Terjebak

Terjebak
Part 113 Kekejaman Fitri


__ADS_3

“Bodo amat!” ujar Fitri seraya membuang kartu nama yang ada di tangannya ke lantai.”


“Baiklah, kalau kau tetap bersikeras pada pendirian mu, maka kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.”


“Heh! kau nggak perlu mengancam ku, kau kira gertak sambal mu itu akan berlaku padaku! nggak!” jawab Luna dengan beraninya.


“Ternyata kau keras orangnya, pantasan teman satu sel bersama mu, selalu mendapatkan intimidasi dari mu dan mereka tak dapat membalasnya."


“Itu karena mereka itu bodoh dan mau di perlakukan begitu.”


“Baiklah, kalau kamu tetap nggak mau ngaku, nggak apa-apa, hanya satu hal kau harus tahu, bahwa Luna yang selama ini kau zholimi, dia itu istri seorang pengusaha terkenal di kota ini, istri dari Sanjaya.”


“Saya nggak perduli!” teriak Fitri dengan suara lantang.


Saat Dani keluar, dua orang pengawal penjara langsung di perintahkan Dani untuk memasukan Fitri kedalam ruang isolasi.


“Masukkan dia kedalam ruang isolasi, biarkan dia disana sampai mengakui semua kesalahannya.”


“Baik Pak! ayo keluar!” bentak dua orang suruhan Dani seraya menarik tangan Fitri memasuki ruang isolasi.


Karena beraninya, Fitri berusaha keras untuk berontak, bahkan dia berusaha untuk melawan kedua pria suruhan Dani.


Ketika di tarik, Fitri tetap bertahan, dia memegang apa saja yang di lewatinya, sehingga kedua pria itu menjadi kesal dan memukul Fitri hingga tersungkur.


“Kurang ajar! awas kalian berdua, akan ku buat hidup kalian menyesal nantinya.”


“Tanya pada dirimu sendiri, apa kau senang tinggal di ruang gelap ini sendirian? hahaha…!”


“Oh, tidak, hei tolong lepaskan aku! cepat, kalau nggak aku akan berteriak!”


Mesti Fitri telah berusaha untuk berontak dan berteriak sehabis suaranya, namun kedua orang suruhan Dani tetap pergi meninggalkannya di dalam ruang isolasi itu sendirian.


Fitri menangis karena ketakutan, ruang itu terlihat begitu gelap, tak ada celah sedikitpun di sana, Fitri bahkan tak bisa melihat tangannya sendiri.


“Ya ampun! apa yang telah terjadi padaku, Ibu…! aku takut di sini!”


Fitri menangis tiada henti, dia tak terima di perlakukan seperti itu. Mesti saat itu dia merasa sedih dan takut, tapi Fitri tetap pada pendiriannya, kalau dia tak akan mengakui semua apa yang telah dia lakukan.

__ADS_1


“Oh, perut ku lapar lagi! kenapa mereka nggak mengirimkan makanan ya untuk ku, apa benar di ruang ini, aku bisa mati secara perlahan? ya ampun! mana mungkin kau akan mati disini Fitri, merekalah yang bakal mati karena menyesal telah menjebloskan kamu keruang isolasi ini.”


Dua hari setelah Fitri di masukkan kedalam ruang isolasi, Dani bersama kedua anggotanya datang menemui Fitri, saat itu Dani, membawa sepiring makanan yang tak ada sambal sedikitpun di atasnya.


Saat pintu ruangan itu terbuka, Fitri melihat sedikit cahaya mulai menerangi dirinya, lalu Dani menyuguhkan nasi itu kehadapan Fitri.


“Nih, makan!”


Mesti tak ada menu apapun di atasnya, Fitri dengan cepat mengambil nasi itu dari tangan Dani. Dia bahkan memakan nasi itu dengan lahap dan tak menyisakan sebutir pun di piringnya.


“Ternyata kau kelaparan ya?” tanya Dani seraya tersenyum sinis.


“Mau apa kau datang kesini? ya, aku tahu sekarang, kau pasti mau mengintrogasi ku lagi kan?”


“Benar!"


“Nggak mempan bodoh! justru kau sendiri bakalan menyesal telah memasukan aku kedalam ruangan ini.”


“Ooo, jadi kau tetap pada pendirian mu! baiklah, kalau begitu membusuklah kau disini selamanya!” bentak Dani seraya keluar dari ruangan itu.


“Huah…! kalau begitu aku bisa tidur lagi ah…!” ujar wanita bertubuh tambun itu, seraya menutup sebagian mulutnya yang terbuka lebar karena ngantuk.


Fitri benar-benar tak perduli dengan apa yang terjadi, yang ada di dalam pikirannya hanya makan dan tidur.


Setelah tiga hari, Fitri terlihat sangat lemas, tubuhnya sangat sulit sekali di gerakan, karena selama tiga hari Fitri tak mendapatkan makanan apa pun selain sebotol minuman.


“Kurang ajar! sepertinya pria itu benar-benar ingin membunuh ku secara perlahan, kalau begitu, aku akan buat siasat baru untuk mengelabuinya.”


Baru saja Fitri berencana, seorang sipir penjara datang mengantarkan makanan padanya, ketika tangan perempuan itu di julurkan kedalam untuk memberikan makanan, Fitri dengan cepat menariknya dengan kuat, sehingga, sipir penjara itu menjerit kesakitan.


“Kurang ajar! lepaskan tanganku cepat!” teriak petugas lapas itu seraya berusaha menarik tangannya dengan kuat.


“Nggak akan, sebelum kau bukakan pintu ini untuk ku, maka kau bakalan kehilangan tangan mu yang mulus ini, hahaha...!”


“Kau nggak akan bisa keluar semudah itu dari penjara ini, jadi jangan pernah kau bermimpi untuk itu.”


“Baik, kalau kau nggak mau mengeluarkan aku maka akan ku patahkan tanganmu ini!” bentak Fitri seraya memelintir tangan petugas lapas itu.

__ADS_1


Tak ayal, karena tangannya dipelintir, wanita itupun menjerit kesakitan, bukan hanya itu saja wanita itu juga berusaha untuk minta tolong.


Mendegar jeritan yang cukup kuat beberapa orang petugas mendengarnya dengan jelas. Kemudian mereka berlarian ke ruang isolasi untuk menolong temannya.


Namun karena tangan wanita itu berada di dalam, beberapa orang kawannya mencoba menarik keluar, tapi sayang, ternyata tangan wanita itu telah patah.


Karena sakit, diapun menjerit histeris, hingga tak sadarkan diri. beberapa orang sipir lainnya mencoba menghidupkan alarm tanda bahaya.


Mendengar suara alarm berdering, semua petugas lapas langsung turun keruang isolasi. Bertepatan saat itu, Dani dan kedua orang suruhannya datang dan ikut turun kebawah.


“Ada apa?” tanya Dani heran.


“Tahanan menarik tangan petugas hingga patah Pak, saat ini dia nggak sadarkan diri karena kesakitan.”


“Mana kuncinya?”


“Ini Pak,” ujar seorang petugas memberikan kunci penjara pada Dani.


“Dion, Leo! bereskan.”


“Baik Pak.”


Ketika mendapat perintah dari Dani, kedua orang suruhannya langsung masuk kedalam sel serta memukul tangan Fitri hingga gemetaran menahan rasa sakit.


Saat itu juga Fitri terpaksa melepaskan tangan Mia yang patah. Gumpalan darah terlihat jelas di pergelangan tangan wanita itu. bekas cengkraman tangan Fitri juga masih membekas di tangannya.


“Kau telah membuat kesalahan besar, mulai hari ini, hukuman mu akan di tambah dari lima tahun menjadi delapan tahun!” kata pimpinan lapas.


“Ibu nggak bisa gitu dong! seenaknya aja menambah hukuman orang.”


“Saya punya wewenang penuh disini, saya juga berhak menjatuhkan hukuman mati untuk mu!” kata kepala sipir penjara, seraya pergi meninggalkan ruangan isolasi.


Ketika pintu kembali di tutup, Fitri tampak tersenyum puas dengan apa yang telah dia lakukan, baginya, hari itu adalah permulaan untuk hari-hari berikutnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2