Terjebak

Terjebak
Part 68 Keberanian Voni


__ADS_3

“Hei sayang, kamu udah datang?” tanya Bramono seraya mencium kening Voni.


“Undangan siapa ini Bram?”


“Pak Tino, apakah kamu nggak mendapatkannya?”


“Nggak! emangnya Pak Tino mau menikah dengan siapa?”


“Katanya, dengan gadis pilihan orang tuanya.”


“Itulah yang ku takutkan terjadi di antara kita nanti, setelah hatiku berlabuh dengan mulus di lubuk hati mu, lalu kau menerima pinangan gadis lain.”


“Voni, kamu itu bicara apa sih?”


“Jika hal itu terjadi pada diri ku, maka itu akhir kau akan melihat aku di dunia ini,” ujar Voni seraya dia berlari keluar rumah.


Melihat Voni berlari dan meninggalkan dirinya, Bramono menjadi heran, seraya duduk di atas sofa, Bramono terus berfikir tentang ucapan Voni itu.


“Kenapa ya, Voni bisa berfikiran seperti itu?” seraya menarik nafas panjang Bramono terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Tak habis pikir, Bramono langsung memanggil Voni di kelasnya, saat itu jam pelajaran telah usai dan semua siswa telah meninggalkan kelasnya masing-masing.


“Voni! kau di panggil Kepsek tuh!”


“Ada apa Nit?”


“Dia nggak ngomong apa-apa?”


“Ya udah, nanti aku kesana.”


“Kalau begitu aku duluan ya?”


“Iya.”


“Sampai jumpa besok.”


Voni tersenyum manis saat Nita melambaikan tangannya. Mesti semua orang banyak yang tak menyukai dirinya, tapi Nita selalu ada untuk Voni, kapan pun dia inginkan.


“Katanya kamu memanggil ku, Bram?”


“Kamu bicara apa sih, pagi tadi, aku jadi semakin nggak ngerti?”


“Kau nggak bakalan mengerti Bram, sebelum hal itu kau lakukan sendiri nanti nya.”


“Bukankah aku telah berjanji padamu, nggak akan menikahi gadis lain selain dirimu!”


“Itu sekarang Bram, tapi belum tentu nanti kan?”


“Sayang, kau jangan buat aku bingung deh,” ucap bramono mencoba menghalangi Voni yang hendak meninggalkannya.


Melihat hal itu, Voni langsung memeluk tubuh kekasihnya itu dengan lembut. "Seperti gadis lainnya, aku juga takut kehilangan mu Bram.”


“Siapa yang akan meninggalkan mu sayang?”

__ADS_1


“Seperti Pak Tino, yang saat ini hendak menikah, dia bahkan mencampakkan Intan yang telah mencintainya.”


“Jadi Pak Tino menjalin hubungan dengan Intan?”


“Bahkan pria gila itu juga telah merenggut kesucian Intan Bram.”


“Dari mana kau tahu Voni?”


“Empat hari yang lewat Intan datang ke rumah kos ku.”


“Apa yang Intan inginkan dari mu?”


“Keadilan!”


“Bapak mohon, jangan membuat onar di pernikahan nya sayang?”


“Kita sama-sama lihat nanti.”


“Apa yang akan kau lakukan disana?”


“Nggak perlu tegang Bram, nanti kau akan melihat sendiri apa yang akan ku lakukan disana nantinya,” ucap Voni seraya melangkah pergi meninggalkan Bramono.


Saat itu Bramono hanya bisa mengusap wajahnya dengan kasar. Dia takut, kalau Voni jadi nekad dan membuat pesta pernikahan Tino menjadi kacau.


Seperti janji Voni pada Intan, tepat di hari pernikahan Tino, Intan dan Voni datang kerumah itu. Voni yang selalu menggandeng tangan Intan, duduk tepat di kursi yang ada di hadapan Tino yang akan menikah.


Ketika mempelai wanitanya akan duduk di sebelah Tino, Voni menyuruh Intan duduk di sana, semua orang menjadi heran dan terkejut menyaksikan kejadian itu.


“Voni, Intan? apa-apaan ini?” tanya Tino heran.


“Apa maksudmu Voni?”


“Kau ingin tahu maksud ku? apa perlu ku buka panjang lebar semua rahasia yang kau punya?”


“Oh jangan!”


“Maaf, ada apa ya nak?” tanya seorang pria pada Voni.


“Bapak ini, siapa ya?”


“Bapak orang tua gadis ini, yang sebentar lagi akan menjadi mempelai wanita saudara Tino.”


“Bapak salah orang, Pak Tino bukan pria baik-baik.”


“Voni! teriak Tino dengan suara lantang. “Apa maksud mu mengatakan aku bukan pria baik-baik?”


“Pertama, kau memberi Lesti uang lima juta rupiah untuk melakukan aborsi.”


“Hah! siapa yang melakukan aborsi nak?” tanya Ibu dari perempuan itu.


“Temanku, apakah dia itu kekasihnya Tino?”


“Kalau Tino nggak jadi menikahi gadis ini, maka sebentar lagi Tino akan melakukan hal yang sama, menyuruh gadis ini melakukan aborsi, sama dengan gadis sebelumnya.”

__ADS_1


“Apa maksud semua ini Tino?” tanya pria tua itu seraya menampar wajah Tino.


“Pak dengarkan dulu penjelasan saya!”


ujar Tino seraya ingin mengejar pria itu.


“Hep! Bapak mau kemana?” tanya Voni seraya memegang pergelangan tangan Tino.


“Bukan urusan mu!”


“Mulai saat ini semuanya menjadi urusan ku. Ingat Tino, yang pantas untuk kau nikahi itu adalah Intan, karena dia telah mengorbankan kesuciannya untuk mu.”


“Tapi aku mencintai gadis itu, bukan Intan!”


“Nggak akan ada lagi cinta, Tino. Jika kau nggak mau menikahi Intan, maka akan ku sebarkan ke seluruh daerah ini, kalau selama ini kau telah memperkosa siswi mu sendiri.”


Di hadapan penghulu dan di depan orang banyak, Tino tak dapat berbuat apa-apa, mesti saat itu Voni bicara pelan tapi semua rahasia Tino telah di bongkar, tanpa ada yang dia tutup-tutupi lagi.


“Kau benar-benar keterlaluan Voni, puas kau telah mempermalukan aku!”


“Emangnya, kau merasa aku permalukan ya?”


“Kau gadis stres! kau sakit jiwa!”


“Emang benar, kenapa? apakah ada masalah?”


Seraya mengusap rambutnya dengan kasar, Tino hanya bisa duduk diam di sudut rumahnya, semua tamu yang memandanginya hanya bisa mencibir. Suasana yang tadinya ceria berubah menjadi kacau.


“Sekarang pergi kau dari sini Voni!” ujar Tino kesal.


“Nggak akan, aku nggak bakalan pergi, sebelum Bapak menikahi Intan secara resmi di hadapan penghulu.”


“Tapi dia itu masih sekolah Voni!"


“Percuma sekolah, kalau masa depannya telah Bapak hancurkan.”


“Masa depan apa yang telah ku renggut darinya, Voni?”


“Kesuciannya!”


“Sebelum aku tidur dengannya dia juga nggak gadis lagi kok.”


“Kurang ajar, kau berkata bohong Tino, kau emang laki-laki bejat!” teriak Intan seraya menampar wajah Tino di hadapan orang banyak.


“Bapak itu seorang guru, seorang tenaga pendidik, memberi contoh bagi seluruh siswa siswi di sekolah ini, tapi Bapak nggak mencerminkan diri sebagai pendidik sedikit pun, yang pantas di juluki orang seperti Bapak hanya kata-kata bajingan.”


Mau tak mau, di hadapan semua orang, akhirnya Tino terpaksa menikahi Intan, dengan linangan air mata, Maya hanya bisa pasrah menyaksikan calon suaminya menikahi gadis lain.


Setelah mereka berdua resmi menikah, Intan pun kembali ke rumah kosnya, tapi setelah Intan dan Voni pulang, Tino melangsungkan pernikahannya dengan Maya di hadapan penghulu yang sama.


Entah apa yang telah di katakan Tino pada mereka, hingga semuanya percaya begitu saja pada perkataan pria yang tak bermoral itu.


Voni sama sekali tak tahu, kalau Tino bisa berbuat senekat itu, bahkan Voni sendiri tak mengetahui hal itu. Keesokan harinya, Voni melihat Intan mendatangi rumahnya kembali seraya menangis dan bermohon.

__ADS_1


Bersambung...


*Selamat membaca*


__ADS_2