Terjebak

Terjebak
Part 100 Ditahan


__ADS_3

“Selamat malam Pak.”


“Selamat malam, ada apa ya?”


“Kami dari kepolisian, ingin melihat mobil Bapak.”


“Kenapa polisi ingin melihat mobil saya?”


“Karena kejadian tabrak lari dimalam selasa itu, mobilnya mirip sekali dengan mobil Bapak.”


“Tapi, malam selasa itu, mobil kami ada di garasi.”


“Nanti saja Bapak jelaskan, sekarang tunjukan di mana mobil Bapak itu.”


“Ada di garasi. Tapi, apakah Bapak punya surat perintah?”


“Ada Pak, ini surat perintah untuk menyelidiki mobil Bapak.”


Walau saat itu jantung Aswadi berdebar begitu kuat, tapi dia tak mau menampakkan pada petugas polisi itu, kalau hatinya benar-benar takut sekali malam itu.


Dengan pelan, Aswadi membuka pintu garasi mobilnya, untuk memperlihatkan pada petugas polisi memeriksa mobilnya.


Mobil pun di geledah termasuk isi dan bagasi, semua tampak biasa-biasa saja, lalu petugas beralih pada body mobil yang terlihat sedikit kotor dan penuh debu.


“Udah berapa minggu mobil ini nggak di jalankan Pak?” tanya petugas itu.


“Ooo, udah lebih satu bulan Pak.”


“Lebih satu bulan ya?”


“Iya Pak.”


Melihat kondisi mobil yang berabu, polisi yakin sekali, kalau mobil itu tak pernah di manfaatkan dalam waktu satu bulan itu, tapi ketika polisi memotret, nomor kendaraan mobil, polisi melihat ada sdikit bercak darah di sudut bawah mobil, ada bekas goresan dan ada rambut seseorang menempel di situ.


Lalu polisi mengambil temuannya itu dan menjadikannya barang bukti, bukan hanya itu saja, polisi juga mencocokkan DNA yang ada di mobil dengan DNA Voni.


Setelah semua polisi itu pergi, Aswadi keluar dari dalam garasi mobilnya, Aswadi terlihat panik sekali saat itu.


“Gimana Bang, apakah mereka udah pergi?” tanya Fitri tak sabar.


“Kelihatannya begitu.”


“Apakah dia menemukan sesuatu?”


“Nggak, aku nggak melihat mereka menemukan apapun di dalam mobil kita.”


“Dia nggak curiga kan Bang?”


“Nggak.”

__ADS_1


“Kan udah ku bilang hari itu pada Abang, kalau aku nggak pernah menabrak Voni, tapi Abangnya saja yang nggak percaya.”


“Iya-iya, sekarang aku percaya deh.”


Karena menurut Fitri polisi tak berhasil menemukan barang bukti dan tanda yang mencurigakan di mobilnya, hati Fitri menjadi tenang. Bukan hanya Fitri yang merasa tenang, Aswadi juga merasakan hal yang sama.


Siang itu saat Aswadi mengajar di kelas 3B, dia kedatangan tamu yang tak di undang, empat orang polisi mendatanginya dan langsung memborgol tangan Aswadi. Sementara itu empat erang polisi juga mendatangi kediaman Fitri dan menangkap Ibu dari dua orang anak itu.


“Lepaskan, sebenarnya salah saya apa sih?” tanya Aswadi heran.


“Benar! beri tahu kami dong, salah kami ini apa?” teriak Fitri seraya meronta-ronta minta di lepaskan.


“Salah kalian, kalianlah tersangka yang telah melakukan tabrak lari itu.”


“Hah! siapa bilang kami yang melakukan tabrak lari!” teriak Aswadi keras.


“Semua bukti telah mengarah pada kalian, masih juga membantah!”


Karena guru mereka di tangkap, seluruh anak-anak berlari dan menyaksikan penangkapan yang di lakukan polisi di depan mata mereka.


“Bapak Aswadi kenapa di tangkap sih?” tanya Wulan pada Nita.


“Kabarnya, merekalah yang menabrak Voni malam itu.”


“Ooo, jadi yang menabrak Voni, malam itu dia?”


“Iya.”


Sampai Aswadi bersama Fitri mereka bawa dengan menggunakan mobil, seluruh siswa dan guru, hanya bisa melihatnya dari kejauhan.


Setelah penangkapan keduanya berhasil, lalu beberapa orang polisi datang ke rumah sakit, untuk mengabarkan pada Bramono dan Voni, bahwa orang yang menabrak mereka telah di temukan.


“Baiklah Pak, nati sore saya akan kekantor untuk melihat langsung siapa pelakunya.


“Baik Pak.”


Siang itu setelah Voni di izinkan keluar dari rumah sakit, mereka berdua langsung menuju kantor polisi, untuk melihat siapa pelaku tabrak lari itu.


Lama Bramono dan Voni duduk di kantor polisi tersebut, menunggu kedatangan Aswadi dan Fitri. Beberapa saat kemudian, mereka berdua pun keluar dari dalam tahanan dengan pengawasan polisi.


Betapa terkejutnya Bramono dan Voni, ternyata orang yang telah menabraknya tak lain adalah gurunya sendiri.


“Ya Allah! ternyata Bapak yang telah menabrak aku?” tanya Voni kaget.


Aswadi diam saja, saat itu dia hanya bisa menundukkan kepalanya, rasa malu pada Bramono dan Voni, membuatnya tak dapat bicara apa-apa.


“Sebenarnya bukan Bapak pelakunya Voni?”


“Kalau bukan Bapak, lalu siapa pelakunya?”

__ADS_1


“Ibu pelakunya Voni,” jawab Fitri pelan.


“Ibu? jadi Ibu yang menabrak ku malam itu?”


“Ibu nggak sengaja melakukannya Voni, karena setir mobil itu terasa liar sekali Ibu pegang, jadi nggak sengaja Ibu menabrak mu.”


“Ibu nggak lagi sedang berbohong kan?”


“Nggak Voni!”


“Tapi, kenapa aku nggak percaya ya, kalau malam itu Ibu nggak sengaja menabrak aku, setahu ku, setelah aku di tabrak, aku masih sadar saat itu, Ibu sempat keluar dan melihat kondisi aku, bahkan Ibu sempat bicara sesuatu.”


“Bicara apa Von?” tanya Bramono ingin tahu.


“Katanya, mampus kamu, itu makanya jadi anak jangan suka menyusahkan orang, tahu sendiri akibatnya. Kemudian pengemudi mobil itu pergi dengan santai tanpa memperdulikan aku.”


“Benar seperti itu Bu?” tanya Bramono ingin tahu.


“Itu nggak benar Pak, Voni telah berbohong, saat aku nggak sengaja menabraknya, aku begitu panik dan berusaha untuk menstater mobil itu agar segera pergi.”


“Kenapa Ibu mesti pergi, bukankah Ibu habis menabrak orang?”


“Iya, aku memang pergi, dengan tujuan untuk meminta bantuan.”


“Kalau Ibu nggak bisa berbohong, jangan pernah Ibu mencari-cari kalimat untuk berbohong, terus terang saja kenapa sih!” ujar Voni yang mulai tersulut emosi.


“Tapi aku berkata jujur Voni!”


“Ibu nggak perlu membentak ku!”


“Udah-udah, mungkin karena Ibu lagi panik, makanya dia bicara seperti itu Voni,” jelas Aswadi saat itu.


“Pak, Ibu itu bukan panik, tapi dia berusaha terus untuk menutupi semua kesalahan yang dia lakukan, untuk dapat keluar dengan bebas dari masalah yang telah dia buat sendiri.”


Aswdi tak bisa berbuat apa-apa, karena dia tahu, siapa Voni, sebelum kebenaran terungkap gadis cantik itu nggak akan pernah berhenti bicara.


“Ya udah, kalau nggak begini saja Von, kalau memang Ibu bersalah, dan melakukan tindakan tak bermoral itu.”


Belum selesai Aswadi bicara, Fitri yang merasa suaminya telah menghina dirinya di hadapan Voni, tak terima dengan perkataan yang mengatakan dirinya tak bermoral.


“Maksud mu apa sih Bang? siapa yang nggak bermoral itu, aku atau gadis nakal ini?”


“Fitri! Diam dulu kamu!” bentak Aswadi kasar.


“Aku nggak bakalan diam, kalau kau mengatakan aku perempuan yang nggak bermoral.”


“Heh Fitri! tadi aku hanya mengatakan kalau tindakan mu yang tak bermoral bukan kamu nya!”


“Ah…! Itu sama doang!” celetuk Fitri kesal.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2