
Saat Voni sedang asik menikmati bakso pesanannya, tiba-tiba dari arah samping Bramono datang, dia duduk di sudut kantin tepat di belakang Voni.
Nita yang berada di hadapan Voni melihat jelas kedatangan Kepsek, tapi dia hanya diam saja, karena saat itu mata Bramono telah memberi kode pada Nita.
Seraya menikmati baksonya dengan pelan, sebenarnya Nita ingin berbisik pada Voni, kalau di belakangnya ada Kepsek yang sedang duduk.
“Von, Voni!” bisik Nita dengan suara yang sangat pelan sekali.
Saat Nita berbisik, Voni sepertinya tak mengindahkan ucapan Nita, dia malah menjawabnya dengan suara keras, sehingga seisi kantin jadi terdiam.
“Apa sih Nit, kamu itu ya, nggak bisa tenang dikit napa sih!”
“Cepat tinggalkan bakso mu, nanti kepsek bisa marah.”
“Kamu tenang aja Nit, kalau Bramono itu marah, maka akan ku beri dia sebuah ciuman yang menakjubkan, sehingga dia bisa diam dan nggak bersuara lagi.”
Mendengar bualan Voni itu, semua anak-anak yang ada di dalam kantin tertawa cekikikan, sehingga tanpa di sadari mereka, Bramono langsung berdiri.
“Astaga Voni! kamu udah gila ya?”
“Gila kenapa?”
“LIhat di belakang mu!”
“Emangnya siapa yang berada di belakang ku?” tanya Voni seraya memalingkan wajahnya kearah belakang.
“Ya ampun, apakah dia mendengarnya Nit?”
“Entahlah Von, tapi aku yakin dia pasti mendengarnya,” jawab Nita pelan.
“Matilah aku, Nit…!”
Saat itu Bramono sudah berada tepat di belakang Voni dan memegang bahu gadis itu dari belakang. Voni yang merasa bersalah mencoba menoleh dengan pelan kearah Bramono. Semua mata tampak tertunduk ketakutan saat itu.
“Astaga! Bram?”
“Udah selesai membualnya?”
“Udah Pak!”
“Dasar nakal, ikut Bapak ke kantor!” ujar Bramono seraya menarik paksa tangan Voni dengan kuat.
“Aduh! sakit Pak!” jerit Voni yang merasa tarikan Bramono telah menyakiti tangannya.
“Tahan kan aja sendiri, ternyata kamu pintar membual juga, kalau di belakang Bapak?”
“Maaf Pak, aku nggak sengaja!”
__ADS_1
“Nggak sengaja apanya?”
“Tapi tunggu sebentar Pak, baksonya kan belum di bayar.”
“Nanti aja di bayarnya!”
“Hei teman-teman, baksonya bayar sendiri ya? itu hukuman untuk kalian yang telah tutup mulut!” teriak Voni.
Semua murid yang berada di dalam kantin hanya terpana melihat Voni di tarik oleh Bramono, pemilik kantin yang menyaksikan kejadian itu justru tertawa karena lucu.
“Ibu, kok ketawa sih, apa ada yang lucu?” tanya Nita heran.
“Nggak lucu gimana? coba kamu lihat, gadis yang paling jago di sekolah ini, ternyata ciut di hadapan kepala sekolah.”
“Iya juga sih! tapi Voni itu kan kekasihnya Bramono?”
“Itu sebabnya, dia takluk di hadapan pria lembut itu.”
“Voni, Voni! akhirnya kamu kena batu juga!” gumam Nita pelan.
“Hei teman-teman! gimana nih, aku lagi nggak punya uang!” ujar Santi cemas.
“Biar aku yang bayarkan nanti.”
“Aku gimana Nit, aku juga nggak punya uang,” kata Jihan.
“Aku hanya bawa uang dua puluh, kalau kau aku bayarkan, lalu aku gimana nanti!”
Karena Voni telah di panggil ke kantor, akhirnya mereka membayar baksonya masing-masing. Di dalam ruangan Bramono, Voni tampak duduk diam tak bicara.
Bramono hanya memandanginya dengan tatapan mata tak berkedip sedikit pun. Voni merasa begitu risih sekali, ingin rasanya dia berlari keluar, tapi dia tak berani.
“Kenapa diam? nggak membual lagi?”
“Nggak Pak.”
“Apa kamu nggak malu, kalau semua orang mengetahui hubungan kita?”
“Nggak, kenapa aku mesti malu. Seharusnya aku bangga dong, punya kekasih Bapak.”
“Bangga apanya, dengan cara bualan mu tadi, sama artinya kamu mempermalukan Bapak di hadapan semua teman-teman mu.”
“Maaf, aku ngaku salah, lain kali aku nggak bakalan membual lagi deh!” ujar Voni seraya bersimpuh di hadapan Bramono.
“Kamu selalu saja begitu, dengan mudahnya meminta maaf, lalu kamu buat kesalahan baru, yang bahkan lebih parah dari ucapan maaf sebelumnya.”
“Bapak kan tahu sendiri, kalau manusia itu sering berbuat khilaf! udah, jangan di pendam di dalam hati deh, maafin aja kenapa sih?”
__ADS_1
“Hei, yang mau di maafin itu kamu lho, kok kamu pula yang bicara seperti itu.”
“Kalau aku nggak bicara seperti itu, apa Bapak mau memaafkan aku?”
“Aduh Voni! Voni! kamu bikin Bapak emosi tahu nggak!”
“Kalau Bapak emosi, lampiaskan aja pada ku, aku siap kok, menanggung kemarahan dari Bapak.”
Voni memang polos, kata-kata yang terucap dari mulutnya membuat orang lain tak bisa berkutik. Akan tetapi, kata-kata yang keluar dari mulutnya itu, hanya bisa di mengerti dan di pahami oleh orang-orang tertentu saja.
“Berdirilah!”
Bramono yang tak tega dengan kelakuan kekasihnya itu, langsung memeluknya dengan lembut, dia bahkan tak dapat melihat celah lain yang membuat hatinya marah.
“Bapak udah memaafkan aku?”
“Iya sayang.”
“Makasih, aku janji nggak akan membual lagi.”
“Iya,” jawab Bramono seraya menahan air matanya yang hendak menetes.
Voni yang melihat air mata Bramono menggenangi sekitar bola matanya yang indah mencoba untuk bicara dengan lembut.
“Nggak usah di tahan, kalau Bapak ingin menangis, menangis aja di pelukan ku.”
“Oh…!” dada Bramono terasa begitu sesak, bahkan untuk satu katapun dia tak dapat mengucapkannya.
Di samping kemarahan yang dia miliki, Bramono juga mempunyai kasih sayang yang tak terhingga terhadap Voni, bahkan dia rela melakukan apa saja untuk membela gadis yang sangat dia cintai itu.
Voni memang nakal dan suka berbuat onar di sekolah, mau pun di luar sekolah. Tapi itu merupakan ujian tersendiri bagi Bramono dalam menjalin asmara dengannya.
Dari sisi buruk yang di miliki Voni, Bramono menemukan sisi lain yang tak di miliki banyak gadis seperti dia, mesti terpuruk namun Voni masih berkeinginan membela dan membantu orang yang membutuhkan uluran tangan darinya.
“Ingat! besok kita akan melakukan perlombaan olimpiade Bahasa, persiapkan dirimu baik-baik, jika nggak siap, maka oranglah yang nantinya akan beruntung.”
“Iya Pak.”
“Bapak percaya kok sama kamu, kau pasti mampu memberikan yang terbaik untuk sekolah kita.”
“Insya Allah, Pak. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk sekolah kita.”
Setelah mereka selesai bicara, lalu Voni di izinkan Bramono untuk kembali ke ruangannya, dia sangat senang sekali, karena Bramono mau memaafkan semua kesalahan yang telah dia lakukan.
Malam harinya, semua keperluan Voni telah di persiapkan oleh Anum, perempuan itu tak pernah menyia-nyiakan anak asuhnya, mesti Voni sudah remaja. Namun bagi Anum, Voni tetaplah gadis kecil yang selalu berlari dan bermain bersama dengannya.
Keesokan harinya, Voni dan Bramono langsung berangkat menuju kota, tempat mereka mengadakan olimpiade. Suasana di atas mobil terlihat tenang saat itu.
__ADS_1
Bersambung...
*Selamat membaca*