
“Apakah kau udah mengambil uang yang di berikan Om mu, Voni?”
“Belum Pak, masih tertinggal di bawah bantal.”
“Kalau begitu, tunggu disini sebentar, biar Bapak ambilkan.”
“Baik Pak.”
Sambil berlari kecil Bramono mengambil uang yang di berikan Bayu pada Voni, ketika amplop itu di bukanya, Bramono sangat terkejut sekali, karena uang di dalam amplop itu tak sedikit banyaknya.
“Ya Allah, banyaknya. Siapakah kau ini sebenarnya Voni?”
Rasa penasaran itu membuat Bramono semakin ingin menyelidiki siapa Voni sebenarnya, setelah amplop itu di tutup, Bramono langsung pergi keluar untuk menemui Voni.
“Udah siap?”
“Udah Pak.”
“Ayo kita ke mobil.”
“Ayo.”
Dengan tenang Bramono mengajak Voni menaiki mobilnya, saat itu Bramono tak memperlihatkan kecurigaannya pada Voni, dia berlaku seperti orang yang tak tahu apa-apa tentang Voni.
Di depan rumah kosnya, Voni di turunkan Bramono, semua penghuni kos melihat kedatangan Voni bersama Kepsek mereka. Tampak di pergelangan tangan sebelah kiri Voni masih terbalut kain perban.
“Kita udah tiba Voni.”
“Iya, Pak.”
Lalu Bramono turun dan membukakan pintu untuk Voni, bukan hanya itu saja, Bramono juga mengantar Voni sampai ke rumah kosnya. Bu Ranti yang saat itu melihat kedatangan Voni, dia langsung bergegas keluar rumah.
“Ibu, saya titip Voni pada Ibu, tolong awasi terus dia, agar jangan sampai terjadi lagi kejadian ini.”
“Baik Pak.”
“Ah Bapak, kok bicaranya seperti itu sih, aku kan bukan anak bayi lagi yang mesti diawasin terus.”
“Ini semua Bapak lakukan demi keselamatan kamu juga.”
“Kok begitu pedulinya dia sama aku,” batin Voni berkata.
Tiga hari setelah kejadian itu, malam hari ketika Bramono pulang dari supermarket, dia melihat Voni berjalan sempoyongan di tengah jalan, saat itu Bramono masih ragu apakah gadis itu benar-benar voni atau bukan.
Tapi setelah dia mendekat, ternyata benar apa yang dia lihat, ternyata gadis itu adalah Voni, ketika mobil Bramono berhenti tepat di depannya, tanpa sengaja Voni menabraknya dan diapun jatuh di jalanan.
Bramono segera turun dari mobilnya dan datang menghampiri Voni yang tersungkur di bawah pintu belakang mobil Bramono.
“Ya Allah Voni!” teriak Bramono yang turun dari mobilnya.
“Kau siapa?” tanya Voni heran.
Tapi Bramono tak menjawab, dia hanya diam saja. Di gendongnya tubuh Voni dan dinaikannya ke atas mobil.
“Ya Allah, kenapa jadi begini Voni?”
Saat Voni benar-benar tak sadarkan diri, secara samar di melihat wajah pria yang menolongnya, namun dia tak tahu dengan pasti apa yang di lihatnya.
“Siapa kau ini sebenarnya, hah? mau kau bawa kemana aku ini?”
“Kau ingin tahu siapa aku?”
“Siapa?”
“Aku Kepala sekolah mu Voni!”
“Kepala sekolah?”
“Iya.”
__ADS_1
“Astaga! kau Kepsek?”
“Iya.”
“Matilah aku! kalau begitu biar aku turun disini saja Pak!” teriak Voni seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
“Hei, hei! nggak perlu takut seperti itu, Bapak ini bukan pemakan orang kok.”
“Ayo turunkan aku disini saja Pak, aku mau pulang ke kos.”
“Hari sudah malam, kos mu udah tutup sekarang, kalau kau tetap memaksakan diri kembali ke kos mu, maka Bu Ranti pasti marah besar padamu.”
“Lalu aku mesti kemana Pak?”
“Kau tidur saja di jalanan,” jawab Bramono seraya menurunkan Voni di depan rumah kosnya.
“Tunggu! bukankah ini rumah kos ku?”
“Ya, ini memang rumah kos mu.”
“Nggak, nggak! jangan berhenti disini, lanjut saja kedepan sana!”
“Kenapa?” tanya Bramono heran.
“Yang penting jangan berhenti disini.”
“Tapi katanya mau pulang ke rumah kos.”
“Iya, tapi tolong lanjutkan sedikit.”
“Baiklah, akan Bapak lanjutkan.”
Tak berapa jauh dari rumah kos Voni, gadis itu kembali menyuruh Bramono menghentikan kendaraannya. Kemudian Bramono mengikuti keinginannya.
“Kamu bisa jelaskan, kenapa kita berhenti disini?”
“Ya, akan ku jelaskan besok, karena saat ini aku sedang mabuk.”
“Apa-apaan kamu ini Pak, tolong lepaskan tangan ku, aku nggak mau disentuh oleh siapapun!”
“Kalau kau nggak mau disentuh oleh siapapun, jangan pernah kau mabuk lagi, karena dengan mabuk peluang orang untuk menyentuhmu bahkan lebih besar. Bukan hanya di sentuh, orang juga bisa memperkosa mu Voni!”
“Kau sedang bicara dengan siapa Pak?”
“Ya Allah! emang susah bicara dengan orang yang tak sadarkan diri ini ternyata!” ujar Bramono pelan.
Lalu secara perlahan, Voni pun berjalan dengan sempoyongan menuju rumah kosnya, Bramono hanya bisa menatapnya dari belakang.
Rasa penasarannya semakin tak terkendali untuk mencari tahu siapa gadis nakal yang telah berada di sekolahnya selama ini.
Pagi hari, di saat seluruh murid masuk kedalam kelas mereka, Voni langsung menghadap ke kantor kepala sekolah.
“Kamu kemana Voni?” tanya Nita ingin tahu.
“Menghadap Kepsek.”
“Kenapa? bikin ulah lagi?”
“Semalam aku ketahuan sedang mabuk oleh Kepsek.”
“Ya Allah, benar begitu Voni?”
“Iya, bukan itu saja, tak sengaja, aku telah menabrak mobilnya dan dia memasukkan aku kedalam mobil serta mengantarkan aku ke rumah kos.”
“Berarti kau di marahi Kepsek dong!”
“Entahlah Nit, kita lihat saja nanti, kalau benar dia marah, dia pasti akan mengeluarkan aku dari sekolah ini.”
“Kalau seandainya kau di keluarkan dari sekolah ini, lalu kau mau bersekolah di mana Voni?”
__ADS_1
“Aku nggak tahu Nit.”
“Ya sudah, cepat sana! ntar Kepsek tambah marah lagi.”
“Iya, kau benar Nit, kalau begitu aku pergi dulu.”
“Iya,” jawab Nita singkat.
Di perjalanan menuju kantor majelis guru, Nita bertemu dengan Bu Nina, yang saat itu hendak menuju kelas.
“Voni!”
“Iya Bu.”
“Kemana saja, udah satu minggu ini, Ibu nggak mendengar berita mu?”
“Aku sakit Bu.”
“Ooo, sakit.”
“Iya, Bu.”
“Kalau kau sakit, semua teman di kelas mu pasti senang?”
“Apa maksud Ibu?”
“Karena mereka bisa belajar dengan tenang, tanpa ada yang mengganggu dan bikin ribut.”
“Makasih atas informasinya, semoga suatu saat nanti, Ibu akan merasakan hal yang sama dengan mereka saat mengajar di kelas ku.”
“Apa maksud mu Voni?”
“Ibu cerna aja sendiri! selamat pagi.”
“Hei Voni, kau mau kemana?”
“Ke neraka! Ibu mau ikut!”
“Kurang ajar!” gerutu Bu Nina kesal.
Voni yang mulanya sangat menghormati Nina, karena ucapannya yang kasar akhirnya Voni merasa marah pada guru tersebut.
Setelah dia tiba di depan ruangan kepsek, Voni langsung mengetuk pintu ruangan itu. dia berdiri tegak setelah mengetuk pintu.
“Siapa di luar!”
“Voni Pak.”
“Silahkan masuk.”
“Baik Pak. Assalamua’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, silahkan duduk.”
“Baik Pak.”
“Kamu belajar apa hari ini Voni?”
“IPS.”
“Sama Pak Tino?”
“Iya.”
Setelah Voni duduk dengan tenang, Bramono tak langsung berbicara, dia hanya menatap wajah Voni dalam-dalam.
Merasa rishi dengan apa yang di lakukan Bramono kepadanya, Voni berusaha bertanya, agar dia tak terlihat tegang saat itu
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*