
Keesokan harinya, saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, Lesti minta izin pada guru sejarahnya untuk buang air, tapi setelah empat jam berjalan dia belum juga muncul. Intan sudah berulang kali menghubunginya namun ponsel Lesti tak aktif.
“Oh, Lesti. Kenapa kau nggak mengaktifkan ponsel mu? di manakah kau sekarang?” gumam Intan cemas.
“Ada apa Intan? kenapa kau kelihatan cemas?” tanya Voni heran.
“Lesti bolos hari ini, tapi setelah jam pelajaran usai, dia belum juga kembali ke kelas.”
“Apakah dia nggak ninggalin pesan?”
“Itulah masalahnya, nggak seperti biasa dia pergi diam-diam begini.”
“Barang kali dia pergi bersama pacarnya.”
“Ah nggak mungkin! setahu aku, dia itu belum punya kekasih.”
“Berarti kau ketinggalan informasi.”
“Kau tahu dari mana, kalau Lesti punya pacar Voni?”
“Aku tahu dari Indah, kalau kau nggak percaya, tanya sendiri sama Indah.”
“Benar Indah, kalau Lesti itu udah punya kekasih?”
“Iya.”
“Kenapa kau nggak ngasih tahu aku? pantasan kau tampak tenang dan santai aja.”
“Lesti itu udah lama punya kekasihnya Intan, udah hampir satu tahun malah.”
“Apa Iya? lagian kau tahu dari mana kalau Lesti punya kekasih?”
“Dari mulutnya sendiri.”
“Lalu kenapa di diam aja ya?”
“Emangnya semua rahasia harus masuk dulu ke kantong mu,” sindir Indah setengah mengejek.
“Bukan itu maksud ku, tapi apa salahnya kalau Lesti itu ngomong pada ku, kalau dia udah punya kekasih, bukankah kita ini satu kamar.”
“Sekarang kau baru bicara seperti itu, kemana aja selama ini Intan!”
“Maksud mu apa Indah?”
“Bukankah selama ini kau juga selalu merahasiakan hubungan mu dengan Pak Tino, lagian kami nggak marah kan? Kok kali ini kau jadi risih sendiri ya?”
“Ah, udah, udah! sekarang berhenti membahas masalah itu!” ujar Voni mengakhiri perdebatan mereka.
Di saat Indah dan Intan sedang berdebat, Lesti justru sedang asik-asikan memadu kasih dengan pria idamannya. Di sebuah gubuk tua di pinggir hutan, sepertinya gubuk itu telah di tinggal pemiliknya.
Bersama kekasihnya Heru, Lesti asik bercumbu mesra. Mereka berdua tak pernah berfikir, masa depan bagai mana yang akan mereka jalani nantinya. Demi cinta dan hawa nafsu, mereka sama-sama mengumbar hasrat mereka masing-masing.
“Heru, sepertinya sudah lebih satu tahun kita menjalin hubungan ini, tapi kau nggak pernah mengenalkan aku pada kedua orang tua mu. Apakah mereka tahu tentang hal ini?”
__ADS_1
“Tentu sayang, tentu. Bahkan mereka berdua sangat setuju sekali,” jawab Heru berbohong.
“Benarkah?”
“Iya.”
“Jadi kedua orang tuamu setuju kalau aku bakal menjadi istrimu nantinya?”
“Iya, sayang. Asalkan kau bersabar, semuanya pasti akan menjadi kenyataan.”
“Lalu apa tanggapan kedua orang tuamu?”
“Ya, seperti orang tua lainnya, mereka berdua tentu merasa senang.”
“Heru, jika saja aku hamil nantinya, apakah kau bersedia bertanggung jawab, atas janin yang ada di dalam rahim ku ini?”
“Tentu sayang, kau nggak perlu cemas, aku bukan seorang bajingan yang nggak bertanggung jawab.”
“Syukurlah, kalau begitu.”
“O iya sayang, gimana kalau kita kembali pulang. Lihatlah, sebentar lagi matahari akan tenggelam.”
“Baiklah, mari.”
Setelah Lesti selesai bekemas, lalu mereka berdua kembali ke kos masing-masing, saat tiba di depan kos, hari sudah mulai gelap, Lesti langsung saja masuk kedalam rumah dan mengganti pakaiannya.”
“Nggak mandi wajib dulu Lesti?” tanya Voni secara spontan.
“Apa maksudmu Voni?”
“Kau kira aku gadis murahan apa!”
“Aku nggak pernah menuduh mu sebagai gadis murahan, aku hanya sekedar mengingatkannya saja kan, selebihnya itu terserah mu.”
“Kurang ajar sekali mulutmu Voni.”
“Kalau kau merasa mulutku kurang ajar, kau tentu bisa mengajarnya kan?”
Lesti tahu, kalau Voni tak bisa di lawan, untuk itu dia hanya diam saja, dan mengambil selimut serta tidur dengan tenang.
Baru saja Lesti kembali, Intanpun telah menghilang entah kemana, Voni hanya bisa diam saja, karena sebelum itu Intan tak ingin Voni ikut campur urusannya.
Sambil duduk diam di dekat jendela, Voni menyulut sebatang rokok, di hadapannya ada sebotol minuman yang diminumnya secara berulang-ulang.
“Kau lagi minum apa Voni?” tanya Indah ingin tahu.
“Kau lihat aja sendiri.”
“Bukankah itu minuman keras? apakah kau ingin mati!”
“Tergantung pada takdir, Indah. Kalau takdir ku hanya sampai disini, maka aku akan segera pergi meninggalkan dunia ini, tapi kalau takdir ku masih jauh, maka saat aku bunuh diri pun, ada saja orang yang datang menolong.”
“Kenapa kau begitu ingin, mengakhiri hidup mu Voni?”
__ADS_1
“Apakah kau masih punya orang tua Indah?”
“Iya, mereka berdua masih hidup.”
“Bersyukurlah pada Allah, karena kau masih bisa mengenyam kasih sayang kedua orang tuamu.”
“Emangnya kau nggak punya orang tua lagi Voni?”
“Entahlah, apakah aku masih bisa mengatakan mereka hidup atau sudah mati.”
“Kenapa begitu?”
“Ah, sudahlah Indah, kau nggak akan tahu kehidupan ku yang sesungguhnya, setiap hari kau bisa melihat aku sehat dan nggak kurang apa pun, tapi sebenarnya aku sangat kesepian.”
“Kesepian? bukankah kau punya Bramono yang selalu menyayangimu Voni.”
“Bramono hanya orang lain Indah, bukan bagian dari orang yang ada di sisi ku setiap detik.”
“Apa maksud mu Voni, aku nggak mengerti?”
“Sudahlah, ceritanya lain kali saja kita bahas, sekarang aku mau tidur.”
“Baiklah Voni.”
Malam itu Voni benar-benar tertidur dengan lelap, dia tak keluar untuk begadang, sehingga para teman-teman prianya merasa kehilangan.
“Tumben Voni nggak keluar malam ini?” tanya Riki heran.
“Iya ya, nggak biasanya di nggak nongol.”
“Ada masalah kali!” seru Pendi.
“Setahu ku, anak itu memang bermasalah selama ini,” jawab Beno.
“Kok kau tahu dia bermasalah?” tanya Riki ingin tahu.
“Buktinya aja, dia suka mabuk dan bahkan melakukan bunuh diri, udah dua kali malah.”
“Iya ya, kasihan sekali nasibnya. Tapi kalau kita bertanya, dia selalu saja ngelak dan nggak mau menjawab.”
“Tapi aku yakin Ben, kalau Voni itu punya segudang masalah yang dia nggak bisa menyelesaikannya.”
“Mungkin juga seperti itu.”
Di saat mereka semua sibuk memikirkan Voni, gadis cantik itu justru telah tertidur dengan lelapnya, pagi hari ketika semua anak pergi ke sekolah, Voni justru tidur dengan lelap sekali.
“Kau nggak sekolah Voni?” tanya Indah heran.
Voni diam saja, dia tak menjawab pertanyaan yang di ajukan Indah kepadanya, karena Voni tak menjawab, Indah tak berani bertanya lagi, karena kalau dia masih bertanya, Voni pasti memarahinya. Untuk itu Indah dan yang lainnya langsung berangkat kesekolah.
Saat semua anak-anak telah berangkat ke sekolah, Bayu pun datang menemui Voni. Bayu heran melihat Voni masih tidur sementara semua teman sebayanya telah pergi menuntut ilmu.
Bersambung...
__ADS_1
*Selamat membaca*