
“Tapi Bapak tenang saja, saya akan menolong Bapak nanti, jika Voni tak bersedia menerima Bapak menjadi pengacara kami.”
“Santai aja Pak Bayu, saya nggak masalah kok, jika Non Voni nggak bersedia menerima saya menjadi pengacaranya.”
“Pak Dani terlalu merendah. Baiklah, mari kita kembali ke kantor.”
“Baik Pak, mari.”
Seperti yang di tugaskan Voni padanya, pagi hari ketika jam kerja sudah masuk, Dani langsung menuju penjara tempat Luna pernah di tahan.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam, ada yang bisa kami bantu Pak?”
“Kenalkan nama saya Dani,” ujar Dani seraya mengulurkan tangannya pada sipir penjara itu.
Uluran tangan Dani di sambut baik oleh sipir penjara, lalu dia menyuruh Dani duduk di kursi yang ada di hadapannya.
“Ada yang bisa kami bantu Pak?”
“Ya, saya mewakili klaiyen saya atas nama Luna, ingin menyelidiki kasus yang telah membuatnya menjadi depresi.”
“Ooo, Bu Luna itu depresi, mungkin karena dia itu merasa tertekan selama berada di dalam tahanan.”
“Bu, banyak kok, orang yang di tahan, karena kesalahan yang telah di buatnya, tapi saya nggak pernah mendengar mereka itu menjadi depresi. Saya yakin ada yang telah menekannya selama berada di dalam sel. Kalau Ibu nggak keberatan, Ibu bisa nggak menunjukan pada saya, dia mana selama ini Luna di tahan?”
“Baiklah Pak, mari ikut saya.”
“Baik Bu, terimakasih.”
Ketika pimpinan penjara itu mengajak Dani masuk, Dani langsung mengikuti perempuan itu dari belakang, di dalam sel tempat Luna pernah di tahan, dia melihat ada empat orang wanita, salah seorang di antara mereka bertubuh tambun.
“Saya mau salah seorang di antara mereka menemui saya Bu.”
“Baik, Pak.”
Lalu pimpinan lapas mengeluarkan salah seorang di antara mereka, seorang perempuan bertubuh tambun keluar dari dalam sel.
“Bukan dia Bu, yang lainnya saja.”
“Baik Pak.”
Kemudian perempuan itu masuk kedalam sel, di gantikan dengan yang lainnya. Wanita itu kemudian mengikuti Dani dari belakang.
Di ruang interogasi, Dani menanyakan banyak hal pada wanita itu, tapi pada pertanyaan kali pertama, Dani tak mendapat jawaban yang memuaskan dari wanita tersebut.
Kemudian, Dani memisahkan wanita itu dari yang lainnya, dan meminta wanita yang lainnya untuk diintrogasi. Sudah tiga orang wanita yang di periksa Dani, namun jawaban yang sama tetap di dengar dari ketiga wanita itu.
Untuk kali yang keempat, Dani mencari cara yang berbeda dari ketiga temannya, saat itu Dani membelikan wanita itu makanan yang enak. Setelah selesai makan, lalu Dani bertanya secara gambling padanya.
“Kamu udah berkeluarga?”
“Belum Om.”
“Ooo, masih gadis ya?”
“Iya Om.”
__ADS_1
“Kamu di penjara karena kasus apa?”
“Membunuh Om.”
“Membunuh? siapa yang kamu bunuh?”
“Pacar Om.”
“Kenapa kamu membunuh pacar mu?”
“Dia selingkuh dan di depan perempuan itu, dia menghina kemiskinan ku, aku kesal dan meracuninya hingga meninggal.”
“Astaga, ternyata kamu sadis juga ya? dari ketiga temanmu tadi, saya mendapat jawaban yang sama dari kalian. Lalu siapa diantara kalian yang menjadi bos di dalam sel?”
“Itu Om, perempuan yang gendut.”
“Ooo, ternyata dia itu yang selama ini menjadi bos kalian?”
“Iya Om, kami semua hanya di jadikan bawahannya, jika kami salah sedikit saja, maka Fitri akan menyiksa kami semua.”
“Termasuk Luna?”
“Luna? dari mana Om tahu dengan Luna?”
“Om teman Luna, tadinya Om kesini untuk membebaskannya, tapi ternyata Luna sudah nggak disini lagi.”
“Maaf Om, mau Om ku bisikan sebuah rahasia?”
“Maksud mu?”
“Rahasia yang di lakukan oleh Fitri.”
“Iya Om,” bisik wanita itu dengan suara pelan.
“Rahasia apa itu?”
“Sini aku bisikan.”
“O, maaf. Katakan saja, kamu nggak perlu berbisik, karena ruang ini kedap suara, jadi setiap pembicaraan kita nggak seorang pun yang bisa mendengarkannya dari luar.”
“Om yakin?”
“Yakin. Kenapa? kamu takut?”
“Kalau Fitri tahu, dia pasti menghajar ku babak belur.”
“O ya?”
“Iya, Om.”
“Katakan saja, Om pasti mendengarkan keluhan mu.”
“Sebenarnya aku udah nggak tahan dengan perlakuan Fitri pada kami berempat, tapi dia terlalu tangguh, sehingga kami hanya bisa pasrah dengan apa yang dia lakukan.”
“Lalu bagai mana dengan Luna?”
“Fitri begitu marah sekali dengan Luna, karena Fitri beranggapan, orang yang telah membunuh putrinya sendiri demi harta, harus dilenyapkan, sama seperti dia melenyapkan putrinya.”
__ADS_1
“Emangnya apa saja yang di lakukan Fitri pada Luna?”
“Dia menyiksa Luna berbuat sesuai dengan keinginannya, jika Luna menolak, maka Fitri akan menghajarnya hingga babak belur dan terluka.”
“Emangnya sipir penjara nggak tahu, tentang kekejaman Fitri ini?”
“Nggak Om, karena jika sipir datang, Fitri selalu mengancam kami.”
“Apa ancaman Fitri pada kalian?”
“Coba bersuara, maka akan ku siksa kalian. Lebih sakit lagi dari sebelumnya. Itu sebabnya kami nggak ada yang berani padanya Om.”
“Kalau boleh Om tahu, apa saja penyiksaan yang di lakukan Fitri pada Luna?”
“Macam Om, kadang Luna di suruh memijatnya, bukan hanya itu saja, Luna bahkan mereka suruh makan di atas lantai dan dia juga nggak pernah berhenti di siksa oleh Luna.”
“Apakah itu yang menyebabkan Luna mengalami depresi?”
“Benar Om, aku yakin pasti itu salah satu penyebab Luna depresi, Luna sering menangis dan meminta maaf pada Fitri, tapi Fitri malah menginjak kepala Luna dengan kakinya.”
“Kenapa kalian nggak membantunya?”
“Kami nggak ada yang berani Om.”
“Kalian tahu nggak siapa Luna itu?”
“Nggak Om.”
“Dia pemilik perusahaan terbesar di kota ini yang berbisnis di bidang perhotelan. Luna itu istri dari Sanjaya grup.”
“Benarkah itu Om?”
“Iya, saat ini putri yang telah dibunuhnya itu, masih hidup.”
“Hah! benarkah?”
“Iya. Sepertinya, kali ini dia akan minta keadilan untuk Mamanya.”
“Setelah semua rahasia ini aku bongkar, apa ada keadilan untuk ku?”
“Iya, kamu mendapat perlindungan sebagai saksi dari ku.”
“Mendengar ucapan Dani, Tesa menjadi senang. Atas kejujuran Tesa dalam membongkar kelakuan Fitri maka Tesa di beri perlindungan dan dapat keringanan hukuman.
Di hari selanjutnya, Fitri kembali di minta keterangan, terhadap penganiayaan yang dilakukannya selama ini pada keempat teman satu sel dengannya.
Mesti Dani telah berulang kali bertanya, Fitri tetap tidak mengakui semua perbuatannya dan dia lebih memilih bungkam.
“Baiklah, kalau kamu tetap saja nggak mau ngaku, maka saya bisa pastikan kau akan kami masukkan kedalam ruang isolasi, dia ruangan itu kau hanya bisa berteman dengan tikus dan binatang pengerat lainnya.
“Enak aja, emangnya siapa kau! berani sekali kau mengancam ku seperti itu, bentak Fitri dengan suara lantang.”
“Hm, ternyata kau belum tahu siapa aku ya? aku ini pengacara Luna, yang di bayar dengan uang yang begitu banyak oleh putrinya, agar Luna mendapatkan keadilan di dalam tahanan ini.”
“Bohong! kau kira kau bisa menipu ku!”
“Baik, kau lihat sendiri, ini kartu nama ku, bahkan aku udah menyelesaikan ratusan kasus selama ini, namun tak satu kasus pun yang gagal.”
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*