
“Maafkan Ibu Voni, Ibu tahu, kalau selama ini Ibu sangat membenci mu, tapi semua itu Ibu lakukan agar kau bersikap disiplin, nggak ada niat yang lainnya.”
“Iya Bu,” jawab Voni setengah berbisik, sehingga suaranya yang pelan itu, hampir tak terdengar oleh yang lainnya.
“Voni,” ujar Nita seraya menggenggam tangan Voni dengan lembut.
“Nita, kau ternyata ada disini?”
“Iya Von, kenapa kau melakukan ini semua? jika saja kami terlambat, gimana dengan nasib mu?”
Voni tak menjawab, hanya air matanya yang tak henti-henti mengalir membasahi kedua belah pipinya. Sebagai seorang sahabat yang dekat dengan Voni, Nita memeluk tubuh Voni dengan lembut.
“Kau nggak sendiri Voni, ada aku dan para guru yang selalu menyayangimu.”
“Iya Nit.”
Walau saat itu Voni bisa tersenyum manis di hadapan semua orang, tapi hatinya terasa begitu hancur saat itu, dia benar-benar sakit, bahkan dia tak ada artinya hidup di dunia ini lagi.
Tak berapa lama kemudian Bramono datang, dia sangat senang melihat Voni telah siuman kembali, saat Bramono menghampiri Voni, semua guru dan para murid keluar dan membiarkan Bramono bicara dengan Voni.
“Kenapa kau melakukan ini semua sayang? apakah nggak ada Bapak di dalam hati mu sedikit pun?”
“Maafkan aku Pak, hiks, hiks, hiks.”
Bramono menggenggam kedua tangan Voni dengan lembut, jangan lakukan ini lagi Voni, Bapak mohon pada mu, Bapak begitu takut kehilangan dirimu sayang.”
Voni hanya bisa menangis di hadapan kekasihnya itu, dia tak dapat berucap apapun saat itu, karena beban yang mengganjal di dalam batinnya begitu berat sekali.
Mesti Voni telah berusaha untuk menghindari bayangan itu, namun dia tetap saja teringat semuanya.
“Aku tahu, kau begitu menyanyiku Bram, tapi penderitaan batin ku sangatlah berat, aku tak kuat memikul nya sendirian.”
“Katakan pada Bapak, apa yang mesti Bapak lakukan padamu, agar beban itu bisa sedikit ringan?”
“Aku nggak tahu Bram, aku nggak tahu, hiks, hiks, hiks…!”
“Kepedihan hati Voni dapat di rasakan oleh Bramono, betapa tidak, siapa anak yang sanggup hidup dalam tekanan batin yang berat. Sepanjang hidup Voni dia hanya merasakan kesedihan yang mendalam, kepiluan hati yang tak pernah ada obatnya.
Luna yang selama ini memanjakannya, melebihi sebagai seorang putri, tiba-tiba saja berubah dan menganggapnya sebagai musuh yang harus di bunuh.
“Oh…! Bram, hiks, hiks, hiks…!”
Tangisan Voni terdengar hingga keruang tunggu, dia menangis histeris di pelukan Bramono, hatinya yang telah hancur tak tahu kemana harus di obati selain ucapan maaf dari Mama nya.
__ADS_1
Mendengar suara tangis Voni, semuanya juga ikut hanyut dalam kesedihan itu, ruang tunggu yang tadinya terlihat sedikit tegang, tiba-tiba saja berubah menjadi deraian air mata.
Bramono yang tak tahan melihat kesedihan itu, dia berusaha untuk keluar dan mencari ketenangan diri bersama yang lainnya.
“Sebenarnya, apa sih Pak yang terjadi dengan Voni? kenapa dia berulang kali ingin mengakhiri hidupnya?” tanya Pak Ihsan.
“Voni adalah anak seorang pengusaha terkenal, dia pewaris tunggal perusahaan Sanjaya grup.”
“Hah! jadi Voni anak pemilik Sanjaya grup?” tanya Bu Riska terkejut.
“Iya Bu, apa Ibu kenal dengan perusahaan itu?”
“Adik ku bekerja di perusahaan itu Pak.”
“Udah lama?”
“Udah tujuh tahun.”
“Bekerja di Sanjaya grup mendapat gaji besar, fasilitas di tanggung perusahaan dan bahkan gaji karyawannya terjamin.”
“Tapi setelah Papanya meninggal dunia, Voni merasa frustasi, dia menjadi musuh Mamanya sendiri, karena Papanya tak memberi Mamanya warisan sepersen pun.”
“Ooo, begitu.”
“Lalu siapa yang saat ini memimpin perusahaannya itu Pak.”
“Itu, pria yang mengantar Voni kesini, dialah yang saat ini menjadi orang kepercayaan Voni.”
“Kasihan sekali nasibnya.”
“Voni adalah gadis yang bermasalah, kita sebagai guru yang mendidiknya, harus sabar, tuangkan kasih sayang kalian kepadanya, seperti seorang guru, jangan tunjukan kebencian yang berlebihan padanya.”
“Baik Pak.”
Lima hari di rawat di rumah sakit, Voni kemudian di izinkan kembali pulang kerumah kosnya, Bu Ranti yang di percaya Bramono untuk mengawasinya, menerima Voni kembali di rumah itu.
Saat Voni telah masuk kedalam kamarnya, Bramono memanggil Ranti untuk menemuinya di ruang tengah.
“Ada apa Pak?”
“Bukankah Ibu udah saya bayar untuk mengawasinya, lalu kenapa bisa kecolongan?”
“Saya nggak tahu, kalau malam itu Voni udah kembali Pak.”
__ADS_1
“Gimana ibu bisa nggak tahu, sementara semua anak-anak mendengar tangisan Voni sampai pagi.”
“Mungkin saya ketiduran Pak.”
“Baiklah, kalau sampai terjadi lagi sesuatu hal yang dapat membahayakan nyawanya, saya bakal tuntut Ibu ke polisi.”
“Aduh, jangan bawa-bawa polisi dong Pak.”
“Saya nggak mau tahu, kalau Ibu nggak mau menjaganya, biar saya cari orang lain saja.”
“Jangan Pak!”
“Kalau begitu, Ibu jaga dia baik-baik.”
“Baik Pak.”
Setelah mereka berdua selesai berbicara, lalu Bramono masuk kedalam kamar Voni, dia membuka jendela kamar itu dan membersihkan semua peralatan yang berserakan di kamar Voni.
Saat membersihkan kamar Voni, Bramono menemukan obat tidur dan sebuah botol kecil yang bertuliskan racun serangga di bawah tepat tidurnya.
Bramono langsung mengambil obat itu dan membuangnya jauh-jauh di belakang rumah Bu Ranti. Bukan hanya itu saja, Bramono juga menemukan dua buah pisau lipat di dalam kamarnya, pisau itu yang telah dia gunakan untuk memotong urat nadinya waktu itu.
Selesai bersih-bersih, Bramono melihat Voni tertidur pulas, mungkin pengaruh obat masih berfungsi pada tubuhnya.
Agar tak mengganggu tidurnya, Bramono bekerja dengan pelan, lalu diapun pulang kerumahnya, tanpa menyentuh Voni sama sekali.
Satu bulan kemudian setelah kesembuhan Voni, Bayu datang seraya membawa beberapa berkas yang harus di tanda tangan Voni, saat kedatangan Bayu, Bramono sedang berada di dalam rumah itu. kesempatan itu di manfaatkan Bramono untuk bicara dengan Bayu.
“Setelah kami kembali dari perusahaan, Voni mencoba menemui Mamanya, tapi saat itu mereka berdua bertengkar hebat, ujung-ujungnya Voni di usir Mamanya dari rumah. Tapi malang setibanya di sini, Voni melakukan percobaan bunuh diri lagi.”
“Astaga! benarkah itu Pak?”
“Iya Pak, paginya kami baru tahu, ternyata dia memakan obat tidur yang begitu banyak, kami para guru dan teman-temannya berusaha untuk menolong dan melarikannya kerumah sakit.”
“Aku bingung Pak, antara Voni dan Mamanya, mereka berdua sepertinya nggak akan pernah akur lagi.”
“Setidaknya, Mama Voni tahu, kalau anaknya melakukan beberapa kali percobaan bunuh diri, itu semua karena dirinya.”
“Baik Pak, Baik. Nanti akan ku sampaikan pada Mamanya.”
“Terimakasih.”
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*