
“Anak-anak udah kembali Bi?” tanya Bayu pada Atun.
“Baru Non putri, Tuan.”
“Yesi belum pulang?”
“Belum tuan.”
“Kenapa lama sekali? apakah Nyonya nggak menjemputnya?”
“Nyonya dari tadi pergi menjemput tuan, tapi hingga sekarang dia belum juga kembali.”
“Apakah Nyonya nggak menelfon.”
“Nggak Tuan.”
“Astaga, apa yang terjadi pada mereka,” ujar Bayu yang mencoba menghubungi Mega.
Setiap kali Bayu menghubungi istrinya pasti berada di luar jangkauan, hal itu membuat Bayu semakin khawatir.
“Aneh, Mega kemana ya, kok nggak bisa di hubungi?”
“Gimana tuan, apakah Nyonya bisa di hubungi?”
“Nggak Bi, ponselnya nggak aktif.”
“Wah Nyonya kemana ya? nggak biasanya dia seperti ini.”
“Emangnya kalau Nyonya jemput anak-anak, dia lama ya Bi?”
“Nggak Tuan, kalau jemput anak-anak, Nyonya selalu kembali cepat dan dia di rumah bermain dengan anak-anak.”
“Ya udah Bi, kalau begitu biar aku susul.”
“Baik Tuan.”
Merasa tak tenang, Bayu mencoba menyusul Mega kesekolah putrinya. Di sekolah Yesi, terlihat begitu ramai sekali, ada polisi dan begitu banyak warga di sana. melihat hal itu, jantung Bayu berdebar sangat kuat.
“Ya Allah! apa yang telah terjadi? kenapa ramai sekali?” tanya Bayu pada dirinya sendiri.
Tak sabaran ingin tahu dengan apa yang telah terjadi, Bayu bergegas turun dari mobilnya dan menghampiri halaman sekolah.
Saat itu Bayu melihat ada mobil istrinya di sana, begitu juga saat dia masuk kedalam, Bayu melihat Mega menangis tersedu-sedu.
“Ada apa sayang? kenapa kau menangis?” tanya Bayu penasaran.
“Bang Bayu!” teriak Mega seraya memeluk suaminya sambil menangis.
“Ada apa? bicara dong?”
“Yesi Bang?”
“Yesi kenapa?”
“Yesi di culik!”
“Yesi di culik? siapa yang menculiknya?”
__ADS_1
“Aku nggak tahu Bang.”
“Ya Allah, siapa yang telah menculik putri kecil ku!” ujar Bayu seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
Di saat semua orang sedang sibuk memikirkan keberadaan Yesi. Luna justru terlihat senang karena dia telah berhasil melampiaskan rasa sakit hatinya pada Bayu. Idenya pun kemudian dilancarkannya lagi, malam itu juga, Luna pergi ke rumah Bayu.”
“Assalamu’alaikum, Assalamu’alaikum!” ujar Luna seraya mengetuk pintu rumah Bayu dari luar.
Atun yang mendengar suara orang mengucapkan salam, dia langsung menjawab, seraya bergegas untuk membuka pintunya.
“Eh, Nyonya?”
“Majikan mu di rumah Bi?”
“Sedang pergi Nyah.”
“Sedang pergi? Pergi kemana?”
“Katanya, ke sekolah Yesi.”
“Kesekolah Yesi? ada acara apa ya Bi?”
“Nggak tahu Nyah, tapi Non Yesi dan Nyonya belum kembali dari siang tadi.”
“Wah, kenapa begitu Bi?”
“Aku nggak tahu Nyah.”
“Kalau begitu, biar aku kesana aja sekarang, siapa tahu, dia butuh bantuan ku.”
“Iya Nyah.”
Dari kejauhan Luna menyaksikan kejadian itu seraya tersenyum-senyum, dia merasa senang karena rasa sakit hatinya telah terbalaskan saat itu juga.
“Ada apa ya Bu? kenapa begitu banyak orang di sana?”
“Bayu kehilangan putrinya yang telah kita culik.”
“Ooo, berarti mereka semua sedang menyelidiki orang yang telah menculik anak Bayu?”
“Iya benar sekali.”
“Ibu kelihatannya senang banget, apa Ibu nggak takut, kalau nanti polisi menangkap Ibu?”
“Mereka kan nggak tahu, siapa yang telah menculik anak Bayu.”
“Kalau mereka akhirnya tahu gimana Bu?”
“Nggak bakalan! itu kalau kau nggak buka mulut pada mereka!”
“Iya Bu.”
“Ayo jalan!”
“Baik Bu.”
Lalu mobil Luna kembali melaju dengan kecepatan sedang, hati Luna benar-benar puas, karena dia telah melampiaskan kemarahannya pada Bayu.
__ADS_1
Setibanya Luna di rumah, dia langsung menuju gudang tempat Yesi di sekap, Luna melihat Yesi sedang duduk diam dalam keadaan lemah.
“Hei! enak ya?bisa tidur-tiduran di dalam gudang Bibi.”
Mesti terdengar oleh Yesi, tapi dia tak bisa bicara lagi, karena seluruh tubuhnya terasa lemas. Yesi kehabisan cairan, karena semenjak siang itu, dia belum mendapatkan apa-apa.
“Heh! kamu dengar nggak kata Bibi! kalau saat ini, kedua orang tuamu sedang menangis sedih karena dia kehilangan putri kecilnya, hahahaha…!”
Luna tertawa senang, dia sangat puas sekali, apa lagi saat dia lihatnya Yesi lemah tak berdaya.
Dua hari telah berlalu, kondisi Yesi yang di sekap, semakin memburuk, Luna sering tak memberi Yesi makan, kalau pun diberi, tapi Luna tak membukakan ikat tangan atau mulutnya.
Sesuai keinginan Luna, siang itu dia memerintahkan anak buahnya mengikuti setiap langkah Bayu, ternyata Bayu sedang mendatangi kantor polisi, sudah tiga hari Yesi menghilang, namun polisi belum juga menemukan keberadaannya.
“Ya Allah! bagai mana keadaan putri ku saat ini, apakah dia sehat atau sedang mengalami penyiksaan."
Bayu memang tak pernah merasa putus asa, dia selalu berusaha keras mencari keberadaan putrinya, begitu banyak selebaran gambar wajah Yesi di pampang di pinggir jalan.
Sementara itu Voni yang telah mendapat kabar kehilangan Yesi, dia begitu yakin kalau Luna lah yang telah menculik gadis itu.
“Kenapa Om, nggak mencurigai Mama?”
“Apa Non yakin, kalau Mama Non yang punya ulah?”
“Aku yakin, tapi aku nggak memaksakan Om untuk meyakininya.”
“Malam itu, Nyonya Luna datang kesini Tuan, dia menanyakan Tuan dan Nyonya.”
“Terus apa lagi yang di tanya Luna Bi?”
“Dia kemudian pergi, katanya dia pergi kesekolah tempat Non Yesi di culik.”
“Kalau memang Luna yang datang, berarti bukan dia pelakunya.”
“Pelakunya memang bukan dia Om, tapi kaki tangannya lah yang bekerja saat Mama berada di dekat kita.”
“Non, benar. Om yakin kalau Mama Non lah pelakunya, karena hari itu, Om pergi menemui Non secara diam-diam, Om yakin juga pasti Mama Non marah sekali waktu itu.
“Iya, karena kemarahannya itulah, akhirnya dia berbuat nekad dan melakukan balas dendam lewat Yesi.”
“Lalu bagai mana cara kita mengetahui kalau yang melakukan itu adalah Mama Non Voni?”
“Lihat cctv nya, aku yakin di sekolah Yesi, pasti telah di pasang cctv untuk keamanannya.”
“Ya, Non benar. Kalau begitu mari kita ke sekolah sekarang.”
Dengan terburu-buru mereka semua langsung berangkat kesekolah, untuk memeriksa cctv sekolah. Dugaan Voni biasanya tak pernah meleset, itu sebabnya Bayu percaya dengan perkataan Voni. Setiba di sekolah, Bayu langsung bergegas menuju kantor satpam yang menjaga keamanan sekolah.
“Assalamu’alaiku,” ujar Bayu seraya masuk kedalam kantor satpam, sementara yang lain tetap berada di luar.
“Ada apa Pak?” tanya salah seorang satpam itu.
“Aku ingin memeriksa cctv sekolah, tepat sewaktu putri ku di culik.”
“Baik Pak.”
Sesuai permintaan Bayu, lalu satpam itu memutar kembali cctv yang telah merekam semua kejadian siang itu. merasa tak begitu yakin, kalau wanita yang keluar itu Luna, lalu Bayu memanggil Voni.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca