
Pertama masuk kedalam rumah, Yuli melihat putrinya dalam keadaan kotor dan kusam, wajah perempuan paruh baya itu langsung berubah.
“Dari mana kamu?”
“Dari luar!”
“Itu! kenapa pakaian mu kotor?”
Lalu Intan melihat kearah bawah, seraya membersihkan pakaian yang sedikit kotor, kena tanah liat yang menempel.
“Oh, ini kena tanah liat Ma,” jawab Intan seraya tersenyum sumringah.
“Mama tahu, kalau kau sedang menyembunyikan sesuatu pada Mama, apakah istri dari pria hidung belang mu itu telah menghajar mu habis-habisan?”
“Apa sih, maksud Mama?”
“Nggak perlu menyembunyikan kan apa-apa dari Mama Intan, kau kira Mama nggak tahu, kalau saat ini kau menjadi perempuan malam di pinggir jalan!”
Siapa bilang kalau aku perempuan malam Ma?”
“Kau memang bisa menutupinya dari Mama, tapi kau nggak bisa menutupi mulut semua warga nak. Sebentar lagi, kalau mereka masih melihat mu keluar malam, maka kita akan di usir dari kampung ini.”
“Siapa yang mau mengusir kita Ma? nggak ada yang bakalan ngusir kita ari rumah ini!”
“Kau salah nak, mereka begitu banyak, sedangkan kau hanya sendiri, apakah kau sanggup menghadapi mereka semua?”
“Tapi yang mereka lihat itu bukan aku Ma, barang kali dia perempuan lain!”
“Diam…!” bentak Yuli dengan emosi.
“Tapi aku nggak bohong Ma, aku berkata jujur pada Mama.”
“Simpan saja kejujuran mu itu. Jika suatu saat nanti, semua warga hilang kesabarannya, maka jangan pernah kau menyalahkan kami berdua.”
“Dari awal, aku juga nggak pernah menyalahkan kalian berdua, ini jalan hidup ku. Kalian nggak perlu cemas.”
“Apa kau sadar dengan ucapan mu itu nak?”
“Kenapa nggak. Sekarang begini saja, kalau Papa dan Mama merasa malu dengan pekerjaan ku. Baiklah, aku akan segera meninggalkan rumah ini.”
“Bukan itu maksud Mama nak? Mama dan Papa ingin kau menghentikan perbuatan gila mu itu!”
“Aku nggak bisa Ma, mesti kalian bunuh sekalipun, aku nggak bakalan mau menghentikannya.”
__ADS_1
“Kau benar-benar keterlaluan Intan! apa kau nggak malu pada semua orang!” bentak Aris yang tersulut emosi.
“Kenapa aku mesti malu Pa, aku nggak pernah mengganggu suami mereka!”
“Astaghfirullah! sadar nak, sadar! Perbuatan mu itu di murka oleh Allah!”
“Biar aku sendiri yang di murka Allah, kalau kalian nggak ingin, maka aku akan keluar dari rumah ini.”
“Dasar anak keras kepala, padahal Papa dan Mama nggak pernah mendidik mu seperti itu sedari dulunya, tapi kenapa sekarang, kau malah jadi begini nak?”
“Ini takdir ku Pa!”
Jawaban Intan itu, telah membuat Aris jadi semakin marah, tangannya yang sudah gemetaran tiba-tiba saja melayang menampar pipi gadis itu.
Yuli yang melihat kemarahan suaminya, langsung berusaha memegang tangan Aris dan menyuruh Intan untuk masuk kedalam kamarnya.
“Papa jahat!” teriak Intan seraya berlari masuk kedalam kamar.
“Kau anak kurang ajar Intan! Papa nggak sudi punya anak seperti mu, lebih baik nggak punya anak, dari pada hanya membuat malu kedua orang tua.”
“Sudah Pa, sudah! jangan di turuti amarahnya, nanti jantung Papa kumat lho.”
“Biar aku mati saja Ma, dari pada harus menanggung dosa seumur hidup ini.”
“Jangan bicara seperti itu Pa, Mama jadi sedih.”
Sementara itu, Intan yang telah membuat malu kedua orang tuanya, malam itu dia langsung berangkat dari rumah. Intan berencana mencari pekerjaan di kota. Dengan bekal wajah cantik yang dia miliki, Intan telah menawarkan dirinya lewat seorang pria yang selama ini menjadi mucikari.
Di tangan seorang cukong kaya, Intan menjadi wanita simpanannya. Berhari-hari Intan tak pernah keluar dari apartemen yang sengaja di sewa oleh pria korea tersebut.
Selain berbahasa korea, pria itu rupanya mahir berbahasa Indonesia, karena Ibunya berasal dari Surabaya.
“Kau betah tinggal disini sayang?” tanya pria itu.
“Betah sayang, semuanya telah tersedia, sehingga aku nggak perlu keluar untuk mencari semua kebutuhan hidup ku.”
“Kalau kau patuh dan menurut saja dengan apa yang ku katakan, maka kau akan ku buat seperti ratu di apartemen ku ini.”
“Ooo, jadi ini apartemen mu?”
“Iya.”
“Apakah kau udah punya istri?”
__ADS_1
“Iya, aku punya istri dan dua orang putri.”
“Pasti istrimu cantik.”
“Iya, tapi dia itu bawel, aku nggak bisa tenang diam di rumah, kerjaannya ngomel melulu.”
“Hahaha…! kau ternyata menggemaskan juga ya?”
“Kau terlihat sangat cantik sekali Intan.”
“Ah, kamu bisa aja.”
Di saat kesenangan membalut sanubari Intan, kedua orang tuanya, malah di liput oleh kesedihan yang berkepanjangan, semenjak kepergian Intan, Yuli mendadak sakit, pikirannya tak berpindah ke yang lain selain hanya Intan seorang.
Siang malam Yuli menangis memanggil nama putrinya itu, Aris sudah berusaha memberi tahu, kalau suatu hari nanti, Intan pasti kembali kerumah, namun Yuli mengabaikannya.
Di saat bersamaan, malam itu Alan bertengkar dengan istrinya, Meme. Pertengkaran yang membuat rumah tangga mereka memanas malam itu. Tak ingin keadaan menjadi semakin runyam, Alan keluar malam itu juga dari rumah istrinya.
Meme curiga, kalau Alan punya wanita simpanan, karena sudah hampir empat bulan, Alan berperilaku aneh dirumah, kadang dia lembut, dan terkadang dia mudah tersulut emosi dan menjadikan kedua putrinya landasan kemarahan yang tak terkendalikan itu.
Ketika Alan sudah pergi, Meme memanggil orang suruhannya untuk mengikuti Alan malam itu. secara diam-diam Boy pun mengikuti Alan sesuai dengan perintah majikannya.
Malam itu Boy melihat Alan masuk kedalam apartemennya, namun saat dia hendak masuk, Boy melihat seorang wanita keluar dari apartemen itu dan kemudian masuk kembali.
“Ya tuhan, apa yang telah di lakukan pria bodoh ini, ternyata dia berselingkuh di belakang Kak Meme. Awas kau Alan, terima akibat dari perbuatan mu itu."
Yakin Alan bersama seorang wanita di apartemennya, lalu Boy menelfon Meme dan mengabari semua yang dia lihat malam itu.
Tak tenang dengan perkataan Boy, lalu Meme berangkat malam itu juga ke apartemen milik suaminya.
Seperti yang di katakan Boy, malam itu Meme memergoki mereka berdua tidur seranjang, tak kuat melihat apa yang telah terjadi, Meme pun pingsan di hadapan suaminya.
Sementara itu, Alan yang merasa panik, dia langsung mengusir Intan dari apartemennya malam itu juga.
“Kau mengusir ku, sayang?”
“Iya! pergi cepat dan jangan datang lagi ke apartemen ini!”
“Tapi aku pergi kemana Alan?”
“Aku nggak mau tahu, sekarang cepat keluar!” ujar Alan seraya mendorong tubuh Intan dengan kasarnya.
“Aku nggak mau Alan! aku nggak mau pergi!” teriak Intan seraya mencoba untuk memaksa masuk ke dalam.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*