Terjebak

Terjebak
Part 42 Terperosok ke dalam jurang


__ADS_3

Di sekolah ternyata Nita telah menunggunya di parkiran, dia berjalan mondar mandir menanti kedatangan Voni, sesekali, Nita mencoba melirik kearah rumah kos Rendi.


Tak berapa lama kemudian Voni muncul dari sebuah gang sempit di belakang kos Rendi. Nita mulai tersenyum manis saat itu.


“Ada apa Nit? kenapa kau kelihatan cemas?”


“Voni, kau tahu kagak, kalau sekolah kita udah mengetahui tentang hubungan asmara mu dengan Bramono.”


“O ya? dari mana mereka tahu?”


“Aku nggak tahu, tapi semua orang mengetahuinya, aku kesal, kenapa kau nggak memberitahu aku Voni?”


“Aku yakin, suatu saat nanti, kau pasti akan tahu sendiri, itu sebabnya aku nggak memberitahukan hal itu padamu.”


“Alasan!”


“Aku serius Nit, itu bukan alasan ku.”


“Lalu bagai mana hubungan mu dengan Rendi?”


“Sebenarnya aku juga mencintai Rendi Nit, dia pria terganteng di sekolah ini, memiliki kulit putih, bola mata biru, lembut dan baik, gadis mana coba, yang tak tergila-gila pada pria seperti itu.”


“Kalau kau suka pada Rendi, lalu bagai mana pula dengan Pak Bram?”


“Itu masalahnya Nit, Bramono sangat penyabar, dia tak pernah berhenti membantuku dalam berbagai hal, dia bahkan selalu ada untuk ku.”


“Nggak bisa gitu dong Voni, kau harus tetapkan satu di antara mereka berdua.”


“Menurut mu, mana di antara kedua pria itu yang terbaik Nit?”


“Bramono, dia pria dewasa yang sangat sabar dan pengertian, saat dia berjalan di sampingku, aku mencium aroma yang sangat wangi sekali dari tubuhnya.”


“Gila kamu Nit.”


“Aku serius Von.”


“Baiklah, kalau begitu aku akan memilih Bramono untuk cinta sejati ku.”


“Mantap! kalau begitu kau langsung saja ke kantor Pak Tino, karena dia sangat marah saat kau cabut di mata pelajarannya tadi.”


“Ok. Benar Nit? kalau Pak Tino marah?”


“Benar anak nakal,” ledek Nita seraya pergi meninggalkan Voni.


Setelah Nita pergi, Voni langsung menuju kantor majelis guru, dia masuk kedalam dengan santai, lalu duduk di hadapan Pak Tino yang sedang mengerjakan tugasnya.


“Ada apa?” tanya Pak Tino pada Voni.


“Kok Bapak malah nanya, bukankah tadi Bapak yang menyuruh aku menghadap Bapak di kantor.”


“Kemana saja kamu? kenapa selalu cabut saat jam pelajaran Bapak?”

__ADS_1


“Ah, kagak! perasaan baru kali ini saya cabut.”


“Selalu saja membantah, nggak pernah mau mengaku.”


“Bapak ingat-ingat dong, bukankah rabu tanggal 2, saya hadir di mata pelajaran Bapak, lalu kenapa Bapak bilang saya nggak hadir.”


“Bapak nggak merasa kau hadir waktu itu.”


“Itu terserah Bapak.”


“Kalau begitu kau nggak usah mengikuti pelajaran IPS lagi bersama Bapak!”


“Kalau Bapak mau mempertanggung jawabkan nilai saya nggak merah, apa salahnya.”


“Voni, kau selalu saja melawan ucapan Bapak,” ujar Tino seraya menampar meja, sehingga guru-guru yang lain jadi terkejut.


“Bapak nggak perlu emosi gitu dong! kalau Bapak nggak sudi saya belajar dengan Bapak ya nggak apa-apa, tapi Bapak harus jamin nilai saya nggak merah.”


“jangan mimpi kamu!”


“Baik, akan saya laporkan Bapak ke kepala sekolah.”


“Silahkan di laporkan kejadian ini, pada kekasih mu itu.”


“Baik, kita lihat saja nanti.”


Setelah bicara, Voni langsung keluar dari ruangan itu, setelah Voni pergi tak berapa lama Bramono memanggil Pak Tino.


“Dia cabut setiap mata pelajaran saya Pak.”


“Lalu kamu marah?”


“Saya hanya kesal Pak, karena gadis itu selalu saja menjawab setiap kalimat yang saya ucapkan.”


“Bukankah kamu tahu sendiri, kalau Voni memang seperti itu dari dulunya, lalu kenapa hari ini mesti di permasalahkan?”


“Maafkan saya Pak, tadi saya terpancing emosi.”


“Menghadapi gadis yang bermasalah seperti Voni, kita harus sabar, nggak boleh emosi.”


“Iya Pak.”


“Mulai pelajaran selanjutnya, terima dia di jam mengajar mu.”


“Baik Pak.”


“Sekarang silahkan kembali ke ruangan mu.”


“Baik Pak.”


Di hadapan Bramono, Tino tak berkutik sama sekali. Tino tak ingin bramono memecatnya dan dia tak punya lagi pekerjaan.

__ADS_1


Siang itu, saat pulang dari sekolah. Voni bersama teman-teman yang lain, pergi ke hutan menemani Bu Ranti mencari kayu bakar. Biasanya Voni enggan untuk pergi, tapi kali ini Voni justru tak mau tinggal. Dia bersikeras untuk ikut pergi.


Saat sedang asik mencari kayu, tiba-tiba saja kaki Voni terpeleset dan dia masuk kedalam jurang.


Saat terjatuh dia berusaha menjerit untuk minta tolong, tapi Ranti dan teman-temannya yang lain tak mendengarnya sama sekali.


Setelah hari sore, mereka semua berencana untuk kembali pulang. Akan tetapi, ketika semua kayu sudah terikat rapi, Ranti tak melihat Voni ada bersama anak-anak yang lainnya.


“Astaga…! mana Voni?” tanya Ranti kaget.


Mendengar Ranti bertanya tentang Voni, barulah semua anak-anak sadar, kalau Voni tak ada bersama mereka.


“Ya Allah, padahal hari sudah hampir gelap, tapi kemana Voni, kok nggak kelihatan ya,” ujar Ranti cemas.


“Voni…! Voni…! Voni…!” Ranti bersama anak-anak lainnya berusaha mencari keberadaan Voni , namun gadis cantik itu tak kunjung datang menghampiri mereka.


Ranti merasa cemas dan takut, lalu dia mengajak yang lainnya untuk segera pulang dan melaporkan kejadian itu pada Bramono.


Tak perduli dengan kayu bakar yang di bawanya, Ranti terus saja bergegas menuju rumahnya, setibanya di depan rumah dinas Bramono, Ranti melihat pria itu sedang asik duduk tenang di depan rumah.


“Maaf Pak, ada berita buruk,” ujar Ranti menjelaskan.


“Ada apa Bu, kenapa Ibu bersama anak-anak kelihatan cemas?”


“Voni Pak.”


“Ada apa dengan Voni?”


“Voni menghilang di tengah hutan, saat ku ajak mencari kayu bakar.”


“Ya Allah, kenapa Ibu mengajak anak-anak mencari kayu bakar ke hutan? bukankah hutan sangat berbahaya untuk mereka.”


“Iya, saya tahu itu Pak, biasanya saya pergi ke hutan juga bersama mereka, tapi kali ini Voni minta ikut.”


“Sekarang anak-anak kembali ke kos kalian, biar Bapak bersama Bu Ranti dan anak-anak laki-laki yang akan mencari keberadaan Voni nantinya.”


“Baik Pak,” jawab anak-anak perempuan itu seraya berlarian pulang kembali ke rumah kos.”


Bersama Ranti dan beberapa orang siwa laki-laki lainnya, mereka kembali ke hutan untuk mencari keberadaan Voni.


Sementara itu Voni yang terjebak di dalam jurang, dia merasa kesulitan untuk bergerak, karena selain kakinya patah, tubuh Voni juga di lilit oleh akar berduri yang tajam.


Gadis yang terlihat kuat dan tegar itu tampak melemah dan menangis sedih sendirian di dalam jurang. Suasana sunyi dan mencekam serta di selimuti gelapnya malam membuat Voni teringat dengan kedua orang tuanya.


“Papa, Mama. Tolong aku,” rintih Voni seraya menangis sedih.


Lumpur hidup yang berada di bawah kakinya, seakan-akan selalu menarik kaki itu untuk masuk kedalamnya. Tapi Voni berusaha terus untuk tetap bertahan di lilitan akar berduri itu, agar dia tidak di telan oleh lumpur hidup yang berada di bawahnya.


Bersambung...


*Selamat membaca*

__ADS_1


.


__ADS_2