakin mengkhawatirkan, akhirnya Bramono memutuskan untuk membawa Voni kerumah sakit.
Setelah di periksa, ternyata ada infeksi di bagian leher Voni, untuk itu Voni harus di rawat dulu, sampai kondisinya membaik.
Di ruang tunggu, Anum dan Bramono duduk diam tak bicara, sesekali mereka menoleh kedalam, untuk memastikan kalau Voni baik-baik saja.
Sementara itu, Voni yang merasakan betapa sakit dan tersiksa hidupnya, dia tak bisa berbuat apa-apa, takdir yang telah digariskan untuknya, ternyata tak mudah untuk di jalani.
“Kau kenapa menangis terus sayang?”
Voni tak menjawab, hatinya benar-benar hancur saat itu. tangannya yang lembut berusaha menggenggam tangan Bramono dengan kuat. Bramono yang merasakan betapa sakitnya genggaman Voni, dia ikut menangis sedih saat itu.
“Lepaskanlah semua rasa sakit itu pada ku Voni, aku akan selalu siap untuk itu.”
Lalu Voni bangkit dan memeluk tubuh Bramono erat-erat. Walau dia tak berkata apapun, tapi Bramono dapat merasakan kesedihan yang di rasakan Voni saat itu.
“Curahkan semua rasa sakit yang kau derita itu pada ku sayang, biarlah aku yang akan menanggung semuanya. Menangis lah, jika kau masih bisa menangis.”
Anum yang melihat Voni melampiaskan rasa sakitnya pada Bramono dengan cara menangis, dia pun ikut-ikutan menangis sedih.
“Non Voni yang sabar, masih ada Bibi yang sangat menyayangi Non.”
“Bi Anum benar, saat ini bukan kamu sendiri yang menahankan rasa sakit ini, tapi aku juga sayang.”
Walau Anum dan Bramono mau berbagi sedih dengan Voni, tapi rasa sakit itu tak mau di bagi menjadi rata, kesedihan yang sedang di alami Voni tak akan bisa di bebankan pada orang lain.
“Bi, coba beri makanannya pada ku, biar aku saja yang menyuapinya makanan itu.”
“Baik Pak,” jawab Anum sembari mengambil nasi yang berada di dekatnya dan di berikan pada Bramono.
Dengan pelan, Bramono mencoba menyuapi Voni makan, baru dua suap Voni menelan nasi yang berada di hadapannya, kemudian dia menjerit kesakitan.
Anum bergegas memanggil dokter yang bertugas saat itu, ketika doker memeriksa, Voni terlihat mengeluarkan darah dari hidungnya. Bukan hanya itu saja, gadis itu juga mengalami muntah berulang kali.
“Kenapa dia mengalami muntah dan mengeluarkan darah dok?”
“Sepertinya ada luka dalam yang di derita gadis ini.”
“Luka dalam? di mana luka dalamnya dok?”
“Coba kita periksa dulu di labor, apakah benar dia mengalami luka dalam, atau ada penyakit lain yang sedang di deritanya.”
Saat itu juga, Voni langsung mereka larikan ke labor untuk di periksa kondisinya, sedangkan Anum dan Bramono menunggu di luar dengan resah.
__ADS_1
“Kenapa Voni bisa mengalami luka dalam Bi?” tanya Bramono heran.
“Karena Luna membenturkan kepala Voni ke dinding berulang kali serta menjambak rambutnya dan melempar Voni keluar rumah, Pak, hiks, hiks, hiks…!”
Setelah pemeriksaan Voni selesai, lalu Voni mereka bawa ke ruang rawat, namun setiap Voni hendak muntah dia seperti menjerit kesakitan, begitu juga hidung Voni tak henti-hentinya mengeluarkan darah.
Bramono yang merasa khawatir dengan kondisi Voni, Bramono pergi menemui dokter yang menangani Voni. Saat Bramono tiba di ruangan dokter tersebut, dia langsung masuk kedalam.
“Bapak siapa?” tanya dokter itu kaget.
“Aku kepala sekolah gadis, yang mengalami muntah itu, dok.”
“Kondisinya sangat parah, Pak.”
“Sangat parah gimana, maksud dokter?”
“Gadis itu mengalami luka dalam yang cukup serius.”
“Astagfirullah, apa bisa di sembuhkan dok?”
“Insya Allah, kita akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mengobati luka dalamnya itu.”
“Baik dok, biar semuanya ku serahkan pada dokter saja, berikan yang terbaik untuk gadis itu.”
Hampir dua minggu, Voni di rawat di rumah sakit, akhirnya gadis itu bisa menghirup udara segar. Berkat kelembutan Anum padanya, Voni akhirnya bisa melanjutkan sekolahnya kembali.
Di lain tempat Yesi yang masih dalam genggaman Luna, hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi padanya, selama dua minggu lebih di sekap di gudang, Yesi kelihatan pucat dan tak bertenaga.
Pagi itu ketika, Abi hendak ke kamar mandi, dia mendengar suara seseorang dari dalam gudang, Abi yang masih kecil merasa penasaran dengan suara itu. Tak ingin di ketahui oleh Luna, Abi pun kembali untuk menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu itu dari luar.
Abi pun merasa leluasa, untuk melihat suara siapa yang berada di dalam gudang. Dengan pelan pintu gudang itu di buka Abi, suasana gelap di dalamnya membuat bocah kecil itu merasa merinding ketakutan.
“Hei siapa di dalam? apa ada orang?” tanya Abi dengan suara setengah di tekan.
Kemudian Abi teringat dengan kontak lampu, lalu dia memanjat kursi yang ada di gudang untuk menghidupkan lampu. Setelah lampu nyala, barulah Abi melihat kalau di dalam gudang itu ada seorang perempuan.
“Kamu siapa? kamu Kakak aku, ya?”
Karena saat itu Abi tak mengenali perempuan itu, lalu dia hanya menduga-duga saja, kalau itu adalah kakaknya, untung saja saat itu Yesi menganggukkan kepalanya, sehingga Abi mencoba melepaskan tali pengikat tangan Yesi dan membuka lakban yang menutup mulutnya.
“Benar kamu itu Kakak ku?”
“Iya dek, aku ini kakak mu,” bisik Yesi pelan.
__ADS_1
“Kenapa Kakak di kurung oleh Mama?”
“Nggak tahu dek.”
“Kata Mama, Kakak telah membunuh Papa.”
“Bukan Kakak yang membunuh Papa dek, Papa itu meninggal karena serangan jantung,” jawab Yesi yang tak mengerti apa-apa.
“Ooo, begitu ya?"
“Mama mana dek?”
“Dia lagi bobok.”
“Apa adek mau mengantar Kakak keluar, Kakak mau menghirup udara segar sebentar, habis itu Kakak akan kembali lagi.”
“Tapi Kakak jangan lama-lama ya? nanti Mama bisa bangun.”
“Iya dek.”
Dengan pelan, Abi menuntun jalan untuk Yesi, agar bisa keluar dari rumah itu dengan aman, setelah tiba di luar, Abi berusaha menunggu Yesi untuk masuk lagi kedalam, tapi Yesi punya akal untuk lepas dari anak kecil itu.
“O iya dek, saat ini Kakak mau buang air kecil, kamu tunggu disini sebentar ya?”
“Abi mau ikut sama Kakak.”
“Kakak itu mau buang air kecil lho, kalau Abi ikut dan melihat, Kakak pasti malu sekali.”
“Baiklah, tapi Kakak jangan lama-lama ya?”
“Iya sayang.”
Kesempatan berharga itu langsung di manfaatkan Yesi, dia memanggil taksi yang melintas tepat di hadapannya.
“Mau kemana Neng?” tanya Pria itu ingin tahu.
“Jalan saja, nanti ku beri tahu.”
“Baik.”
Taksi pun berlalu meninggalkan rumah Luna, saat itu Yesi merasa ragu dengan arah rumah yang hendak dia tuju, tapi untunglah Yesi punya seribu akal untuk selamat dari rumah Luna.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*