
“Kenapa Ibu mesti Marah?”
“Karena suami saya itu bukan Sanjaya, tapi Tio, tuan Tio! kamu paham!”
“Paham Bu, tapi yang memiliki perusahaan ini bukan Tio, tapi Tuan Sanjaya, jadi Ibu silahkan keluar dari sini!” ujar Satpam itu seraya menarik tangan Luna.
“Kurang ajar kamu! apakah kau mau saya pecat!”
“Ibu nggak punya hak memecat saya, yang punya hak untuk memecat saya hanya Non Voni! karena saat ini perusahaan telah syah menjadi milik Non Voni.”
“Kurang ajar! siapa kau berani-berani menyebut nama Voni di hadapan ku!”
Mesti Luna marah tapi ketiga satpam itu tak memperdulikannya, dia tetap menarik paksa tangan Luna keluar dari gerbang itu.
“Kurang ajar kalian semua, berani-beraninya kalian memperlakukan saya seperti ini, di perusahaan suami saya sendiri!” teriak Luna kesal.
Karena di usir oleh ketiga satpam itu, Luna menjadi marah, untuk itu dia berniat akan menunggu Bayu di luar pagar bersama putra bungsunya.
Berulang kali mata Luna menatap tajam kearah perusahaan yang berdiri tegak di hadapannya, entah apa yang ada di dalam pikirannya saat itu, tapi dari cara pandang Luna, telah menggambarkan betapa sakitnya hati Luna pada Voni.
“Kau benar-benar kurang ajar Voni, kau perlakukan aku seburuk ini!” gerutu Luna kesal.
“Mama kenapa?”
“Ada apa sayang?”
“Mama kenapa kelihatan marah?”
“Karena Mama kesal sekali dengan ketiga satpam itu.”
“Kenapa mereka mengusir kita Ma?”
“Karena mereka itu nggak tahu apa-apa sayang.”
“Ooo, begitu.”
Lama Luna menunggu Bayu datang, sehingga Abi sudah merasa resah berada di dalam mobil, Abi menangis karena kepanasan. Tak berapa lama kemudian Bayu datang.
Dari kejauhan Luna menatap mobil Bayu dengan penuh amarah, Luna bahkan menghadang mobil Bayu yang sedang melaju kencang, untung saat itu Bayu dengan sigap menginjak gas dan menarik rem tangan.
“Plak!” sebuah tamparan langsung mendarat di pipi Bayu.
“Astaga, kenapa Ibu menampar saya?”
“Karena kamu nggak becus memimpin perusahaan saya.”
“Apa maksud Ibu?”
“Katakan pada seluruh bawahan mu, agar dia mau menghormati aku sebagai managernya disini.”
__ADS_1
“Ibu salah! karena yang menjadi pemilik perusahaan saat ini adalah Non Voni, bukan Ibu lagi, jadi Ibu jangan mengada-ngada.”
“Bayu! apa maksud mu itu?”
“Itu lah maksud yang sebenarnya.”
“Ya Allah! kenapa semua orang nggak ada yang peduli kepada ku!” jerit Luna histeris.
Melihat Luna menangis, lalu Bayu menghampirinya, dia mengajak Luna masuk gerbang itu dengan berjalan kaki. Bahkan saat itu Bayu tak memanggil Luna lagi dengan sebutan Nyonya.
“Coba Ibu perhatikan, perusahaan yang jumlahnya triliunan ini, saat ini telah jatuh ke tangan putri kandung Ibu sendiri, yaitu Voni, sedangkan Ibu nggak dapat apa-apa darinya. Malam sebelum Ibu meracuni tuang Sanjaya, dia menulis tangan surat wasiat itu sendiri.”
“Apakah saat itu dia telah mendapat firasat?”
“Iya, malam itu, Tuan memanggil saya ke ruang kerjanya, kalau malam itu dia merasakan sesuatu yang akan membahayakan dirinya, untuk itulah dia menulis surat itu.”
“Tapi kenapa dia nggak memberi aku harta sepersen pun, Bayu?”
“Karena Tuan Sanjaya sudah lama tahu tentang perselingkuhan Ibu dengan Bapak Tio.”
“Tapi dia nggak bisa seperti itu padaku Bayu, waktu itu aku ini kan masih menjadi istri sahnya dia?”
“Istri sah itu, jika dia nggak pernah tidur dengan lelaki lain Bu.”
“Kurang ajar! beraninya kau bicara seperti itu Bayu!” hardik Luna dengan mata melotot tajam ke arah Bayu.
“Aku mau menjemput uang bulanan ku!”
“Baik tunggu disini sebentar!”
“Nggak bisa! biar aku sendiri yang menjemputnya ke dalam.”
“Silahkan, kalau itu mau Ibu.”
Saat Luna berjalan, Bayu mengikutinya dari belakang, lalu Oktavia menyerahkan satu ikat uang kertas yang di masukan kedalam amplop berwarna coklat.
Ketika memegang uang itu, Luna merasa heran, karena uang itu terasa ringan sekali, saat di pegang. Lalu Luna mencari tempat yang aman untuk memeriksanya. Benar sekali dugaan Luna, ternyata uang itu tak sebanyak biasanya.
“Kurang ajar! siapa yang berani mempermainkan aku,” gerutu Luna seraya mendatangi Oktavia di mejanya.
“Apa-apaan kamu ini, biasanya saya selalu mendapat jatah bulanan sepuluh juta, kenapa sekarang jatah bulanan saya di kurangi?”
“Itu keputusan Non Voni Bu.”
“Keputusan Voni?”
“Iya Bu.”
“Kapan dia datang ke sini?”
__ADS_1
“Beberapa minggu yang lewat Bu.”
“Kurang ajar! kebijakan apa saja yang telah dia terapkan di perusahaan ini?”
“Nggak ada Bu, Non Voni hanya bilang, kalau omset penjualan kita sedang menurun saat ini, jadi jatah belanja Ibu perbulannya harus di kurangi.”
Tak terima dengan semua itu, Luna langsung naik kelantai atas untuk menemui Bayu. Luna benar-benar merasa sial hari itu, bukan hanya Anum yang meninggalkan dirinya, jatah belanjanya pun di kurangi saat itu.
“Bagai mana Ini Bayu, apakah kau nggak becus memimpin perusahaan ini?”
“Ibu! kenapa Ibu masuk keruangan saya tanpa permisi dulu!”
“Buat apa? emangnya kau pemilik perusahaan ini, hah!”
Bayu diam saja, ketika Luna memarahinya, Luna tak terima jatah bulanannya di kurangi, dia bahkan memaki-maki Bayu yang sedang bekerja di ruangannya.
Tak mau di buat sibuk oleh Luna, Bayu memanggil sekuriti untuk membawa Luna turun ke bawah. Dengan terpaksa, Luna langsung pergi dari perusahaan itu, dia menemui pengacaranya, untuk bisa mengusut kembali masalah warisan yang di berikan Sanjaya ke pada Voni.
“Kita udah kalah Bu, surat wasiat yang di tulis tangan oleh Sanjaya itu, sah di badan hukum. Ada materai dan ada tanda tangan Sanjaya yang aslinya.”
“Ya usaha dong Pak! setidaknya, saya mendapatkan sebagian dari harta itu.”
“Nggak bisa Bu, saya udah menolak.”
“Saya mohon, tolonglah saya Pak, kalau saya nggak mendapatkan warisan itu, lalu bagai mana dengan nasib anak saya ini?”
“Kenapa Ibu nggak datang aja ke pada Voni, dia itu kan putri Ibu?”
“Saya udah nggak sudi punya anak seperti dia Pak.”
“Ibu itu salah, mesti seburuk apapun kelakuannya, dia itu tetap putri Ibu, karena ada darah Ibu yang mengalir dalam tubuhnya.”
“Saya udah nggak sudi punya anak seperti dia Pak, biarlah darah yang mengalir dalam tubuhnya itu saya Ikhlaskan.”
“Terserah Ibu, yang penting saya sudah mengingatkan Ibu.”
“Lalu bagai mana dengan tuntutan kita itu Pak?”
“Saya menolaknya Bu, Ibu cari saja yang lain, yang bisa menggugatnya.”
“Wah! dasar pengecut, hanya segitu ternyata kemampuan Bapak.”
Tak ingin meladeni Luna yang sedang marah, pria itu langsung pergi meninggalkan Luna begitu saja. Karena tak mendapat respon sama sekali dari pengacaranya, Luna memutuskan untuk mencari pengacara baru yang bisa memenangkan persidangan itu.
Berbagai cerita di karang Luna sedemikian rupa, agar pengacara barunya bisa membantunya memenangkan kasus itu.
Bersambung...
*Selamat membaca*
__ADS_1