Terjebak

Terjebak
Part 43 Diselamatkan Timsar


__ADS_3

Samar-samar dari kejauhan Voni mendengar suara orang beramai-ramai memanggil namanya, tapi jurang yang begitu dalam, rasanya tak akan mampu untuk melewati suaranya yang kecil.


“Voni! Voni! Voni!” teriak semuanya seraya membawa senter besar bersama mereka.


“Ya Allah, apakah aku sanggup berseru dari dalam jurang ini?” tanya Voni pada dirinya sendiri.


Tak berapa lama kemudian, Voni kembali mendengar suara orang memanggil-manggil namanya, Voni masih tak sanggup untuk berteriak, sepertinya dia tak bisa mengeluarkan suara.


“Ya Allah, apa yang terjadi dengan ku? kenapa suara ku begitu sulit untuk di keluarkan?” rintih Voni pelan.


Sementara itu Bramono, Ranti dan beberapa orang siswa lainnya terus berteriak-teriak memanggil nama Voni.


“Apakah kau nggak kenal dengan daerah ini Benu?”


“Kenal Pak, tapi kita nggak mendengar jawaban dari Voni, jadi aku merasa ragu, jangan-jangan Voni terjatuh ke dalam jurang.”


“Jurang? dimana jurang nya?”


“Di sebelah sana Pak!” tunjuk Benu ke suatu arah.


“Kalau begitu mari kita lihat kesana!” ajak Bramono pada yang lainnya.


“O iya, tadi aku melihat Voni berjalan kearah sini mencari kayu bakar, jangan-jangan, dia masuk kedalam jurang itu,” ujar Ranti membenarkan ucapan Benu.


“Apakah jurang nya dalam, Bu?”


“Iya Pak, jurang nya sangat dalam.”


“Dibawah jurang itu ada lumpur hidup, Pak.”


“Benarkah? ya Allah, sangat berbahaya sekali, jika Voni masuk kedalamnya.”


“Voni! Voni! apakah kau ada di bawah sana?” tanya Bramono dengan suara lantang.


Suara Bramono menggema memasuki lorong jurang, membuat Voni tersentak dari pemikirannya yang tak terarah.


“Voni! jawab Bapak, apakah kau berada di bawah sana?”


“Iya.”


Suara Voni yang pelan, terdengar jelas dari atas, semua anak-anak meyakini kalau Voni memang berada di bawah jurang itu.


“Ya Allah, bagai mana caranya kita turun ke bawah Benu?”


“Nggak bisa Pak. Selain ada lumpur hidup, di bawah sana juga banyak ular berbisa.”


“Tapi kita harus menolong Voni!”

__ADS_1


“Bagai mana kalau kita minta bantuan Timsar saja Pak?”


“Iya Benar, kalian bisa menghubunginya?”


“Iya Pak, saudaraku bekerja di sana,” jawab Farel.


“Iya, cepat kau hubungi dia.”


“Baik Pak,” jawab Farel seraya menghubungi saudaranya.


Dengan resah Bramono berjalan hilir mudik menantikan kedatangan Timsar yang masih di perjalanan. Rendi yang melihat Bramono serius, dia sadar kalau diantara Bramono dan Voni memang terjalin hubungan asmara.


Setengah jam menunggu, akhirnya Timsar datang ke alamat tujuan, Bramono yang melihat kedatangan mereka, dia mencoba menjelaskan.


“Baiklah.”


Kemudian beberapa orang dari Timsar mulai bereaksi, mereka membagi tugas dan turun ke bawah, baru saja salah seorang tiba di bawah jurang, dia langsung bertemu dengan seekor ular yang begitu besar, mesti saat itu ular hanya sekedar lewat, akan tetapi sangat berbahaya sekali.


“Angkat aku segera!” teriak salah seorang yang telah mencoba turun ke bawah.


Mendengar teriakan anggota yang turun, maka beberapa orang yang saat itu berada di atas langsung menariknya dengan cepat.


“Ada apa?” tanya pimpinan Timsar itu.


“Ada ular besar di bawah Pak.”


Benu dan temannya yang lain, juga turut sedih melihat Voni terjebak di dalam jurang yang begitu dalam dan berbahaya.


“Gimana ini Pak? kasihan sekali dengan Voni," ujar Benu seraya menangis.


“Iya Benu, Bapak juga mengerti sekali, namun keadaan ini sangat sulit untuk Timsar.”


Semuanya tampak terdiam sejenak, lalu salah seorang Timsar berusaha untuk turun lagi ke bawah. Saat itu, Bramono meminta pada para Timsar, agar di izinkan turun kebawah.


“Jangan Pak, ini sangat berbahaya untuk Bapak nantinya.”


“Lalu bagai mana dengan murid saya yang saat ini masih berada di bawah?”


“Soal murid Bapak, itu urusan kami, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya.”


Kemudian salah seorang dari timsar turun ke bawah, di ikuti beberapa orang lainnya, lima orang saat ini telah berada di dalam jurang yang sangat dalam.


Secara bersamaan, mereka berusaha mencari keberadaan Voni yang saat itu terjebak di atas lumpur hidup yang sangat ganas.


Sementara itu Voni yang terus bergelantungan di akar berduri yang melilitnya, saat melihat cahaya senter yang terang, dia pun berusaha untuk berteriak minta tolong.


“Tolong saya!”

__ADS_1


“Adek yang tenang, kami akan berusaha menolong adek.”


“Baik,” jawab Voni pelan.


Lalu mereka semua berusaha untuk menolong Voni, mesti sangat sulit, namun mereka tetap berusaha untuk melepaskannya.


“Kamu bisa jalan dek?”


“Nggak Pak, kayaknya kedua kaki ku patah.”


Karena Voni tak bisa berjalan lalu mereka menarik beberapa akar berduri itu, ke tepi lumpur yang hidup. Namun rencana mereka tak semulus yang mereka bayangkan, setiap kali akar itu di tarik, setiap kali pula Voni menjerit karena kesakitan.


“Gimana ini? sepertinya gadis itu kesakitan setiap kali kita menarik akar berduri nya.”


“Ya benar. Tapi kalau kita potong akar berduri nya, maka gadis ini akan terjatuh ke bawah dan di telan oleh lumpur hidup,” jawab salah seorang di antara mereka.


“Ya, aku punya Ide sekarang.”


“Apa Ide mu?” tanya yang lainnya.


“Biar aku kembali ke atas dulu.”


“Lalu?”


“Kemudian aku turun tepat di posisi gadis itu, lalu aku mengikat tubuhnya dan menarik gadis itu ke atas.”


“Ya Bagus. Ide yang cemerlang!”


Setelah mereka berlima sepakat, lalu salah seorang diantara mereka kembali ke atas dan kembali turun tepat di posisi Voni yang terbelit akar berduri.


Rencana mereka berhasil, beberapa jam kemudian, Voni berhasil di selamatkan, tapi kondisinya sangat lemah dan tak bisa bergerak. Ternyata bukan hanya kaki Voni saja yang patah, tubuhnya penuh dengan luka dari lilitan akar berduri yang tajam.


Tubuh Voni kemudian di tandu ke luar dari hutan, dia tampak lemah sekali. Ranti yang melihat keadaan Voni seperti itu, dia tak kuasa menahan tangisnya.


Apa lagi saat penyelamatan yang berlangsung dramatis, membuat semua orang menahan nafas dalam-dalam.


Di saat Voni di bawa keluar, Bramono dan yang lainnya mengiringi dari belakang, begitu juga dengan petugas Timsar. Suasana saat itu terasa sepi dan hampa, semua orang tak ada yang berbicara, selain fokus pada jalan yang mereka lalui.


Setiba di jalan besar, mobil ambulance telah menanti dengan para dokter yang telah siaga, mereka dengan cepat dan tanggap memberi bantuan dan pertolongan pertama pada Voni yang banyak kehabisan darah.


Di sekitar mobil ambulance, begitu banyak warga yang berkumpul, mereka ingin menyaksikan secara langsung kondisi Voni yang terjatuh kedalam jurang yang sangat terjal dan berbahaya itu.


Di rumah sakit Bramono menantikan Voni di ruang tunggu sendirian, bahkan dia tak tidur semalaman, rasa bersalahnya karena tak mampu menjaga Voni membuatnya merasa sedih.


Dokter yang bertugas saat itu membuka pakaian Voni yang telah berlumuran darah. Mereka semua tak menyangka, kalau luka-luka yang di alami Voni karena tusukan akar berduri yang tajam.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2