Terjebak

Terjebak
Part 85 Kekacauan


__ADS_3

“Kalau aku nggak mau pindah, kenapa?”


“Jangan gitu, nanti kalau aku kasar, kau pasti merasa marah dan kesakitan.”


“Jangan sok jago kamu!”


“Aku bukan sok jago, tapi kalau kau nggak mau pergi dari sini, maka akan ku…!” belum selesai Voni bicara, lalu...


“Hei! itu kenapa?”


“Dia Bu, di ambilnya bangku tempat duduk ku.”


“Benar kamu mengambil tempat duduknya?”


“Kalau iya kenapa?”


“Siapa namamu?”


“Daniati.”


“Dari SMA mana kamu berasal.”


“SMA Negeri 2.”


“Bapak pembina yang pesertanya berasal dari SMA Negeri 2, tolong datang ke gedung perlombaan!” ujar panitia dengan menggunakan pengeras suara.


“Saya Buk, saya guru pembimbing Daniati.”


“Suruh anak didik Bapak mencari tempat duduknya sendiri.”


“Tapi nomor lot, murid saya, sama dengan nomor lot kursinya Bu.”


“O ya?”


Lalu nomor lot Daniati di cocokan dengan nomor lot Voni, ternyata Daniati salah memasang nomor lot nya, sehingga letaknya terbalik.


“Bapak lihat kodenya?”


“Iya Bu.”


“Kode nomor ini, di letakkan sebelah atas, berarti anak didik Bapak menggunakan nomor lot terbalik.”


Merasa malu, lalu Daniati berdiri seraya menendang meja sekaligus kaki Voni, hingga dia terhuyung ke belakang.


Panitia yang melihatnya hendak memberi peringatan, tapi dia terlambat, karena Voni telah terlebih dahulu memukul wajah gadis itu.


Perkelahian pun tak dapat di elakan lagi, Daniati langsung meradang dan dia memukul Voni dengan tangan kanannya dengan kuat, untung saat itu Voni sempat mengelak, sehingga Daniati tersungkur kedepan.


Di saat bersamaan, Bramono datang dan menarik tangan Voni, hingga gadis itu berada di belakangnya.


“Ada apa ini Bu? kenapa mereka bisa bertengkar?” tanya seorang kepala sekolah pada panitia tersebut.


“Dia yang memulainya!” teriak Daniati dengan suara keras.


Voni diam saja, karena saat itu Voni takut, kalau Bramono akan memarahinya, sebab telah berbuat onar di perlombaan.

__ADS_1


“Benar kamu yang salah Voni?”


“Bukan! dia yang telah merebut tempat duduk ku, dia juga yang telah menendang kursi dan kaki ku pertama kali.”


“Bohong! bisa-bisanya kau membela diri, dalam situasi seperti ini hah!” bentak gadis itu kasar.


“Murid ku nggak suka berbohong, kalau dia berkata seperti itu, maka itulah yang telah terjadi.”


“Jadi Bapak menyalahkan murid ku?”


“Aku nggak menyalahkan siapa-siapa, aku hanya berkata, kalau murid ku nggak suka bohong!” ujar Bramono seraya menarik tangan Voni agar menjauh dari kerumunan itu.


“Gadis itu memang benar, kamulah yang salah,” ucap panitia pada Daniati.


“Jadi Ibu menyalahkan saya?”


“Kalau kamu nggak mau didiskualifikasi, jangan pernah membuat kerusuhan disini.”


“Ibu curang! panitia macam apa yang telah berbuat curang!”


Mendengar Daniati berteriak, panitia yang tadinya telah pergi, datang lagi menghampirinya.


“Kamu mau apa?”


“Ibu curang!”


“Kalau aku memang curang, apakah kamu yakin, kalau kamu itu telah bicara jujur? ingat di gedung ini begitu banyak cctv, kalau terbukti kamu yang bersalah, apakah kamu mau saya keluarkan dari perlombaan ini?”


Mendengar ucapan perempuan itu, Daniati hanya diam saja, dia tak mau bicara apapun, karena dia sadar, kalau sebenarnya dia telah bicara bohong.


“Lagian saya lihat sendiri kok, kalau anak didik Bapak yang telah memulai pertengkaran ini terlebih dahulu.”


“Baiklah Bu, saya minta maaf, karena ulah Daniati seluruh acara jadi berantakan.


“Acara tetap berjalan seperti biasanya, mesti Daniati nggak ikut di dalamnya.”


“Apa maksud Ibu?”


“Kalau murid Bapak ingin mengikuti perlombaan ini, maka bersikap baiklah di sini, jangan buat onar.”


“Baik Bu, saya janji, kalau Daniati nggak akan berbuat onar selama perlombaan berlangsung.


“Baik, saya pegang ucapan Bapak.”


Setelah perdebatan kecil itu dapat di selesaikan, maka perlombaan pun mereka mulai, saat itu Voni duduk di bangku barisan ke empat dari seratus peserta lomba.


Suasana tampak tenang dan sunyi, semua peserta lomba, sibuk mengisi lembaran jawaban mereka masing-masing.


Bramono yang duduk di pojok kiri bersama para guru lainnya, tampak diam seraya menatap tajam kearah Voni, sementara Voni, dia terlihat tenang dan santai sekali saat itu.


Belum dua jam waktu berjalan, Voni telah berdiri dan menyerahkan lembaran jawabannya pada panitia. Lalu diapun keluar dengan tenang.


Saat itu Bramono begitu kaget, karena dia tak menyangka, kalau Voni bisa menyelesaikan jawabannya secepat itu.


Ketika Voni keluar, Bramono pun segera menyusul, jantungnya berdebar kuat saat itu, padahal waktu perlombaan masih berjalan begitu lama.

__ADS_1


“Kenapa kamu keluar begitu cepat sayang?”


“Aku neg melihat gadis itu.”


“Kenapa mesti melihat wajahnya, tujuan kamu kan mengikuti perlombaan, semestinya kamu berkonsentrasi penuh dalam perlombaan ini.”


“Jadi Bapak nggak suka?”


“Bukan, bukan begitu maksud Bapak.”


“Aku mau istirahat!”


Bramono tak dapat berbuat apa-apa, dia merasa sedikit kesal dengan kelakuan Voni yang menyelesaikan perlombaan sebelum waktunya habis.


Setelah beberapa saat duduk di kamarnya, lalu bel pertanda perlombaan telah selesai dan seluruh peserta di suruh mengantarkan kertas jawabannya ke depan.


Tiga jam setelah perlombaan selesai, lalu bel kembali berdering, seluruh peserta lomba di suruh hadir di aula gedung guna mendengarkan informasi yang akan di bacakan oleh panitia lomba.


“Voni, semua peserta lomba lagi berkumpul di aula, apakah kamu nggak ikut berkumpul sayang?” tanya Bramono seraya membuka pintu kamar Voni.


Betapa terkejutnya Bramono, ternyata Voni tak berada di dalam kamarnya, Bramono pun menjadi panik, dan mencari keberadaan voni di mana-mana, termasuk di dalam aula gedung.


Setibanya di dalam aula, tanpa sengaja Bramono mendengar pengumuman yang di ucapkan panitia, kalau juara satu di perlombaan itu jatuh kepada Voni.


“Juara satu, jatuh kepada Voni Regina Sanjaya, Siswi dari SMA Semangat Negeri!”


Suara tepuk tangan begitu riuh, memenuhi gedung perlombaan, di samping bahagia, Bramono juga merasa cemas sekali saat itu, karena Voni telah menghilang dari kamarnya.


“Kepada anak kita Voni, diharap naik ke atas panggung.”


“Maaf Bu! saat ini anak didik saya nggak mau masuk kedalam, bisa saya yang mewakilinya?”


“Ooo, bisa Pak, bisa.”


Lalu Bramono langsung naik ke atas panggung, semua mata menyaksikan Bramono menerima hadiah, di saat panitia memberikan tropi, dia sempat berbisik kepada Bramono.


“Apakah gadis itu masih kesal dengan kejadian pagi tadi Pak?”


“Iya, Bu. Sekarang dia nggak ada di kamarnya.”


“Dia pergi kemana Pak?”


“Saya nggak tahu Bu, setelah ini saya akan mencari keberadaannya.”


“Ooo, begitu, baiklah. Biar nanti tim saya akan membantu Bapak mencari keberadaan gadis itu.”


“Iya Bu, terimakasih.”


“Sama-sama Pak.”


Kepergian Voni yang diam-diam membuat Bramono menjadi sangat khawatir sekali, karena Bramono begitu takut kehilangan gadis yang sangat dia cintai.


“Voni, Voni! sebenarnya kamu itu kemana sih?” tanya Bramono pada dirinya sendiri.


Bersambung...

__ADS_1


*Selamat membaca*


__ADS_2