Terjebak

Terjebak
Part 13 Tak sadarkan diri


__ADS_3

Sambil berdiri tegap Voni memberi hormat pada bendera yang berkibar.


“Kuatkan aku ya Allah.”


Di saat Voni menjalakan hukumannya, semua teman-teman kelasnya terlihat sedih dan prihatin, kecuali Yerni, yang tampak tersenyum sinis. Sementara itu para guru yang melihatnya, mereka juga ikut sedih.


Mesti demikian, Bramono terlihat begitu tenang dan diam saja, dia hanya memandangi Voni dari kejauhan.


Belum sampai satu jama Voni menjalani hukumannya, tiba-tiba saja. “Bam.” Voni pun jatuh tersungkur.


“Ya Allah! Voni…!” teriak para guru-guru yang melihat kejadian itu.


Bukan hanya guru yang berteriak, seluruh teman Voni pun berarian ke lapangan, untuk melihat ke adaan Voni yang terjatuh saat menerima hukuman.


Kepsek yang tadinya terlihat tenang, jadi terkejut alang kepalang, siapa sangka gadis yang terlihat kuat ternyata lemah.


“Cepat! cepat kalian bantu dia, bawa ke ruangan UKS," perintah Kepsek pada seluruh siswa.


“Baik Pak,” jawab anak-anak yang berada di sekitar tiang bendera.


Kejadian itu memang luar biasa, Bramono yang terlihat begitu dingin, kali ini dia tampak sibuk mengurus musibah yang menimpa Voni.


“Voni! kamu kenapa?” tanya Nita yang saat itu sedang berdiri di balik kaca ruang UKS.


“Hei, nama mu siapa?” tanya Kepsek ingin tahu.


“Nita Pak.”


“Bagus, kalau begitu tolong kamu jaga dia, nanti kalau Voni siuman tolong kamu beritahu Bapak.”


“Baik Pak.”


“Ya sudah. Anak-anak, semuanya bubar sekarang dan kembali ke kelas kalian masing-masing.”


“Baik Pak.”


Dua jam lebih Voni tak sadarkan diri, setelah sadar dia langsung duduk dan berlari kelapangan upacara untuk melanjutkan hukuman yang sedang dia jalani.


“Voni! Kamu mau kemana?”


“Kelapangan!” teriak Voni.


“Ngapain? bukankah kau baru sadar?”


“Aku mau melanjutkan hukuman yang sedang ku jalani.”


“Emangnya siapa yang menjatuhi hukuman pada mu Voni?”


“Kepsek, dialah yang memberi hukuman untuk ku."


“Voni tunggu dulu!”


"Nanti saja Nit, aku lagi keburu nih."


“Dengarkan aku dulu Voni!”


Mesti Voni mendengar teriakan Nita namun dia tetap saja berlari menuju tiang bendera. Nita tampak sedikit cemas, karena Kepsek sudah berpesan padanya untuk menjaga Voni.

__ADS_1


Di dekat tiang bendera Voni kembali berdiri tegap dan memberi hormat pada bendera yang berkibar.


“Ya ampun! bukankah voni itu baru saja sadar, kok malah melanjutkan hukumannya?” tanya pak Aswadi.


“Anak itu memang keras hati Pak,” jawab Bu Riska.


Sementara itu Nita yang mendapat amanah dari kepala sekolah, dia langsung menghampiri ruangan kepala sekolah.


“Assalamu’alaikum, Pak.”


“Wa’alaikum salam, ada apa?”


“Voni udah sadar, Pak.”


“Oh, syukurlah.”


“Tapi Pak.”


“Tapi apa?”


“Saat ini Voni telah kembali menjalani hukumannya di tiang bendera.”


“Benarkah?”


“Iya Pak, padahal saya sudah berusaha mencegahnya, tapi dia tetap melanjutkan hukuman yang Bapak berikan."


“Biarkan saja, itu berarti dia seorang gadis yang bertanggung jawab,” jawab Kepala sekolah, sambil melangkah menuju tiang bendera yang berada di depan kantor.


Dengan perlahan Kepsek, langsung menghampiri Voni yang saat itu sedang berdiri tegap menghadap bendera yang berkibar.


Mendengar ucapan Kepsek di telinganya, Voni pun menatap tajam kearah Bramono. Bola matanya yang indah dan berwarna kebiruan menatap tajam kearah orang yang di hormati di sekolah itu.


“Ada apa? kenapa kau memandangi Bapak seperti itu?”


“Nggak ada.”


“Lalu kenapa memandangi Bapak seperti itu? kau marah karena mendapat hukuman dari Bapak!”


“Nggak,” jawab Voni singkat.


“Bapak heran, kenapa ya anak sekuat dan sejago kamu, bisa pingsan saat menjalani hukuman yang tidak seberapa, dari Bapak.”


“Itu karena aku belum sarapan ketika berangkat sekolah tadi pagi.”


“Lalu kenapa di lanjutkan sekarang hukumannya? kan masih ada besok?”


“Aku nggak mau melanjutkannya besok, karena Bapak menghukum ku hari ini, maka akan ku jalani hari ini.”


“Bagus! kalau begitu lanjutkan sekarang!”


“Huuh…! dasar Kepsek brengsek!” gerutu Voni dengan suara setengah berbisik.


Mendengar kata Voni, langkah kaki Kepsek langsung terhenti dan diapun menoleh kebelakang, menatap tajam kearah Voni.


“Kamu bicara apa barusan?”


“Nggak ada, aku cuma mau menyanyikan lagu Indonesia raya.”

__ADS_1


“Kalau begitu, coba kau nyanyikan dengan keras.”


“Tapi suaraku sudah serak Pak, jadi nggak bisa keras.”


“Kalau nggak bisa keras, coba nyanyikan dengan pelan.”


“Maaf Pak. aku nggak hafal liriknya.”


“Kamu itu, udah berkata kotor pada Bapak Voni.”


“Ah, nggak.”


Mesti demikian Kepsek nggak pernah terpengaruh melihat sikap Voni yang menjengkelkan itu. Dia terus mengawasi Voni dalam menjalani hukumannya.


“Jika besok kamu berbuat jahat lagi pada guru mu, maka hukumanmu akan Bapak tambah, bahkan lebih berat dari yang ini.”


“Iya Pak.”


Saat memberi hormat pada tiang bendera, mata Voni menatap kesekeliling, dia melihat begitu banyak guru dan siswa lainnya menyaksikan hukuman yang sedang dia jalani.”


Ketika hukuman Voni hanya tinggal sepuluh menit lagi, tiba-tiba saja, pandangan matanya berubah, tubuhnya gemetar dan keringat dingin bercucuran. Bendera yang dia pandangi dan di beri hormat, seakan-akan bergerak menghampirinya.


Tak ingin terjadi sesuatu pada dirinya, Voni mencoba mengalihkan pandangan matanya ke yang lain, namun cahaya matahari telah membuat pandangan matanya menjadi gelap.


“Ya Allah!” teriak Voni seraya terjungkal kebelakang.


“Ada apa Voni?” tanya Kepsek seraya menyambut tubuh Voni yang hampir membentur batu.


“Mata hari itu dia datang menabrak ku!”


“Nggak ada matahari Voni, itu hanya halusinasi mu saja.”


Namun saat itu Voni sudah tak sadarkan diri, dia pingsan untuk yang kedua kalinya. Dengan sigap, Kepsek langsung menggendong tubuh Voni ke ruang Uks.


Melihat kejadian itu, ada yang merasa senang dan ada pula yang merasa sedih, sebagian lagi ada yang berbisik seraya mencibir kearah Voni yang tak sadarkan diri.


“Lagi-lagi anak seribu pulau itu masuk ke ruangan Uks,” tutur David senang.


“Nggak perlu seperti itu David, sekarang mungkin Voni yang mendapat hukuman, besoknya lagi belum tentukan, siapa tahu kamu yang mendapat hukuman yang sama.”


“Ah, nggak mungkin, kamu tahu sendirikan Voni seperti itu, karena kesalahannya sudah kelewat batas.”


“Apa pun alasan mu, nggak baik seperti itu pada teman sendiri.”


“Iya David, Takia benar, apapun alasannya kamu nggak boleh bicara seperti. Mungkin hari ini Voni yang ketiban sialnya, siapa tahu besok kau sendiri yang ke timpal hal yang sama.”


“Aaah, kalian ini! bela terus Voni, yang sudah menyusahkan kita semua!”


“Davit itu benar, kalian bela terus dia, padahal Voni itu udah bikin kita semua susah!” timpal Yerni.


“Ya udah! siapa tahu esok kalian yang ketiban sial, maka kami akan tertawa senang menyaksikannya,” ujar Cika sambil berlari keluar ruangan kelas.


Sementara itu di kelas lain, ketika Indah mendengar Voni kembali masuk ruang Uks, mereka bertiga langsung datang menghampiri ruangan tersebut.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


__ADS_2