Terjebak

Terjebak
Part 65 Keputusan Anum


__ADS_3

Setelah semua berkas di tanda tangani Voni, Bayu pun kembali ke perusahaan yang di pimpinnya. Akan tetapi sebelum dia ke perusahaan, Bayu menyempatkan diri mendatangi Luna terlebih dahulu.


“Ada Nyonya, Bi?”


“Ada kayaknya Om, lagi di kamar Voni.”


“Ngapain dia di kamar Voni?”


“Barang kali merenungi nasibnya yang lagi apes.”


Tanpa menunggu lama, Bayu langsung naik kelantai atas, saat itu Bayu melihat Luna sedang memandangi foto Voni yang terletak di atas meja rias.


“Nyah!” sapa Bayu pelan.


Hal itu membuat Luna kaget dan segera menaruh foto itu di atas meja, serta menghapus air matanya yang berderai.


“Kamu, kenapa datang nggak ngomong dulu pada Anum, kan saya bisa turun kebawah.”


“Nggak perlu Nyah, saya kesini, hanya mengabarkan ke pada nyonya, kalau Voni melakukan bunuh diri, dan saat ini dia sedang kritis di rumah sakit.”


Luna yang sudah terlanjur membenci putrinya dia pun berpura-pura tegar dan kuat, di hadapan Bayu Luna melihatkan keangkuhannya sebagai seorang Ibu yang sedang marah.


“Biarkan saja, bukan kah itu lebih baik untuknya?”


“Astaga Nyah, anak sedang meregang nyawa, Nyonya malah bicara seperti itu.”


“Lalu aku mesti gimana lagi, dilarang malaikat maut mencabut nyawanya!”


“Astagfirullah Nyah! kenapa Nyonya bicara seperti itu, Pamali!”


“Heh Anum, tahu apa kamu tentang rumah tanggaku, emangnya kau nyonya di rumah ini!” bentak Luna dengan kasar.


“Aku cuma kasih tahu Nyonya aja, kalau Non Voni itu adalah anak kandung nyonya sendiri!”


“Voni sudah lama mati di hati ku, Anum! jangan pernah kau sebut-sebut nama dia lagi di rumah ini.”


“Nyonya salah, justru Nyonya lah yang selama ini telah numpang tinggal di rumah Non Voni.”


“Diam kau Anum! apakah kau mau, ku usir dari rumah ini!”


“Terserah Nyonya! aku udah capek menghadapi majikan seperti Nyonya, kalau nyonya mau mengusir ku dari rumah ini, silahkan saja,” ucap Anum sembari pergi meninggalkan Luna dan Bayu.


Setelah Anum pergi, Bayu ingin sekali bicara pada Luna, tapi perempuan itu telah membalikan tubuhnya meninggalkan Bayu sendirian.


“Lalu kita mesti gimana Nyah?” tanya Bayu ingin tahu.


“Nggak ada, tunggu kabarnya aja!”


“Tunggu kabar apa Nyah?”


“Tunggu kabar kerandanya datang ke rumah ini.”


“Ya Allah, Ibu macam apa majikan ku ini, teganya dia berkata seperti itu pada putri kandungnya sendiri,” gerutu Bayu seraya mengerutkan keningnya.


Karena merasa tak suka dengan perbuatan Luna, Bayu berencana meninggalkan rumah itu, tapi ketika dia hendak keluar, Bayu melihat Anum keluar sembari menyeret koper di tangannya.

__ADS_1


“Kamu mau kemana Bi?” tanya Bayu ingin tahu.


“Aku bosan melayani majikan gila seperti dia, Om.”


“Jadi Kamu itu mau kemana?”


“Aku mau mencari Non Voni aja, biar aku merawat dia, Om.”


“Benar kamu mau merawat Voni?”


“Iya Om, aku janji akan merawat Voni seperti putri ku sendiri.”


“Emangnya kamu udah punya anak apa?”


“Ep! belum Om.”


“Ngawur kamu kalau bicara.”


“Jadi gimana Om, apakah kamu tahu di mana Non Voni tinggal?”


“Tahu, tapi untuk sementara waktu, Bibi tinggal dulu di rumah ku, nanti akan ku antar Bibi kerumah Non Voni.”


“Baik Om, baik.”


karena Bayu mau membantu Anum untuk bertemu dengan Voni, dia menurut saja apa yang di katakan Bayu padanya. dua hari setelah itu, Bayu menepati janjinya, dia mengantarkan Anum ke pada Voni.


Karena saat itu Voni sedang sekolah, Anum terpaksa menunggu Voni di luar kamarnya, walau saat itu Ranti telah menawarkan Anum untuk masuk kedalam dan beristirahat di ruang tamu, tapi Anum tetap tak mau.


Tiga jam duduk di luar kamar Voni, Anum baru tersenyum ketika dia melihat wajah majikannya yang baru datang.


“Bi Anum?”


“Bibi kapan datangnya?”


“Tadi, Om Bayu yang ngantar.”


“Baiklah, sekarang Bibi masuk dulu.”


“Baik Non.”


Ketika Anum memanggil Voni dengan sebutan Non, semua orang di kos itu merasa heran, karena yang biasa di katakan Non itu, adalah antara seorang majikan dengan pembantunya. Walau demikian mereka tak ada yang berani bertanya pada Voni.


Mulai hari itu Anum tak lagi mengurus semua keperluan Luna, tapi dia mengurus semua kebutuhan Voni sebagai majikannya yang baru.


Luna yang biasa hidup senang dan selalu mengandalkan Anum, dia merasa kesulitan untuk beraktifitas, Luna tak bisa mengerjakan apapun, bahkan untuk makannya sendiri Luna terpaksa membeli diluar.


“Dasar pembantu nggak tahu diri, udah di kasih hati minta jantung, kau kira mencari pekerjaan itu mudah Anum, rasakan hidup di luar sana!” gerutu Luna pada dirinya sendiri.


“Mama, Mama!”


“Iya sayang, ada apa?”


“Abi lapar.”


“Tunggu sebentar ya sayang, biar Mama pesan makanan dulu.”

__ADS_1


“Tapi Abi mau makan sekarang Ma.”


“Iya, Abi yang sabar, kan Mama mau pesan makanan.”


“Coba kalau Bi Anum disini, pasti pagi-pagi Abi udah di kasih makan.”


“Jangan sebut lagi, nama Anum di rumah ini, Mama nggak suka!”


“Tapi emang benar kan? kalau ada Bi Anum, pagi-pagi dia udah ngasih Abi makan.”


“Ya sudah, makanannya udah Mama pesan kan, sebentar lagi akan datang ke sini.”


“Tapi makanan yang semalam itu nggak enak Ma, Abi nggak suka!”


“Abi, kamu makan saja apa yang Mama pesankan ya, nggak boleh membantah.”


“Tapi makanannya nggak enak Ma, Abi nggak suka!”


“Kalau nggak suka, Abi nggak usah makan.”


“Tapi Abi lapar Ma.”


“Huuh! kau ini bikin Mama kesal Abi!”


“Mama yang ngeselin!”


Karena putranya tak suka dengan makanan online, Luna terpaksa harus masak sendiri, tapi Luna tak bisa apa-apa, masakannya malah semakin tak enak dan hangus.


“Masakan Mama justru lebih parah dari masakan luar!” teriak Abi seraya berlari menuju kamar Voni.


“Abi! kamu mau kemana nak?” tanya Luna ingin tahu.


“Abi nggak mau bicara sama Mama!”


Bersama Abi siang itu Luna pergi kekantor, untuk menjemput biaya rumah tangga, yang selalu di ambil setiap bulannya. Tanpa berfikir panjang Luna langsung saja masuk kedalam, akan tetapi di pos penjaga ke dua Luna di hadang oleh beberapa orang satpam.


“Ibu mau kemana?” tanya salah seorang satpam itu.


“Ya kedalam lah, kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Kami mendapat perintah dari pemilik perusahaan ini Bu, selain karyawan, tak ada yang boleh masuk kedalam.”


“Heh, kamu udah berapa hari menjadi satpam disini?”


“Udah delapan tahun Bu.”


“Udah delapan tahun, apakah selama delapan tahun itu kamu nggak pernah melihat wajah saya?”


“Pernah Bu.”


“Pernah, kalau begitu coba kamu katakan, siapa saya ini sebenarnya.”


“Ibu, adalah janda dari Bapak Sanjaya!”


“Hus! tolong kau jaga mulut mu, kalau mau bicara!”

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2